Menjadi "Polisi" Bagi Diri Sendiri

KOMPAS
Minggu, 28 Aug 1994
Halaman: 12
Penulis: KSP

MENJADI “POLISI” BAGI DIRI SENDIRI

SURANTO (38) sedang mengemudikan bus Metromini T-44 jurusan
Pulogadung – Pulogebang. Tiba-tiba terdengar suara gaduh. Dari
kaca spionnya, ia melihat sekelompok pemuda sedang mempreteli dan
merogoh-rogoh saku dan dompet penumpang. Melihat situasi ini,
Suranto memutuskan tancap gas dan langsung membelokkan bus itu ke
halaman Polsek Cakung (Jakarta Timur).

Keberanian Suranto itu akhirnya membuat perampokan di atas
Metromini dapat digagalkan, dan seorang pelaku diringkus. Peristiwa
itu terjadi Jumat siang 15 April 1994. Kapolda Metro Jaya Mayjen
(Pol) Drs M. Hindarto kemudian menyatakan akan memberi penghargaan
kepada sang pengemudi.

Hampir setahun sebelumnya, Rabu 2 Juni 1993, seorang sopir
Metromini P-15 jurusan Senen-Setiabudi juga dengan berani
membelokkan busnya yang sedang dibajak sekelompok perampok, ke
halaman Gedung Lemhannas Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Lima
pelaku ditangkap, dan sang pengemudi dipuji serta diberi penghargaan
oleh polisi.

Seorang perawat sebuah rumah sakit bersalin di kawasan Tebet
Jakarta Selatan, Risnawati Mangunsong (20) juga berani membuntuti
pemuda yang menodongnya di atas bus Metromini pada 26 Juni 1994 lalu.
Setelah tahu tempat tinggal penodongnya, Risna segera melapor ke
polisi dan polisi membekuk sang pelaku. Risna pun menerima
penghargaan dari polisi.
***

MENGAPA polisi selalu memberikan penghargaan kepada anggota
masyarakat yang karena keberaniannya dapat meringkus penjahat atau
menggagalkan kejahatan? Polisi menyadari sepenuhnya peran serta
masyarakat membantu polisi. Adalah mustahil jika selalu mengandalkan
tenaga polisi, padahal rasio polisi dengan penduduk kota besar
seperti Jakarta ini, sangat tak seimbang.

Memerangi kejahatan bukan hanya tugas polisi. Masyarakat awam
pun sebenarnya mempunyai kewajiban menjadi “polisi” bagi diri
sendiri. Jumlah polisi Indonesia yang bertugas di kota-kota besar
hingga ke pelosok terpencil “hanya” sekitar 160.000 orang, tak
sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 180 juta.
Ini berarti rasio polisi dengan penduduk Indonesia 1:1.200.

Idealnya, rasio polisi dengan penduduk adalah 1:350, sebagaimana
ditetapkan PBB. Menurut catatan ICPO (International Criminal Police
Organization) atau Interpol, rasio polisi dengan penduduk di beberapa
negara Asia seperti Jepang (1:577), Korea (1:549), Thailand (1:676)
dan Singapura (1:235) lebih mendekati ideal.

Salah satu cara mengatasi kendala ini, masyarakat Indonesia
lalu diharapkan dapat menjadi “polisi” bagi diri sendiri. Menjadi
“polisi” bagi diri sendiri memang bukan sekadar memerangi kejahatan.
Tapi juga selalu berperilaku disiplin, mematuhi semua peraturan yang
berlaku, dari soal lalu lintas sampai ke pencegahan kebakaran,
banjir dan sebagainya.
***

BAGAIMANA jadi “polisi” bagi diri sendiri? Kepala Dinas
Penerangan Polri Brigjen (Pol) Drs I Ketut Ratta mengatakan, setiap
anggota masyarakat hendaknya mengenali lingkungan terdekat tempat
tinggalnya, seperti kondisi jalan yang kecil atau lebar, sungai yang
dapat menyebabkan banjir, gudang yang dapat menimbulkan kebakaran,
dan tempat keramaian yang bisa menjadi sumber kriminalitas.

Selain wajib kenal dengan Ketua RT atau Ketua RW di lingkungan
tempat tinggalnya, setiap anggota masyarakat juga diharapkan
mengetahui siapa tokoh masyarakat yang jadi panutan di lingkungannya,
tambah mantan Kapolres Jakarta Pusat dan Kapolwiltabes Bandung
itu.

Pembentukan siskamling yang bagi sebagian orang tak dianggap
penting, sebenarnya justru bisa mewujudkan keamanan di lingkungan
setempat. Warga bisa saling tolong-menolong. Di kompleks-kompleks
perumahan biasanya ada pos kamling, ada yang dilakukan warga secara
bergiliran, ada juga yang diisi petugas keamanan dengan biaya
masyarakat. Sangat penting pula bagi warga membentuk jaringan
komunikasi antar-RT dan dengan aparat keamanan. Jangan ragu untuk
segera melapor pada pihak berwajib bila ada yang “janggal”.

Kalau terjadi gangguan kamtibmas di lingkungan Anda, dan
pelakunya tertangkap tangan, Anda harus segera menyerahkannya
ke pihak berwajib, karena harus pula diperhitungkan keamanan diri
sendiri. Sekiranya sang pelaku tidak tertangkap, setidaknya
masyarakat memberikan ciri-ciri identitas pelaku.

Misalnya Anda berada di TKP (tempat kejadian perkara) suatu
kasus kejahatan (seperti perampokan atau pembunuhan), hendaknya Anda
menjaga baik-baik TKP itu. Jangan disentuh atau diubah-ubah
kondisinya, biarkan seperti semula. TKP yang utuh sangat berguna
bagi polisi untuk pengusutan berikutnya, seperti pengambilan sidik
jari dan sebagainya.

Contohnya, kasus pembunuhan pelukis Basoeki Abdullah tahun
lalu. TKP dinilai masih utuh, sehingga sidik jari pelaku masih bisa
diperoleh ketika petugas keamanan tiba di tempat. Hal ini tentu saja
sangat membantu tugas polisi.

Selain itu masyarakat juga diminta memberikan informasi kepada
polisi. Ada sebagian orang yang enggan berurusan dengan polisi,
sebaiknya hilangkan rasa takut untuk memberikan kesaksian itu.
Bekerja samalah dengan petugas kepolisian. Polri tak mungkin bekerja
sendirian untuk melacak kejahatan.

Apabila menemukan barang bukti yang diperkirakan dibuang
pelaku, segera serahkan kepada polisi, sebab sekecil apa pun barang
bukti, itu sangat bermanfaat bagi polisi untuk pelacakan berikutnya.
Contohnya, dalam kasus pengungkapan pembunuhan seorang manajer
perusahaan swasta, peran “sandal” pelaku yang tertinggal di sekitar
TKP dan ditemukan penduduk setempat, juga ikut membantu pelacakan
berikutnya untuk menelusuri sang pelaku.

Bagaimanapun Anda harus yakin bahwa penjahat takut kepada
kebenaran. Suatu kejahatan, cepat atau lambat, pasti akan
terbongkar, dan pelakunya tertangkap. Jadi, janganlah ragu untuk
membantu polisi memerangi kejahatan dengan menjadikan diri Anda
sebagai “polisi” bagi diri sendiri. (R. Adhi Ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s