"Keajaiban" Bagi Ny Sri Sumiati

KOMPAS
Selasa, 08 Mar 1994
Halaman: 1
Penulis: KSP

Terceburnya Metromini Tewaskan 32 Penumpang
“KEAJAIBAN” BAGI NY SRI SUMIATI

TIDAK ada kata yang paling pantas diucapkan Ny Sri Sumiati
(35), kecuali bersyukur pada Tuhan. Guru SMP Al Khairiyah yang
sedang hamil tua (delapan bulan) ini bersama putranya Jerry Priandi
(3 tahun) dan adik kandungnya Yuli Karya (23), lolos dari maut
kecelakaan Metromini B-7821VM- di Kali Sunter, Jakarta Utara.

Mereka bertiga duduk persis di samping sopir RS (yang hingga kemarin belum
tertangkap). Nyatanya justru mereka bertiga yang termasuk korban
yang selamat. Bahkan janin yang dikandung Ny Sri pun, menurut
dokter, juga selamat.

“Biasanya orang ngeri duduk di bangku paling depan. Apalagi
kakak saya lagi hamil. Tapi waktu itu saya menghilangkan pikiran
buruk seperti itu,” kisah Yuli Karya, karyawan PT EMP (Eka Mekinka
Pratama) kepada Kompas yang menemuinya di RS Medika Griya, Sunter,
Jakarta Utara, Senin siang (7/3).

Hari Minggu (6/3) pagi itu, Ny Sri Sumiati mengajak putranya
Jerry dan adiknya Yuli Karya untuk berbelanja ke pusat perbelanjaan
di kawasan Senen Jakarta Pusat, untuk persiapan menjelang Lebaran.

Suaminya, Jajuli pada Sabtu malam pulang ke Pandeglang (Jawa Barat)
dan baru pulang Minggu malam. Sebenarnya pada Minggu pagi itu, Yuli
sempat bertanya pada Sri, “Apa nggak ke Mangga Dua saja ?” Tapi Ny
Sri menjawab jika berbelanja ke Mangga Dua, ia suka bingung
memilihnya. Karena itulah pilihan akhirnya jatuh ke Matahari Senen.

Semula suaminya berpesan agar Sri naik taksi saja. Tapi Sri
berpikir, setelah berbelanja dari Senen, ia baru akan naik taksi
pulang ke rumah. Sri memutuskan naik metromini saja. Mereka bertiga
berangkat dari rumah di Jl Balai Rakyat VII No 28, Jakarta Utara,
sekitar pukul 09.30 dan duduk di samping sopir.

Sepanjang perjalanan, metromini berpelat nomor B-7821-VM ini
meluncur kencang. Muatannya penuh sesak, jumlahnya kira-kira 45
orang. “Mana ada sih metromini yang berjalan lambat ?” kata Ny Sri
Sumiati yang kedua tangannya diperban karena luka-luka.

Di Jalan Yos Sudarso, metromini yang dikemudikan RS ini
mengambil posisi di tengah. Tiba-tiba sopir membanting setir ke
kiri. “Waktu setir mau dibawa ke kanan lagi, sopir kelihatan nggak
bisa mengendalikannya lagi,” kisah Ny Sri.

Wanita asal Lampung ini mengaku tak bisa berenang ketika
metromini menghantam jalur hijau dan akhirnya terjun ke dalam Kali
Sunter. “Airnya hitam pekat. Baunya nggak karuan. Dalam keadaan
gelap, saya mencoba melambai-lambaikan tangan ke atas. Tiba-tiba
tangan saya dipegang orang. Saya dituntun ke atas atap metromini.
Ternyata orang yang menyelamatkan saya adalah Yuli, adik kandung
saya,” cerita Ny Sri.

“Ajaibnya, anak saya Jerry juga terlihat nongol ke atas
permukaan air kali yang pekat. Sepertinya ada yang mendorong anak
saya. Seakan tidak bisa dipercaya,” tambah wanita itu. Sekitar lima
menit Ny Sri, Jerry dan Yuli berada di atas atap metromini yang
tenggelam itu. Baru kemudian terlihat beberapa penumpang lainnya
muncul di permukaan kali.
***

YULI Karya yang menyelamatkan kakak dan keponakannya ini
mengisahkan, setelah lima menit di atap metromini, baru ia
meneriakkan pada masyarakat yang berada di tepi kali untuk mengambil
perahu penyeberangan. “Mula-mula yang kelihatan cuma tangga mobil
pemadam kebakaran. Tapi ‘kan satu tangga tidak cukup. Saya lalu
teriak, ‘Pak, cepat bantu, itu ada perahu’. Barulah orang-orang
membawa perahu penyeberangan dan menolong kami. Mereka kelihatan
bengong saja,” kisah karyawan bagian gudang dan administrasi PT EMP
yang berkantor di Jl Gunung Sahari Jakpus ini.

Menurut Yuli, ketika metromini terus meluncur kencang melewati
jalur hijau dan menyadari mobil yang ditumpangi terjun ke sungai, ia
sudah pasrah. Semula ia tidak mengira metromini bakalan terjun ke
sungai. Sebab, logikanya, roda metromini akan menyangkut di parit di
antara jalur hijau. Tapi rupanya metromini itu terus melaju, tanpa
bisa dihentikan lagi. Padahal sopir kelihatan sudah menginjak rem.

Waktu itu Yuli cuma berpikir, “Mau meninggal di sini, ya
sudahlah. Di dalam air, napas saya nggak kuat. Airnya hitam pekat.
Bau minyak dan solar. Tapi setelah saya ingat ada kakak saya yang
sedang hamil dan keponakan saya yang kecil masih di dalam air, saya
mencoba turun ke dalam air. Tapi tidak kelihatan apa-apa. Gelap
sekali. Saya mencari-cari, dan memegang tangan Jerry. Sempat
terlepas, tapi akhirnya dapat lagi,” cerita Yuli bersemangat.

Pemuda lajang ini kebetulan bisa berenang. Untungnya, atap metromini masih sekitar 30 cm dari permukaan air kali, sehingga kakaknya, Sri dan
keponakannya, Jerry pun dapat diselamatkan.
Yuli Karya tak menyadari wajah dan kedua tangannya penuh darah.

Kemungkinan besar terkena pecahan kaca depan metromini. Untungnya
mereka duduk di dekat sopir, sehingga ketika metromini tenggelam,
mereka dapat keluar dari pintu kanan dekat sopir.

Suami Sri, Jajuli yang baru pulang dari Pandeglang, Minggu
malam, terkejut mendengar musibah itu. “Tapi saya bersyukur pada
Tuhan, istri dan anak saya selamat,” kata Jajuli yang menggendong
putranya, Jerry. Bocah laki-laki ini tak banyak bicara, dan lebih
banyak diam, ketika digendong ayahnya. Jajuli cuma berkomentar,

“Seharusnya petugas menindak pengemudi yang ugal-ugalan. Jangan
setelah kejadian, baru ditindak. Tapi hendaknya ketika sopir-sopir
itu sedang ngebut, polisi menindaknya,” kata Jajuli kepada Kompas.

Ny Sri Sumiati yang dirawat di RS Medika Griya Jakut ini
mengaku tak bisa tidur semalaman, memikirkan putranya, Jerry.
“Untunglah, Jerry selamat. Tuh dia, dahi dan pipinya luka-luka
diperban,” kata Sri sambil menunjuk Jerry yang sedang digendong
ayahnya.

Kecelakaan maut yang menewaskan 32 orang penumpang metromini
ini sangat mengenaskan. Bagaimana pun, keluarga Jajuli patut
bersyukur pada Tuhan. Apalagi janin bayi di kandungan Sri, setelah
diperiksa dokter, tidak mengalami gangguan apa-apa.

“Keajaiban” yang dialami keluarga Jajuli ini, memang tidak
dialami oleh puluhan penumpang lainnya yang juga membawa anak-anak
kecil. Dari 32 korban yang tewas, delapan di antaranya anak-anak
berusia antara 6 bulan hingga 10 tahun. Mereka tak bisa merayakan
Idul Fitri, yang cuma tinggal seminggu lagi …(adhi ksp)

Foto:
LOLOS DARI MAUT – Anak kecil berusia tiga tahun ini, Jerry Priandi
lolos dari maut. Ibunya, Ny Sri Sumiati (35) yang sedang hamil tua
(delapan bulan) juga selamat. Banyak orang menyebutnya sebagai
“keajaiban”. Jerry berfoto bersama ayahnya, Jajuli di RS Medika
Griya, Sunter, Jakarta Utara, Senin siang (7/3).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s