Kapolri Letjen Pol Kunarto: Masyarakat Hanya Ingin Ketentraman

KOMPAS
Rabu, 01 Jul 1992
Halaman: 1
Penulis: JAKOB OETAMA/INDRAWAN SM/
JIMMY WP/HASANUDIN/ROBERT ADHI KSP

Kapolri Letjen (Pol) Drs Kunarto:
MASYARAKAT HANYA INGIN KETENTERAMAN

SEBUAH mobil jenis minibus berhenti di depan kantor sebuah
Polres di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Seorang laki-laki bertubuh
jangkung yang mengemudikan mobil itu kemudian memasuki halaman dan
mendatangi penjagaan. Dia duduk dab berbincang dengan para petugas di
sana. Sikap dan penampilan pria berpakaian preman itu tampak seperti
warga biasa yang tengah berurusan dengan polisi.

Namun ajudan Kapolres yang melihat, bergegas melaporkannya
kepada Kapolres. Begitu menerima laporan, Kapolres yang berpangkat
letnan kolonel itu segera datang dan menegur dengan hormat serta
mempersilahkan laki-laki tadi ke ruang kerjanya. Kesederhanaan pria
itu sama sekali tidak memperlihatkan bahwa dia adalah seorang perwira
tinggi Polri.

Pria itu adalah Kunarto, yang beberapa tahun kemudian – tepatnya
pada 27 Februari 1991 – diangkat menjadi Kepala Kepolisian RI, orang
nomor satu di jajaran Polri. Jenderal berbintang tiga yang dikenal
sebagai orang yang sangat sederhana dan jujur ini mencoba membenahi
Polri.
***

BERKAITAN dengan Hari Bhayangkara ke-46 yang jatuh pada 1 Juli
1992 hari ini, Letnan Jenderal Polisi kelahiran Yogyakarta 8 Juni
1940 menerima tim wartawan Kompas terdiri dari Jakob Oetama,
Indrawan SM, Jimmy WP, Hasanudin dan Robert Adhi Ksp
. Dalam
wawancara khusus selama 75 menit di ruang kerjanya pada suatu pagi
di pertengahan bulan Juni, jenderal berbintang tiga yang memulai jam
kerjanya pukul 06.00 pagi ini menyampaikan pandangan-pandangannya
tentang masalah kepolisian, didampingi Kadispen Brigjen (Pol) Drs
Sumarsono SH. Berikut petikan wawancara dengan Kapolri:

Apa yang sebenarnya diharapkan masyarakat terhadap Polri ?
Tuntutan masyarakat terhadap polisi ternyata tidak banyak.
Hanya dua. Pertama, mereka menginginkan rasa aman, benar-benar
dilindungi polisi. Kedua, mereka menginginkan pelayanan yang lebih
baik dari Polri.

Keinginan masyarakat yang hanya dua itu ternyata belum mampu
dipikul oleh Polri. Sumber daya manusia yang dimiliki Polri tidak
cukup. Tuntutan masyarakat terus meninggi, sehingga polisi, seperti
orang Jawa bilang kayaknya keponthal-ponthal.

Apa masalah pokok yang dihadapi Polri ?
Sebenarnya masalahnya terbagi dua, internal dan eksternal.
Masalah internal menyangkut keterbatasan sumber daya: personel (baik
jumlah maupun mutunya), material yang serba kekurangan (perumahan,
kantor, peralatan dan lain-lain), serta skill (kemampuan berpikir
dan kemampuan analisa).

Sedangkan masalah eksternal menyangkut keinginan polisi untuk
menjawab atau memenuhi keinginan masyarakat yang dua macam tadi,
yaitu ingin rasa aman dan ingin pelayanan ditingkatkan.

Langkah apa yang dilakukan Pak Kunarto untuk memenuhi keinginan masyarakat itu ?
Sejak saya dilantik jadi Kapolri dan melihat problem-problem
yang berkembang, langkah pertama yang saya lakukan, banyak terobati
dengan kejiwaan. Saya menyampaikan pada segenap anggota Polri untuk
menginternalisasikan suatu tekad ke dalam diri masing-masing,
Tekadku Pengabdian Terbaik.

Kalau semua polisi mampu mengatakan itu dan melaksanakannya
dengan baik, itu sudah langkah maju buat kami. Tapi di samping itu,
saya menegaskan tiga point pokok, yaitu integrasi, profesionalisasi
dan modernisasi.

Integrasi artinya integrasi Polri di dalam ABRI, dan juga Polri
dengan masyarakat. Profesionalisasi, kalau semua orang melaksanakan
profesinya dengan baik, ya..resersenya, ya lalu lintasnya, ini
sudah cukup. Jadi untuk profesionalisasi, metode dan latihannya
digenjot terus. Tapi semua harus satu tekad, pengabdian terbaik.

Ketiga mengenai modernisasi. Kami menyadari betul bahwa
tantangan teknologi makin meninggi, globalisasi, pertambahan
penduduk dengan segala problemnya. Dan Anda tahu persis, kemampuan
polisi kelihatannya tidak akan bertambah. Padahal saya sudah teriak-
teriak di lingkungan ABRI. Kami tidak bisa disamakan dengan ABRI
lainnya, karena ABRI lain berpendapat, kecil, efektif dan efisien.

Polisi tidak bisa begitu, karena polisi dalam pelaksanaan
tugasnya memang manpower heavy. Kehadiran Polri itu tidak bisa
digantikan dengan alat secanggih apa pun. Mestinya, bertambahnya
penduduk harus bertambahnya jumlah polisi. Yang paling ideal
perbandingan polisi dan jumlah penduduk, 1:350. Polisi kita masih
1:1100. Kita sudah minta tambah.

Tapi soal jumlah penduduk, kami tidak begitu khawatir karena
faktanya penduduk Indonesia taat takwa dan rata-rata tidak bikin
susah. Seandainya ada problem juga, masyarakat sudah punya daya
tangkal yang cukup.

Apa saja yang harus dibenahi dalam tubuh Polri ?
Banyak sekali yang harus dibenahi. Kami akan mencoba selain
modernisasi peralatan, juga pola pikir. Yah, apalah artinya suatu
peralatan modern kalau orangnya, pola pikirnya tidak sampai.

Sebagai contoh, peralatan reserse untuk identifikasi yang
dibeli beberapa tahun lalu dan dibagi-bagikan ke semua Polres. Namun
di Polres yang jauh, sampai sekarang kotaknya saja, dibuka juga
belum. Kalaupun sudah dibuka, tak bisa menggunakannya. Seandainya
bisa menggunakannyapun, menginterprestasikan tidak bisa.

Saya tidak ingin seperti pendahulu-pendahulu saya. Artinya,
tiap Kapolri punya obsesi sendiri, terputus-putus. Saya tidak ingin
begitu. Dan kepemimpinan ini jelas, diatur. Perbaikan personel tidak
hanya masalah kemampuan saja, tapi juga masalah pembinaannya.

Ternyata di Polri, orang selalu mengatakan, management by window.
Yang kelihatan di jendela itu, yang tidak kelihatan tidak…Saya
tidak mau lagi. Kita harus komprehensif.

Sekarang, saya mencoba mengajarkan ilmu manajemen kecil-
kecilan. Seorang Kapolsek yang berada di ujung jauh sana pun, saya
ajari, bangun tidur sudah langsung memikirkankan, kemarin ada apa,
sekarang harus berbuat apa. Mereka harus memiliki kalender
kamtibmas. Mereka harus memahami situasi yang dihadapi. Kemarin
kayak apa, hari ini harus bagaimana. Dan mengetahui petunjuk
pimpinan.

Jadi, seorang Kapolsek tidak boleh, begitu masuk langsung minum
kopi, baca koran, terus habis. Dia sudah harus membaca situasi,
merencanakan pekerjaan, lalu me-manage. Ini terkait dengan
profesionalisasi.

Apakah sudah ada buku petunjuk dibuat untuk para Kapolsek dan
Kapolres ?
Kami sekarang membikin buku-buku petunjuk untuk para Kapolsek
dan Kapolres. Polri selama dua tahun terakhir ini bekerja sama
dengan Kepolisian Inggris meneliti, apa sebenarnya problem Polsek
itu ? Ini hampir final. Ternyata masalahnya adalah komunikasi.

Bagaimana polisi melayani masyarakat dan bagaimana menyatu di dalam.
Dalam buku seharga Rp 500 itu, diterangkan, bagaimana seorang
Kapolsek harus berkomunikasi. Selama ini ada kesan, keangkuhan
birokrasi menonjol pada polisi.

Lha itu, intinya apa ? Kayaknya digambarkan, kalau bisa
dipersulit, kenapa dipermudah ? Ini ingin saya hilangkan. Ini tidak
benar. Kalau itu hilang saja, berarti satu unsur pelayanan sudah
meningkat.

Saya bikin buku kecil, yang kalau dibaca enak. Siapa pun bisa
mencerna. Seperti metoda manajemen itu, kami berikan pada tingkat
perwira pertama, middle manager sampai top manager. Mudah-mudahan
bisa dimanfaatkan. Sebab waktu saya ‘kan tidak panjang.

Bagaimana pembinaan personel di Polri ?
Membina personel itu tidak gampang. Jika mengacu pada manajemen
personel yang baru, di mana ada 14 langkah yang harus dilalui,
ternyata tak ada satu langkah pun yang dilakukan Polri. Pembinaan
personel Polri harus ditinjau kembali.

Mengenai job description, kami berusaha untuk mengaturnya.
Seseorang, setelah jadi Kapolres kemana ? Ke depannya, sudah harus
tahu, akan menuju ke situ. Kalau saya baik, saya akan mencapai itu.
Itu jelas. Sistem karier dengan manajemen.

Sekarang masih ada perwira yang dinaikkan posisinya untuk
promosi, eh pinginnya mau turun asal ditugaskan di direktorat lalu
lintas. Yang kayak begitu-begitu, minggir saja.
Kondisi kantor polisi kita bagaimana ? Apa benar ada yang tidak
memadai ?

Saya tanya dan tantang perwira-perwira saya. Sebenarnya berapa
yang Anda butuhkan ? Nggak bisa ngomong. Saya mencoba ingin menata.
Saya sampaikan pada Direktur Logistik, berapa Polsek yang dimiliki? ì
Dijawab, 3.600 Polsek seluruh Indonesia. Berapa dari Polsek itu
yang sudah baik ? Berapa yang masih bisa dipake, berapa yang nyewa,
berapa yang kumuh, tak bisa jawab. Oleh karena itu saya membuat buku
“Polri dalam Angka”. Sejelek-jeleknya, pokoknya keluar dulu….

Nah, dari ini kita akan menilai, tahun yang akan datang berapa
penambahannya, pos kamlingnya tambah berapa biji? Dan saya
inginkan, kegiatan itu diangkakan. ‘Kan ada yang mengaku, kegiatan
saya 2.500 patroli dan mencapai sekian ribu kilometer. Tapi
keadaannya bagaimana ? Aman, tidak ? Jika memang tidak aman,
kegiatannya banyak, ‘kan tinggal diganti…

Bagaimana gambaran tentang lalu lintas menurut Pak Kunarto ?
Dulu Lalu Lintas merupakan Subdit dibawah Direktorat Samapta.
Ketika saya masuk, saya sudah pikir, ini tidak beres. Dia harus
Direktorat sendiri. Saya ngotot sama Pangab, akhirnya, lalu lintas
dijadikan direktorat sendiri.

Hambatannya memang satu di lalu lintas itu. Yang disenangi,
hanya mengurus SIM dan STNK. Ini terus terang. Saya sudah katakan,
kita ini ngurus republik, ngurus negara. Jadi kalau kita ngurusi,
pendekatannya ekonomi, output-nya mesti kesemrawutan. Untuk
mengatasi hal ini, setahap demi setahap akan dilakukan
komputerisasi. Kami sekarang masih cari mitra usaha, dan mudah-
mudahan dalam waktu dekat bisa terwujud. Sehingga nantinya, bayarnya
saja di bank. Polisi jangan ambil duit. Peluang-peluang yang
memungkinkan itu, saya tutupi semua.

Bagaimana menciptakan Polri yang baik ?
Menciptakan polisi baik, setidaknya harus ada lima hal dipenuhi.
Inputnya baik, orang-orangnya yang terpilih. Dididik baik, dilatih
baik, dilengkapi dengan metoda yang baik, dan welfare yang baik.
Meskipun welfare pas-pasan, tapi dilandasi pengabdian terbaik,
hasilnya bisa juga baik. Ini yang kami pompakan terus. Tapi apa bisa
terus-terusan ? Mungkin satu tahun, mereka muntah juga. Kok cuma
disuruh ngabdi terus, ya…

Bagaimana komentar Pak Kunarto tentang anggota Polri yang nakal?
Mereka yang bekerja di lapangan seperti memungut korek api dan
sebagainya itu sebenarnya tidak untuk kaya, tapi sekadar untuk
mempertahankan gizi. Tapi kalau sudah orang-orang yang duduk di STNK
dan SIM, ini approach-nya sudah lain. Pendekatannya, sudah
memperkaya diri.

Kalau orang memperkaya diri ini, kalau menurut Pak Hugeng Iman
Santoso (mantan Kapolri) kayak gatel di badan. Begitu terima duit,
gatel. Digaruk-garuk, lama-lama jadi koreng. Koreng ini, menurut Pak
Hugeng, masih bisa disembuhkan. Tapi cacatnya nggak hilang. Bekas
lukanya nggak hilang. Nah ini, cacat-cacat ini terbawa-bawa kemana-
mana. Dari sepuluh orang, 9 orang baik, satu orang ini tetap
kelihatan.

Tentang image building ini, saya berterima kasih pada pers.
Memang selama saya menjabat jadi Kapolri, bantuan banyak. Dan saya
tidak pernah marah kalau polisi dikritik, karena itu, buat saya,
merupakan bahan untuk instropeksi. Ya, ke dalam ‘kan kita harus
marah-marah.

Dalam tugas pengamanan langsung Pemilu yang lalu, ketiga OPP
mengakui Polri bertugas maksimal dan berhasil…
Diakui begitu, sebenarnya trenyuh juga. Karena sebenarnya ini
pengorbanan anak buah. Luar biasa. Pangab juga memberikan
penghargaan. Tapi kita tak boleh luluh dengan penghargaan. Saya
anggap itu biasa. Yang penting, kalau polisi dibilangin baik, itu
sudah suatu kemajuan. Karena selama ini kesannya, kalau polisi
berbuat baik saja, tetap dianggap jelek, apalagi kalau berbuat
jelek….

Pak Kunarto menjalani puasa Senen-Kemis ? Apa gunanya itu ?
Ini sebenarnya pendekatan fisik. Mulanya, saya ini oleh Bapak
Presiden (waktu Kunarto bertugas sebagai Ajudan Presiden-red)
dijadikan percobaan terus. Jadi asal ada formula untuk diet, saya
yang mencoba. Jadi puasa senen-kemis itu, kalau dilakoni dengan
baik, saya kira baik. Saya jalani, sekarang sampai tahun kedelapan.

Ternyata, di dalam menjalani “senen-kemis” ini, ternyata memberikan
ketenangan kejiwaan juga. Terus terang, saya tidak tahu manfaat
secara ilmiah, tapi yang saya rasakan, kok saya ada semacam
ketenangan di dalam hidup. Kira-kira begitu. Jadi ada petunjuk-
petunjuk. Kalau kamu baik, semua baik. Saya juga tidak mengerti,
untuk jadi orang baik, juga berat. Apakah ini juga ada
pengaruhnya…..

LINK TERKAIT http://id.wikipedia.org/wiki/Kunarto, http://www.pustakabersama.net/buku.php?id=7625&cari=, http://www.allbookstores.com/author/Kunarto.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s