Jatuhnya Helio Bell 205 di Timika: Semuanya Gelap dan Terjadilah Mukjizat…

KOMPAS
Rabu, 10 Aug 1994
Halaman: 20
Penulis: KSP/DS

Jatuhnya Heli Bell 205 di Timika
SEMUANYA GELAP DAN TERJADILAH MUKJIZAT…

KETIKA musibah jatuhnya helikopter Sykorsky PK-OBT pada 27 Juli
1994 atau PK-OBS yang hilang 5 Mei lalu di hutan Kalimantan masih
hangat dibicarakan, dan kita masih mencari tahu nasib pilot dan
penumpangnya, suatu musibah serupa terjadi di hutan Irian Jaya. Tapi
kali ini, pilot dan empat penumpangnya selamat. Berita ini belum
tersiar luas di media massa. Bagaimana kisah pilot Capt. Heru Susatyo
yang mengendalikan helikopternya yang jatuh di belantara Timika pada
3 Agustus 1994 itu ?

Begitu helikopter Bell 205 mulai mengudara meninggalkan landasan
udara Wamena pukul 06.20 Waktu Indonesia Timur, pilot Stefanus Heru
Susatyo (33) tak punya pikiran yang aneh. Ia hanya ingin segera
menerbangkan helikopter yang membawa empat penumpang itu ke Timika,
setelah tiga minggu ia bertugas di alam Irian Jaya.

Waktu itu hari Rabu 3 Agustus 1994. Jarak antara Wamena – Timika
sekitar 120 mil. Biasanya waktu yang ditempuh helikopter buatan
Amerika Serikat itu sekitar 1 jam 10 menit. Informasi yang diterima
Heru semula, perjalanan masih dapat dilakukan, dan pendaratan masih
memungkinkan.

Namun setelah sekitar satu jam terbang di udara dengan
ketinggian 4.000 kaki, Heru dan empat penumpang heli tak dapat
melihat apa-apa. “Cuaca sangat gelap. Semuanya hitam pekat. Tak ada
pandangan apa-apa,” kisah Heru Susatyo kepada Kompas ketika ditemui
di rumahnya di kawasan Pasarminggu, Jakarta Selatan, Senin siang
(8/8).

Heli sudah berada di atas airport, tapi pilot tak dapat melihat
apa pun. “Tak ada celah sedikit pun. Saya mencoba turun di atas kabut
yang saya kira tipis. Tapi nyatanya kabut itu tetap tebal,” ujarnya.

Seandainya kembali ke Wamena, hal itu sangat mustahil. Sebab
bahan bakar helikopter tinggal sedikit lagi (hanya cukup untuk waktu
perjalanan selama 1 jam 40 menit). Sedangkan perjalanan yang ditempuh
Heru sudah lebih dari satu jam.

Sebagai pilot yang sudah berpengalaman 10 tahun menerbangkan
helikopter di atas hutan Kalimantan dan Irian Jaya, Heru Susatyo
langsung memutuskan untuk mendarat. “Tak ada pilihan lain kecuali
mendarat, meskipun dalam cuaca gelap gulita,” katanya.

Selama 20 menit, helikopter berputar-putar di udara. Heru juga
sudah mengontak pusat Freeport di Tembagapura. Tapi rupanya cuaca
sangat buruk. Dalam keadaan yang tak menentu itu, Heru masih mencoba
mengendalikan helikopternya, meskipun hal itu sangat sulit
dilakukan. Dan pada saat yang sulit itulah, Heru berserah pada
Tuhan. “Saya serahkan semuanya kepada Tuhan,” katanya.

Beberapa saat kemudian, helikopter terasa oleng dan tiba-tiba
terdengar suara keras. Helikopter jatuh menghantam tanah. Pandangan
di depan tetap gelap. Heru ternyata selamat, tanpa terluka sedikit
pun. Ia menstabilkan diri beberapa menit, lalu bangkit dan keluar
dari heli. Saat itu kira-kira pukul 08.00 Waktu Indonesia Timur.

Dua penumpang lainnya, Gideon Tebong (yang bertugas mengatur
barang) dan William Wall (mekanik heli) juga selamat. Namun seorang
lagi, Yusdi (25) mengalami patah tangan. Heru dan dua penumpang
lainnya mencoba memberikan pertolongan pertama pada Yusdi.

Selain itu, Heru yang membawa pesawat HT (handy-talky) mencoba
minta bantuan. Permintaan tolong Heru didengar oleh sebuah pesawat
Merpati yang sedang melintas di atas Timika. Pilot Merpati itu
kemudian menyampaikannya ke airport Timika.

Lokasi jatuhnya helikopter Bell 205 ini di kawasan hutan
transmigrasi SP III di Timika. Kalau ditarik garis lurus, jarak
lokasi jatuh dengan landasan udara Timika sekitar 10 kilometer.

Cuaca buruk mengakibatkan bantuan petugas yang diorganisir
pihak airport Timika datang terlambat. Yang pertama kali datang
membantu adalah orang-orang transmigran, yang mendengar suara
helikopter jatuh di dekat perkampungan. Mereka membuat tandu untuk
mengangkut Yusdi yang patah tangan. Tak berapa lama, datanglah
bantuan petugas kepolisian dan petugas medis.

Sekitar pukul 12.00 WIT, sebuah helikopter operasional milik
perusahaan Freeport tiba dan berputar-putar di atas lokasi kejadian.
Yusdi dan Gideon diikat dengan tali, lalu ditarik ke atas. Keduanya
di bawa ke rumah sakit Freeport di Tembagapura.

Sementara itu Heru dan William Wall bersama sejumlah petugas
dan penduduk setempat berjalan kaki melintasi hutan rawa,
menyeberangi sungai di belantara Timika, Irian Jaya. “Kami berjalan
kaki selama dua jam, untuk tiba di jalan transmigrasi,” kata Heru.
Dari sana, Heru dan William dibawa ke rumah sakit Freeport.
***

PERISTIWA jatuhnya helikopter di belantara Timika Irian Jaya,
tanpa menewaskan pilot dan empat penumpangnya, betul-betul merupakan
mukjizat Tuhan. “Secara logika, hal itu sangat mustahil. Pesawat
hancur, tapi kami selamat. Tangan Tuhan telah bekerja dan kami semua
selamat,” kata Heru yang sudah dua tahun bekerja untuk National
Utility Helicopter (NUH) dan sejak lima bulan terakhir ini,
dikontrak oleh Freeport yang bergerak di bidang eksplorasi di Irian
Jaya. Sebelumnya sejak 1984-1992, Heru bekerja di International Air
Transport di Balikpapan (Kaltim).

Heru yang melanjutkan pendidikan penerbangan helikopter di
Sierra Academy of Aeronautics, Oakland California (AS) pada tahun
1982-1983 itu, sebelumnya terbang di atas hutan Kalimantan.

Menurut Heru kelahiran Jakarta ini, hutan Kalimantan sebenarnya
lebih angker dibandingkan hutan Irian Jaya. Di Kalimantan,
helikopter jatuh seperti masuk jerami. Sulit untuk bisa terlihat
lagi, karena hutannya terlalu rapat. Sedangkan di Irian Jaya,
hutannya tidak sepekat Kalimantan. Kondisi alam Irian lebih pada
banyak pegunungan dan perbukitan. “Tapi parahnya, cuaca di Irian ini
lebih mudah berubah-ubah dibandingkan di Kalimantan,” kata Heru.

Jatuhnya helikopter Bell 205 registrasi PK-UHE ini merupakan
yang keenam yang dialami perusahaan carter National Utility
Helicopter. Dari catatan yang ada, Bell 205 mengalami nasib naas di
Balikpapan bulan April 1974. Lalu, disusul musibah kedua, juga di
Balikpapan, Bell 205 beregisterasi PK-UHX yang jatuh bulan Agustus
1974.

Bell 205 mengalami crashed (jatuh) ketiga di Irian Jaya bulan
Oktober 1977. Lalu, dia juga pernah mengalami jatuh di Palu,
Sulteng, akhir bulan September 1978. Kebetulan, yang jatuh pada
insiden ini beregisterasi sama dengan heli naas yang jatuh di
Timika, yakni PK-UHE. Kecelakaan terakhir terjadi di Palu juga,
Oktober 1978.

PK-UHE yang dipiloti Capt. Heru Susatyo pada 3 Agustus 1994,
menurut daftar Civil Aircraft Register 1992 Ditjen Perhubungan
Udara, diregistrasi perusahaan NUH bulan Juli 1970 (bila heli ini
adalah pesawat yang sama yang jatuh di Palu September 1978-red).

Pabrik Bell Helicopter Textron di Forth Worth (AS) membuat
keluarga heli Bell “Huey” dan salah satu dari keluarga itu adalah
model 205 atau yang dikenal dengan nama Bell 205. Dasar dari semua
keluarga Bell “Huey” adalah model XH-40 yang dibuat untuk
kepentingan Angkatan Darat AS dan melakukan terbang perdananya 22
Oktober 1956. Model Bell 205 diproduksi sejak Agustus 1961.

Dalam versi militernya, Bell “Huey” banyak menunjang operasi
militer AS pada Perang Vietnam dan dikenal sebagai UH-1D Irogouis
yang dapat mengangkut 12 pasukan serta dipersenjatai dengan senapan
mesin M60.

Helikopter transpor dan multiguna ini antara lain memperkuat
jajaran angkatan bersenjata 76 negara, termasuk Indonesia. Sementara
versi sipilnya, Bell 205, banyak dioperasikan oleh perusahaan carter
swasta nasional.

Salah satu keistimewaan heli ini adalah “kebandelannya” di
lapangan berat (antara lain tempur). Selain itu Bell 205 memiliki
daya angkut 4.309 kg barang, kecepatan jelajahnya 204 km/jam dan
jarak jelajah sejauh 400 km.

Model 205 atau dikenal juga dengan sebutan UH-1D atau UH-1H
ditenagai dengan mesin turbin yang lebih kuat sehingga mampu
mengangkut 15 penumpang atau barang yang lebih banyak.

Keistimewaan lain atau uniknya, keluarga heli bell “Huey” ini
tidak saya diproduksi Forth Worth, AS, tapi juga di Jerman, Italia,
Jepang, Taiwan, dan juga di Republik Rakyat Cina di bawah lisensi.
(adhi ksp/dudi sudibyo)

FOTO: 1
PILOT HELI SELAMAT – Pilot Helikopter Bell 205 PK-UHE Capt. Heru
Susatyo selamat bersama empat penumpangnya, meski heli itu jatuh di
belantara Timika (Irian Jaya) Rabu pagi 3 Agustus 1994 lalu.

LINK TERKAIT http://www.helispot.com/photos/similar/00006.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s