Rumah Susun Sewa di Kawasan Pabrik: Kebutuhan Utama di Kota Tangerang

KOMPAS
Jumat, 14 Mar 2003
Halaman: 41
Penulis: Adhi KSP, Robert

RUMAH SUSUN SEWA DI KAWASAN PABRIK
* Kebutuhan Utama di Kota Tangerang

SUDAH enam bulan ini, Ny Yuni (27) dan keluarganya menghuni rumah
susun (rusun) sewa Blok Manis III di Lantai I No 4, Kecamatan
Jatiuwung, Kota Tangerang. Sebelumnya, keluarganya tinggal di rumah
kontrakan di perkampungan yang lokasinya masih di sekitar rusun
itu. “Tinggal di rusun ternyata lebih sehat. Lingkungan lebih bersih
dan pergaulan dengan tetangga lebih akrab,” kata Ny Yuni, perempuan
asal Solo, kepada Kompas, Rabu (26/2) lalu.

Kondisi kamar rusun tipe 21 yang disewa keluarga Yuni relatif
bersih. Ada televisi merek Mitsui 14 inci, kulkas, kipas angin, di
samping fasilitas yang disediakan pengelola rusun untuk penyewa,
yaitu dua tempat tidur dan dua locker. Kamar mandi dan dapur berada
di dalam kamar itu sehingga privasi lebih terjaga.

Suami Ny Yuni, Agus Sulaeman (31), sudah empat tahun bekerja di
PT Merpati Mahkota Sarana (MMS), pabrik yang memproduksi pulpen merek
Standard. Lokasi pabrik itu jaraknya hanya 300 meter dari rusun
tempat keluarganya tinggal sehingga memudahkan Agus berangkat dan
pulang kerja.

Setiap bulan, Ny Yuni mengeluarkan ongkos sewa rusun tipe 21
senilai Rp 143.000. Untuk biaya air ledeng dan listrik, tergantung
pemakaian. Pemakaian air ledeng 0-10 m3 Rp 20.000 per bulan,
sedangkan pemakaian listrik 450 watt, umumnya penghuni membayar
minimal Rp 40.000 per bulan. Penghasilan suaminya sesuai dengan upah
minimum regional (UMR) yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 630.000
per bulan.

“Setidaknya, suami saya bisa menghemat uang transpor
karena lokasi pabrik sangat dekat dengan rusun ini,” ungkap Yuni lagi.
Memang, tidak semua penghuni rusun merupakan keluarga seperti Ny
Yuni, tetapi banyak juga penghuni yang belum menikah atau lajang.

Kusnadi (25) misalnya. Lelaki asal Palembang, Sumatera Selatan, ini
tinggal di rusun Manis sejak delapan bulan lalu, atau sejak rusun itu
dibuka pertama kali. Kusnadi tidak sendirian tinggal di kamar tipe
21, tetapi bersama dua saudaranya yang bekerja di pabrik yang
berbeda, namun lokasinya masih di seputar kawasan Jatiuwung. “Uang
sewa Rp 143.000 per bulan dibagi tiga sehingga satu orang hanya
membayar hampir Rp 48.000,” kata Kusnadi.

Sebelum tinggal di rusun, dia tinggal di rumah kontrakan di
Kampung Cikoneng, masih di kawasan pabrik, namun kondisinya sangat
jauh berbeda. “Di rumah kontrakan yang lama, kami harus tinggal di
tempat yang kumuh, berimpit-impitan dan sempit,” ungkap pekerja
pabrik PT MMS itu.

Bagi Kusnadi, tinggal di rusun punya banyak keuntungan. “Setelah
dikalkulasi, tinggal di rusun lebih murah. Di sini, ketika kami akan
masuk, sudah ada tempat tidur untuk empat orang lajang dan dua
lemari. Kami masuk kamar ini tinggal bawa koper berisi pakaian.

Tempat tidur sudah disediakan,” ujarnya. Yang juga membuat nyaman
adalah kamar mandi dilengkapi shower dan dapur berada di dalam bagian
kamar sehingga suasana pribadi lebih terjaga. Sebagai perbandingan,
rumah kontrakan dengan kamar mandi di dalam, biaya sewanya mencapai
Rp 250.000 per bulan. “Bagaimanapun, tinggal di rusun bagi kami lebih
hemat, lebih nyaman, dan juga lebih bersih. Kami pun tidak pernah
lagi mengalami kesulitan air seperti yang terjadi di rumah kontrakan
lama karena di rusun sudah ada air ledeng yang selalu lancar
mengalir,” katanya.

Untuk ukuran pekerja pabrik, isi kamar rusun yang disewa Kusnadi
dan dua saudaranya itu relatif lengkap. Mulai dari TV Toshiba, VCD
SanQ, speaker Samsung, stabilizer, magic jar, dispenser, sampai
tempat penyimpan beras. Untuk menuju tempat kerjanya, Kusnadi bisa
berjalan kaki atau naik ojek dengan ongkos Rp 1.500 sekali jalan.

Para penghuni rusun pun peduli dengan keindahan. Ny Rasma (32),
misalnya, punya inisiatif membeli pot-pot bunga dan ditaruh di depan
kamar rusun yang disewanya. “Supaya suasana rusun ini tetap hijau dan
enak dipandang,” kata Rasma yang suaminya bekerja di PT Sinar Ancol,
pabrik sabun yang memproduksi sabun merk B-29. Di rusun itu, Rasma
tinggal bersama suami dan seorang anaknya yang berusia 10 tahun.
***

TINGGAL di rusun di kawasan pabrik di Kota Tangerang tampaknya
saat ini sudah menjadi kebutuhan utama. Ini terlihat dari banyaknya
orang yang mencari kamar baru di rusun setiap hari. “Kalau dihitung-
hitung, sejak rusun ini dibuka delapan bulan lalu, sudah lebih dari
seribu orang yang menanyakan apakah ada kamar di rusun ini,” kata
Manajer Rumah Susun Pemerintahan Kota Tangerang Adang Suhendar kepada
Kompas pekan lalu.

Akan tetapi, Adang mengaku, pada awalnya dia cukup sulit
meyakinkan pekerja pabrik agar mau tinggal di rusun. “Saya datang
dari pintu ke pintu, menawarkan agar mereka mau tinggal di rusun.
Spanduk agar pekerja pabrik tinggal di rusun juga dipasang di
berbagai lokasi. Setelah empat bulan berjuang, akhirnya mulai banyak
pekerja pabrik, baik yang lajang maupun yang sudah berkeluarga,
pindah ke rusun,” jelasnya.

Iklan yang paling ampuh adalah omongan dari mulut ke
mulut. “Setelah mereka puas dengan lingkungan di rusun, dengan
sendirinya banyak pekerja pabrik yang tinggal dan menyewa kamar
rusun. Sampai-sampai banyak yang tidak mendapat tempat lagi,” ungkap
Adang. Bahkan, dalam tiga bulan terakhir ini, banyak daftar yang
menunggu (waiting list) untuk bisa tinggal di rusun.

Rusun Manis yang dihuni Ny Yuni dan kawan-kawan itu adalah rumah
susun sewa hasil kerja sama dengan Perum Perumnas. Rusun ini ternyata
sangat diminati. Rusun di Kelurahan Manis Jaya itu menghabiskan dana
Rp 8,6 milyar dengan rincian dana Perumnas Rp 7,78 milyar untuk
konstruksi bangunan dan jalan setapak, sedangkan dana APBD Pemkot
Tangerang Rp 850 juta untuk penyediaan air bersih, listrik, dan
septic tank. Rusun yang dibangun terdiri dari dua blok kembar (empat
gedung) dengan 192 kamar, enam ruang pengelola, empat ruang panel,
dan 22 unit ruang usaha dan sosial.

Pada umumnya setiap unit kamar bertipe 21. Setiap kamar memiliki
kamar mandi dan dapur sendiri. Listrik PLN sebesar 450-900 watt
dengan meteran di setiap kamar, juga air PDAM dengan meteran di
setiap kamar. Di setiap kamar sudah disediakan tempat tidur untuk
empat orang dan lemari pakaian.

“Jadi, tinggal bawa koper saja, kamar rusun sudah bisa ditempati,” ujarnya. Harga sewa rusun per bulan bervariasi tergantung lokasi lantai. Di lantai dasar, misalnya, harga
sewa Rp 149.000 per bulan, di lantai satu Rp 143.000 per bulan, di
lantai II Rp 137.000 per bulan, lantai III Rp 131.000 per bulan,
sedangkan di lantai IV Rp 125.000 per bulan. Makin ke atas, biaya
sewa memang lebih murah karena penghuni harus naik tangga untuk bisa
ke kamar rusunnya.

Berbeda dengan rusun di Jakarta, rusun di Kota Tangerang adalah
rusun sewa sehingga setiap penghuni hanya menyewa. Ini sesuai dengan
kondisinya yang dibangun di kawasan industri. Dan, bagi perusahaan
atau pabrik, kehadiran rusun di kawasan industri sangat membantu.

Perusahaan tak perlu repot-repot menyediakan bus antar-jemput
karyawan dan ongkos transpor bagi pekerja pabrik pun bisa lebih
dihemat. Beberapa perusahaan malah menyewa satu lantai rusun untuk
karyawan pabriknya. Beberapa manajer dan kepala personalia sejumlah
pabrik malah tinggal di rusun bersama keluarganya dengan alasan lebih
praktis karena sangat dekat dengan lokasi tempat kerja.

Rumah susun Manis di Jatiuwung ini, menurut Ayi Sukandi, Kepala
Suku Dinas Pengelolaan Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tangerang,
menjadi bahan studi perbandingan beberapa pemerintah daerah, seperti
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur, Pemprov Riau, Pemkot
Surabaya, Pemkot Bandung, Pemkot Cirebon. “Kehadiran rusun di kawasan
industri di Kota Tangerang ternyata dianggap berhasil,” kata Ayi.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Pemkot Tangerang Ny
Roestiwi kepada Kompas pekan lalu di ruang kerjanya menjelaskan,
pembangunan rusun di kota itu dimulai sejak tahun 1996 silam.
Awalnya, rusun dibangun berdasarkan kerja sama dengan masyarakat
pemilik tanah. Tanah seluas 2.500 meter persegi di Kelurahan Alam
Jaya milik H Navis, sedangkan konstruksi rusun yang terdiri dari dua
blok (96 unit kamar) dibangun pemkot, dengan persyaratan, setelah
dikelola pemkot selama 15 tahun, rusun itu menjadi milik keluarga
Navis. Ini merupakan model pertama.

Model kedua, lahan dan bangunan milik pemkot serta dikelola oleh
pemkot. Rusun yang terdiri dari dua blok (128 kamar) ini dibangun di
atas lahan seluas 10.000 m2 di Kelurahan Manis Jaya, Kecamatan
Jatiuwung. Arsitek rusun ini adalah Prof Johan Silas dari Surabaya.

Akan tetapi, rusun ini masih terkesan kumuh karena kurang
memperhatikan estetika karena pakaian yang dijemur penghuni rusun
terlihat dari depan. Selain itu, penggunaan kamar mandi dan dapur pun
masih bersama-sama di lantai yang sama.

Model ketiga, rusun sebanyak empat blok (192 unit) dibangun oleh
Perum Perumnas di atas lahan milik pemkot, masih di Kelurahan Manis
Jaya, dan dikelola pemkot. Meski lokasinya di sebelah rusun yang
lama, ternyata model rusun yang dibangun Perumnas inilah yang sangat
digemari. Saat ini sedang dilaksanakan pembangunan rusun dengan dana
bantuan Depkimpraswil yang dimulai sejak Desember 2002 lalu di
Kelurahan Manis Jaya sebanyak dua blok (96 unit).

Melihat permintaan rusun sangat banyak, maka dalam lima tahun ke
depan (tahun 2003- 2008), Pemkot Tangerang bersama Depkimpraswil akan
membangun 768 kamar rusun sewa tipe 21. Masing-masing empat blok (192
unit) di Kelurahan Jatake, Kecamatan Jatake, seluas 1,9 hektar, empat
blok di Kelurahan dan Kecamatan Batuceper seluas 0,5 hektar, 192 unit
di Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh, 0,3 hektar, dan 192
unit di Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Periuk, seluas 0,4
hektar.

“Pembangunan rusun di kawasan industri ini untuk memenuhi
kebutuhan para pekerja pabrik akan tempat tinggal yang layak huni,”
jelas Roestiwi.

Pembangunan rusun agaknya sudah harus menjadi kebutuhan utama di
Kota Tangerang karena sesuai dengan koefisien dasar bangunan (KDB)
Kota Tangerang, perbandingan lahan yang dapat dibangun dengan lahan
terbuka adalah 60 : 40. “Saat ini sudah 57 persen lahan dari
17.729.749 hektar atau 177,2 km2 luas Kota Tangerang sudah terbangun.

Artinya, hanya tiga persen saja lahan yang masih bisa dibangun.
Sedangkan 40 persen sisanya harus dipertahankan sebagai lahan terbuka.
Melihat kenyataan ini, Roestiwi berpendapat, pada tahun-tahun
mendatang, rusun sudah harus menjadi pilihan. “Pembangunan vertikal
sudah harus menjadi prioritas utama di Kota Tangerang,” tandasnya.

Apalagi dia melihat jumlah pabrik di Kota Tangerang mencapai 1.000-
an, sedangkan tempat tinggal para pekerja pabrik acapkali masih tidak
layak huni dan tidak memenuhi syarat kesehatan. “Rusun ternyata
sangat diminati. Baru bikin rencana saja sudah banyak yang
mendaftarkan diri untuk tinggal di rusun. Selain tempatnya layak
huni, juga dekat dengan pabrik sehingga perusahaan tidak perlu lagi
menyediakan bus antar-jemput karyawan dan menghemat biaya,” katanya.

Bahkan, Pemkot Tangerang kini melirik rusun sebagai salah satu
solusi bagi mereka yang tinggal di perumahan yang selalu menjadi
langganan banjir di Kota Tangerang, misalnya perumahan-perumahan
Total Persada, Pondok Arum, Periuk Damai. Asisten Daerah (Asda) II
Pemkot Tangerang Istiarso S belum lama ini mengatakan, jika para
penghuni kawasan perumahan yang selalu terkena banjir ini setuju
pindah ke rusun, pemkot bisa membangun rusun-rusun baru untuk mereka.

Solusi ini baik juga dipertimbangkan. Daripada warga setiap kali
musim hujan tiba harus menderita karena kebanjiran, atau warga harus
pindah ke lokasi lain yang lebih jauh dari kota, mengapa tidak
tinggal di rusun saja? Tapi tentunya untuk rusun yang satu ini bukan
lagi rusun sewa dan tipenya pun harus dikembangkan lebih luas agar
banyak yang berminat.

Bagaimanapun, rusun sudah menjadi kebutuhan utama para pekerja
pabrik akan tempat hunian yang layak. Para pimpinan perusahaan
ataupun para pemilik pabrik di Kota Tangerang sudah seharusnya
memikirkan bagaimana rusun bisa dibangun di sekitar lokasi pabrik
mereka. Jika tempat kerja dekat dengan tempat tinggal, waktu tak
banyak terbuang di jalan. Para pekerja pun lebih bisa berhemat,
bahkan meningkatkan kualitas hidup karena frekuensi bertemu dengan
anak istri lebih banyak. Pada jam istirahat siang, misalnya, tidak
sedikit pekerja yang memilih pulang ke rumah susun dan makan bersama
dengan keluarga

Melihat kebutuhan rusun terus meningkat, bisa jadi rusun di masa
depan menjadi primadona, khususnya di dalam Kota Tangerang. Pada saat
ini, rusun di kawasan industri di kota ini yang sangat diminati baru
diperuntukkan bagi pekerja pabrik dan mereka yang bekerja di sektor
informal.

Tetapi, bukan tidak mungkin di masa depan rusun untuk masyarakat
kelas menengah pun dapat dibangun. Kalau ada pengembang swasta yang
berminat membangun rusun kelas menengah, atau istilahnya apartemen di
kawasan industri, dan ditujukan untuk manajer pabrik dengan kualitas
yang lebih baik, mengapa tidak? (ROBERT ADHI KSP)

Foto:
Kompas/Robert Adhi KSP
RUMAH SUSUN–Rumah susun (rusun) yang dibangun di kawasan industri di
Kota Tangerang ini menjadi salah satu kebutuhan utama para pekerja
pabrik. Selain harga sewanya terjangkau, fasilitasnya baik dan
lingkungannya relatif bersih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s