Daniel Ziv Menulis Jakarta

KOMPAS

Senin, 17 Feb 2003

Halaman: 12

Penulis: Adhi KSP, Robert


DANIEL ZIV MENULIS JAKARTA

JAKARTA saat ini masih merupakan salah satu kota yang menarik dan
paling hidup di kawasan Asia Tenggara. Kota penuh warna dan tidak
membosankan. Itulah pandangan Daniel Ziv (33), penulis buku Jakarta
Inside Out, sebuah buku panduan bagi orang asing yang baru datang ke
Jakarta,yang ditulis dengan bahasa populer dan kocak.

Buku yang diterbitkan Equinox Publishing, September 2002, dan
dijual di berbagai kota di dunia, termasuk di toko buku maya
http://www.amazon.com dan berbagai kota di Asia, Australia, dan Eropa ini
ternyata laris. “Setelah cetakan pertama 3.000 eksemplar terjual
habis, buku ini sudah dicetak ulang kali kedua pada bulan Februari
2003 dan mulai masuk toko buku pekan ini,” kata Daniel Ziv.

“Ide menulis muncul ketika saya menjadi pemimpin redaksi (pemred)
majalah djakarta. Banyak cerita belum diungkap, tetapi perlu
diketahui orang asing yang datang ke Jakarta,” kata Ziv.

Selama ini, buku-buku yang ditulis orang asing tentang Jakarta
lebih banyak tentang politik, kejatuhan Soeharto dan peristiwa
politik tahun 1998. Juga cukup banyak buku tentang Jakarta yang
mengulas kebudayaan, tarian, museum, dan sejenisnya. Tetapi, buku
yang mengupas kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta?

Celah inilah yang dilihat Ziv, yang sering berkeliling ke
berbagai kota di mancanegara. “Melalui buku ini saya ingin menegaskan
bahwa Jakarta memang kota menarik, sangat hidup, penuh warna, dan
tidak membosankan. Sebagai orang asing yang sudah empat tahun tinggal
di Jakarta, saya punya tanggung jawab menjelaskan kepada pembaca
asing tentang Jakarta dengan jujur,” katanya.

Menulis dengan cara jujur, menurut Ziv, artinya, “Saya tidak mau
dan tidak bisa berbohong. Kalau hanya menceritakan yang bagus-bagus,
saya akan tak dipercaya. Karena itulah saya juga menyelipkan beberapa
kritik kepada Gubernur DKI Jakarta.”

Ziv yang tengah merampungkan pendidikan S3-nya dalam bidang
politik Asia Tenggara di School of Oriental & African Studies di
Universitas London, ketika tiba di Jakarta sekitar empat tahun lalu
langsung membuka mata. Dia mengaku merasakan ada sesuatu yang luar
biasa di Jakarta. Akan tetapi, Ziv tidak melihat majalah khusus yang
memberi informasi untuk orang asing.

“Di Bangkok ada Bangkok Metro, di New York ada New Yorker, tapi di Jakarta? Belum ada penerbitan semacam itu. Saya lalu berusaha mendirikan majalah djakarta dengan
dukungan dari pengusaha,” ceritanya. “Meski tidak lagi menjabat
pemred di sana, saya tetap bangga dengan majalah djakarta,”ujarnya.

PENGALAMANNYA selama empat tahun bertugas di majalah djakarta
itulah yang mendorong Daniel menulis buku Jakarta Inside Out. “Salah
satu alasan mengapa saya menulis buku ini, karena saya suka kota
besar di seluruh dunia. Saya merasa kita besar karena lingkungan,
lansekap, pemandangan, meski banyak polusi. Lingkunganlah yang punya
banyak cerita. Saya tertarik bagaimana sistem di Jakarta berjalan,
mulai dari korupsi sampai urusan creambath,” cerita Ziv, yang pernah
tinggal di New Delhi, Jerusalem, dan Bangkok itu.

Dia melakukan riset sejak empat tahun lalu, tetapi mulai menulis
sejak sepuluh bulan lalu, termasuk mengambil foto. Separuh foto di
buku ini karya Ziv sendiri, dan sebagian lagi kontribusi teman-teman
fotografer. Ziv turun sendiri ke lapangan dengan naik ojek dan
metromini, atau nongkrong bersama orang-orang jalanan.

“Ketika meneliti pengamen, saya ikut pengamen di bus dan
metromini selama empat hari. Sampai sekarang pun saya masih berteman
dengan pengamen-pengamen itu. Mereka beberapa kali datang ke
apartemen saya dan kami nyanyi bersama,” kisahnya. Di sampul depan
bukunya ada foto penjual cendol. Menurut Ziv, itu temannya, pedagang
cendol di Slipi yang dia undang ketika peluncuran buku pada 21
September 2002 silam di Museum Nasional Jakarta.

ZIV menyampaikan kritik dan saran kepada Gubernur DKI Jakarta,
yang dia sebut sebagai “ide liar atau ide gila”. Pertama, dia
mengusulkan agar gubernur menghentikan penggusuran rumah penduduk.
Jika memang harus menggusur, berilah rumah alternatif yang kondisinya
sama baik atau lebih baik. “Jangan main gusur, apalagi secara paksa,”
usul dia.

Kedua, dia menyarankan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
membersihkan udara Jakarta dengan mengendalikan asap bus yang kotor
dan memberi sanksi keras bagi pelanggar standar emisi yang sudah
ditentukan.

Ketiga, dia menyarankan Gubernur DKI memprioritaskan kembali
anggaran yang mencerminkan kebutuhan sebenarnya Kota Jakarta. Ini
berarti alokasi untuk hal tidak penting harus dibuang, seperti
anggaran pembelian mobil anggota DPRD. Juga alokasi dana studi
banding ke Tokyo dan New York, karena lebih baik jika studi lapangan
dilakukan di Kramat atau Cilincing, karena itu lebih relevan. Pejabat
maupun wakil rakyat bisa bertemu langsung dengan problem sebenarnya
yang dihadapi masyarakat Jakarta, meskipun itu tidak menyenangkan.

Keempat, jangan lupakan harta bersejarah Kota
Jakarta. “Restorasi. Hidupkan kembali dan pelihara tempat bersejarah
di Jakarta. Tirulah Singapura dengan Clark and Boat Quays, distrik
kolonial, pasar, dan museum mereka. Memang ini membutuhkan anggaran
besar. Tetapi, saya yakin Pemerintah Provinsi DKI Jakarta punya uang
dan tahu apa yang harus dilakukan,” tandas dia.

“Lihatlah Kota Tua. Dengan perencanaan dan komitmen, Kota Tua
dapat menjadi atraksi kelas dunia yang tidak hanya menarik bagi
turis, tapi juga pebisnis. Aturlah lalu lintas di kawasan itu, pasang
lampu dan AC di museum-museum di Kota. Diskusikan pengurangan pajak
dengan para pengembang kawasan warisan budaya. Bersihkan Kali Besar,
karena bisa menjadi kanal indah, daripada menjadi tempat yang bau dan
merusak pemandangan seperti sekarang,” sarannya lagi.

Dan usul yang kelima, pemerintah harus menciptakan “paru-paru”
Kota Jakarta karena hal ini sangat mendasar. Monas sebagai taman
terbesar di Jakarta dapat menjadi oasis sesungguhnya bagi masyarakat
umum, tempat orang bisa merasakan udara segar dan hening sejenak dari
kesibukan sehari-hari. Tetapi, di sana terlalu banyak serdadu,
polisi, dan satpam, yang menurut pandangannya kurang baik.

Setelah tidak lagi bekerja di majalah djakarta, Ziv kini
memfokuskan diri menulis buku dan mengedit buku-buku yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Lelaki itu pun terjun ke dunia
hiburan, menyanyi duet untuk sinetron Strawberry yang ditayangkan
SCTV. “Saya memang hobi menyanyi. Album itu album pertama saya,”
ungkap dia.

Pengetahuannya yang luas tentang Jakarta membuat Ziv diminta
menjadi pembawa acara Discovery Channel yang membahas Jakarta. “Saya
menjelaskan apa itu Glodok, juga menjelaskan fenomena joki three in
one; memperkenalkan Tanamur, tempat hiburan malam yang populer bagi
orang asing; pusat-pusat belanja versi Indonesia, Museum Fatahillah,
dan Pelabuhan Sunda Kelapa,” urainya. (ROBERT ADHI KSP)

Foto:
Kompas/Adhi KSP
Daniel Ziv

FOTO di blog ini diambil dari http://www.equinoxpublishing.com/jio/default.htm

LINK TERKAIT http://www.amazon.com/Jakarta-Inside-Out-Daniel-Ziv/dp/9799589878

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s