Sukartadji dan Wisata Alam Kalbar

KOMPAS
Selasa, 12 Jan 1999
Halaman: 12
Penulis: ADHI KSP

SUKARTADJI DAN WISATA ALAM KALBAR

MENDAMBAKAN suasana pantai yang masih alami? Datanglah ke
Taman Pasir Panjang Indah, sekitar 17 km menjelang kota Singkawang,
Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Selain menikmati deburan ombak,
Anda menyaksikan tupai dan kera berloncatan di pepohonan, dan
mendengar kicauan burung yang menyejukkan hati dari tempat menginap.

Suasana hutan asli ini sengaja dibuat sedemikian rupa oleh
pengelolanya, Sukartadji (58). “Bangunan di sini tak ada harganya
dibanding suasana alam yang masih asli,” kata pengusaha kelahiran
Trenggalek, Jawa Timur itu. Sukartadji yakin, suasana alam yang asli,
mampu memberikan kesegaran dan kesejukan bagi pengunjung yang datang
ke tempat wisatanya.

Tupai, kera, dan aneka burung sejak awal ada di hutan itu,
Sukartadji tinggal melestarikannya. Tamu-tamu dilarang membawa
anjing, kucing, dan ayam, agar mereka yang menggelar tikar di pantai tak
terganggu. Pengunjung juga dilarang menembak aneka burung di kawasan
itu.

Taman Pasir Panjang Indah (TPPI) seluas 230 hektar (dan yang
baru terjamah sekitar 50 hektar) pernah dipasarkan di Monaco dalam
pasar wisata Eropa. Hasilnya? Ada grup investor Eropa yang merespons.
Namun saat itu, Sukartadji mengaku agak “terpeleset” karena terlalu
menonjolkan bangunan penunjang dan kolam renang. “Padahal bagi turis
Eropa, yang utama adalah unsur alami. Mereka kurang suka wisata
buatan,” jelasnya.

Tahun berikutnya, 1997, ketika akan memasarkan TPPI di pasar
wisata Berlin, Sukartadji mencari obyek wisata alam untuk pendukung,
dari Gunung Niut hingga air terjun di Desa Dawar. Ia khusus menyewa
fotografer Inggris untuk memotret obyek-obyek wisata alam di Kalbar.

Apa yang dipromosikan Sukartadji, tak sia-sia. Asosiasi
Perjalanan Wisata Jerman menanggapi positif. Ketuanya Heike Gollner,
April 1998 lalu datang ke Kalbar, menjajaki kemungkinan menjalin
kerja sama wisata. “Turis Eropa lebih suka wisata alami. Misalnya, menginap
di pondok peristirahatan yang dibuat mirip Rumah Betang (rumah
panjang masyarakat Dayak) sambil mendengar gemuruh air terjun dan menyaksikan orangutan bermain-main,” jelas Gollner.

Keyakinan Sukartadji, wisata alam akan diminati turis Eropa,
mengacu pengalamannya di pasar wisata Berlin. Saat itu tetangga kita,
Filipina menampilkan foto petani nongkrong di sawah membawa cangkul
dengan latar belakang gunung. Ternyata peminatnya banyak. Fenomena
“kembali ke alam” ini ternyata digemari.

Maret 1999 nanti, di pasar wisata yang sama, Sukartadji
berencana menjual wisata alam Kalbar, menampilkan gambar ukuran 4 m x
8 m, memuat perempuan Dayak sedang menambang emas di sungai
dilatarbelakangi air terjun.

Dari promosi di pasar wisata, beberapa investor asing ada yang
berminat. Grup Kempinski misalnya, sudah melakukan survei, berencana
membangun hotel berbintang di kawasan Pasir Panjang.

Namun, kedatangan calon investor, acapkali tidak diantisipasi
aparat pemda. Berulangkali mereka datang, tapi surat-surat macet
karena perlu “uang pelicin”. “Orang mau menanam modal, kok
dipersulit,” kritik Sukartadji menyayangkan mental aparat. Ia menilai
visi aparat tentang pariwisata tidak ada. Soalnya, kedatangan orang
asing menanam investasi, selalu dianggap sebagai rezeki untuk kantung
pribadi.
***

NAMA Sukartadji memang identik dengan Taman Pasir Panjang
Indah, Singkawang. Pria inilah yang “menemukan” pantai ini dan
menyulapnya menjadi tempat wisata alami yang senantiasa ramai
dikunjungi.

Ketika tidur di atas karung garam di kapal yang membawanya
dari Surabaya ke Pontianak sekitar 37 tahun silam, Sukartadji tak
pernah bermimpi suatu hari akan menjadi pengusaha. Perjalanan selama
lima hari itu, membuat Sukartadji mabuk laut, sehingga ia tak bisa
menikmati petualangan barunya. Waktu itu usianya masih 21 tahun.

Namun anak kedua dari sembilan bersaudara pasangan Sukardjiman
(guru SD) dan Ny Yatini ini sudah bertekad mencari pengalaman baru di
Kalimantan Barat. Sejak masih duduk di kelas V SD di Trenggalek, Jawa
Timur, ia sudah rajin membantu ibunya memasarkan barang (seperti
kelom dan beha) ke tetangga dan pegawai.

“Itulah cara ibu mendidik saya menjadi wiraswasta,” tutur
Sukartadji dalam percakapan dengan Kompas di Taman Pasir Panjang
Indah, Singkawang, Kabupaten Sambas, Kalbar. Tempat wisata itu
dikelola secara profesional, dan menjadi salah satu primadona
pariwisata Kalbar.

Setamat dari SMAN I Malang tahun 1961, Sukartadji memutuskan
mengadu nasib ke Kalbar, karena bosan menjadi penganggur. “Masa’ saya
harus jual beha terus dari rumah ke rumah,” katanya.

Awalnya, pada tahun 1962, ia bekerja di PLN Cabang Pontianak.
Setelah bekerja enam bulan, Ong Kong Ann, pimpinan PLN saat itu,
memindahkannya ke PLN Ranting Singkawang, dan ditempatkan di bagian
logistik (angkutan) perminyakan. Tugasnya mengurusi logistik minyak
ke Pontianak. Di Singkawang, ia mendapat jodoh, menikah dengan Suharti
(55), dianugerahi empat putra dan lima cucu.

Lima tahun kemudian, karena dinilai berhasil, Sukartadji
dipercaya mengurus logistik minyak se-Kalbar. Ia pun ikut berbisnis
minyak bersama pedagang Kalbar.

Namun pada 1969, keluar peraturan pegawai negeri dilarang
berdagang, ia mengajukan mundur dari PLN. Tahun 1971, permintaan
pengunduran dirinya disetujui dengan catatan, ia masih membantu
bidang
transportasi. Sukartadji mengembangkan PT Wahyu Niaga yang bergerak di bidang transportasi minyak.

Mundur dari PLN bukan berarti tak berhubungan lagi. Sukartadji
yang mendirikan CV Wahyu dan bergerak di bidang konstruksi, mendapat
tender PLN dari membangun tangki di Kabupaten Sambas hingga
rumah-rumah dinas PLN di kawasan Siantan, Pontianak.

Pekerjaan paling menguntungkan, pada 1975 membangun tegangan
tinggi pada jalur Pontianak-Mempawah-Anjungan, dan
Singkawang-Pemangkat. Keuntungan yang diperolehnya, dijadikan modal
membangun Hotel Palapa di Singkawang pada 1976, dan satu-satunya
hotel megah di kawasan itu. Kapolri (waktu itu) Jenderal Pol Widodo
Budidarmo tercatat sebagai tamu pertama yang menginap di sana,
disusul pejabat lain. Sayang, hotel itu salah urus dan terpaksa dijual tahun
1996, setelah 20 tahun beroperasi.

Tapi Sukartadji yang hobi mandi di pantai ini masih memiliki
aset pariwisata lain. Tahun 1976, secara tak sengaja ia “menemukan”
pantai Pasir Panjang. Setelah tiga tahun membersihkan hutan belantara
di tepi Laut Natuna itu, akhirnya secara bertahap ia membangun motel,
cottage, restoran, kolam renang. Dari sinilah, Sukartadji makin
memahami dunia pariwisata.

Ia juga membeli Pulau Randaian (kira-kira dua jam naik perahu
motor dari pantai Pasir Panjang). Pulau yang dipenuhi pohon kelapa
itu, kini menjadi salah satu sasaran turis. Laut yang mengelilingi
pulau itu masih jernih dan cocok bagi para penyelam, terutama dari
Sarawak. “Masih banyak yang harus dibenahi untuk membuat pulau ini
diminati turis asing,” kata Sigmund Schwarz, warga Jerman yang
singgah di Pulau Randaian.

Obsesi Sukartadji adalah menggarap wisata alam di Kalbar yang
berlimpah-ruah menjadi obyek wisata menarik bagi wisatawan
mancanegara dan nusantara. Caranya? “Kembalilah ke alam,” katanya.

“Kalau Bali berhasil menjual wisata budaya, mengapa Kalbar
tidak mampu menjual wisata alamnya yang berlimpah-ruah? Air terjun,
gunung, sungai, hutan belantara, pantai, pulau dan banyak lagi yang
belum digarap. Itu semua potensi besar yang harus disadari semua
pihak,” ujarnya. (Adhi Ksp)

Foto:1
Kompas/ksp
Sukartadji

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s