Nakhoda KLM Artha Rimba: "Kalau Menolak Dipecat…"

KOMPAS
Sabtu, 13 Feb 1999
Halaman: 8
Penulis: KSP

NAKHODA KLM ARTHA RIMBA: “KALAU MENOLAK DIPECAT…”

NAKHODA Artha Rimba, Hermanto (33) hari Jumat (12/2) mengaku
dipaksa pemilik kapal dan kepala rombongan tenaga kerja agar segera
mengangkut ratusan buruh ke Kepulauan Riau. Namun sebagai nakhoda,
pria kelahiran Pulau Tambelan (Riau) itu menyatakan siap bertanggung
jawab dan menerima risiko dari perbuatannya.

“Kalau saya menolak, saya akan dipecat dan orang lain yang
menggantikan saya. Sedangkan saya masih butuh uang untuk anak-istri.
Mencari pekerjaan pada situasi begini, tidak gampang,” ungkap
Hermanto.

Menurut pengakuan Hermanto, pemilik kapalnya bernama Leman
yang berdomisili di Batam. “Tetapi waktu itu saya disuruh berangkat
oleh Iswan, wakil Pak Leman. Katanya, saya harus berangkat secepat
mungkin. Saya bertemu kepala rombongan TKI itu bernama Salim, anggota
polisi dari Riau, yang menyerahkan jumlah penumpang seluruhnya 325
orang. Namun Salim tidak ikut berangkat,” jelasnya.

Ketika ditanya mengapa ia tetap berangkat membawa 325 penumpang,
padahal dalam Surat Izin Berlayar disebutkan tidak ada penumpang,
Hermanto menjawab, “Saya ‘kan orang gajian. Kalau saya menolak,
jelas saya langsung dipecat dan diganti dengan yang mau.” Nakhoda
itu mengaku dibayar Rp 400.000 untuk satu trip.
***

KLM Artha Rimba berbobot 147 ton dan dengan mesin berkekuatan
280 PK, baru diperbaiki delapan bulan yang lalu, lalu dibeli oleh
pengusaha Kalbar yang membuka usaha di Tanjungrambi, Guntung, Sumbar.
Hermanto mengaku baru lima bulan menjadi nakhoda KLM Artha Rimba, dan
ia mengantungi ijazah Mualim Pelayaran Rakyat (MPR) dari Semarang
tahun 1998.

Menurut Hermanto, ketika berangkat dari Pelabuhan Sintete,
Kabupaten Sambas, hari Sabtu pekan lalu, KLM itu hanya mengangkut
tujuh ABK dan dirinya sebagai nakhoda. Di tengah perjalanan, KLM itu
singgah di Sengawang, Kecamatan Sekura, dan mengangkut 325 penumpang
yang bekerja sebagai TKI itu. Cuaca saat itu cukup baik. Ombak normal,
sekitar satu setengah meter.

Nakhoda itu menjelaskan, Artha Rimba tenggelam setelah tiga
mesinnya mati mendadak. Akibatnya air laut masuk ke dalam kapal,
menyebabkan mesin induk tergenang, oli kemasukan air, dan mesin
kehilangan fungsinya.

“Saya berusaha mengirim berita melalui radio di kapal ke pos
TNI AL di Pulau Tambelan, namun ternyata radio tak berfungsi. Radio
itu hanya bisa menerima berita, tetapi tak bisa mengirim berita,”
katanya. Hermanto mengaku ketika akan berangkat, ia sudah mencek dan
radio berfungsi baik.
***

TETAPI pada pukul 17.00-18.00 hari Sabtu, semua peralatan
kapal itu tak berfungsi. Ia mengaku sudah mengumumkan kepada semua
penumpang agar tenang, dan ada kerusakan di kapal. Namun menjelang
tengah malam, kapal perlahan-lahan tenggelam.

“Saya yang paling akhir keluar dari kapal. Saya sudah berkeinginan
untuk mati bersama kapal, tetapi saya merasa didorong dan kemudian
terpental ke laut. Saya menemukan sekeping papan berukuran 2 m x 30 cm,
kemudian terombang-ambing selama dua hari dua malam,” katanya. Selama
di laut, tururnya, ia bermimpi disuruh membeli air mineral dan
air kelapa.

Hermanto mengaku baru kali itu mengangkut penumpang dari Sambas
ke Riau. Biasanya ia membawa barang seperti bahan pokok, pupuk,
beras dan sebagainya. “Tidak seperti biasanya saya membawa penumpang.
Saya mengangkut TKI pun, karena saya dipaksa. Kalau menolak,
ancamannya saya dipecat…,” katanya.
***

MENURUT Hermanto, kapalnya pernah menolong kapal lain, yaitu
KM Kanada II, yang tenggelam di Duri, Kepulauan Riau, dua hari
menjelang Lebaran. “Waktu itu sekitar 200 orang penumpang kapal dapat
diselamatkan,” katanya.

Artha Rimba saat itu berada di Tanjungbatu. Administrator
pelabuhan setempat minta kepadanya menolong penumpang di Kanada II.
“Waktu itu kami menerima 191 baju renang dan pelampung untuk
dipinjamkan. Setelah itu, sekitar 200 orang itu kami bawa ke Sungai
Sambas, karena semuanya orang Sambas,” tutur nakhoda. Sejak itulah
KLM Artha Rimba berada di Sambas, Kalbar sampai hari Sabtu pekan lalu.

Diperoleh kabar, KM Kanada II hari Minggu lalu ditangkap syahbandar
Sungai Apit, Bengkalis (Riau) karena mengangkut penumpang jauh di atas
kapasitas semestinya (Kompas, 11/2).

Istri Hermanto, Ny Rosidah (22), tinggal di kota Kecamatan
Pemangkat, Kabupaten Sambas. Ia merasa bersyukur suaminya lolos dari
maut. Namun ia sedih atas musibah yang terjadi pada kapal suaminya
dan penumpangnya. (ksp)

Foto:
Kompas/ksp
Nakhoda KLM Artha Rimba, Hermanto

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s