Petani Karet Ikut Menyumbang Devisa


KOMPAS

Senin, 02 Mar 1998

Halaman: 9

Penulis: WAWA, JANNES EUDES/ADHI KSP

PETANI KARET IKUT MENYUMBANG DEVISA

HAMPIR setiap pagi, Cicilia Dit (21) harus berjalan kaki sekitar
setengah jam, menempuh jarak dua kilometer dari rumah ke kebun karet
di Kampung Sanjan, Kecamatan Sanggau Kapuas, Kabupaten Sanggau,
Kalimantan Barat. Di sana, lulusan SMA itu membantu ayah dan ibunya
menoreh karet di kebun seluas satu hektar, selama kurang lebih lima
jam. Setelah itu ia menggembalakan empat ekor sapi.

KARET hingga kini masih menjadi salah satu primadona Kalimantan
Barat, selain kayu, dan nantinya kelapa sawit. Komoditas hasil hutan
dan pertanian ini menjadi komoditas ekspor utama Kalbar, yang tidak
memiliki ladang minyak sebagai penghasil devisa.

Dari 695,3 juta dollar AS nilai ekspor Kalbar pada tahun 1996, di
antaranya 33 persen diperoleh dari ekspor karet remah (crumb rubber)
atau sekitar 172,3 juta dollar AS. Untuk tahun 1997, kontribusi
ekspor karet Kalbar kurang lebih sama.

Tiga puluh persen penduduk Kalbar (yang berjumlah 3,6 juta jiwa)
mengandalkan hidup mereka dari tanaman karet, yang masih
dibudidayakan secara tradisional. Fakta ini menunjukkan, perkebunan
karet di Kalbar memberi dampak besar bagi perekonomian dan kehidupan
sosial masyarakat, juga bagi pembangunan pedesaan. Dari seluruh
perkebunanitu 97 persen merupakan perkebunan karet rakyat yang
dimiliki 218.081 KK dan menghidupi sekitar satu jiwa.

Luas perkebunan karet di Kalbar pada 1996 tercatat 449.526
hektar, mengalami pertambahan rata-rata 2,4 persen/ tahun. Komposisi
kebun karet tersebut, 124.028 hektar tanaman muda, 267.614 hektar
tanaman menghasilkan, dan 57.858 hektar tanaman tua atau rusak.
Perkebunan rakyat merupakan bagian terbesar seluas 431.858 hektar
(sekitar 97 persen) dari perkebunan karet Kalbar. Sedangkan milik PT
Perkebunan Nusantara (PTPN) 5.086 hektar (1,14 persen) dan milik
Perkebunan Besar Swasta (PBS) 7.482 hektar (1,68 persen).

Persoalannya, sebagian besar petani karet di Kalbar masih berada
di bawah garis kemiskinan. Mereka tinggal di pelosok desa di tengah
belantara. Pemda Kalbar, dalam hal ini Dinas Perkebunan, berupaya
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani karet melalui
berbagai upaya. Misalnya, meningkatkan produksi dan produktivitas,
efisiensi usaha, meningkatkan kemampuan manajerial dan kelembagaan,
serta memperbaiki pengolahan dan tata niaga.

Kenaikan harga karet saat ini, akibat depresiasi nilai tukar
rupiah terhadap dollar AS, seharusnya dinikmati petani karet Kalbar.
Menurut Ketua Gapkindo (Gabungan Perusahaan Karet Indonesia) Kalbar
Leo Abam, harga karet pada awal Februari lalu mencapai 84 sen
dollar AS, dan diharapkan mencapai satu dollar AS per kg.

“Harga karet kini mencapai Rp 3.500-Rp 4.000/kg. Harga ini
dinilai tertinggi dalam sejarah karet Kalbar. Enam bulan lalu,
petani karet Kalbar masih memperoleh harga Rp 2.000 – Rp 2.400/kg,”
kata Leo Abam. Hasil karet ini dibeli enam eksportir-produsen
dengan harga dollar AS yang dipatok Rp 4.000 per satu dollar AS,
dan nilai kursnya disesuaikan.

Namun apakah petani karet ikut menikmati kenaikan harga tersebut?
Ternyata tidak semudah menghitung angka-angka seperti pada
matematika. Sebab petani karet masih berhubungan dengan pembeli
perantara (bisa tengkulak, bisa pula perusahaan seperti PTPN). Mereka
ini membeli karet dari petani dengan harga yang lebih rendah, dan
menikmati keuntungan yang relatif besar. Ini berarti, kenaikan harga
karet yang dibanggakan Gapkindo, tidak terlalu berpengaruh pada
petani karet.

Sejumlah petani karet di Kabupaten Sanggau dan Kabupaten
Pontianak yang ditanya Kompaspertengahan Februari mengungkapkan,
memang ada kenaikan harga karet, namun hasil karet mereka masih
dibeli dengan harga Rp 2.500 hingga Rp 2.800/kg.

Menurut Leo Abam, hasil karet petani tidak seluruhnya jenis sit
angin 100 persen, yang harga per kilogramnya mencapai Rp 4.000.
“Kebanyakan hasil karet petani jenis sit angin 70 persen, yang
harganya Rp 3.100/kg,” jelas Leo. Ia tetap yakin petani karet
Kalbar menikmati tingginya harga karet sebagai akibat depresiasi
nilai rupiah.
***

BAHWA karet sejak lama menghidupi sebagian besar masyarakat
Kalbar, memang fakta yang tak terbantah. Karet bahkan pernah membuat
Kalbar salah satu daerah terkaya di Indonesia. “Jasa” karet bagi
masyarakat, dinilai cukup besar. Tak sedikit petani karet yang
berhasil menyekolahkan putra-putri mereka dari hasil karet.

Matius Aman (53) misalnya. Petani karet di Dusun Sanjan, Desa
Sungai Mawang, Kecamatan Sanggau Kapuas, Kabupaten Sanggau mengaku
mampu menyekolahkan dua putra-putrinya dari hasil menoreh karet.
Bersama istri dan tujuh anaknya, mereka menggantungkan hidup
dari karet.

Aman memiliki tiga hektar lahan karet, yang menghasilkan rata-
rata 21 kg/hari. Jika dalam satu bulan (yang dihitung 18 hari kerja)
dan harga karet Rp 2.500/kg, maka penghasilan keluarga Aman rata-rata
Rp 1 juta. Sebagian pendapatannya ditabung di KSP (koperasi simpan
pinjam) “Lantang Tipo” Pusatdamai, Parindu, Sanggau.

Kehadiran koperasi ini dinilai sangat membantu petani karet
seperti Aman. Uang muka biaya kuliah salah seorang putranya
dipinjamnya dari koperasi ini dengan menggadaikan sapinya. Kredit
dicicil dari hasil karetnya dan sapi yang digadaikan akhirnya
tetap menjadi miliknya.

Sementara masyarakat Kampung Nyandang yang mengandalkan hidup
dari karet, mengaku berhasil meningkatkan taraf hidup secara
bertahap. Rumah-rumah penduduk dari kayu dan papan, mulai diganti
dengan rumah semen. Warga mulai melengkapi rumah dengan parabola dan
pesawat televisi berwarna ukuran besar.

Namun, harus diakui, tak selamanya karet menyimpan kisah indah.
Masyarakat di Kampung Kelempu Taba, Tayan Hilir, Sanggau, yang
sebelumnya memiliki hektaran kebun karet, kini terpaksa menjadi
buruh lepas dan karyawan perkebunan karet PTPN XIII. Ini memang
salah satu kisah gelap karet Kalbar.

Ceritanya, “Pada tahun 1981, Pak Camat datang meminta kami
menyerahkan kebun karet, katanya sihuntuk negara. Tanah tidak diberi
ganti rugi. Hanya tanaman hidup yang tumbuh di atasnya seperti
tengkawang, cempedak, durian, dan karet yang diberi ganti rugi.
Kami memperoleh Rp 880.000 untuk semua tanaman hidup di atas
lahan 30 hektar tanah adat/ warisan,” ungkap Asung (58).

Harapan pemerintah agar masyarakat Kalbar yang mengandalkan
hidup dari karet mampu meningkatkan taraf hidupnya, sebagian memang
tercapai. Namun sebagian lagi masih harus dipertanyakan, akibat
penyimpangan kebijakan yang dilakukan oknum aparat. Masyarakat
yang seharusnya menikmati hasil karet, malah tetap miskin, malah
lebih miskin karena lahan karet miliknya lenyap. Ironisnya, mereka
harus menjadi buruh karet di atas lahan yang sebelumnya milik mereka.
***

HINGGA tahun 1988, Kalbar masih mengekspor komoditas karet dalam
bentuk konvensional yaitu sheetdan crumb rubber. Namun sejak 1989,
seluruh produk dilaporkan berbentuk crumb rubber sesuai Standard
Indonesian Rubber (SIR). Perubahan ini, menurut Kepala Dinas
Perkebunan Kalbar Ir Karsan Sukardi, telah meningkatkan penerimaan
nilai tambah yang diterima di daerah produksi. Juga sebagai dampak
positif dari hasil olah karet yang baik yang dihasilkan para petani.

Dari tahun 1992 sampai 1994, petani Kalbar dinyatakan sebagai
penghasil olah karet dengan mutu terbaik seluruh Indonesia. Hingga
tahun 1997, jumlah pabrik karet remah di Kalbar tercatat enam buah
dengan kapasitas lisensi 183.000 ton, sedangkan kapasitas terpasang
204.400 ton. Produksi enam pabrik karet ini 145.677 ton. Saat ini
sedang dalam proses pembangunan pabrik karet remah di Kabupaten
Sintang, yaitu milik PTPN XIII (kapasitas lisensi 12.000 ton)
dan PT Kirana Windu (kapasitas lisensi 30.000 ton).

Menurut Ir Karsan Sukardi, sesuai dengan komposisi umur tanaman
dan tingkat produktivitas setiap jenis/proyek, produksi karet Kalbar
akan meningkat terus hingga tahun 2003. Peningkatan produksi ini
terutama disebabkan oleh kebun-kebun yang dibangun pada kurun waktu
Pelita III, IV, dan V yang secara kultur teknik relatif lebih baik
dari kebun-kebun yang dibangun sebelumnya.

Untuk kebun-kebun yang dibangun melalui proyek, proyeksi
produksinya dihitung berdasarkan vintage model. Sedangkan
produksi kebun rakyat swadaya, produksinya dihitung berdasarkan
kecenderungan/pola produksi yang berlaku selama 25 tahun terakhir.
Dengan mengaplikasikan time series program, maka produksi kebun
rakyat swadaya dapat diproyeksikan.

Pada tahun 2003, produksi karet Kalbar diproyeksikan 189.522 ton
(dengan harga 900 dollar AS/ton) dengan nilai ekspor diperkirakan
170.569.438 dollar AS. Angka ini diperkirakan melampaui angka
proyeksi sebab pada tahun 1996 saja, nilai ekspor karet mencapai
172,3 juta dollar AS. Tahun 1997 nilai ekspor berkurang menjadi
144 juta dollar AS karena anjloknya harga karet di pasaran dunia.

Namun sejak awal tahun ini, seiring dengan meningkatnya harga
karet di pasaran dunia, diperkirakan nilai ekspor karet Kalbar
juga akan meningkat.

Ir Karsan melihat, di samping ekspor karet (SIR-20), Kalbar
sudah dan akan terus mengekspor barang jadi yang berasal dari kayu
karet. Perkiraan kandungan dan nilai kayu karet diharapkan akan
memberi sumbangan devisa yang cukup berarti. Diproyeksikan, pada
tahun 1998 nilai ekspor kayu karet Kalbar sejumlah 8.268.750
dollar AS, sedang pada tahun 2003 diperkirakan 11.151.000 dollar AS.

Meningkatnya penggunaan dan harga kayu karet diharapkan
menghasilkan banyak manfaat, seperti meningkatkan penghasilan dan
kesejahteraan petani, juga meningkatnya sumber dana peremajaan
karet dari sumbangan pengusaha pengolah kayu karet. Petani juga
diharapkan memelihara kebun dan menggunakan sistem sadap yang
lebih baik agar meningkatkan produksi kayu karet yang lebih baik.
***

DISADARI perkebunan karet rakyat (karet lokal) merupakan
tulang punggung perkaretan Kalbar. Keberhasilan karet terletak
pada kemampuan, daya nalar dan motivasi petani itu sendiri.

Sebagaimana yang direkam Kompasdari petani karet, salah satu
persoalan yang sering dihadapi petani dalam upaya peremajaan karet
yang menggunakan jenis unggul seperti disarankan Pemda adalah,
sekalipun getahnya bisa ditoreh setiap hari, namun ternyata mudah
terserang hama penyakit akar putih, yang menyebabkan banyak tanaman
karet layu, bahkan mati.

Sementara tanaman karet lokal yang selama ini berkembang secara
sporadis, meski dinilai kurang sesuai dengan tuntutan zaman, ternyata
jauh lebih tahan terhadap berbagai serangan hama penyakit. Bahkan
getahnya lebih kental bila dibanding karet jenis unggul.

Dalam pengembangan karet sebagai komoditas andalan Kalbar masa
mendatang, sebaiknya karet lokal pun jangan sampai dimatikan. Sistem
intensifikasi perlu diatur sebaik mungkin, disesuaikan dengan jarak
tanaman, perawatan dan pemupukan. Pengamatan Kompas, selama ini
sistem seperti itu jarang digunakan. Tanaman karet lokal terkesan
dibiarkan begitu saja tanpa ada pengaturan yang baik.

Dinas Perkebunan Kalbar sendiri berjanji meningkatkan kemampuan
petani melalui peningkatan pendapatan dari kebun karet serta
pemanfaatan lahan secara efisien, antara lain melalui penerapan
pertanian terpadu (mixed farming).

Pemda juga berjanji meningkatkan kemampuan dan keterampilan umum,
teknik pertanian, dan manajemen usaha tani secara seimbang. Dengan
berbagai upaya ini, diharapkan petani karet Kalbar yang selama ini
hidup di pelosok dan di tengah rimba, tetap dapat menyumbang devisa
negara, sekaligus meningkatkan taraf hidup mereka. (Jannes EW/Adhi
Ksp)

FOTO di blog ini diambil dari http://www.kalbarnetwork.com/potensi/index.php

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s