Memanjat "Kelong" di Tengah Laut

KOMPAS

Minggu, 15 Feb 1998

Halaman: 18

Penulis: ADHI KSP

MEMANJAT KELONG DI TENGAH LAUT

DESIRAN angin laut pada hari Minggu (28/12) malam lalu terasa
menusuk tulang. Jam menunjukkan pukul 20.30. Perahu motor nelayan
milik Isak (48) diparkir sekitar 15 meter dari bibir pantai di Teluk
Paku, Pulau Temajo, perairan Kabupaten Pontianak. Air laut memang
mulai menyurut sehingga batu-batu karang terlihat jelas.

Untuk mencapai perahu motor itu, calon penumpang harus
berbasah-basah dulu. Setidaknya, celana yang dikenakan sampai batas
paha, ikut basah kena deburan ombak. Aman S (60) pemilik vila membawa
senter besar, mengingatkan agar kaki tidak terantuk batu karang.
Suasana laut memang gelap gulita. Isak dan rekannya Usman menyalakan
mesin, kemudian mengemudikan perahu perlahan-lahan.

Di kejauhan tampak terang lampu dari bagan ikan (atau dalam bahasa
setempat disebut kelong). “Kita menuju kelong di sana. Kita akan
melihat bagaimana nelayan menangkap ikan dan sotong dengan jaring,”
kata Aman yang sejak kecil sudah terbiasa akrab dengan suasana laut.

Jumlah penumpang di perahu motor nelayan itu 10 orang.
Kira-kira sepuluh menit kemudian, perahu motor mendekati kelong
yang terbuat dari batangan bambu yang diikat. “Semua penumpang diminta
naik, memanjat ke atas kelong,” kata Aman memberi instruksi. Dari
permukaan laut, tingginya sekitar lima meter. Satu per satu, penumpang
perahu motor memanjat. Kaki pun lincah naik hingga ke atas. Setibanya
di atas kelong, ada gubuk kecil beratap daun yang letaknya persis di
tengah.

“Dari tempat ini, kita bisa menyaksikan ikan dan sotong yang
diperoleh,” jelas Aman sambil menyorot senternya kesana-kemari. Lampu
di atas permukaan air laut berfungsi agar sotong atau cumi-cumi
mendekat. Sementara jaring berada di bawah permukaan laut.

Setelah menunggu beberapa saat, jaring pun mulai diangkat dengan
tali yang diputar-putar. Kelihatan ikan dan sotong menggelepar-gelepar
di atas jaring. Begitu jaring agak mendekat, Asdi, putra Pak Aman,
yang membawa jaring tangan, dengan sigap memindahkan hasil tangkapan
ke dalam keranjang.

Kegiatan itu dilakukan di atas kelong yang
tingginya sekitar lima meter di atas permukaan laut. “Lumayanlah,
dapat dua kilogram. Kalau mau menunggu sampai subuh, hasil yang
diperoleh bisa belasan bahkan puluhan kilogram,” jelas Geleng (40),
nelayan yang menjaga kelong.

Mereka yang menyaksikan penangkapan ikan dan sotong dari atas
kelong pun senang. Apalagi bagi yang baru pertama kali menyaksikan
nelayan menjaring ikan langsung dari kelong. Bukan hanya melihat
penangkapan, tapi juga ikut memanjat bambu yang dipasang di tengah
laut, di ketinggian lebih lima meter, tentunya pengalaman yang
mendebarkan. Bayangkan kalau tiba-tiba terjatuh dan tercebur di laut.

“Jangan khawatir. Kalau pun tercebur, di sini banyak orang yang siap
menolong,” kata Isak tersenyum, seolah menertawakan kami yang was-was
terjatuh.

Setelah berkeliling ke tiga kelong milik Pak Aman, perahu motor
pun kembali ke Teluk Paku. Karena air masih surut, perahu motor tak
bisa menepi dekat pantai. Penumpang pun harus berbasah-basah lagi.

Setelah itu, ikan dan sotong hasil tangkapan dicuci bersih,
langsung digoreng dan tentu saja disantap dengan nikmat. Ikan segar
digoreng, dicampur dengan bumbu kecap dan cabe rawit. Angin malam
berhembus sepoi-sepoi. Suasana malam pun makin ceria.
Mungkin menarik juga jika perjalanan ikut nelayan menangkap ikan
pada malam hari menjadi salah satu paket wisata Pulau Temajo. (adhi ksp)

Foto:
Kompas/ksp
DI ATAS “KELONG” – Dari atas kelong seperti inilah orang bisa
menyaksikan ikan dan sotong yang berhasil dijaring. Kelong atau gubuk
kecil ini, tingginya sekitar lima meter di atas permukaan laut,
terbuat dari batangan bambu yang diikat, atapnya dari daun.

FOTO di blog ini foto ilustrasi nelayan di tengah laut, namun lokasinya bukan di Pulau Temajo, Kalimantan Barat, tetapi di Cipanon, Tanjung Lesung, Banten. Foto oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s