Kemiskinan: Ia Tak Pernah Cerita Sedang Kesulitan Uang

KOMPAS
Minggu, 26 Jul 1998
Halaman: 11
Penulis: ADHI KSP

Kemiskinan
“IA TAK PERNAH CERITA SEDANG KESULITAN UANG…”

SUDAH lama keluarga Hiu Po Thin merasakan kemiskinan. Sudah
bertahun-tahun, Po Thin (58) menjadi petani penggarap, selalu
berpindah-pindah tempat, dan sampai akhir hidupnya yang mengenaskan,
belum memiliki rumah sendiri.

“Bagaimana bisa membangun rumah? Untuk hidup sehari-hari saja
susah. Apalagi sekarang harga bahan pokok semuanya naik,” kata Ny
Tjong Siauw Thjin (47), istri mendiang Hiu Po Thin sambil menangis
tersedu. Kamis (23/7) siang, Ny Siauw Thjin menerima sumbangan dari
pembaca Harian Kompas Kalbar sejumlah Rp 1.831.000, disaksikan
Wakapolres Sambas Mayor (Pol) Drs Andi Musa SH.

Jumat (17/7) pekan lalu, wanita itu kehilangan suami dan empat
anaknya, Tjong Djiep Tian (15), Tjong Suk Moy (12), Tjong Kim Lang
(10) dan Tjong Bo Liong (5) yang ditemukan meninggal di gubuk beratap
dan berdinding rumbia serta berlantai tanah di Desa Roban, Singkawang,
Kabupaten Sambas. Lokasinya di tengah hutan, sekitar enam kilometer
dari pusat kota Singkawang, ibu kota Kabupaten Sambas, Kalimantan
Barat.

Ketika ditemukan, mayat Hiu Po Thin memeluk anak bungsunya, Tjong
Bo Liong. Tiga mayat lainnya berjejer di tempat tidur terbuat dari
papan. Jenazah Po Thin tampak berpakaian rapi dan lengkap.

Sejauh ini petugas Polres Sambas menyatakan, kematian lima korban
akibat makan racun. “Tak ada tanda-tanda kekerasan. Pada mulut korban
keluar busa. Dugaan kami, korban meracuni empat anaknya, lalu bunuh
diri, juga dengan racun. Kami menduga, korban tak tahan menderita
akibat krisis ekonomi,” kata Wakapolres Sambas Mayor (Pol) Drs Andi
Musa SH. Sisa makanan yang beracun itu kini diperiksa di Balai POM
Depkes Kalbar di Pontianak.

Sebelum kelima korban ditemukan, Po Thin sempat mendatangi
tetangganya Tjong Tan Lip (58) dan menyatakan “Saya tak sanggup lagi
menanggung beban hidup. Anak-anak harus sekolah, tapi saya tak sanggup
mengurusi mereka lagi. Tolong kembalikan uang Rp 100.000 kepada Bong
Kok Min,” kata Po Thin.
***

SEJAK Juni 1998, keluarga Hiu Po Thin menumpang tanah milik Bong
Kok Min (54) di Desa Roban, dan mencoba membuka ladang padi. Beberapa
kali ia meminjam uang dari Bong Kok Min dan selalu dikembalikan.
Sepuluh hari sebelum kejadian, Po Thin meminjam lagi Rp 150.000 untuk
keperluan anak-anak sekolah. Rupanya pria itu tak kuat lagi, sehingga
nekat mengambil jalan pintas.

“Kami sedih sekali. Seminggu sebelum peristiwa itu, Po Thin datang
ke rumah kami di Desa Sungai Naram (dua kilometer arah ke Pemangkat).
Dia tak bilang apa-apa tentang kesulitan uang untuk anak-anak sekolah.
Padahal kalau dia bilang pada kami, mungkin saudara-saudaranya bisa
membantu sedikit-sedikit, walaupun kehidupan ekonomi kami sendiri
pas-pasan,” kata Hiu Tung Chong (47), adik korban di kantor Polres
Sambas, Kamis (23/7).

Hiu Tung Chong sendiri seorang petani penggarap, yang
penghasilannya sekitar Rp 75.000/bulan. Saudara kandung lainnya, Hiu
Thin Fo (53) mengungkapkan, abangnya memang agak “keras kepala”.

“Kami pernah menawarkan agar Po Thin membuka warung kecil-kecilan,
tapi dia tak mau dan bersikeras ingin bertani, meskipun terus
berpindah-pindah,” ungkap Thin Fo. Kedua saudaranya dan sejumlah
tetangganya mengakui, keluarga Po Thin sangat melarat.

Sebelum menumpang tanah milik Bong Kok Min, selama bertahun-tahun
Hiu Po Thin, anak tertua dari tiga bersaudara ini tinggal di Desa
Salindung, Kecamatan Tebas, Kabupaten Sambas, menunggui kebun sahang
(lada) milik orang lain. Hiu Po Thin juga pernah menggarap kebun
kelapa milik (mantan) Bupati Sambas Brigjen TNI (Purn) Sumardji
tahun 1980-an (sekarang Ketua DPD Golkar Tingkat I Kalbar).
***

PERIHAL kesulitan uang untuk anak-anak sekolah, diakui Ny Tjong
Siauw Thjin, istri korban yang kini tinggal di rumah mertuanya di Jl
Abadi, Singkawang. “Memang suami saya meminjam uang Rp 150.000 dari
Bong Kok Min, untuk anak perempuan kami Tjong Suk Moy kelas III dan
anak laki-laki Tjong Kim Lang kelas II di SDN Roban.”

Ketika peristiwa “bunuh diri” itu terjadi, Siauw Thjin sedang
membersihkan padi miliknya di penggilingan Desa Sakok, Singkawang,
karena persediaan beras di rumahnya sudah habis. Wanita itu berangkat
Kamis siang (16/7) dan rencananya Jumat (17/7) menjemur padi. “Saya
sungguh tak menduga Po Thin tega melakukan itu. Anak-anak kan tak
bersalah, tak tahu apa-apa,” katanya terisak-isak.

Anak tertuanya, Tjong Lie Kim (19) mengatakan pada Kamis (16/7)
sore, ia sempat singgah di Desa Roban, namun tak menjumpai ibu dan
ayahnya, kecuali empat adiknya. Lie Kim sempat makan nasi di panci.

Pemuda itu lalu naik sepeda ke Pasar Roban, dan bertemu ayahnya di
sebuah warung kopi. Ayahnya bermaksud memberi uang Rp 5.000 kepada
Lie Kim, tapi sang anak mengatakan, “Biarlah uang itu untuk Papa.”
Itulah kali terakhir Lie Kim melihat ayah dan empat adiknya.

Bupati Sambas Tarya Aryanto mengakui, banyak warga etnis Tionghoa
di wilayahnya yang hidup di bawah garis kemiskinan. Di Kotif
Singkawang, dari 200.000 orang, 70 persen di antaranya etnis Tionghoa,
mereka antara lain bekerja sebagai buruh tani. “Kami akan memberi
kesempatan warga etnis Tionghoa untuk bertani di lahan yang lebih
subur agar mereka tak terhimpit kesulitan ekonomi.”
(adhi ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s