Kelapa Sawit, Primadona Agrobisnis

KOMPAS

Sabtu, 21 Mar 1998

Halaman: 9

Penulis: WAWA, JANNES EUDES/ADHI KSP

KELAPA SAWIT, PRIMADONA AGROBISNIS

MASA keemasan industri kayu di Kalbar tampaknya akan
digantikan industri kelapa sawit. Mengapa? Berbekal
lahan yang masih sangat luas, Kalbar kini diincar perusahaan swasta,
sebagian di antaranya PMA, untuk menggarap perkebunan kelapa sawit.

BUKAN hanya karena modal untuk berkebun kelapa sawit yang relatif
mudah dan murah -dibandingkan dengan agroindustri lainnya- tapi juga
hasil olahan kelapa sawit, seperti minyak sawit mentah (CPO= crude
palm oil), minyak goreng, sabun mandi, margarine, sabun cuci, dan
industri derivat lainnya, menjanjikan keuntungan lumayan.

Hingga Oktober 1997, Pemda Tingkat I Kalimantan Barat
mengalokasikan lahan seluas 2.340.348 hektar untuk 164 perusahaan
besar swasta (PBS) menggarap perkebunan kelapa sawit. Dari jumlah
itu, 124 perusahaan dengan luas lahan 1.242.856 hektar sudah
memperoleh izin prinsip pengembangan perkebunan dari Menteri
Pertanian.

Dengan asumsi 60 persen dari luas lahan yang dialokasikan dapat
ditanami secara efektif, luas perkebunan kelapa sawit di Kalbar
diproyeksikan mencapai 1,5 juta hektar. Ini sudah termasuk Program
PIR-Trans KKPA seluas 157.000 hektar dan PMA (perusahaan modal asing)
54.000 hektar yang sedang berjalan. Sampai tahun 1996, sudah terdapat
kebun seluas 204.218 hektar dengan produksi CPO 237.266 ton dan PK
45.197 ton.

Melihat proyeksi luas areal 1,5 juta hektar itu, posisi Kalbar
dalam industri kelapa sawit pada 5-10 tahun mendatang diperkirakan
mencapai urutan pertama se Indonesia. Saat ini Sumatera Utara yang
merupakan pionir perkebunan kelapa sawit skala besar, masih menempati
posisi pertama dengan luas 562.549 hektar dan sentra produksi di
Labuhan Batu, Langkat, Simalungun. Disusul Riau dengan luas 439.426
hektar, dan Kalbar dengan luas 204.218 hektar di tempat ketiga.
Secara nasional, pemerintah pusat menargetkan tahun 2000 luas garapan
kelapa sawit 5,15 juta hektar.

Kebijakan pemerintah melepas larangan PMA menanam modal di sektor
ini melalui Inpres No 6 Tahun 1998, membuat girang Pemda Kalbar. Ini
berarti, 17 PMA (16 dari Malaysia dan satu dari Amerika Serikat)
diizinkan kembali membuka usaha perkebunan kelapa sawit. Rinciannya,
di Kabupaten Sanggau (6), Ketapang (5), Pontianak (3), Kapuas Hulu
(2) dan Sambas (1). Meski demikian pengusaha lokal (PMDN) berharap
masuknya PMA di sektor ini melibatkan mitra kerja perusahaan
Indonesia.

Banyaknya PMA asal Malaysia yang berinvestasi di Kalbar bisa
dimaklumi. Kalbar berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak
dan dapat ditempuh dengan jalan darat. Dari segi geografis, jelas
lebih menguntungkan Malaysia.
***

PERTANYAANNYA, apakah kehadiran PMA dan PMDN dalam sektor ini
ikut membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat? Gugatan
ini penting dimunculkan agar kehadiran industri ini ikut memberi
manfaat bagi masyarakat setempat, dan tidak cuma menguras hasil bumi
dan memperkaya pengusaha dan konglomerat.

Salah satu PMA asal Malaysia, PT Sime Indo Argo, anak perusahaan
multinasional Sime Darmy Berhad yang bermarkas di Kuala Lumpur sedang
membuka perkebunan kelapa sawit seluas 19.000 hektar di Kecamatan
Parindu, Kabupaten Sanggau.

General Manager (GM) PT Sime Indo Argo (SIA), Yazid Ibrahim
mengungkapkan, meski berstatus PMA murni, perusahaannya menaruh
perhatian besar terhadap masyarakat setempat yang sudah dan akan
tergusur. Rencananya, warga setempat akan menerima kebun plasma, yang
berarti warga ditampung dan dilibatkan secara aktif dalam pembangunan
perkebunan. Pendekatan manusiawi PT SIA baik dijadikan contoh bagi
swasta lain. Konflik antara perusahaan dan masyarakat dapat
dihindari.

Salah satu kontribusinya, membuka isolasi daerah. Menurut
Antonius Kimin (52), warga Kampung Luti, Desa Maringinjaya, Parindu,
Sanggau, sebelum jalan dibangun PT SIA, masyarakat harus
menggunakan “jalan tikus setapak”, dan untuk menuju pasar terdekat,
dibutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat jam (termasuk waktu
menunggu kendaraan). Kini tak sampai setengah jam, warga dapat
mencapai pasar di Bodok.

Seluruh warga Kampung Luti (53 KK) bekerja di PT SIA, mendapat
gaji Rp 126.000/bulan, tergantung produktivitas. Mereka menyerahkan
7,5 hektar lahan kepada PMA, dan kelak PT SIA akan menyerahkan dua
hektar kebun sawit sebagai plasma.

Nilai investasi PMA Malaysia ini 80 juta dollar AS. “Hingga kini
sudah Rp 30 milyar dihabiskan, sebagian untuk pembangunan
infrastruktur dan penanaman kebun sawit di lahan 3.000 hektar,” jelas
Lee Kok Seng, WN Malaysia, manajer operasi PT SIA. Dari rencana
19.000 hektar, 26 persen di antaranya plasma yang disediakan bagi
2.400 KK.

PMA ini merencanakan membangun tiga pabrik pengolah sawit,
mengantisipasi panen besar pada tahun 2003 dan 2006 mendatang. Dengan
membuka kebun di Kalbar, Malaysia agaknya tetap berambisi menjadi
produsen utama minyak sawit dunia.
***

KELAPA sawit memang sudah menjadi salah satu andalan Kalbar. PT
Perkebunan Negara (PTPN) XIII merupakan pionir perkebunan sawit di
wilayah ini. Dari hasil kunjungan Kompas ke sejumlah sentra
perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sanggau bulan lalu, para petani
plasma PTPN XIII menuturkan, pendapatan mereka dari hasil sawit
meningkat tajam.

Paulus Panci (45) warga Kampung Empaong, Kecamatan Parindu,
Kabupaten Sanggau mengikuti proyek PIR (perkebunan inti rakyat) dari
PTPN XIII sejak tahun 1987. Setelah kebun sawit berusia tiga tahun,
ia bersama rekan-rekannya memperoleh plasma. Setiap satu KK kebagian
dua hektar.

Tahun pertama setelah konversi (1991), pendapatannya Rp
50.000/bulan. Sekarang ia memperoleh Rp 450.000/bulan dari dua hektar
plasma sawit yang dikelolanya. Jika keluarga yang memiliki enam
hektar plasma, pendapatannya rata-rata sebulan Rp 1,3 juta, jauh jika
dibandingkan ketika mengandalkan hidup dari berladang.

Tanisius Kiun (39) warga Desa Embala, Parindu, sebelum mengikuti proyek PIR-Khusus I Afdeling VII, berladang berpindah dan menoreh karet, pekerjaan yang dilakukan turun-temurun. “Terus terang, berharap dari sana, ekonomi
tidak mencukupi, apalagi anak-anak harus sekolah,” kata Kiun yang
juga guru SD Pelangbacong. Selesai mengajar (07.30-12.30 WIB),
ia bekerja di kebun sawit hingga sore hari.

Penghasilannya sebagai guru, hasil berladang dan menoreh karet
rata-rata Rp 300.000/bulan. Kini, setelah memiliki plasma sawit,
pendapatannya rata-rata Rp 1 juta/bulan. Tanisius yang menyimpan
sebagian penghasilannya di BRI Bodok, Sanggau itu mampu membeli
kendaraan roda empat (bekas), membuka warung yang menjual sembako di
tepi jalan Parindu-Meliau, dan memiliki parabola. Ia bertekad
menyekolahkan dua anaknya hingga ke pendidikan tinggi.

“Kalau pohon sawit sudah berbuah lebat, itu artinya banyak duit,”
katanya tertawa. Buah sawit itu dijual ke PTPN XIII sebagai
perusahaan inti. Dan oleh PTPN XIII, hasilnya dibawa ke pabrik
pengolahan di Meliau, Sanggau. Jumlah pabrik pengolah kelapa sawit
(yang menghasilkan CPO) di Kalbar saat ini delapan unit. Hasilnya
masih harus diantarpulaukan ke Jawa.

Pengembangan usaha perkebunan dengan pola PIR seperti ini harus
terus dilanjutkan dengan berbagai modifikasi, sehingga kerja sama
yang adil, saling menguntungkan dan saling melengkapi dapat dicapai.

Kerja sama inti-plasma yang telah ada, dijanjikan Pemda Kalbar,
akan terus dibina dan dikembangkan sehingga mencapai siklus
peremajaan berikutnya, termasuk penguasaan aset lainnya oleh petani,
selain pemilik kebun. Pola PBS murni akan dimodifikasi melalui
keikutsertaan petani/masyarakat sekitarnya sebagai plasma, sehingga
kelangsungan usaha dan kerja sama PBS dan masyarakat lebih terjamin.
***

MESKI peluang pengembangan industri kelapa sawit masih sangat
terbuka di Kalbar, namun pelaksanaannya ternyata masih dihadapkan
dengan berbagai tantangan.

Sampai sekarang program pengembangan kelapa sawit di Kalbar hanya
dikaitkan dengan paket pengembangan pabrik minyak sawit (PMS) yang
memproduksi CPO dan PK. Sedangkan industri hilir CPO dan PK masih
berpusat di Jawa dan Sumatera. Yang dimaksud dengan industri hilir
kelapa sawit adalah pabrik-pabrik derivat (turunan) CPO antara lain
margarine, sabun, deterjen, shampo, pelumas, kosmetik dan pasta gigi,
pemanis, dan sebagainya. Sedikitnya ada 88 item produk derivat CPO.

Untuk mengembangkan industri hilir yang efisien, dibutuhkan
dukungan infrastruktur yang memadai, antara lain sistem transportasi
(jalan, jembatan, dermaga dan alat-alat transportasi) termasuk
industri pendukungnya seperti perbankan, asuransi dan industri jasa
lainnya.

Sebagian pengusaha perkebunan kelapa sawit saat ini masih
menghadapi persoalan terbatasnya modal, penguasaan teknologi dan
manajemen, sehingga pengembangan usaha masih terbatas pada
pembangunan kebun dan industri hulu. Pembangunan perkebunan juga
masih sering terlambat. Ini disebabkan perusahaan kesulitan
membebaskan lahan dari masyarakat.

Selama ini sebagian besar pengusaha perkebunan kelapa sawit
mengikat kontrak dengan pengusaha industri lanjutan CPO dan PK yang
berada di luar Kalbar.

Memperhatikan keterbatasan sumber-sumber pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi Kalbar, perlu ditetapkan suatu kebijakan
pengembangan industri hilir di Kalbar.

Disarankan agar mulai tahun 1998 ini, pemberian izin prinsip
pembangunan perkebunan kelapa sawit dikaitkan dengan kewajiban
pengembangan industri hilir sebagai satu paket pembangunan yang tak
terpisahkan. Untuk itu diperlukan satu kebijakan pemerintah pusat
yang menunjang konsep pengembangan industri hilir kelapa sawit di
Kalbar.

“Untuk membangun industri hilir yang efisien dan langgeng,
dibutuhkan sarana dan prasarana pendukung yang memadai, seperti
sistem transportasi, perdagangan, komunikasi dan sarana/prasarana
perekonomian lainnya. Untuk itu dibutuhkan suatu pengkajian dan
rencana menyeluruh dan terpadu,” kata Kepala Dinas Perkebunan Kalbar
Ir Karsan Sukardi.
***

MENGAPA industri hilir kelapa sawit di Kalbar perlu dikembangkan?
Yang pasti, kehadirannya akan memberi manfaat besar. Antara lain,
memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan seluruh pelaku
agrobisnis, dari petani, pengusaha, pemasok sampai masyarakat luas.

Selain itu, meningkatkan efisiensi dan daya saing produk.
Kesatuan pengelolaan sistem agrobisnis antara sub-sistem produksi,
sub-sistem pengolahan dan sub-sistem pemasaran akan meningkatkan
efisiensi dan daya saing produk, yang pada gilirannya meningkatkan
PDRB dan PDB.

Pengembangan industri hilir kelapa sawit diyakini akan
memperbaiki struktur ekspor yang selama ini masih didominasi hasil
kayu dan karet. Selain itu akan mendorong pengembangan industri
barang dan jasa lainnya, yang tentu berdampak positif bagi struktur
perekonomian Kalbar. Soalnya, kebun seluas 1,5 juta hektar termasuk
industri hilirnya akan membutuhkan mobilisasi barang, penduduk dan
jasa yang membawa efek domino bagi kegiatan ekonomi daerah.

Kondisi ini diharapkan mampu memperluas kesempatan dan lapangan
kerja di berbagai sektor. Pengembangan kebun pada industri kelapa
sawit akan mampu menyerap berbagai jenis dan tingkat keahlian mulai
dari tenaga kerja biasa hingga pada tenaga ahli. Jika banyak dibangun
pabrik, jelas banyak tenaga kerja diserap. Sarjana lulusan perguruan
tinggi di Kalbar misalnya, tak perlu lagi mencari kerja di Jawa.

Program ini pada gilirannya akan menunjang pemerataan pembangunan
dan pertumbuhan daerah dan antardaerah di Kalbar. Sebab lokasi
perkebunan kelapa sawit tersebar di seluruh pedesaan di Kalbar.
Pemda Kalbar sudah berencana membangun pelabuhan samudera di
Teluk Air, (sekitar 40 mil dari kota Pontianak lewat laut). Selama
ini minyak sawit yang dihasilkan dari delapan pabrik pengolah yang
ada di Kalbar, selalu diantarpulaukan ke Jawa dan Sumatera.
(Jannes EW/Adhi Ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s