Kapet Sanggau: Potensi Besar, Prospek Cerah, Tapi…

KOMPAS
Senin, 14 Dec 1998
Halaman: 19
Penulis: WAWA, JANNES EUDES/ADHI KSP

Kapet Sanggau:
POTENSI BESAR, PROSPEK CERAH, TETAPI…

BULAN April 1998 lalu, serombongan warga Jerman yang berencana
menanamkan investasinya di Kalbar, melakukan survei, menelusuri
sejumlah daerah yang memiliki potensi pariwisata. Mereka sempat
menginap di Rumah Betang (rumah panjang) masyarakat Dayak di Desa
Saham di Kabupaten Pontianak. Mereka diterima dengan ramah oleh
masyarakat setempat.

Orang-orang bule itu memang suka wisata alami. Jadi kalau
tidur dengan kelambu di Rumah Betang pun, tak masalah asalkan bebas
dari serangan nyamuk malaria. Lalu ada komentar, mengapa tidak
menciptakan wisata Rumah Betang seperti di Sarawak? Turis bisa datang
kapan pun, 24 jam, dan penduduk sudah siap menerima tamu. Agaknya,
itulah yang belum ada di sini.

Bagi orang-orang asing itu, wisata petualangan di Kalimantan
lebih mengasyikkan. Makanya ketika perjalanan ke lokasi air terjun
Dawar di Kecamatan Sanggauledo, Kabupaten Sambas, harus mengalami
hambatan luar biasa akibat jalan ke lokasi berlumpur, orang-orang
Jerman itu tidak terlalu mengeluh. “Tetapi kalau mau menjual air
terjun ke turis Eropa, jalan ini tentu saja harus diperbaiki,” kata
Kepala Dinas Pariwisata Kalbar Herzi Hamidi.

Orang-orang Jerman itu juga plesiran ke Pulau Randaian di
Kabupaten Sambas, kira-kira dua jam naik perahu motor dari pantai
Pasirpanjang, Singkawang. Mereka mengagumi laut yang mengelilingi
pulau itu yang masih jernih, tanpa polusi. “Tempat ini paling cocok
untuk menyelam. Orang-orang Sarawak dan Brunei sering kemari,” kata
Sukartadji, pemilik Pulau Randaian dan pengelola Pantai Taman
Pasirpanjang Indah, Singkawang.

Rombongan pengusaha Jerman itu mengakui Kalbar memiliki potensi
wisata alam yang luar biasa. Mereka terkagum-kagum pada hutan
belantara yang masih hijau alami dengan usia pohon ratusan tahun.
Juga pada air terjun yang masih “perawan” dengan keindahan luar
biasa. Sayang, atraksi kebudayaan masyarakat Dayak (juga masyarakat
Melayu dan masyarakat Cina) belum diperkenalkan secara luas, sehingga
mereka belum bisa menikmatinya.

Akan tetapi orang-orang Jer-man itu belum sempat melancong ke
lokasi lainnya di Kalbar, yang sesungguhnya juga memiliki banyak
potensi wisata alam. Kalau sudah menjelajahi banyak lokasi, mungkin
mereka akan mengatakan, “Wah, Kalimantan Barat ini punya prospek
cerah dan banyak potensinya. Sayang, masih disia-siakan…”

Memang betul. Itu baru potensi di sektor pariwisata. Masih banyak
potensi sumber daya alam lainnya di Kalbar yang masih ditelantarkan,
yang diyakini akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya
jika dikembangkan maksimal.
***

PENGEMBANGAN pariwisata memang hanya salah satu prioritas
pembangunan Kapet (Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu) Sanggau,
yang diresmikan secara simbolik oleh Presiden BJ Habibie pada 26
September 1998 silam, bersama lima Kapet lainnya di penjuru
nusantara.

Prioritas lainnya yang dikembangkan dalam Kapet Sanggau adalah
peningkatan produksi pertanian (terutama perkebunan), produksi
kehutanan (terutama hutan tanaman industri), produksi pertambangan,
dan peningkatan infrastruktur dasar.

Meskipun namanya Kapet Sanggau, namun mencakup wilayah Kabupaten
Sanggau, Kabupaten Sambas, dan sebagian Kabupaten Pontianak (yaitu
Kecamatan Airbesar) dengan luas seluruhnya 30.927,2 km2 atau
3.092.720 hektar.

Mengapa Sanggau yang dipilih sebagai sentral Kapet di Kalbar?
Pertimbangannya terutama pada lokasinya yang strategis di tengah
Kalimantan Barat dan memiliki akses langsung ke Malaysia dan Brunei
Darussalam, melalui Pos Lintas Batas (PLB) Entikong. Jarak Kota
Sanggau ke Entikong 137 km dengan kondisi jalan mulus, sehingga
memudahkan untuk melakukan ekspor ke dua negara jiran itu.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan di waktu mendatang akan terjadi
ketergantungan secara sosial ekonomi yang begitu besar dari
masyarakat Sarawak dan Brunei terhadap Kalbar,” ujar Setiman Sudin,
Ketua Bappeda Kabupaten Sanggau.

Jika itu yang terjadi, tambah Setiman, petani dan masyarakat
lainnya di Kalbar semakin terdorong mengoptimalkan pembudidayaan
tanaman pertanian, usaha perikanan, serta pariwisata.

Kabupaten Sanggau berpenduduk 494.116 jiwa (data tahun 1997)
tersebar di 22 kecamatan, merupakan daerah tinggi berbukit-bukit dan
berawa-rawa. Sejumlah sungai besar dan kecil, seperti Sungai Kapuas,
Sungai Sekadau, Sungai Sekayam, dan Sungai Tayan, membelah wilayah
kabupaten seluas 1.830.200 hektar atau 18.302 km2. Luas ini 12,5
persen dari luas Propinsi Kalbar.

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sanggau pada Pelita V mencapai 9,89
persen. Ini berarti di atas rata-rata pertumbuhan Kalbar 6,55
persen/tahun. Pada Repelita VI, targetnya 13,54 persen per tahun.
Realisasi pada empat tahun pertama Repelita VI sebesar 11,14 persen.

Mengapa pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sanggau relatif tinggi?
Perkebunan kelapa sawit di daerah ini memang berkembang pesat.
Pemerintah mencadangkan lahan seluas 648.600 hektar untuk perkebunan
sawit. Sampai Agustus 1998, luas tanaman yang telah menghasilkan
68.935 hektar (dari 34 perusahaan).

Perkebunan karet rakyat juga relatif luas yaitu 113.229 hektar
dengan produksi 26.828 ton/ tahun. Sedangkan perkebunan kakao “hanya”
1.194 hektar.

Perkebunan sawit, karet rakyat, dan kakao itu cukup kuat memberi
ketahanan ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Sanggau. Sebagian besar
menyatakan tidak ikut merasakan krisis ekonomi ketika kurs
dollar-rupiah melambung di atas Rp 10.000. Tentu saja, karena saat
itu harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, getah karet, dan
kakao mengikuti nilai kurs, sehingga masyarakat pun ikut
menikmatinya.

Di sektor kehutanan, hutan tanaman industri (HTI) cukup dominan
melalui pola HTI Trans dan HTI Umum dengan komoditas tanaman albasia,
akasia mangium, karet, dan tanaman penghidupan lainnya. Luas lahan
yang dicadangkan untuk HTI adalah 799.865 hektar dengan luas efektif
339.365 hektar. Realisasi tanam hingga 1998 ini mencapai 40.595,34
hektar.

Potensi bahan tambang di Kabupaten Sanggau seperti bauksit dan
feldspar (bahan baku pembuatan marmer), minyak bumi, emas, dan
batubara cukup besar. Di Kecamatan Tayan Hilir dan Toba misalnya,
terdapat deposit cadangan bauksit sekitar 432 juta ton, dan deposit
feldspar di Kecamatan Bonti sekitar 1,7 juta ton.
***

KABUPATEN Sambas dengan ibu kotanya Singkawang, berpenduduk
880.300 jiwa (data 1997) di 19 kecamatan, memiliki luas 12.296 km2.
Kabupaten ini memiliki kawasan wisata yang relatif banyak. Dari
kawasan wisata Kota Singkawang (yang dikenal dengan kota amoy),
Pantai Pasirpanjang, wisata alam Gunung Poteng dan Gunung Pasir,
Samalantan, Gunung Niut, Pantai Paloh hingga wisata sejarah Keraton
Kerajaan Sambas. Hampir semua obyek wisata di wilayah ini belum
dikelola secara profesional.

Pada masa lalu, Sambas dikenal dengan jeruknya. Namun akibat
salah urus dan banyak campur tangan pemerintah, jeruk Kalbar pun
lenyap tanpa bekas. Kini ada usaha mengembalikan kejayaan jeruk
Kalbar itu, dengan menanam bibit jeruk di Kabupaten Sambas. Mungkin,
suatu saat nanti, wisata agro akan berjaya kembali di Kalbar. Turis-
turis akan membeli jeruk langsung dari kebunnya.

Kecamatan Airbesar di Kabupaten Pontianak seluas 2.390,20 km2
berpenduduk 127.323 jiwa, lokasinya diapit oleh Kabupaten Sambas dan
Kabupaten Sanggau. Kecamatan ini satu-satunya kecamatan di Kabupaten
Pontianak yang termasuk wilayah Kapet Sanggau.

Dengan luas 3,5 kali Kota Jakarta, Kecamatan Airbesar memiliki
potensi wisata alam luar biasa. Jumlah air terjunnya lebih dari
sepuluh, dan itu belum semuanya bisa dijangkau masyarakat melalui
kendaraan bermotor. Setidaknya butuh waktu berhari-hari dengan
berjalan kaki dan menyeberangi sungai, menembus belantara Borneo.
***

RASANYA tak ada yang bisa menyangkal, Kapet Sanggau menyimpan
banyak potensi Kalbar. Potensi pariwisata, perkebunan, pertambangan,
perikanan, hingga kehutanan, berlimpah-ruah.

Kawasan ini diyakini akan mampu menjadi masa depan Kalbar, jika
investor menanamkan modalnya ke berbagai sektor usaha di daerah ini.
Po-tensinya memang besar dan banyak. Prospeknya pun cerah. Tetapi
kendala utama yang selalu menjadi persoalan klasik adalah
infrastruktur dan prasarana pendukungnya. (Jannes EW/Adhi Ksp)

Peta:1
Kawasan Pengembangan Terpadu Sanggau dan wilayah perluasannya.
juli.

LINK TERKAIT http://www.kapet.org/profile/tabPage/view.asp?id=41&barid=143, http://regionalinvestment.com/index.php?option=com_content&task=section&id=12&Itemid=13, http://www.kalbarnetwork.com/kalbar/index.php

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s