Dr Tukirin Partomihardjo: Dari Hutan ke Hutan

KOMPAS
Sabtu, 13 Jun 1998
Halaman: 12
Penulis: ADHI KSP

Dr Tukirin Partomihardjo
DARI HUTAN KE HUTAN

DALAM suasana hingar-bingar reformasi saat ini, kegiatan yang
dilakukan Dr Tukirin Partomihardjo mungkin tidak menarik. Masuk-keluar
hutan, menginap berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di dalam hutan
yang lokasinya ribuan kilometer dari Ibu Kota Jakarta, dan jauh dari
gemerlap kota.

Dari Taman Nasional (TN) Gunung Leuser di Aceh ke TN Bentuang
Karimun di Kalimantan Barat. Dari TN Kerinci Seblat di Jambi hingga
hutan-hutan di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara,
Maluku, dan Irian Jaya.

Bagi Tukirin, hari apa pun sama saja. Ia menikmati betul
keberadaannya di dalam hutan. Tak peduli ketika hari ulang tahun tiba.
Yang ia pedulikan, bagaimana bisa mengumpulkan berbagai contoh jenis
tumbuhan untuk koleksi herbarium.

Oleh pakar botani dan ekologi hutan lulusan Universitas Kagoshima
(Jepang) ini, contoh-contoh tersebut lantas dikirim ke Herbarium
Bogoriense, satu-satunya herbarium terbesar di kawasan Asia Tenggara
dan diakui dunia internasional. Saat ini di Herbarium Bogoriense
terkumpul sekitar dua juta nomor koleksi herbarium. Namun dari jumlah
itu, baru lima persen yang sudah masuk dalam data komputer.

Keahlian Tukirin dalam soal taksonomi botani dan ekologi hutan
memang langka. Jumlah ahli bidang ini di Indonesia tak banyak, bahkan
bisa dihitung dengan jari. Tak heran jika di setiap ekspedisi, seperti
yang dilakukannya di TN Bentuang Karimun Kalbar Mei lalu, kepada siapa
pun yang menemaninya Tukirin bisa menyebutkan dengan persis nama-nama
pohon yang tumbuh di tepi sungai, dan ia mampu menjelaskannya secara
rinci.
***

DARI pengalamannya menjelajahi hutan di pelosok Indonesia, Tukirin
menilai hutan di Kalimantan Barat masih sangat utuh. Jika menyebut hutan
di Kalbar, berarti yang dimaksud adalah hutan di Taman Nasional Bentuang
Karimun (TNBK) seluas 800.000 hektar di Kabupaten Kapuas Hulu.

Keanekaragaman hayati di TNBK, ungkap Tukirin yang sudah beberapa
kali melakukan ekspedisi di sana, memang tiada bandingannya. Bahkan
kekayaan flora TNBK itu dinilai sebagai yang paling kaya di seluruh
Indonesia. Jika penelitian di TNBK dilakukan intensif dan berkesinambungan,
Tukirin yakin kekayaan flora di TNBK mampu mengalahkan hutan Amazon
di Brasil.

Hutan di Kalbar masih kaya dan mengandung banyak jenis pohon.
Sungainya masih jernih, bebas polusi. “Pokoknya hutan di Kalbar masih
bisa memberikan kedamaian jiwa,” ungkapnya.

Sementara hutan di Kaltim nyaris habis karena sering terbakar,
hutan di Kalsel tak utuh lagi, dan hutan di Kalteng banyak
dimanfaatkan untuk lahan gambut. Sedangkan hutan di Sumatera sudah
rusak oleh ulah manusia, apalagi hutan di Jawa. Hutan di Irian Jaya
memang luas, tapi belum bisa dijamah manusia.

Ada pengalaman unik ketika ia menjelajahi hutan di Sumatera
yang dinilainya masih seram. “Kita memang masih bisa menikmati alam,
tapi dengan perasaan was-was, karena masih banyaknya binatang buas,”
tuturnya. Pada suatu pagi, ketika melakukan ekspedisi di hutan Sebrida
di Bukit Tigapuluh, Rengat, Riau; Tukirin dan kawan-kawannya menemukan
jejak harimau yang hanya berjarak 200 meter dari tenda mereka.
Sedangkan di hutan di Bukit Duabelas di Jambi, Tukirin dan peneliti
lainnya menemukan jejak-jejak beruang.

Tukirin memulai penjelajahannya ke hutan tahun 1979. Ia masuk
ke hutan di Kualakurun di Kalimantan Tengah, melakukan eksplorasi
botani selama satu bulan. Kemudian ia terjun ke hutan penelitian
Wanariset Kalimantan Timur, meneliti perkembangan ekosistem dan
dampak kebakaran hutan Kaltim tahun 1982 (salah satu hasilnya,
pohon-pohon kecil berdiameter kurang dari 10 meter banyak yang
mati di sana).

Ia juga terjun ke hutan Lempake, kebun botani Universitas
Mulawarman di Kaltim, melakukan ekspedisi ke TN Gunung Leuser di
Aceh atas kontrak dengan Universitas Harvard dalam program National
Geography Society. Tukirin mengumpulkan berbagai jenis tumbuhan di
hutan-hutan di Riau, Jambi, Kalteng, Sulut, Maluku, Irja. Di TN
Bentuang Karimun Kalbar yang sudah dijelajahinya empat kali, Tukirin
dan kawan-kawan peneliti lainnya terikat kontrak dengan WWF (World
Wide Fund for Nature). Semuanya untuk tambahan koleksi herbarium
nasional, yang bermanfaat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dunia.
***

MASA kecil dan masa remaja Tukirin tidak terlalu mulus. Sebagai
anak kedua dari 10 bersaudara, lelaki kelahiran Cilacap 18 Mei 1952
harus rajin membantu orangtuanya, seorang petani penggarap. Mencari
kayu bakar di hutan, mencangkul sawah, atau memanjat kelapa adalah
sebagian bentuk “tanggung jawab” untuk menjaga kelangsungan hidup
keluarga.

Itu semua dilakukannya sampai tamat SMA. “Tak ada waktu untuk
bermain setelah sekolah,” begitu selalu yang didengungkan orangtuanya.
“Kami tak punya warisan dari kakek dan nenek, sehingga kami
harus berjuang keras untuk mempertahankan hidup, terutama agar kami
dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi,” ungkapnya.

Meski ayahnya, Partomihardjo (70), hanya petani desa yang
tidak tamat SD; semangat Tukirin untuk belajar tetap tinggi. Tamat
SMAN Cilacap, Tukirin melanjutkan pendidikan di Fakultas Biologi
jurusan Botani Universitas Soedirman Purwokerto dan lulus tahun 1980.

Selama sepuluh tahun, ia merintis menjadi pengajar bidang taksonomi
tumbuhan di Universitas Pakuan Bogor. Setelah itu, Tukirin memperoleh
kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Kagoshima,
Jepang.

Tesisnya menyangkut soal suksesi tumbuhan di Krakatau dan
interaksi serangga pembuat GALL. Bagi masyarakat awam kebanyakan,
tesis ini mungkin tidak populer karena tidak berhubungan langsung
dengan kehidupan masyarakat luas, namun bagi bidang ilmu pengetahuan
yang didalaminya, tesis itu tentu bermakna.
***

HUTAN tempat Tukirin berkelana memang nun jauh di sana. Untuk
mencapai kawasan TNBK, misalnya, ia harus menempuh perjalanan 15 jam
dengan bus umum dari Pontianak dan dilanjutkan dengan perahu motor
melintasi sungai penuh dengan riam berbahaya selama lima jam.

Tapi itu semua tidak membuat Tukirin jauh dari “dunia”. Meski
berada di tengah rimba belantara, setiap pagi ia selalu setia
mendengarkan siaran radio luar negeri. BBC London, Radio Hilversum
(Belanda), dan Voice of America (AS) mendekatkannya dengan semua
masalah yang terjadi di dunia, dan tentu juga di Indonesia.

Baginya, siapa pun yang memimpin bangsa ini, ia berharap
memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan berupa ilmu-ilmu dasar,
bukan cuma teknologi. Ia juga berharap pemerintah konsisten
memperhatikan pelestarian lingkungan hidup, termasuk menjaga
hutan-hutan di Indonesia agar tidak habis digarap oleh pengusaha
HPH dan HTI. Ia menyadari jika hutan yang luas ini tidak dimanfaatkan,
kita seperti “hidup di lumbung padi, tapi mati kelaparan”.
“Sayangilah hutan kita dan jagalah ‘paru-paru dunia’,” harapnya.
(Adhi Ksp)

Foto:
Kompas/ksp
Dr Tukirin Partomihardjo

LINK TERKAIT http://www.nrdc.org/onearth/03win/resurrection.asp,
http://www.conservation.or.id/home.php?modul=news&catid=25&page=g_news.detail

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s