Tren "Ngopi" di Mal, Fenomena yang Mengglobal

KOMPAS
Kamis, 05 Feb 2004
Halaman: 19
Penulis: Adhi Ksp, Robert

TREN “NGOPI” DI MAL, FENOMENA YANG MENGGLOBAL


NGOPI di pusat-pusat perbelanjaan dan perkantoran di Jakarta kini
sudah menjadi tren dan gaya hidup metropolitan. Lihatlah, misalnya,
gerai-gerai minum kopi seperti Starbucks, Coffee Bean, Coffee Club,
Java Bay, dan Segafredo Espresso yang kerap dibanjiri pengunjung.

Orang rela antre untuk mendapatkan secangkir kopi yang harganya
sekitar Rp 25.000, empat sampai lima kali lipat dibandingkan dengan
harga secangkir kopi di warung-warung kopi pinggir jalan.

“KAMI menjual suasana, bukan sekadar kopi. Di sini pengunjung
dapat duduk di sofa empuk sambil mendengarkan musik jazz atau musik
salsa. Tentu sambil menikmati kopi khas racikan kami,” kata Anthony
Cotton, General Manager (GM) PT Sari Coffee Indonesia, perusahaan
yang mengelola Starbucks Coffee, waralaba asal Seattle, Amerika
Serikat, di Indonesia.

Dalam percakapan dengan Kompas, Senin (26/1) siang, Cotton
mengatakan, sejak dibuka pertama kali di Plaza Indonesia tahun 2002,
Starbucks kini memiliki 20 gerai, 17 di antaranya di Jakarta, dua di
Surabaya, dan satu di Bali.

Starbucks memang termasuk salah satu fenomena global yang unik.
Sejak dikembangkan Howard Schultz, chairman dan chief executive
officer (CEO), Starbucks kini memiliki sekitar 7.500 gerai mulai dari
Omaha, Osaka, hingga Oman.

Menurut majalah Fortune, awal tahun 2004, gerai baru dibuka di
Perancis dan rencananya akan dibuka lagi sekitar 1.300 gerai baru di
mancanegara pada tahun ini.

Di Jakarta sendiri, Starbucks sudah menjadi bagian gaya hidup
metropolitan. Hampir setiap hari, gerai Starbucks di Plaza Senayan
Jakarta, misalnya, selalu ramai dikunjungi penikmat kopi. Pengunjung
dapat sekadar duduk santai sambil membaca buku atau majalah, juga
dapat melakukan meeting dengan teman-teman dan kolega, atau sambil
menyelesaikan pekerjaan menggunakan komputer jinjing (laptop).

PEMANDANGAN serupa terlihat di gerai Coffee Bean dan Coffee Club,
yang menawarkan tren minum kopi di mal dan perkantoran. Selepas jam
kantor, orang menunggu kemacetan mencair sambil nongkrong di gerai-
gerai ngopi. Dan sekarang, setelah aturan three in one pada sore
hingga petang hari diberlakukan, orang lebih suka nongkrong di gerai
ngopi sambil menunggu three in one usai pukul 19.00.

Ichiki, orang Jepang yang mengelola Plaza Senayan, mengatakan,
memang tren ngopi di mal makin marak dan ini menguntungkan pemilik
gerai maupun pengelola pusat perbelanjaan seperti dia.
Richard Oh, pemilik Toko Buku QB, berpendapat, sebetulnya
kebiasaan ngopi sambil ngobrol di tepi jalan sudah lama terlihat di
Perancis. “Kaum intelektual Perancis sudah melakukannya sejak lama.
Di Amerika Serikat, suasana seperti ini rada telat. Setelah muncul
Starbucks, barulah ngopi menjadi kebiasaan di Amerika,” katanya.

Di Indonesia, banyak orang sering ngopi di warung kopi pinggir
jalan dengan harga secangkir kopi yang relatif murah, sedangkan di
Malaysia ada kopi tiam, warung kopi.

Namun, seiring berkembangnya zaman, tempat ngopi dibuat
sedemikian rupa agar nyaman. Ngopi telah menjadi tren gaya hidup
kosmopolitan. Fenomena global ini dapat dilihat di mancanegara,
termasuk di Jakarta.

Pengusaha pun semakin jeli melihat peluang. Starbucks, misalnya,
melakukan inovasi dalam berbagai hal untuk menarik pengunjung.
Jumat (23/1) lalu, Starbucks di lantai dasar Gedung Skyline
(samping Djakarta Theatre, Jalan MH Thamrin) resmi beroperasi selama
24 jam. Ini akan menguntungkan mereka yang biasa melek sampai dini
hari sebab akan ada pilihan selain ke McDonaldÆs Sarinah dan McCafe,
yang sama-sama buka 24 jam-di samping ke beberapa tempat di hotel
yang menyajikan hidangan larut malam (supper).

Pada pagi hari, pengunjungnya kebanyakan orang kantoran di
sekitar kawasan itu. Siang hari, banyak yang meeting. Sedangkan malam
hari hingga dini hari, pengunjungnya sebagian besar mereka yang suka
clubbing. “Sambutan warga metropolitan Jakarta sangat positif, bahkan
di luar dugaan kami,” kata Kiki Soewarso, Public Relations Manager PT
Sari Coffee Indonesia, menanggapi mengalirnya pengunjung ke Starbucks
Skyline hampir setiap saat.

Kebiasaan sebagian pekerja yang membawa komputer jinjing dilihat
jeli oleh pengusaha. Starbucks lagi-lagi pionir dalam menyediakan
teknologi wi-fi di dalam gerai sehingga memungkinkan orang menjelajah
Internet tanpa kabel. “Ada sebelas gerai Starbucks yang memungkinkan
orang main Internet tanpa kabel dengan laptop dan PDA mereka. Tentu
harus di-setting lebih dahulu,” kata Kiki.

Menurut Kiki, Starbucks akan terus berekspansi ke luar Jakarta.
Di Tangerang, Starbucks sudah dibuka di Supermal Karawaci.
Pengunjungnya sebagian besar mahasiswa Universitas Pelita Harapan
(UPH) yang memang berasal dari kalangan menengah atas dan juga orang
asing yang banyak tinggal di kawasan Lippo Karawaci dan Bumi Serpong
Damai (BSD).

Bulan Maret mendatang Starbucks juga akan buka di Sun Plaza,
Medan. Gerai di daerah yang sudah ada adalah di Surabaya (Tunjung
Plaza IV dan Galaxi Mall) dan Bali (Hard Rock Cafe, Kuta).

Di Plaza Senayan, pengunjung Starbucks nyaris tak pernah
berhenti. Sejak pagi hari sebelum pusat perbelanjaan itu dibuka,
sudah ada orang yang datang ke gerai yang berada di pojok mal yang
populer di Jakarta itu. Sebagian para pebisnis yang sarapan di sana
sambil membahas rencana bisnis mereka, sebagian lagi para penghuni
apartemen yang tinggal di sekitar pusat belanja kalangan menengah
atas itu.
***

TEMPAT nongkrong lain yang sejenis, The Coffee Bean & Tea Leaf-
sama-sama waralaba dari Amerika Serikat-juga menjual suasana, selain
kopi, teh, sandwich, pasta, dan salad. Menu-menu ini yang membuat
Coffee Bean berbeda dengan Starbucks, selain cara penyajian dan
servisnya. Di Coffee Bean, pramusaji memanggil nama pemesan dengan
jenis minuman dan makanan yang dipesan.

Sama-sama dibuka pada tahun 2002, Coffee Bean dibuka pertama kali
di Plaza Senayan dan kini hadir di Kelapa Gading, Cilandak Town
Square, Plaza Indonesia, Mal Taman Anggrek, dan segera di Kemang,
semuanya di Jakarta.

“Para pengunjung Coffee Bean di Plaza Senayan umumnya pekerja
kantoran. Pada hari Jumat, mulai pukul 14.00 hingga malam hari, para
eksekutif muda,” kata Denny V, Asisten Manajer Coffee Bean Plaza
Senayan, kepada Kompas, Selasa (27/1) pagi. Sementara hari Sabtu
umumnya pengunjung adalah anak-anak muda yang pacaran atau rombongan
keluarga.

Menurut Denny yang sebelumnya pernah bekerja di Jamz, cukup
banyak tamu Coffee Bean yang sudah bosan dengan kehidupan malam dunia
gemerlap (dugem), lalu beralih nongkrong di tempat-tempat ngopi.

“Para pengunjung menganggap tempat ini sebagai kantor kedua atau
rumah kedua. Tamu kami bahkan banyak yang bikin deal di sini, atau
menyelesaikan pekerjaan di sini dengan membawa laptop. Itu sah-sah
saja asal mereka memesan minuman atau makanan di tempat ini,” kata
Denny.

Interior Coffee Bean, pernak-pernik dan mebelnya, diimpor
langsung dari Amerika Serikat. Ini juga terjadi pada Starbucks. Rata-
rata gerai ngopi waralaba Amerika Serikat itu memiliki desain
interior yang sama dengan ciri khas masing-masing.

Sarapan di Coffee Bean atau Starbucks bukan hal yang aneh lagi.
Itu banyak dilakukan siapa saja yang ingin breakfast di gerai ngopi
tersebut-yang menyediakan paket khusus sarapan pagi dengan harga
antara Rp 25.000 dan Rp 32.000 per porsi.

Bahkan, gerai-gerai ngopi ini buka lebih awal dibandingkan dengan
mal. Pukul tujuh pagi, pramusaji gerai ngopi waralaba Amerika Serikat
itu sudah melayani orang-orang sibuk di metropolitan Jakarta ini.
Lokasi Coffee Bean di Plaza Senayan lebih strategis karena lebih
dekat dengan halaman parkir, yang memudahkan kendaraan parkir di
dekat gerai itu.

Apa yang disajikan tempat-tempat ngopi di mal itu memiliki
karakteristik masing-masing dan saling melengkapi. “Ketika Starbucks
buka di Plaza Indonesia dan lokasinya persis di depan Segafredo,
banyak orang berpikir kami akan mematikan Segafredo. Ternyata tidak.
Sebab pada kenyataannya, pengunjung Segafredo tetap ramai,” kata
Anthony Cotton.

Kehadiran Coffee Club, Coffee Bean, dan Starbucks di Plaza
Indonesia toh juga tidak saling mematikan. Coffee Club, misalnya,
menyediakan kopi- kopi beralkohol, sedangkan Starbucks dan Coffee
Bean tidak.

Fakta yang terekam di Jakarta tentang tren ngopi di mal dalam dua
tahun terakhir ini menunjukkan betapa Jakarta kian berkembang dan
menjadi bagian dari globalisasi.

Sebetulnya, fenomena ini tak berbeda dengan warung kopi yang ada
dalam komunitas masyarakat pinggiran sebab sudah lama masyarakat
Indonesia suka minum kopi, begadang, dan membahas banyak hal.
Yang berubah sesuai zaman adalah lokasi ngopi, desain tempat
ngopi, dan kemasan kopi yang diciptakan “wah” serta memikat kalangan
menengah atas metropolitan meski dijual dengan harga empat atau lima
kali lipat.

Sebagai kosmopolitan yang menghalalkan kapitalis masuk, Jakarta
menjadi kota yang menarik bagi investor asing. Konsekuensinya,
fenomena global yang bisa ditemukan di belahan dunia lain, dari
Tokyo, Singapura, New York, hingga Paris, juga dapat ditemukan di
Jakarta. (ROBERT ADHI KSP)

Foto:
Kompas/Robert Adhi ksp
1. JUAL SUASANA – Gerai-gerai tempat minum kopi di pusat perbelanjaan
dan perkantoran di Jakarta kini bukan sekadar menjadi tempat minum
kopi. Di sana pengunjung juga bisa menikmati suasana nyaman sambil
minum kopi bersama teman, kolega, partner bisnis, atau teman
khusus. Para pengelola sadar betul bahwa suasana itulah yang
mereka jual.

2. “NGETREN” – Minum kopi di pusat-pusat perbelanjaan dan gedung
perkantoran dalam dua tahun terakhir ini semakin ngetren. Orang
tak sekadar minum, tetapi juga dapat melakukan berbagai kegiatan
bisnis, termasuk menyelesaikan pekerjaannya dengan menggunakan
laptop yang praktis ditenteng ke sana kemari. Bahkan, pengunjung
juga bisa mengadakan pertemuan atau sekadar ngobrol dengan teman.
Di saat three in one diberlakukan pada sore hingga petang,
kebiasaan minum kopi sambil cuci mata ini juga semakin ngetren.

FOTO di blog ini suasana Starbucks Coffee pertama di Seattle, AS, diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Starbucks

LINK TERKAIT http://www.starbucks.com/, http://coffeebean.com/, http://www.coffeeclubworld.com/, http://www.1st-line.com/coffee/espresso/bean/segafred.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s