Tol "Kepung" Jabodetabek

KOMPAS
Rabu, 02 Aug 2006
Halaman: 27
Penulis: R Adhi Kusumaputra

Infrastruktur
TOL “KEPUNG” JABODETABEK

Oleh R Adhi Kusumaputra

Bagi warga yang tinggal di wilayah Bogor, Depok, Tangerang,
Bekasi (Bodetabek) yang akan ke Jakarta, kemacetan lalu lintas sudah
menjadi sesuatu yang menjengkelkan. Berangkat pagi disergap
kemacetan. Pulang menjelang tengah malam pun jalan tetap padat.
Jakarta Outer Ring Road II diharapkan jadi solusi.

Berita akan dibangunnya jalan tol yang menghubungkan kawasan
Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Jakarta menjadi berita menarik.
James, warga Villa Inti Persada Pamulang, Tangerang, misalnya,
mengurungkan menjual rumahnya karena setelah melihat rencana peta Tol
Cinere-Serpong sepanjang 10,14 km, ternyata salah satu simpang susun
akan dibangun di titik Jalan Cinangka Raya-Jalan RE Martadinata.

Dalam benaknya, jika jalan tol rampung dan beroperasi, aksesnya
ke kantor di Jakarta Pusat akan lebih cepat dan mudah. Selain itu,
kehadiran tol di dekat rumahnya diyakini akan meningkatkan nilai jual
rumahnya dua-tiga kali lipat.

Mereka yang bertahun-tahun tinggal di pinggiran Jakarta dan jalan
akses menuju Jakarta selalu disergap kemacetan pasti sudah lelah
dengan kondisi ini.

Kehadiran Jakarta Outer Ring Road (JORR) II atau Jalan Lingkar
Luar Jakarta II memang sudah ditunggu. Departemen Pekerjaan Umum
berencana membangun proyek JORR II dengan tujuh ruas jalan tol.
Ruas Cinere-Cimanggis-Jagorawi sepanjang 14,7 km, Depok-Antasari
(21,7 km), Cinere-Serpong (10,14 km), Serpong-Tangerang (11,19 km),
Tangerang-Bandara Soekarno-Hatta (55,73 km), Jagorawi-Cibitung/Tol
Jakarta-Cikampek (25,21 km), dan Cikarang-Tanjung Priok (34 km). Tol
ini akan menyambung menjadi satu sehingga memudahkan warga di
pinggiran Jakarta untuk bepergian tanpa melintas dalam kota Jakarta
lagi.

Dari jadwalnya, proyek JORR II dimulai tahun ini dengan
pembebasan lahan. Pembangunan konstruksi diharapkan selesai tahun
2009. Jadi, tiga tahun lagi sejak sekarang, direncanakan jalan
lingkar luar Jakarta ini bakal beroperasi.

Gusur ratusan rumah
Proyek ini bakal menggusur ratusan rumah di sejumlah kawasan
permukiman. Di Depok misalnya, sebagian rumah di kawasan elite
Raffles Hills Cibubur pasti tergusur untuk pembangunan jalan simpang
susun ke Tol Jagorawi dan ke Jakarta.

Para pemilik rumah Raffles Hills resah dengan kabar ini. Ny Rini
(30) dan Cherry (32), pramugari Garuda, warga Blok EE, misalnya,
minta pengembang merelokasi rumahnya.

Namun, Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il menegaskan pemilik
rumah yang terkena proyek tol diminta merelakan rumah mereka. Ia
menjanjikan tak ada warga yang dirugikan dalam pembayaran ganti
untung.

Ketua RT setempat, Rufus, memperkirakan sedikitnya 80 rumah di
Blok EE bakal tergusur proyek Tol Cinere-Jagorawi. Bayangkan, jika
harga satu rumah rata-rata Rp 250 juta-Rp 300 juta, berapa nilai
ganti rugi yang harus dikeluarkan konsorsium investor swasta.

Itu baru rumah-rumah di Raffles Hills Cibubur. Belum lagi rumah
di kompleks Harapan Baru Taman Bunga, Taman Duta, Pelni, lahan kosong
di Pesona Khayangan (utara) dan di kampus Universitas Indonesia
(selatan), serta sebagian rumah Wismamas Cinere.

Jalan Tol Cinere-Jagorawi akan memiliki pintu masuk-keluar di
Cibubur (Raffles Hills), Jalan Raya Bogor, Jalan Margonda Raya, dan
simpang susun Krukut.

Jalan Tol Depok-Antasari menghubungkan kawasan Bojonggede
(Kabupaten Bogor), Sawangan, Krukut, Gandul (Depok), dan Cilandak
(Jakarta Selatan). Dua jalan tol Depok ini akan bertemu di daerah
Krukut di Kecamatan Limo (Depok).

Jalan Tol Cinere-Jagorawi akan bersambung ke sebelah barat dengan
wilayah Tangerang. Tol Cinere-Serpong sepanjang 10,14 km akan
menggusur pula sejumlah rumah di Griya Cinere dan Wisma Cakra Indah
(Depok), Bukit Pamulang Indah, Serua Permai, Bukit Indah, hingga
Bukit Nusa Indah (Tangerang). Tol ini punya dua simpang susun,
Cinangka dan Meruyung.

Jalan tol ini bersambung ke barat lagi, Serpong-Tangerang (11,19
km), melintasi lahan Nusaloka BSD, Graha Bintaro, Regensi Melati Mas,
Alam Sutera, Pinang, dan Kunciran Mas Permai. Simpang susun dibangun
di Jalan Bhayangkara/Alam Sutera, Tol BSD-Bintaro, dan Tol Jakarta-
Tangerang.

Proyek JORR II dilanjutkan dari simpang susun di Kunciran ke
Bandara Soekarno-Hatta Tangerang (55,73 km). Jika tol ini beroperasi,
akses ke bandara akan makin cepat dan mudah karena tak perlu lagi
masuk ke dalam kota Jakarta.

Di sebelah timur, Tol Cinere-Jagorawi akan bersambung dengan Tol
Jagorawi-Cibitung (Tol Jakarta-Cikampek) sepanjang 25,21 km. Bila tol
ini beroperasi, akses ke pantura Jawa maupun ke Bandung via
Cipularang pun akan lebih cepat.

Di Jakarta, ruas Tol Cikarang-Tanjung Priok (34 km) lebih banyak
untuk kepentingan industri agar akses ke pelabuhan lebih cepat.
Revisi RUTR

Untuk mengantisipasi pembangunan tol dan perkembangan kota,
Pemkot Depok melakukan revisi Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) dan
Rencana Rinci Tata Ruang (RRTR) kota.

“RRTR dijabarkan lagi ke Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan
atau Rencana Teknik Ruang Kota, kemudian dipaparkan lebih rinci ke
siteplan, yang biasanya diberikan ke pengembang. Ini penting karena
jadi acuan bagi siapa saja yang membangun usaha,” kata Kepala Dinas
Tata Kota dan Bangunan Depok Ir Utuh Karang Topanesa, Selasa (1/8).

Depok yang sebelumnya memiliki enam subpusat pembangunan kota
(Margonda, Cinere, Sawangan, Citayam, Cimanggis, dan Cisalak),
bertambah tiga lagi, yaitu Tapos, Bojongsari, dan
Krukut. “Bojongsari diproyeksikan jadi pusat perdagangan dan jasa,
kawasan pendidikan dan subterminal, mengantisipasi Tol Depok-
Antasari,” kata Kepala Bidang Tata Kota, Dinas Tata Kota dan
Bangunan Depok, Ir D Irwanto.

Krukut mengantisipasi kehadiran Tol Cinere-Jagorawi. Pertemuan
dua tol Depok ada di Krukut sehingga di masa depan, kawasan ini
memiliki masa depan usaha yang baik. “Sementara Tapos mengantisipasi
pembangunan Terminal Jatijajar,” ucapnya.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Isma’il berharap proses pembebasan
lahan untuk pembangunan dua jalan tol di wilayahnya berjalan baik.
“Jika dua jalan tol beroperasi, pertumbuhan ekonomi Kota Depok
akan berkembang pesat, dan pada gilirannya akan meningkatkan
pendapatan asli daerah dan menyejahterakan warga kota,” kata Nur
Mahmudi yang akan memimpin Panitia Pengadaan Tanah Depok.

Nilai properti tinggi
Kehadiran jalan tol di mana pun diyakini akan membawa dampak
besar bagi dunia properti.

“Jalan tol mendorong nilai properti menjadi tinggi. Biasanya
pengembang yang cerdasakan melihat peluang emas ini. Informasi yang
disampaikan Kompas soal jalan tol akan dicari banyak pihak,” kata
Ketua Real Estat Indonesia (REI) Kompartemen Prasarana Kota Ir Dhony
Rahajoe.

Dalam teori properti, lokasi menjadi acuan utama. “Yang hitam
akan jadi putih, yang putih akan jadi warna-warni,” kata Dhony. Ia
memberi contoh, ketika Tol TB Simatupang beroperasi, daerah selatan
jadi pilihan. Gedung perkantoran,apartemen, dan tempat usaha
bermunculan.

Contoh lain, ketika Jalan Tol BSD-Bintaro-Pondok Indah menyambung
ke Tol TB Simatupang, nilai jual rumah di BSD dan Bintaro, bahkan
rumah di sekitarnya melonjak dua hingga tiga kali
lipat. “Pertumbuhan ekonomi dan tingkat hunian di BSD meningkat
tajam,” ujarnya.

Namun, ia berharap RUTR kota dan kabupaten dapat menjadi acuan
pengembang sehinggatidak perlu ada penggusuran rumah di kawasan
hunian yang sudah jadi seperti Raffles Hills.

Jalan tol boleh saja direncanakan, tetapi yang harus diingat,
pemkot atau pemkab jangan lupa membangun infrastruktur pendukung.
Kalau masuk atau keluar tol tetap macet, berarti ada yang salah dalam
perencanaan.

Kita tunggu realisasi JORR II ini! Jangan sampai jadi pelesetan
jalan ora rampung-rampung jilid kedua!
“Jika dua jalan tol beroperasi, pertumbuhan ekonomi Depok akan
berkembang pesat. PAD meningkat.

LINK TERKAIT http://groups.yahoo.com/group/Muslim_BintaroJaya_BSD/message/1810, http://www.mail-archive.com/kendal-online@yahoogroups.com/msg00536.html,

Iklan

One response to “Tol "Kepung" Jabodetabek

  1. Bagaimanapun pembangunan jalan tol nggak akan memecahkan masalah, malah jadi ruwet aja pemandangan tata ruang di republik semprul ini. Dengan pertumbuhan mobil yang 12 % nggak bakal sebanding dengan pertumbuhan jalan yang 1 %…sepuluh tahun yang lalu siapa yang menyangka jalan tol taman mini ke slipi bisa macet ?. Mestinya pemerintah lebih menitikberatkan pada insfrastruktur Massive Transportation , …entah bussway,subway, kereta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s