Starbucks: Kapitalis dengan Tanggung Jawab Sosial


KOMPAS

Kamis, 05 Feb 2004

Halaman: 19

Penulis: ksp

STARBUCKS: KAPITALIS DENGAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL

STARBUCKS menarik, tidak sekadar kopi dan gerainya yang
mengglobal, tetapi juga bagaimana manajemen Starbucks memiliki
tanggung jawab sosial pada lingkungan dan memperlakukan karyawannya
dengan penuh hormat.

Starbucks dianggap tidak lazim, antara lain karena merupakan
kombinasi kapitalisme dengan tanggung jawab sosial. Perusahaan ini
memberikan kepada karyawannya yang bekerja lebih dari 20 jam per
minggu keuntungan berupa peduli kesehatan dan opsi saham.
Perusahaan ini juga mengembalikan sebagian keuntungannya kepada
para petani kopi.

Keuangannya juga sehat, yang diperoleh dari dana segar dan bukan
dengan cara menjual saham maupun berutang.

Howard Schultz, Chairman dan Chief Executive Officer (CEO) yang
namanya menjadi buah bibir banyak pebisnis dunia saat ini mampu
menjadikan Starbucks berkembang sangat cepat.
“Sebagai CEO, saya juga merasa bertanggung jawab kepada mereka
yang datang sebelum saya, yaitu mereka yang menciptakan warisan
keberhasilan Starbucks dan membangun Starbucks menjadi seperti
sekarang ini,” demikian Howard Schultz dalam bukunya “Pour Your Heart
Into It, How Starbucks Built A Company One Cup at A Time
“.

“Bagi saya, Tanggung jawab korporat berarti bahwa manajemen
harus memperlakukan dengan baik orang-orang yang melakukan pekerjaan
dan menunjukkan perhatian kepada masyarakat di mana mereka tinggal,”
ujar Schultz yang lahir dari keluarga miskin.

“Kami tidak menggunakan istilah tanggung jawab sosial itu untuk
menjelaskan pendekatan Starbucks. Sebagian karena perusahaan kami
tidak punya sandaran politik. Banyak orang mengatakan perusahaan
ini Æmemberi kontribusi positif kepada masyarakat kami dan
lingkungan kamiÆ telah lama menjadi bagian dari misi kami,” demikian
Schultz.
***

HOWARD Schultz mengaku tak pernah berpikir suatu saat akan
memimpin perusahaan. “Tetapi, saya tahu di dalam hati bahwa apabila
saya dalam posisi di mana saya dapat membuat perubahan, saya tidak
akan meninggalkan orang-orang di belakang saya,” tuturnya.

Schultz yang kini dikagumi banyak orang, termasuk Bill Gates itu,
memiliki masa silam yang kelam. Ia terpukul melihat ayahnya yang
meninggal karena kanker paru-paru pada Januari 1988, tak punya
tabungan dan uang pensiun, bahkan tak pernah mendapat kepuasan dan
martabat dari pekerjaan yang dianggapnya sangat berarti.

Berkaca dari pengalaman itulah, Schultz yang merintis kariernya
dari bawah, sebagai pengecer kecil lima toko kopi di Seattle, punya
konsep yang lebih baik.

Dia melihat Starbucks bukan apa adanya. “Starbucks segera memikat
saya dengan kombinasi antara semangat/hasrat yang kuat (passion)
dengan keaslian (authenticity). Jika ia dapat berkembang secara
nasional, memancarkan romantika keterampilan seni Italia dalam
pembuatan espresso maupun tawaran fresh-roasted coffee beans, saya
berangsur-angsur menyadari, ia dapat menemukan kembali suatu
komoditas zaman kuno dan menarik berjuta-juta orang, seperti ia
menarik saya,” katanya lagi.

Howard Schultz menjadi CEO Starbucks pada tahun 1987. Dia
membangun Starbucks dari sebuah bisnis lokal dengan enam gerai dan
kurang dari 100 karyawan menjadi bisnis multinasional dengan lebih
dari 7.500 gerai dan puluhan ribu karyawan.

“Satu keunggulan yang memberi kami lisensi untuk bereksperimen
dengan produk-produk baru yang inovatif. Baik penjualan maupun
keuntungan telah tumbuh dengan lebih dari 50 persen setahun selama
enam tahun berturut-turut,” ucapnya.

Starbucks menyentuh ikatan emosional yang menghubungkan manusia.
Banyak orang keluar dari perjalanan mereka di pagi hari untuk
menghirup kopi di gerai itu. Starbucks telah menjadi simbol resonansi
tentang kehidupan kontemporer Amerika, di mana logo Starbucks yang
tak asing lagi, wanita penggoda di dalam lingkaran berwarna hijau,
sering muncul di acara TV dan bioskop.

“Kami telah memperkenalkan kata-kata baru ke dalam perbendaharaan
kata Amerika (dan kini dunia), dan ritual sosial baru pada 1990-an.
Di beberapa komunitas, gerai Starbucks telah menjadi tempat ketiga,
tempat berkumpul yang ramah dan nyaman, yang jauh dari rumah dan
tempat kerja, seperti perluasan serambi depan rumah,” paparnya.
Starbucks bukan sekadar kopi yang hebat, tetapi juga romantika
pengalaman minum kopi, perasaan hangat, dan komunitas orang-orang
yang masuk ke gerai-gerai Starbucks.
***

KALAU ada satu prestasi yang paling dibanggakan Schultz adalah
hubungan kepercayaan dan rasa percaya diri yang dibangun dengan orang-
orang yang bekerja di perusahaan. Itu bukan ungkapan kosong seperti
di banyak perusahaan.

“Kami telah membangunnya ke dalam berbagai program. Tunjangan
kesehatan yang lengkap, bahkan untuk tenaga paruh waktu, serta
program pembelian saham yang memberikan kepemilikan kepada setiap
orang. Kami memperlakukan pekerja gudang dan para pelayan dengan rasa
hormat, yang di banyak perusahaan hanya memperlakukannya untuk para
eksekutif tinggi,” ungkapnya.

Sikap dan strategi ini berlawanan dengan kebijakan bisnis
konvensional. Tetapi menurut Schultz, “Memperlakukan karyawan dengan
penuh kebajikan janganlah dipandang sebagai penambahan biaya yang
akan mengurangi keuntungan, namun sebagai pemacu yang hebat yang
dapat menumbuhkan perusahaan menjadi sesuatu yang jauh lebih besar
daripada yang dapat diimpikan oleh seorang pemimpin. Bila para
karyawan memiliki rasa harga diri dan rasa hormat, mereka dapat
menyumbang lebih banyak lagi pada perusahaan mereka, keluarga mereka,
dan pada dunia,” kata Howard Schultz. (ROBERT ADHI KSP)

“Memperlakukan karyawan dengan penuh kebajikan jangan dipandang sebagai tambahan biaya yang mengurangi keuntungan, namun sebagai pemacu menumbuhkan perusahaan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s