Rumah yang Mengalah Pada Alam

KOMPAS
Sabtu, 08 Jan 2005
Halaman: 37
Penulis: Aufrida Wismi Warastri, Robert Adhi Ksp

RUMAH YANG MENGALAH PADA ALAM


BAGAIMANA rasanya tidur di tengah alam saat hujan turun? “Air
hujan turun, tapi kita tidak disiram hujan,” kata Dr Andy Siswanto,
arsitek yang membangun rumahnya dengan konsep “menyatu dan mengalah
dengan alam”. Ia sengaja membangun kamar tidur dan kamar kerjanya
berdinding kaca, agar ia dapat menikmati suasana alam yang asri dan
hijau.

JADI, bayangkan jika hujan turun. Rasanya kehujanan, tapi tidak
disiram hujan. Asyik ya? katanya kepada Kompas awal Desember lalu.
Biasanya pembangunan rumah dilakukan dengan menyediakan tanah
lapang atau tanah yang dilapangkan entah bagaimanapun caranya.

Memotong pohon, menimbun tanah, atau mengepras bukit.
Konsep tak ramah lingkungan itu diubah oleh Andy Siswanto,
arsitek yang tinggal di Jalan Bukit Ganda di kawasan Bukit Sari,
Semarang selatan.

Rumah yang ia sebut sebagai Courtyard House itu
didirikan di atas tanah seluas 350 meter persegi sebagai perluasan
rumah induk. Tidak seperti yang dilakukan kebanyakan orang yang
menempatkan bangunan sebagai figur, Andy menempatkan ruang atau
tepatnya halaman sebagai figur.

Penempatan ruang sebagai figur itu menjadikan bangunan berdiri
mengelilingi halaman. Bangunan didirikan merapat di batas tanah
mengelilingi tanah lapang.

Bangunan berkeliling itu pun menyesuaikan dengan kondisi alam,
terutama pepohonan. Konsep yang disebut infill ini membuat bangunan
dibangun dan dibentuk menyesuaikan tata letak alam, khususnya pohon.
Dengan alasan pohon datang lebih dulu, sementara waktu lama untuk
menumbuhkannya hingga besar perlu dihargai.

Kontur tanah pun direkayasa untuk tidak membuang atau menambah
dari tanah lain. Model cut and fill dilakukan secara setempat.
Konsep berikut yang diterapkan Andy adalah transparansi. Dalam
konsep ini ruang luar dibawa ke dalam dan ruang dalam dibawa ke luar.

Hal itu dapat dirasakan dengan adanya hubungan fisik antara suasana
di luar ruangan yang dibawa masuk di dalam ruangan. Demikian pula
sebaliknya. Misalnya kesegaran udara dan aliran air, bau tanah, suara
alam. Sementara secara visual pohon, langit, dan bintang terlihat.

Kaca menjadi salah satu media yang bisa membuka ruang
transparansi itu, yang semakin menegaskan tak ada batas antara alam
dan ruangan. Jadi, bayangkan saat Anda tidur dengan dinding kaca yang
transparan. “Kalau ingin udara segar, tinggal pakai kelambu. Jadi,
akan terasa benar segarnya alam tanpa harus digigit nyamuk. Seperti
tidur di hutan bener,” katanya. (Aufrida Wismi Warastri/Robert Adhi Ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s