Pecinan Semarang: Kota Tua yang Kehilangan Jiwa

KOMPAS

Jumat, 03 Sep 2004

Halaman: 34

Penulis: Ni Komang Arianti, Robert Adhi Ksp

Pecinan Semarang
KOTA TUA YANG KEHILANGAN JIWA

KAWASAN pecinan Semarang memang belum seperti “Kya-Kya” di
kawasan Kembang Jepun, Surabaya, yang pada tahun 2002 sengaja ditata
sebagai pusat wisata makanan. Namun, tak dapat dimungkiri bahwa di
tengah kepadatan rumah dan bangunan tuanya, kawasan pecinan Semarang
menyimpan sejuta kisah kejayaan dan potensi wisata yang menjanjikan.
Kawasan pecinan Semarang ini berada di tengah kota, sekitar 1 km arah
selatan dari lokasi situs Kota Lama Semarang.

GANG Lombok hanya satu contoh. Nama jalan kecil di kawasan
pecinan Semarang ini sudah dikenal semua orang, baik dalam negeri
maupun luar negeri.

Dahulu kawasan ini ramai dikunjungi orang, entah untuk beribadat
di Kelenteng Tay Kak Sie atau sekadar menikmati penganan khas yang
dijajakan di sekitar klenteng, yaitu lunpia Gang Lombok yang lokasi
berdagangnya dekat dengan kelenteng tersebut.

“Saya ingat betul, ketika saya masih kecil, banyak orang datang
ke Kelenteng Tay Kak Sie, bukan hanya warga Tionghoa yang datang.
Orang Belanda juga kerap datang ke tempat itu. Sayangnya, sejak rezim
Soeharto berkuasa, segala bentuk kegiatan peribadatan di kelenteng
itu dilarang. Akibatnya para penjual makanan banyak yang pindah dan
menutup usahanya,” tutur A Siang (50), pengelola Toko Emas Naga Mas
dan makanan tiong jioe pia Kiem Liong di Gang Pinggir.

Pada masa rezim Orde Baru, kehidupan masyarakat pecinan Semarang,
khususnya warga Tionghoa, mengalami masa-masa kehidupan yang tidak
mengenakkan. Mereka dilarang menjalankan peribadatan secara terbuka
di kelenteng. Selain itu, rumah dan bangunan khas China milik warga
di kawasan tersebut juga harus diubah.

Yenny Sujana (45), pemilik Toko Pia Cap Bayi (Tjiang Goan) di
Gang Besen, menyebutkan perubahan bentuk bangunan di kawasan pecinan
dilakukan oleh pemerintah kota setempat pada tahun 1968.
“Dahulu, di sepanjang jalan Gang Pinggir dan Gang Besen, banyak
ditemukan rumah- rumah pengusaha kaya Tionghoa, dengan pintu jati
berukir naga dan tulisan-tulisan China. Sementara, bagian atas atap
rumahnya juga masih tradisional Tiongkok,” ungkap Yenny.

Penuturan senada juga diungkapkan Tan Bie Gian (56), yang pernah
menghabiskan masa kecilnya di kawasan pecinan. Tan menyatakan,
terdapat dua rumah bersejarah milik konglomerat kaya Tionghoa pada
masa itu, yaitu Be Ing Tjoe di Kebon Dalem dan Tan Tiang Tjhing di
Gedong Goelo.

Sayangnya, kedua bangunan dengan arsitektur Tiongkok ini sudah
tidak ada lagi. Situs Kebon Dalem saat ini sudah berubah menjadi
bangunan sekolah dan gereja Katolik, sedangkan Gedong Goelo telah
beralih fungsi sebagai Balai Pengobatan Umum Kapuran.

SAAT ini wajah kawasan pecinan Semarang tak ubahnya kota tua yang
kehilangan jiwa, kehilangan napas kehidupannya. Bangunan-bangunan tua
dan tidak terawat berada di sepanjang Jalan Petudungan, Gang Warung,
dan Gang Lombok. Sementara, sejumlah bangunan modern bertingkat mulai
memenuhi Jalan Wotgandul Timur, Gang Pinggir, Gang Besen, dan
Jagalan. Bangunan-bangunan modern dan mewah sekarang justru seperti
berebut tempat sehingga mendesak dan mengimpit bangunan dan rumah-
rumah tua di kawasan.

Wajah bangunan dan rumah di kawasan pecinan jelas terlihat dari
ciri fisiknya yang rata-rata berupa bangunan berlantai dua. Lantai
satu umumnya dipakai sebagai tempat usaha, sedangkan lantai dua
sebagai tempat tinggal. Ciri khas lainnya, sebagian besar bagian
depan bangunan itu dipasangi terali dan pagar besi, bukti fisik yang
memperlihatkan kekhawatiran warga Tionghoa terhadap aksi kekerasan
dan perusakan tempat usaha mereka di masa lampau.

“Wajah bangunan di kawasan pecinan sekarang ini sudah berbeda
jauh dengan gambaran pecinan di zaman kolonial Belanda yang memiliki
ciri khas oriental. Jika ingin mengembalikan seperti dulu, rasanya
kok sia-sia saja,” tutur Yenny.

Kusam dan kumuhnya bangunan di kawasan pecinan Semarang ini telah
menggugah sekelompok warga yang tergabung dalam Komunitas Pecinan
Indonesia (Kopi) Semawis untuk merevitalisasi kawasan tersebut dengan
tujuan sebagai kawasan wisata.

Kopi Semawis pada awal tahun ini menyelenggarakan Pasar Imlek
sebagai salah satu upaya menghidupkan kembali pesona kejayaan yang
pernah dimiliki salah satu kawasan tertua di Kota Semarang ini.

“Awalnya, kawasan pecinan merupakan salah satu kawasan budaya di
Kota Semarang di samping Kota Lama yang akan dipreservasi. Namun,
upaya preservasi tanpa ada aktivitas bisnis yang menghidupi tidak
akan ada artinya. Itu sebabnya kami mengupayakan agar ada aktivitas
bisnis di kawasan tersebut untuk lebih menghidupkan suasana pecinan
di waktu malam,” ujar Harjanto Halim (35), Ketua Kopi Semawis.

Persoalan yang sama terungkap dalam diskusi Revitalisasi Kawasan
Pecinan Kota Semarang yang diselenggarakan Kompas, 25 Agustus lalu.
Widya Wijayanti, arsitek dan konseptor revitalisasi kawasan
pecinan Semarang, memaparkan, upaya yang dilakukan oleh Kopi Semawis
bertujuan untuk menghidupkan kawasan pecinan sebagai kawasan wisata,
bukan mengabadikan kekusaman ataupun keusangan.

Widya mengakui upaya ini bukan “proyek Bandung Bondowoso” yang
mampu menyulap kawasan pecinan menjadi cantik dalam waktu singkat.
Banyak warga Tionghoa yang belum paham atas rencana revitalisasi ini
masih menanggapinya dengan hati-hati karena persoalan sejarah masa
lalu.

Budi Widianarko, guru besar Unika Soegijapranata, salah satu
pembicara diskusi, mengingatkan upaya revitalisasi pecinan itu harus
melihat pula selling point-nya (nilai jual), misalnya menjadikannya
sebagai tempat wisata makanan, kuliner. Kawasan pecinan di Kota
Semarang dapat memiliki selling point karena wilayah ini termasuk
permukiman Tionghoa yang tertua di Indonesia.

Pada siang hari sejumlah jalan di kawasan pecinan merupakan
sentra bisnis yang cukup ramai dan sibuk, seperti di Jalan Kranggan
sebagai pusat penjualan kain dan perhiasan. Selain Jalan Kranggan,
masih ada Gang Beteng, Gang Pinggir, dan Gang Besen, yang juga ramai
di waktu siang, tetapi cukup sepi dan lengang di waktu malam.

Nah, mengapa suasana malam hari yang lengang ini tidak
dimanfaatkan oleh pemerintah untuk menghidupkan kawasan pecinan
sebagai tujuan wisata kuliner yang murah meriah?

Upaya revitalisasi yang diajukan oleh Kopi Semawis untuk
menghidupkan kembali kawasan pecinan tidaklah semulus yang
dibayangkan. Pro dan kontra mengiringi proses perubahan yang sedang
dijalankan. Namun, bagi Kopi Semawis, kontroversi seputar
revitalisasi ini dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran dan
perubahan komunitas pecinan Semarang.

“Revitalisasi ini bertujuan untuk mendorong semua orang agar bisa
memanfaatkan sisi khas pecinan. Kekhasan dan keterbukaan terhadap
etnis Tionghoa di masa inilah yang harusnya dimanfaatkan warga di
kawasan pecinan. Bayangkan jika kawasan ini menjadi kawasan wisata,
bukan tidak mungkin akan menjadi ladang usaha warga Semarang,
khususnya para pemukim di kawasan ini,” papar Harjanto.

Adanya kekhawatiran dan ketakutan akan terulangnya kembali
diskriminasi rasial terhadap masyarakat etnis Tionghoa Indonesia
diakui Harjanto memang masih menjadi trauma bagi sementara warga
Tionghoa yang tinggal di kawasan itu. Namun, ia menekankan adanya
kesempatan yang diberikan Pemerintah Indonesia di era reformasi ini
perlu disikapi secara bijak dan positif oleh warga Tionghoa di
pecinan Semarang.

Pada dasarnya, revitalisasi bagi Kopi Semawis juga merupakan
jalan untuk mengajak masyarakat pecinan, khususnya warga Tionghoa,
agar berpikir maju ke depan, dan bukan untuk bersikap apriori
terhadap keterbukaan yang ada saat ini.

“Sebagian warga Tionghoa di kawasan ini memang berpikir bahwa
(jangan-jangan) situasi semacam ini hanya berlangsung sementara.
Nantinya, ketika terjadi perubahan haluan politik, bisa-bisa kondisi
semasa Orba akan terulang kembali. Tetapi, sekali lagi, perubahan
zaman seperti itu tidak bisa diperkirakan. Yang terpenting adanya
kesempatan yang dapat dimanfaatkan untuk perbaikan kehidupan warga
pecinan, baik bagi warga Tionghoa maupun non-Tionghoa,” ujar Harjanto.

Adanya anggapan masyarakat pecinan bahwa mereka hanya akan
menjadi “obyek tontonan” bila daerah ini dijadikan daerah tujuan
wisata, Harjanto meminta semua pihak berpikir realistis. Bagi Kopi
Semawis, katanya, tujuan wisatawan datang ke pecinan lebih karena
terkenalnya kawasan itu sebagai pusat makanan khas oriental maupun
tradisional di waktu malam.

Selain makanan, di kawasan ini para wisatawan juga dapat
mengagumi indahnya bangunan kelenteng dan tradisi perayaan pemeluk
Kong Hu Cu.

Menurut dia, hal yang justru perlu diciptakan masyarakat adalah
bisnis yang sesuai dengan lingkungan di tempat itu dan dapat
menghidupi kawasan tersebut. Misalnya bisnis konsultasi fengsui,
potong rambut tradisional China, suvenir, dan makanan khas China.

Pelestarian tradisi semacam perayaan Sam Poo Besar dan Tiong Djiu
juga dapat dikemas menjadi event wisata yang menarik. Di samping itu,
kesenian semacam Wayang Potehi dan Gambang Semarang bisa dikemas
dengan tampilan yang disesuaikan dengan kondisi zamannya.

Pengembangan kawasan pecinan Semarang sebagai kawasan wisata
bukanlah sesuatu yang tidak mungkin dapat diwujudkan. Sejumlah
potensi wisata di kawasan itu dapat digarap, seperti wisata budaya
dengan tawaran sembilan kelentengnya yang berusia ratusan tahun.
Belum lagi makanan khas yang diproduksi di kawasan ini. Ada
lunpia Gang Lombok, kue pia Cap Bayi yang juga menawarkan kue bulan
Suku Hokkian, kue bulan Suku Kanton dengan merek Kiem Liong.
Ada pula Warung Makan Pak Ndut, Sate Kambing Guci dan Kapuran,
Sate Babi Nyonya Gunung, Rumah Makan Permata Merah yang sudah berusia
satu abad, Es Marem Gang Baru, dan Soto Bonkarang, pasti mampu
menggoda lidah siapa saja untuk datang mencicipinya sembari menikmati
suasana khas permukiman Tionghoa.

Upaya merevitalisasi kawasan pecinan Kota Semarang didukung penuh
oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Ali Mufiz.
“Kawasan pecinan merupakan habitat yang saya sukai karena saya
termasuk orang yang lahir di kawasan pecinan di Jepara. Kalau wayang
dijadikan pusaka dunia, mengapa kawasan pecinan tidak kita jadikan
pusaka nasional?” ujar Ali Mufiz.

Di banyak kota di dunia, kawasan pecinan yang umumnya berlokasi
di kota lama atau kota tua memang menjadi salah satu daya tarik
wisata yang mampu mendulang devisa.

(Ni Komang Arianti/Robert Adhi Ksp)

“Kawasan pecinan merupakan habitat yang saya sukai karena saya termasuk orang yang lahir di kawasan pecinan di Jepara. Kalau wayang dijadikan pusaka dunia, mengapa kawasan pecinan tidak kita jadikan pusaka nasional?” (Ali Mufiz, Wakil Gubernur Jawa Tengah)

FOTO di blog ini Kelenteng Tay Kak Sie diambil dari http://www.gangbaru.com/index.php?

Foto Gang Lombok di pecinan Semarang, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

LINK TERKAIT http://www.kelenteng.com/taykaksie-semarang/

Iklan

One response to “Pecinan Semarang: Kota Tua yang Kehilangan Jiwa

  1. Bung KSP,
    Saya pengin kota tua Jatinegara itu juga direvitalisasikan kayak Kali Besar.

    Soal lain, saya hari ini masih menyayangkan rumah tua Palmerah, dekat Kompas, yang dirubuhkan trus diganti “puri” anyar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s