Jakfest, "Gado-gado" Pesta Budaya Jakarta

KOMPAS

Minggu, 29 Jun 1997
Halaman: 4
Penulis: KSP

JAKFEST,
“GADO GADO” PESTA BUDAYA JAKARTA

SALAH satu “pesta budaya” Jakarta yang berlangsung setiap tahun
dan sudah masuk kalender pariwisata Jakarta adalah Jakarta Internati-
onal Festival (Jakfest). Untuk tahun 1997, Jakfest berlangsung 23-29
Juni, diikuti 17 negara peserta. Jakfest 1997 kali ini menampilkan
beragam atraksi seni dan budaya, dari pertunjukan film, seni tari,
musik, dan pameran seni kerajinan khas masing-masing negara peserta.

Jakfest yang sudah diselenggarakan untuk kedelapan kalinya ini,
menjadi semacam “gado-gado” pesta budaya Jakarta. Di sini, seni dan
budaya Indonesia dan mancanegara digelar. Dari musisi jazz, pianis,
penari, sampai penyanyi, semuanya bergabung dalam festival ini.

Yang menjadi pertanyaan, apakah penyelenggaraan Jakfest yang sudah
memasuki tahun kedelapan ini makin profesional? Mantan Gubernur DKI
Jakarta Wiyogo Atmodarminto misalnya mengemukakan, Jakfest tidak hanya
bertujuan meningkatkan perkembangan seni dan budaya di Jakarta, tapi
juga berusaha meningkatkan hubungan seni budaya antarkota di dunia.

Namun menurut Wiyogo, kelemahan Jakfest dari tahun ke tahun – dan
terkesan belum juga diperbaiki – adalah soal publikasi. Padahal
Jakfest berusaha “menjual Jakarta”. Solusi yang bisa diambil misalnya,
penyelenggara Jakfest yang mengeluarkan biaya ratusan juta rupiah ini,
dapat mengajak stasiun televisi swasta untuk bekerja sama. Dengan
demikian, biaya yang dianggarkan sampai satu milyar rupiah itu, dapat
kembali lagi.

Soal kurangnya publikasi, ini berdampak pada jumlah penonton. Pada
Pawai Budaya yang diselenggarakan tiap akhir Jakfest misalnya, jumlah
mereka yang menyaksikan acara ini relatif sedikit. Tahun lalu, mereka
yang menonton hanya mereka yang selesai berolah raga di Silang Monas.
“Kurang publikasi,” kata seorang pengamat.

Untuk itu, “Sinergi Jakprom perlu ditingkatkan. Penyelenggara harus
lebih profesional, agar Jakfest dapat memancing wisatawan menyaksikan
acara-acaranya,” kata Wiyogo yang ikut hadir dalam acara pembukaan
Jakfest di Gedung Kesenian Jakarta Kamis (26/6) malam.

Permintaan penyelenggaraan Jakfest harus lebih profesional, juga
muncul dari Ny Bae Jung Hye, pimpinan Seoul Metropolitan Dance Theatre
yang mewakili negaranya dengan mengatakan, Jakfest sebaiknya memisahkan
jenis kesenian yang akan ditampilkan.

“Kalau mau tarian, semuanya tarian. Kalau mau musik, semuanya musik,”
kata Bae Jung Hye seraya memberi contoh, Hongkong Art Festival yang
-amat terkenal dan sangat internasional yang digelar tiap tahun. “Tapi
mereka memisahkan antara seni tari dan musik. Tahun ini festival tari,
tahun berikutnya festival musik, begitu seterusnya. Kami harapkan
penyelenggara Jakfest dapat mencontoh Hongkong Art Festival. Tidak
dicampur aduk seperti sekarang. Ada tarian, ada bela diri, ada piano,
ada jazz,” kata Bae Jung Hye yang mengaku sangat terkesan dengan aneka
tarian Indonesia yang dinilai very colourful, very beautiful.

Tomaz Tobing, pianis blasteran Batak-Slovenia yang sudah dua tahun
berturut-turut tampil dalam Jakfest mengatakan, terkesan dengan kesenian
Indonesia, terutama tari Betawi dan tari Bali. “Saya suka sekali tari-
tarian itu. Gerakannya dan gadis-gadis penarinya,” katanya. Ia tak dapat
mengomentari penyelenggaraan Jakfest karena ia tidak mengikutinya sepan-
jang hari. Namun ia senang diundang Pemda DKI Jakarta dan Jakprom untuk
tampil dalam Jakfest.

Menanggapi soal “gado-gado” pesta budaya Jakarta ini, Wakil Ketua
Panitia Jakfest Ita Munaf mengatakan, pihaknya sengaja menampilkan
beragam atraksi pada malam pembukaan Jakfest. “Mereka kan peserta yang
diminta menampilkan atraksi andalan,” jelasnya.

Harus diakui, sampai saat ini Jakfest masih merupakan “gado-gado”
pesta budaya. Apakah pada penyelenggaraan berikutnya, masukan dari
berbagai pihak ini dijadikan pertimbangan? Publikasi yang luas, kerja
sama dengan stasiun televisi, pemi-sahan jenis kesenian, dan
pelaksanaan yang lebih profesional. Kalau terus-menerus tak ada
perbaikan, Jakfest dikhawatirkan akan menjadi kegiatan rutin. Padahal
potensinya untuk menjual Jakarta sebagai kota budaya, sangat besar.
(adhi ksp)

FOTO ilustrasi Seoul Metropolitan Dance Theatre dari

LINK TERKAIT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s