Jakarta Juga Berambisi Menjadi Kota Budaya

KOMPAS

Minggu, 29 Jun 1997

Halaman: 4

Penulis: KSP

JAKARTA JUGA BERAMBISI MENJADI KOTA BUDAYA

JAKARTA kini berambisi menjadi kota budaya, selain diarahkan
menjadi kota jasa, perdagangan dan wisata. Keinginan ini diungkapkan
Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja belum lama ini. Mampukah
Jakarta dengan segala hiruk-pikuk metropolitan dan “hutan beton”-nya,
menjadi sebuah kota budaya?

Tak dapat dibantah, kegiatan seni dan budaya merupakan salah satu
urat nadi sebuah kota budaya. Jakarta tampaknya tak ingin sekadar men-
jadi kota jasa dan perdagangan, di mana warganya hanya sibuk dengan
urusan bisnis belaka. Jakarta juga butuh “darah” untuk menghidupkan
aktivitas warga kota.

Mengacu pada kota-kota di mancanegara, kegiatan seni dan budaya
menjadi salah satu prioritas kegiatan untuk menghidupkan kota, memberi
jiwa bagi warganya, sekaligus menggaet wisatawan. Melalui kegiatan
seni dan budaya, hubungan antarkota dan negara pun makin mesra, karena
kesenian dan kebudayaan mampu menembus segala kendala yang ada dalam
dunia politik dan diplomatik.

Lagi pula, apalah arti kehidupan ini tanpa kegiatan seni dan budaya?
Sebuah kota di mana warganya hanya sibuk memikirkan bisnis, adalah
kota yang tidak memiliki jiwa, kota yang “kering”. Dan Jakarta tak
ingin menjadi seperti itu.

Sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta memiliki potensi bagi pengembangan
kegiatan seni dan budaya. Jakarta memiliki Institut Kesenian Jakarta
(IKJ) yang melahirkan banyak seniman terkenal yang mampu melahirkan
kreativitas seni yang menarik untuk ditonton.

“Kalau dikemas dengan menarik, tentunya atraksi seni dan budaya itu
akan mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara untuk datang
ke Jakarta,” kata Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta Ir Fauzi Bowo
kepada Kompas, Kamis (26/6) malam.

Kehadiran Taman Ismail Marzuki (TIM) yang dibangun Gubernur DKI
Jakarta Ali Sadikin, dan kini dalam tahap pemugaran, diharapkan mampu
menjadi pusat kesenian terbesar di Jakarta.

Kini di Jakarta ada sekitar 3.000 sanggar seni dan budaya yang
dikelola swasta atau pribadi, serta kegiatan lain di gelanggang-
gelanggang remaja di kotamadya. Dari seni tari, seni rupa, seni teater,
seni musik, sampai seni dalang.

“Sejumlah sanggar seni disiapkan untuk menyelenggarakan kursus,
penataran, workshop guna meningkatkan kualitas seniman kita,” kata
Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Drs Azhari Baedlawie.

Azhari yakin Jakarta akan menjadi kota budaya, meski masih merupakan
proses. Dia optimis, antara lain karena selama ini Gubernur DKI Jakarta
Surjadi Soedirdja sangat serius memfokuskan pembinaan seni dan budaya di
Ibu Kota. Misalnya dengan membangun Teater Besar di TIM yang nantinya
akan berstandar internasional, serta pusat-pusat kesenian di lima
wilayah kotamadya. Juga memfungsikan kembali gelanggang remaja tidak
hanya untuk kegiatan olahraga dan pendidikan, tapi juga untuk kegiatan
seni dan budaya.

Selain itu, menurut Azhari, hampir dalam setiap event yang
diselenggarakan berbagai instansi pemerintah dan swasta, selalu
dimunculkan atraksi seni dan budaya. Bahkan kini hampir di setiap
hotel, apakah hotel melati atau hotel berbintang di Jakarta, atraksi
seni dan budaya menjadi salah satu primadona.

Hotel Indonesia yang berlokasi di jantung Ibu Kota, menyajikan
atraksi tari-tarian daerah dari 27 propinsi. Atraksi itu diadakan di
Restoran “Nusantara”, di lantai VIII hotel tertua di Jakarta itu.

Menurut Henny Puspitasari, Humas Hotel Indonesia, atraksi tarian
itu diadakan setiap malam (kecuali Minggu malam), dan mampu mengundang
wisatawan mancanegara, yang selain ingin bersantap malam, juga ingin
menikmati atraksi tari-tarian. Selain itu di lobi Hotel Indonesia, ada
degung Sunda, bumbung Bali dan gamelan Jawa.

Bukan itu saja. Di Terminal Lebakbulus dan di Stasiun KA Kota,
ungkap Azhari, pertunjukan seni seperti Lenong dan Tanjidor akan
dihidupkan kembali dan digelar dalam kesempatan-kesempatan tertentu
agar dapat dinikmati masyarakat. Itu hanya contoh bagaimana Pemda DKI
berusaha menghidupkan seni dan budaya di Ibu Kota.

Grup-grup kesenian Betawi ini dimanfaatkan Dinas Kebudayaan DKI
Jakarta untuk mengisi berbagai acara Gubernur DKI. Di antara grup
kesenian tradisional ini, kata Azhari, masih ada 35 grup Tanjidor dan
25 grup Ondel-ondel. Pembinaan Pemda DKI terhadap grup-grup kesenian
Betawi ini diwujudkan dengan memberi bantuan alat-alat kesenian oleh
Gubernur DKI, dan subsidi untuk kegiatan mereka.

Untuk meningkatkan kualitas, grup-grup kesenian itu mengadakan
perlombaan antarmereka sendiri. Selain itu, lomba juga untuk menjaga
agar kesenian Betawi tidak punah, bahkan makin dapat berkembang.

Untuk skala nasional, berbagai pertunjukan seni dan budaya dari 27
propinsi di Indonesia selalu dipentaskan di Taman Mini Indonesia Indah
(TMII), Pasar Seni di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), atau Gedung
Kesenian Jakarta (GKJ).

Faalah K. Djafar, Kepala Humas Taman Impian Jaya Ancol (TIJA)
menjelaskan, setiap Sabtu malam, kesenian daerah dari berbagai
propinsi digelar di panggung Pasar Seni secara bergantian. TIJA juga
selalu memberi kesempatan Dinas Kebudayaan masing-masing propinsi
untuk menampilkan kesenian andalannya di Pasar Seni. TIJA juga bekerja
sama dengan beberapa sanggar seni yang ada di Jakarta, untuk memberi
mereka kesempatan mengembangkan apresiasi seni dan budaya.

TMII secara periodik menampilkan atraksi seni dan budaya dari 27
propinsi, diselenggarakan di tiap anjungan. GKJ dengan bangunan yang
sudah dipoles, selalu menampilkan berbagai pertunjukan kesenian dan
kebudayaan. Sedangkan Taman Ria Senayan yang segera dibuka resmi akhir
tahun 1997, akan menyajikan pertunjukan seni dan budaya Indonesia dari
27 propinsi secara bergiliran. “Misalnya Reog Ponorogo, Debus,
Keroncong Night, Tari Bali dan sebagainya,” kata Monika Irayati, Humas
Taman Ria Senayan.

Jakarta yang kini dirambah berbagai atraksi modern, juga masih
menyisakan gedung kesenian tradisional seperti Wayang Orang Bharata
dan Miss Tjitjih (yang hangus terbakar beberapa waktu lalu), meski
kondisinya memprihatinkan.

Untuk skala internasional, sejak delapan tahun terakhir ini, Pemda
DKI Jakarta bersama Yayasan Promosi Jakarta (dikenal dengan nama
Jakprom) dan Garuda Indonesia menyelenggarakan “pesta budaya” dengan
nama Jakfest (Jakarta International Festival). Jakfest diikuti berbagai
peserta dari luar negeri yang menampilkan berbagai pertunjukan seni
dan budaya, selain menampilkan kesenian Indonesia sendiri. (Baca:
Jakfest, “Gado-gado” Pesta Budaya Jakarta)
***

NAMUN untuk menjadi sebuah kota budaya, tentu tak cukup hanya
dengan menghidupkan pertunjukan seni dan budaya. Wakil Gubernur DKI
Jakarta bidang Ekonomi Pembangunan Ir Tubagus Muhammad Rais dalam
percakapan dengan Kompas menegaskan, Jakarta juga membutuhkan sentuhan budaya melalui pembangunan fisik.

Lampu-lampu penerangan jalan dengan sentuhan artistik, kini sudah
dapat dilihat. Bukan lagi sekadar tiang listrik konvensional, tapi
sudah cukup nyeni. Demikian pula lampu-lampu taman yang dipasang di
Taman Medan Merdeka di Silang Monas, taman di halaman depan Balai Kota
DKI Jakarta, serta di berbagai lokasi lainnya.

Selain itu, Jakarta juga membutuhkan hasil karya seni seperti
patung yang dibangun di berbagai sudut kota, untuk mempercantik wajah
kota dan mengimbanginya dari gedung-gedung bertingkat yang jumlahnya
makin banyak. Penampilan secara fisik karya-karya seni sudah waktunya
menghiasi sudut-sudut kota Jakarta, sehingga mampu menjadi furniture
Jakarta.

Peninggalan budaya seperti museum dengan bangunan berusia tua di
Jakarta, yang meski tidak banyak jumlahnya, sebenarnya merupakan aset
yang potensial untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota budaya.
Pemerintah DKI Jakarta sejak tahun ini berencana memperbaiki wajah
museum agar tidak sekadar menjadi tempat menyimpan benda-benda antik.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membangun kafe dan toko
suvenir di kawasan museum itu. Di berbagai kota di mancanegara, konsep
ini sejak lama diterapkan dan mampu menggaet jutaan wisman ke
museum-museum terkemuka.

Namun, baik Wagub DKI Ir Tb M Rais maupun Kepala Dinas Pariwisata
DKI Ir Fauzi Bowo mengakui, apresiasi sebagian besar masyarakat Jakarta
terhadap pertunjukan seni dan budaya masih sangat kurang. Mereka yang
memiliki apresiasi seni dan budaya, jumlahnya masih terbatas. Seiring
dengan meningkatnya pendapatan masyarakat, apresiasi seni dan budaya
diharapkan juga meningkat. (adhi ksp)

FOTO ilustrasi Gedung Kesenian Jakarta diambil dari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s