Ira Koesno, Liputan Enam Siang, Belajar Falsafah Hidup dari Kisah Wayang

KOMPAS

Kamis, 03 Apr 1997

Halaman: 19

Penulis: ADHI KSP

Ira Koesno, “Liputan Enam Siang”
BELAJAR FALSAFAH HIDUP DARI KISAH WAYANG

SELAMAT siang Saudara. Senang berjumpa kembali dengan Anda
dalam Liputan Enam Siang SCTV, saluran informasi aktual, tajam,
terpercaya

Kalimat ini dengan suara yang empuk diucapkan Ira Koesno (27),
presenter Liputan Enam Siang SCTV, yang sejak 11 Maret 1997 lalu,
selalu hadir menemani pemirsa SCTV setiap hari Senin hingga Jumat
pukul 11.30-12.00 WIB.

Gadis dengan tinggi 169 cm dan berat 59 kg ini, sebelumnya muncul
dalam acara Potret yang membedah masalah sosial dan ditayangkan setiap
Jumat malam pukul 22.00 WIB. Ira Koesno juga sebelumnya hadir dalam
Liputan Enam Pagi (05.30-07.00 WIB) bersama Jeremy Tety, atau
bergantian dengan R Indra.

Tapi siapakah Ira Koesno? Gadis ini lahir sebagai anak bungsu dari
dua bersaudara dengan nama asli Dwi Noviratri, yang artinya anak kedua
lahir pada bulan November, dan pada malam hari. Sebagai gadis Jawa,
Ira ternyata suka cerita wayang. Ia hapal betul kisah-kisah wayang
seperti Gatot Kaca. “Saya terkesan banget dengan Gatot Kaca,” ujarnya.
Gatot Kaca, menurut Ira, rela berkorban demi kebenaran. Gatot Kaca
tewas ketika melawan Adipati Karna dalam perang Pendawa dan Kurawa.

“Rela berkorbannya itulah yang membuat saya terkesan,” kata Ira.
Di balik kisah wayang, tercermin falsafah hidup, yang merupakan
ciri dan sifat manusia, serta kehidupan sehari-hari. “Dan itu akan
terjadi sepanjang masa,” kata Ira. Dengan memahami intisari wayang,
Ira berharap dapat lebih bijaksana menjalani kehidupan.

Pernah suatu ketika Ira mencari komik-komik wayang langsung ke
penerbitnya Maranatha di Bandung. Hobi membacanya ini dipupuk sejak ia
duduk di kelas II SD Ade Irma, Menteng, Jakarta Pusat (sekarang gedung
sekolahnya berganti wajah menjadi apartemen).

“Ayah dan ibu selalu menyediakan buku-buku bacaan, seperti Album
Cerita Ternama, Lima Sekawan dan tentu saja komik wayang,” ungkap Ira
mengenang masa kecilnya. Kegemarannya membaca dilanjutkan hingga
sekarang. “Saya suka novel karya Sidney Sheldon, John Grisham, Stephen
King dan Marga T,” kata gadis yang sejak kecil sudah mengarang di
majalah dinding dan majalah sekolah.

Ayahnya dr Koesno Martoatmodjo (58) dokter anak, sedangkan sang
ibu Ny Sri Utami, SE (53) ibu rumah tangga. “Saya sering menumpahkan
perasaan kepada ibu,” ujar Ira yang mengaku dekat dengan ibunya.

Waktu kecil dan remaja, Ira mengikuti bermacam les (kursus), dari
tari Bali, balet, bahasa Inggris sampai berenang. Sampai sekarang pun
Ira yang pernah terpilih sebagai None Cilik itu, tetap gemar berenang.
Lulus SMA St Ursula Jakarta tahun 1988, Ira memilih masuk Fakultas
Ekonomi jurusan Akuntansi Universitas Indonesia.

Di kampus, Ira dikenal sebagai MC (master of ceremony), pembawa
acara berbagai kegiatan. Di sinilah Ira belajar bagaimana melakukan
pernapasan dan mengucapkan artikulasi yang baik, dan bagaimana agar
suara enak didengar. Selain itu, wajahnya yang ayu dan kepribadiannya
yang luwes, membuat Ira pernah meraih juara III Putri Citra DKI
Jakarta (1992) dan Putri Persahabatan Sari Ayu (1993).
***

SESUAI dengan ilmu yang didalaminya di perguruan tinggi, Ira
pernah bekerja pada kantor akuntan KPMG Hanadi Sudjendro selama setahun
sebagai auditor. Tapi kini Ira Koesno yang bergabung dengan Bagian
Pemberitaan SCTV sejak Februari 1996 ini, makin asyik dengan dunia
televisi.

“Saya merasa betul-betul menjadi wartawan ketika aktif
dalam acara Potret,” ungkapnya. Liputan Potret yang harus in-depth
(mendalam), membuatnya harus mengerahkan segenap kemampuannya. Sejak
itu Ira mengaku jatuh cinta pada dunia jurnalistik, khususnya
jurnalistik televisi. “Minat saya memang pada bidang finance dan jurnalistik. Dan saya sudah merasakan dua-duanya,” ungkapnya.

Menurut Ira, “Yang menarik dari dunia jurnalistik televisi adalah
bagaimana kita mampu berpikir cepat dan memainkan logika.” Tapi gadis
yang gemar jogging dan travelling ini menyadari, pekerjaan dalam dunia
televisi melibatkan banyak orang. Jadi itu berarti teamwork harus
jalan. “Bayangkan, dari petugas make-up hingga penata lampu, semuanya
berperan sama pentingnya, agar presenter dapat tampil sebaik mungkin
di layar kaca,” katanya.

Tampil dalam acara Liputan Enam Siang sendirian, Ira Koesno
membawakan aneka liputan, dari ulasan dan peristiwa terakhir yang
terjadi antara pukul 05.00-11.00 siang, liputan musik dan fashion
mancanegara, hingga liputan soal wanita yang semuanya dikemas ringan,
perpaduan informasi dan hiburan (infotainment). Penanggung jawab paket
Liputan Enam Siang ini adalah Sumita Tobing PhD dengan produser Priyo
SM dan Aribowo Suprayogi.

Dibandingkan dengan di luar negeri, Ira menilai persaingan televisi,
khususnya penayangan berita di Indonesia semakin ketat, tapi sifatnya
masih saling melengkapi. Persaingan TV di Indonesia, menurut Ira,
dalam program-programnya seperti penayangan sinetron lokal maupun
sinetron impor.

Namun ia berharap suatu ketika, “Kalau orang belum menyaksikan
berita SCTV, rasanya belum pas…” Good Ira, asalkan berita SCTV
tetap aktual, tajam, terpercaya. (Adhi Ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s