Keindahan Tersembunyi di Perut Bumi Kebumen…

KOMPAS
Jawa Tengah
Jumat, 23 Dec 2005
Halaman: 3
Penulis: Warastri, Aufrida Wismi; Adhi KSP, Robert

KEINDAHAN TERSEMBUNYI DI PERUT BUMI KEBUMEN

* Wisata Alam Menantang bagi Mereka Berjiwa Petualang
Oleh Aufrida Wismi Warastri dan Robert Adhi Ksp
Saya akan kembali lagi membawa banyak teman. Begitulah tekad
saat menyelesaikan perjalanan menyusuri sebagian kecil goa alam di
kawasan karst di Kabupaten Kebumen. Kekayaan karst di Kebumen
menimbulkan decak kagum. Tekstur alam dalam goa itu, stalaktit,
stalagmit, dan aneka bentuk bebatuan lain sangat indah. Apalagi jika
mengingat keindahan itu tercipta bukan dalam waktu singkat, namun
selama ribuan bahkan jutaan tahun.
Suasana di dalam goa yang gelap gulita, lembab, dan basah oleh
aliran air sungai bawah tanah memberi suasana segar bagi pengunjung,
terutama setelah sibuk dengan rutinitas pekerjaan. Apalagi udara
terasa segar dan jauh dari kebisingan.
Sesuai Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No
961.K/40/MEN/2003, kawasan pegunungan kapur Gombong, Kabupaten
Kebumen ini ditetapkan sebagai kawasan perlindungan. Terletak di
tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Ayah, Kecamatan Rowokele, dan
Kecamatan Buayan, pegunungan karst ini memiliki luas 48,94 kilometer
persegi.
Sebanyak 174 goa alam, baik goa fosil maupun goa preatik (masih
dialiri air) ditemukan di kawasan ini. Dari 174 goa yang ada, baru
dua goa yang resmi dibuka untuk umum sesuai Perda Kabupaten Kebumen,
yakni Goa Jatijajar dan Goa Petruk.
Di kompleks Goa Jatijajar, ada tiga goa lain yang sering
terlupakan dikunjungi, yaitu Goa Dempok, Goa Intan, dan Goa Titikan.
Tiga goa itu terlupakan karena letaknya yang tidak segaris dengan
pintu utama masuk Goa Jatijajar. “Ada kekeliruan konsep jalan masuk
obyek wisata sehingga ketiga goa itu jarang dikunjungi,” kata Kepala
Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Kebumen Hary
Setyanto, Sabtu (17/12).
Ketiga goa itu memang tidak terlalu panjang, namun cukup menarik
dilihat. Panjang Goa Dempok sekitar 90 meter, gabungan antara goa
alam dan goa buatan hasil penambangan batu kapur. Hawa dingin dan
lembab langsung menyergap ketika memasuki goa tersebut.
Sedang Goa Titikan memiliki panjang tak beda dengan Goa Dampok.
Dinamakan Titikan karena terbentuknya goa itu sedikit demi sedikit
akibat penambangan batu kapur.
Setelah melewati Goa Titikan, pengunjung akan melewati Goa
Intan yang merupakan goa fosil penuh stalaktit, stalagmit,
flowstone, pilar, serta pembentukan kalsit yang masih aktif. Panjang
lorong yang dibuka untuk umum 100 meter.
Setelah melewati tiga goa itu, pengunjung baru memasuki Goa
Jatijajar. Goa dengan panjang 250 meter itu pertama kali ditemukan
tahun 1802 oleh Jayamenawi, petani pemilik tanah kawasan itu.
Jayamenawi terperosok ke goa sedalam 24 meter ketika mencari
rumput. Pintu goa baru ditemukan kemudian setelah tanah penutupnya
digali. Penambangan fosfat guano sedalam 10 meter pernah dilakukan
di mulut goa itu.
Diduga, Goa Jatijajar yang berada 50 meter di atas permukaan
laut, dulunya berada di bawah laut. Ini terlihat dari ditemukannya
fosil kerang di pintu masuk sisi kanan goa. Menurut Hery, telah ada
rekomendasi dari Museum Geologi Bandung untuk menutup fosil itu
dengan kaca sehingga kelangsungan hidupnya lebih terpelihara. Namun,
hingga kini rekomendasi Museum Geologi itu belum terwujud.
Menarik juga mencermati tulisan-tulisan dalam huruf tegak dan
latin yang menghiasi mulut goa. Puluhan nama Belanda, Jawa, dan
Tionghoa bertebaran di langit-langit goa. Mereka adalah pengunjung
goa di masa awal. Untuk membubuhkan nama di langit-langit, ternyata
orang harus membayar.
Di sisi kanan pintu masuk, dalam tinta hitam yang sudah samar,
tertulis kata-kata ongkos menoelis bayar orang = 0,25. Artinya untuk
menuliskan nama di dinding goa, seseorang perlu membayar 0,25 sen
sebagai upah si juru tulis.
Radenajoe Sosrohadiwidiojo R Soemardjo 13 Sep 17, misalnya.
Orang ini diduga berkunjung pada tahun 1917. Broeders Poerwokerto
datang dua kali di lokasi ini, yakni 3-1-39 dan 5-1-40. Seseorang
yang bernama Renon datang 5-11-1899. Ada pula Tan Injoe Sing dan
Hasoewno dengan waktu kedatangan yang tidak jelas. Hoffel Columbus
van Zuijlen datang pada 12-4-14. Tulisan nama-nama itu bukti sejarah
betapa Goa Jatijajar sudah dikunjungi sejak satu abad silam. Namun,
kini coretan di langit-langit goa dilarang.
Dikembangkan tahun 1975
Tahun 1975, obyek wisata ini baru dibangun dan dikembangkan
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Di dalamnya dipasang 32 patung
dalam delapan diorama yang menceritakan kisah Raden Kamandaka-Lutung
Kasarung. Cerita itu diangkat karena konon Goa Jatijajar pernah
digunakan bertapa oleh Raden Kamandaka, putra mahkota Kerajaan
Pajajaran.
Bagi pengunjung umum, panorama di dalam goa dengan lebar rata-
rata 15 meter dan tinggi 10 meter itu sangat mengasyikkan.
Pengunjung tidak perlu repot membawa alat penerangan sebab lampu-
lampu selalu dinyalakan di dalam goa.
Stalagmit dan stalaktit tak henti-henti berada di depan mata.
Tetesan air masih aktif terjadi. Hawa dingin dan basah menerpa
wajah. Suara deras sungai bawah tanah terdengar jelas.
Ada empat sendang yang terbentuk dari empat sungai di dalam goa.
Sendang Puser Bumi, Sendang Jombor, Sedang Mawar, dan Sendang
Kantil. Hanya dua sendang, yaitu Sendang Mawar dan Sendang Kantil,
yang terbuka untuk umum. “Ada mitos, kalau Anda membasuh wajah
dengan air Sendang Mawar, akan makin terlihat awet muda,” kata
Hary.
Di Sendang Puser Bumi dan Sendang Jombor di Goa Jatijajar,
dikembangkan cave diving, yang bakal membangkitkan adrenalin Anda.
Sayangnya keindahan di dalam goa tidak diimbangi dengan keindahan
di luar goa. Penataan pedagang kaki lima terlihat semrawut. Banyak
pedagang suvenir menjajakan dagangannya di luar kawasan. Tenda-tenda
warna biru dan oranye mengurangi keindahan kawasan itu.

Goa Petruk yang menantang
Mereka yang menyukai wisata petualangan, Goa Jatijajar memang
kurang menantang karena jalan masuk sudah dibuat rata. Pengunjung
petualang bisa langsung ke Goa Petruk yang berjarak enam kilometer
dari Goa Jatijajar.

Goa horizontal sedalam 644 meter ini masih sangat alami. Aliran
sungai bawah tanahnya cukup deras. Tak ada penerangan di dalamnya
sehingga pengunjung harus membawa lentera dan memerlukan pemandu
untuk menapaki goa ini.
Pengelola menyiapkan dua model kunjungan. Pertama, yang hanya
melihat tiga ruang utama dalam goa dalam waktu 30 menit dengan tiket
Rp 2.700.
Kedua, wisatawan yang menyusuri goa sampai tuntas dengan tiket
masuk Rp 5.200. Pengunjung harus rela basah karena mesti merangkak
menyusuri lorong-lorong goa yang tingginya hanya setengah meter dan
separuhnya tergenang air. Pengunjung membutuhkan waktu 1,5 jam untuk
menuntaskan perjalanan. Sepatu bot, head lamp, helm disiapkan
petugas. Tak ada salahnya jika membawa kaus tangan sendiri.
Setelah naik bukit sekitar 10 menit, wisatawan akan menemukan
goa lebar di dinding bukit. Terlihat sebuah sungai membelah mulut
goa.
Hawa dingin dan kegelapan langsung menyambut seiring dengan
keindahan yang mulai tampak di dalam goa tertimpa sinar senter dan
lampu petromaks dari pemandu.
Aneka batu berbagai bentuk terlihat. Mulai Batu Katak, Batu
Buaya, Batu Lukar Busono, Harimau Duduk, Batu Serigala, Taman
Gajah, Taman Maria, Batu Payudara, hingga Batu Dandang, tersebar di
17 ruang goa.
Penelusuran ini membutuhkan berbagai cara jalan. Dari berdiri
tegak, mendaki, merunduk, berjalan miring, hingga merangkak di dalam
air. Jika tanpa helm, rasanya kepala sudah hancur terantuk stalaktit.
Meski baru dua goa yang dibuka untuk umum, ada beberapa goa yang
bisa dinikmati wisatawan minat khusus susur goa seperti Goa Liyah,
Goa Kemit, dan Goa Barat. Menelusuri goa-goa itu memang membutuhkan
peralatan khusus. Jika ingin tuntas menelusuri, waktu yang
dibutuhkan berkisar antara dua hari hingga satu minggu.
Jika Anda menyukai wisata petualangan, suatu saat memang harus
kembali lagi menapaki goa-goa lainnya. Nah, Anda tertantang?


Iklan

One response to “Keindahan Tersembunyi di Perut Bumi Kebumen…

  1. Bangun terus bloge kang Salam kenal wong kedungwaru.. Mampir ya nang Bloge Inyong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s