Infrastruktur Banten: Siapa Mau Berinvestasi

KOMPAS
Metropolitan
Kamis, 14 September 2006


Infrastruktur Banten:
Siapa Mau Berinvestasi

R Adhi Kusumaputra

Ringgo (25), penjual nasi padang di tepi Jalan Raya Anyer, Ciwandan, Kota Cilegon, kecewa. Sudah lima bulan ini jalan utama dari Cilegon menuju kawasan wisata pantai Anyer dan Carita itu rusak dan berdebu.

Dia tak habis pikir mengapa pemerintah membiarkan jalur penting itu rusak, sementara pemerintah gencar mempromosikan pariwisata Banten. Jalan raya yang saat ini diperbaiki secara tambal sulam akan segera rusak lagi memasuki musim hujan akhir tahun nanti.

Hal senada diungkapkan Pendi, pegawai toko mebel di Jalan Raya Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. “Sudah tujuh bulan ini jalan raya ini dibiarkan rusak dan berdebu. Setiap hari kami harus membersihkan mebel-mebel ini dari debu,” ujarnya. Jalan Raya Teluk Naga memang sangat ramai karena jalan itu merupakan jalan utama ke Bandara Soekarno-Hatta di bagian barat, ke Kota Tangerang, dan sebaliknya ke Teluk Naga.

Jalan di pesisir pantai barat Banten dari Anyer ke Carita merupakan jalur wisata. Sebagian ruas dari Cilegon hingga menjelang Anyer dilalui truk trailer dan tronton yang akan ke dan dari Pelabuhan Cigading sehingga tak heran jika jalan di ruas Ciwandan-Cigading paling cepat rusak.

Berdasarkan pengamatan Kompas ketika melakukan perjalanan hingga ke pelosok Banten selatan, barat, dan utara sepekan terakhir ini, jalan yang menghubungkan antarkabupaten dan kota sebagian besar sudah mulus. Tetapi, di sejumlah ruas memang ada kerusakan jalan yang belum diperbaiki, termasuk di Jalan Raya Anyer dan beberapa ruas jalan di pesisir pantai selatan Banten.

Namun, kerusakan jalan terparah adalah jalan di pantai utara Kabupaten Tangerang, sepanjang puluhan kilometer mulai dari Kronjo, Mauk, Sukadiri, Cituis, Pakuhaji, sampai Teluk Naga. Jalan di pantura Tangerang seakan tidak terurus, terutama sekitar Tanjung Kait.

Mengendarai mobil melewati jalur pantura Tangerang seakan naik kapal yang sedang diterjang ombak di laut. Kecepatan harus rendah di bawah 10 km/jam dan selalu bergoyang-goyang. Ini sangat berbeda ketika Kompas melintasi pantura dari Kecamatan Pontang hingga Tanara. “Jalan ini baru diaspal dua bulan lalu,” kata Sarmin, warga Kecamatan Tanara.

Jalan di pantura Tangerang saat ini dalam proses betonisasi. Pengamatan Kompas, betonisasi itu masih dikerjakan dan belum selesai, masih sepotong-sepotong, sehingga sangat mengganggu lalu lintas di pantura. Bupati Tangerang Ismet Iskandar terpaksa meminjam uang dari Bank Jabar Rp 125 miliar untuk mempercepat betonisasi jalan sepanjang 34 km di pantura itu.

Banten, provinsi muda dengan luas 8.800,08 km persegi atau lebih dari 13,5 kali lipat luas Jakarta (650 km persegi), berada di posisi strategis, yang menghubungkan Sumatera dengan Jakarta/Jawa. Infrastruktur jalan termasuk salah satu persoalan yang dihadapi Banten.

Akses masyarakat yang tinggal di empat kabupaten (Serang, Pandeglang, Lebak, Tangerang) dan dua kota (Cilegon dan Tangerang) harus dapat dilakukan. Bukan hanya jalan di pesisir pantai barat, pantai utara, dan pantai selatan yang harus diurus, tetapi juga jalan di wilayah tengah dan pedalaman.

Dalam perjalanan di wilayah Banten pekan lalu, Kompas melihat jembatan Cilemer di Desa Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, roboh. Jembatan ini merupakan salah satu jalur penting yang menghubungkan Kabupaten Serang dan Pandeglang.

Dianggarkan Rp 173,9 miliar
Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum Banten M Shaleh di Serang pekan lalu mengatakan, alokasi APBD Banten tahun anggaran 2006 untuk Subdinas Bina Marga Rp 173,9 miliar, meliputi pembangunan jalan dan jembatan (Rp 125,7 miliar), pemeliharaan jalan dan jembatan (Rp 38,2 miliar), perencanaan jalan dan jembatan (Rp 6,6 miliar), serta pengawasan jalan dan jembatan (Rp 3,2 miliar).

Dari dana APBD ini, pekerjaan pembangunan jalan yang dikerjakan adalah ruas Tangerang-Serpong (BSD), Pasar Jenggot-Kronjo, Patramanggala-Mauk, Legok-Parungpanjang, dan Karawaci-Legok. “Jalan Karawaci-Legok dibeton karena di ruas ini banyak angkutan berat yang lewat,” kata Shaleh yang juga
Kepala Subdinas Bina Marga Dinas PU Banten.

Sedangkan alokasi APBN untuk Bina Marga tahun anggaran 2006 tercatat Rp 94,4 miliar dari Rp 209,3 miliar yang dianggarkan untuk Banten. Pembangunan yang dikerjakan tahun ini dari dana APBN antara lain pembangunan flyover Merak dan Balaraja, jembatan Cijambu, Jalan Cibaliung-Muara Binuanguen, Bayah-Cibareno, Serdang-Bojonegara-Merak.

Ketua Bidang Investasi Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Banten Purnomo SP mengingatkan, siapa pun yang memimpin Banten kelak, dia harus memikirkan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jalan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s