Hutan Kota sebagai Penyeimbang Hutan Beton

KOMPAS
Metropolitan
Senin, 17 April 2006


Hutan Kota sebagai Penyeimbang Hutan Beton

R Adhi Kusumaputra

Pasangan kakek nenek itu tampak asyik berjoging. Sudah lima kali putaran mereka lalui, berjalan cepat di antara pepohonan rindang di Taman Kota Bumi Serpong Damai, Tangerang. Itu berarti sudah lima kilometer mereka berjoging tanpa rasa lelah. Hampir setiap hari warga berolahraga di lahan seluas 2,5 hektar itu. Tidak hanya warga setempat, tetapi juga dari Bintaro, Ciputat, Pamulang, bahkan Pondok Indah.

Ini indikator betapa ruang publik terbuka menjadi salah satu kebutuhan masyarakat modern saat ini. Di ruang publik terbuka seperti ini, warga dapat bersosialisasi melalui kegiatan aerobik dan senam taichi.

Anak-anak dapat bermain di area terbuka dengan gembira tanpa harus bergantung pada permainan di pusat-pusat perbelanjaan. Pengunjung taman kota yang menyadari pentingnya kesehatan memanfaatkan menginjak bebatuan sebagai pengganti pijat refleksi. Singkat kata, ini sudah menjadi tempat rekreasi dan olahraga yang menyenangkan tanpa harus mengeluarkan biaya.

Ruang publik terbuka merupakan salah satu kebutuhan sebuah kota dan menjadi paru-paru kota. Setiap bagian dari hutan kota dapat membantu mencegah kekurangan oksigen secara lokal. Penyebaran hutan-hutan kota berperan sebagai sumber oksigen, yang juga merupakan paru-paru kota.

Di banyak kota di dunia, kehadiran hutan kota dan taman kota menjadi salah satu daya tarik kota. Ketua Kompartemen Prasarana Kota DPP Real Estat Indonesia Dhony Rahajoe mengakui, kehadiran ruang publik terbuka di sebuah kota akan memberi keuntungan bagi kota itu. Bagi pengembang yang membangun permukiman, fasilitas umum taman kota menjadi daya tarik jual tersendiri, yang memberi keuntungan ganda.

Ramainya warga mengunjungi ruang publik terbuka di Bumi Serpong Damai (BSD) setiap hari hanya satu contoh kecil, yang menggambarkan kerinduan warga kota akan tempat hijau yang menjadi paru-paru kota. Namun sesungguhnya, pemerintah kota mana pun mempunyai tanggung jawab menyediakan fasilitas publik ini.

Untuk kota metropolitan seperti Jakarta yang dikelilingi “hutan beton”, paru-paru kota sudah menjadi kebutuhan utama. Warga kota butuh tempat terbuka dengan pepohonan rindang yang menyegarkan. Apalagi Jakarta makin sesak dan lingkungan hidupnya kian tercemar.

Jumlah penduduk DKI Jakarta pada siang hari sudah lebih dari 12 juta jiwa, sementara jumlah kendaraan bermotor lebih dari lima juta unit. Banyak pengemudi yang mudah marah karena suasana Ibu Kota yang kurang nyaman, lalu lintas yang semrawut, dan kemacetan yang kian parah. Hutan kota yang sejuk dan segar dapat menjadi obat yang mengurangi stres tersebut.

Saat ini DKI Jakarta memiliki hutan kota Srengseng di Jakarta Barat seluas 15 hektar, yang sebelumnya tempat penimbunan sampah. Lalu ada hutan kota di Halim Perdanakusuma seluas 10 hektar, menyusut dari luas 52 hektar. Juga hutan kota di Mabes TNI Cilangkap seluas 10 hektar, dan Bumi Perkemahan Cibubur seluas 25 hektar. Bulan Mei mendatang, Kota Mandiri BSD melengkapi fasilitas ruang publik terbuka kedua seluas 9 hektar di dekat Taman Tekno.

Pentingnya hutan kota
Hutan kota paling luas yang dimiliki DKI Jakarta dan Kota Depok adalah hutan kota Universitas Indonesia (UI) dengan luas 100 hektar. Pembina hutan kota UI, Dr Ir Tarsoen Waryono MSc, menyebutkan kriteria hutan kota adalah minimal memiliki luas 0,25 hektar. Ini berarti Taman Kota BSD sudah dapat dikategorikan sebagai hutan kota.

Datanglah ke hutan kota UI setiap akhir pekan dan hari-hari libur. Di sini, sedikitnya 50.000 orang menikmati hijaunya hutan kota seluas 100 hektar itu dan segarnya udara di kawasan ini. Mereka menikmati enam danau yang ada di kawasan Kampus UI ini. Hutan kota UI juga dimanfaatkan sebagai laboratorium alam, wahana penelitian hidrologi, biologi, geografi, kartografi, farmasi bagi siswa sekolah menengah.

Hutan kota UI kini menjadi tempat rekreasi alami yang menyenangkan. Di sini disediakan jogging track sepanjang 2,5 km dari rencana 10 km.
Di kawasan UI sudah ada hotel bintang tiga, Wisma Makara, yang sering dimanfaatkan mereka yang beraktivitas di kawasan hutan kota. Untuk masuk ke kawasan hutan kota UI, pengendara mobil dimintai uang Rp 2.000 biaya masuk kampus, tetapi pengendara sepeda motor bebas masuk.

Yang juga membuat kawasan UI primadona lingkungan adalah adanya enam danau buatan yang dibangun untuk melengkapi hutan kota, yaitu Danau Kenanga (dekat masjid), Danau Agatis (dekat F-MIPA), Danau Mahoni (dekat FE), Danau Puspa (dekat Fakultas Ilmu Budaya), Danau Ulin (dekat Fakultas Teknik), dan Danau Salam (dekat Asrama dan Wisma Makara UI).
Hutan kota UI memiliki pula kebun bibit seluas 0,5 hektar, kebun tanaman berkhasiat obat seluas 5 hektar dengan 130 jenis, dan cagar buah seluas 10 hektar dengan aneka koleksi buah.

“Keinginan masyarakat terhadap kawasan hijau, pertama karena alasan kepenatan lingkungan, dan kedua pentingnya kawasan hijau untuk kesegaran jasmani dan rekreasi alam. Sementara kualitas lingkungan hidup di perkotaan cenderung makin menurun akibat berbagai aktivitas di permukiman, perindustrian, pusat-pusat kegiatan kota kian meningkat,” ungkap Tarsoen, yang pernah meraih penghargaan Kalpataru 2005 sebagai pembina lingkungan dari Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Keseimbangan
Peranan hutan kota sangat berpengaruh terhadap keseimbangan lingkungan udara kota, selain penting terhadap keseimbangan gas CO2 (karbon dioksida). Aliran udara perkotaan dengan cuaca berangin, kata Tarsoen, cenderung dapat meningkatkan polusi udara seperti gas-gas beracun, hasil pencemaran gas industri, dan aerosol.

Hutan kota juga berfungsi sebagai ventilasi kota. Aliran udara dalam situasi panas yang membentur pepohonan, akan terpilah-pilah arahnya dan semakin menjadi dingin dan bercampur dengan oksigen bebas hasil fotosintesa.

“Sehingga peranan fungsi hutan kota menjadi lebih nyata sebagai ventilasi udara lapang dan menjadikan suasana kota lebih nyaman,” ujar Tarsoen menjelaskan.

Ketika banyak orang “lapar” melihat lahan kosong untuk dijadikan “hutan beton”, UI tetap serius mempertahankan 70 persen lahan dari 312 hektar miliknya sebagai lahan hijau, dan hanya 30 persen kawasan yang dibangun.

FOTO hutan kota di kawasan UI oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

LINK TERKAIT http://www.dephut.go.id/INFORMASI/HUTKOT/Dafisi.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s