Gaya Hidup: Nikmati Jajan Jazz di Kaki Lima

KOMPAS
Metropolitan
Sabtu, 30 Desember 2006

Gaya Hidup

Nikmati Jajan Jazz di Kaki Lima

R Adhi Kusumaputra

Selama ini jazz identik dengan eksklusivisme, yang dinikmati orang-orang berduit di lounge hotel berbintang sambil menyantap steak dan meneguk wine. Tapi kini ada tren gaya hidup, yaitu menikmati musik jazz di panggung yang dikelilingi pedagang kaki lima sambil menyeruput teh panas dan makan roti bakar.

Entah siapa yang membuat jazz di Indonesia masuk ke kalangan atas. Tapi yang pasti, dari sejarahnya, jazz sebetulnya awalnya dinikmati masyarakat menengah bawah, dan itu harus dikembalikan ke habitat awal.

“Jazz harus dapat dinikmati siapa saja. Karena itu, kami menggelar Jajan Jazz di Taman Jajan Sektor 1 BSD Tangerang, yang makanan dan minumannya dari pedagang kaki lima. Ternyata dari sini, komunitas jazz hidup. Bahkan dari Jajan Jazz, muncul musisi-musisi jazz muda berbakat,” kata Yunus Arifin, penggagas Jajan Jazz dalam percakapan dengan Kompas, beberapa waktu lalu.

Jajan Jazz digelar kali pertama pada Maret 2006. Yunus Arifin, penikmat musik jazz yang tinggal di Nusa Loka BSD, bersama teman-temannya musisi jazz, seperti Taufik Sis (drumer), Morgan (gitaris), Jeffrey Tahalele (pemain bas), dan Harry Mukti (pembuat drum), menggagas: mengapa tidak membangun komunitas jazz?

Berbekal idealisme yang tinggi, tanpa perlu berwacana panjang lebar, mereka berhasil menggelar Jajan Jazz pertama di Taman Jajan BSD. Mereka memilih hari Kamis malam setiap awal bulan karena sengaja tidak memilih hari yang nyaman.

Dalam perjalanan waktu, Jajan Jazz makin diminati dan menjadi ajang apresiasi musisi muda yang belum punya nama. Setelah tampil dua-tiga kali, musisi muda akhirnya tampil percaya diri.

Musisi senior, seperti Abadi Soesman, bergabung setelah Jajan Jazz digelar kali keempat pada bulan Juni 2006. Abadi bukan hanya tampil, tetapi juga memberikan dukungan dengan meminjamkan peralatan sound system.

Abadi Soesman mengamati, dari Jajan Jazz, lahir musisi muda jazz baru yang potensial. “Ini luar biasa,” katanya. Hal senada diungkapkan drumer legendaris, Benny Mustafa (67), yang mendukung Jajan Jazz sebagai sarana belajar musisi muda.

“Anak-anak muda perlu penyaluran yang positif. Kalau tidak, mereka lari ke mana-mana yang arahnya negatif. Salah satunya kegiatan positif, dengan bergabung dalam grup band jazz seperti ini,” kata Benny yang seangkatan Buby Chen.

Tampilkan kesederhanaan
Jadi, jangan bayangkan menikmati jazz di Jajan Jazz sambil menyantap steak. “Justru keseharian dan kesederhanaan yang ingin kami tampilkan di sini. Menikmati musik jazz sambil makan roti bakar, mi rebus, dan menghirup teh manis yang hangat, mengapa tidak? Karena inilah konsep awal kami menggelar Jajan Jazz,” kata Andre (35), salah seorang penggagas, yang kini mengurus surat-menyurat di e-mail jajanjazz@hotmail.com.

“Memang inilah keunikan Jajan Jazz. Tak ada jarak atau batas antara musisi senior dan musisi pemula. Tak ada batas antara musisi dan penonton. Komunitas jazz dengan gaya hidup seperti ini layak dipertahankan, bahkan perlu dikembangkan,” kata Dhony Rahajoe, warga Giri Loka BSD, yang rajin menikmati Jajan Jazz.

Dhony sempat terheran-heran melihat seorang remaja putri datang ke Abadi Soesman dan Jeffrey Tahalele, menyampaikan keinginannya untuk tampil di panggung.

“Mana ada penyanyi pemula seperti Ria diiringi musisi senior sekelas Abadi, Jeffrey, dan Morgan? Ini hanya mungkin terjadi di Jajan Jazz,” kata Andre.
Lahirkan banyak musisi baru

Dari Jajan Jazz, lahir puluhan musisi muda baru dan grup bandnya. Abadi mengamati betul hal ini, dan dia gembira ternyata Jajan Jazz memberi kontribusi besar bagi perkembangan musik jazz di Indonesia.

Tampil di Jajan Jazz, mereka tidak dibayar seperti manggung di Mario’s Place. “Tapi di Jajan Jazz-lah kami belajar tampil percaya diri bermain jazz. Bagi grup yang belum punya nama, ini media interaktif berkomunikasi dengan musisi senior,” kata Rossen. Vodka bahkan tampil dalam Jakjazz bersama musisi jazz dunia belum lama ini.

Grup Family Band yang baru pertama muncul di Jajan Jazz mengaku inilah arena yang pas bagi komunitas pencinta musik jazz. Baby (22) yang bekerja di Club Golf sangat menikmati suasana ini.

Grup Acapella, Bianglala, kumpulan guru musik, mengaku banyak belajar dari Jajan Jazz. “Inilah street jazz. Bagi kami, bermain jazz harus lepas,” kata Freddy (42), guru musik di Tutor Time Kemang dan Pondok Indah Jakarta.

Di masa depan, Yunus optimistis Jajan Jazz berkembang. Dia berharap Jajan Jazz tetap hidup, dan mungkin suatu saat dapat dikemas menjadi pertunjukan yang memikat.

FOTO di blog ini salah satu pertunjukan Jajan Jazz, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

LINK TERKAIT http://www.horizon-line.com/jazztoday/jajan.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s