Ardi Joanda, Sudah di Puncak, Coba Taklukkan Gunung Lain

KOMPAS

Jawa Tengah

Selasa, 21 Feb 2006

Halaman: 2

Penulis: Adhi KSP, Robert


ARDI JOANDA, SUDAH DI PUNCAK,
COBA TAKLUKKAN GUNUNG LAIN

KETIKA Anda sudah berada di puncak gunung, apalagi yang akan
Anda lakukan? “Saya akan menaklukkan gunung lainnya,” kata Ardi
Joanda (36), mantan Chief Executive Officer (CEO) perusahaan
furnitur terkenal, Da Vinci. Bagi Ardi, ia harus turun gunung dan
kemudian mendaki gunung lain untuk kemudian ditaklukkannya.

Mengacu pada filosofi inilah, Ardi yang memulai kariernya di Da
Vinci tahun 1994 dan kemudian meraih posisi CEO tahun 2001-2005,
memutuskan untuk keluar dari Da Vinci dan kemudian beralih menjadi
wirausaha. Padahal, Da Vinci tumbuh menjadi perusahaan furniture
terkenal di Indonesia.

Apa yang mendorong Ardi melepaskan posisi CEO Da Vinci di saat
perusahaan yang ikut dirintisnya sejak masih kecil itu
berkibar? “Tidak semua orang berani pensiun dini. Yang jelas, saya
ingin mengubah hidup saya. Mengubah kuadran. The power of
entrepreneur, kekuatan menjadi wirausaha,” kata Ardi Joanda mantap.
Menjadi CEO sekalipun, kata Ardi, dia tidak bisa memberikan sesuatu
kepada anak cucunya kelak.

Ardi memilih berjualan snow ice, es krim salju yang healthy.
Pria lajang ini pemilik lisensi waralaba Charmy Snow Ice di
Indonesia. Perusahaan induk Charmy didirikan di Taiwan tahun 1979
dan baru dua tahun terakhir ini go international.

Mengapa pilihannya es krim? Ardi kemudian bercerita, ketika
masih kuliah di Selandia Baru. Saat liburan di Auckland, ada konser.
Ada tawaran menjual es krim. “Saya iseng-iseng mendaftar. Saya
dikasih satu meja, topi, dan modal awal 12 es krim. Saya menjual
pukul 16.00-20.00, dan selama empat jam saya berhasil memperoleh 480
dollar NZ. Padahal bekerja di McD hanya digaji 8-9 dollar NZ per
jam,” cerita Ardi dalam percakapan dengan Kompas di Semarang, Sabtu
(11/2) pekan lalu.

Sejak itu Ardi yang mengenyam pendidikan SD dan SMP di Pontianak
itu meyakini dirinya punya bakat berbisnis. Selepas lulus dari
Victoria University of Wellington tahun 1993, lelaki kelahiran
Pontianak, Kalimantan Barat, 15 Januari 1970 yang mengambil studi
commercial administration itu bekerja di Da Vinci, perusahaan
furnitur milik Tony Phua, pebisnis Singapura.

Ardi membantu Da Vinci buka sejak dari nol, ketika toko pertama
di Duta Merlin Blok D No 1 Jakarta, kemudian buka showroom di Tanah
Abang 2 dan Jalan Fatmawati Jakarta, hingga mampu memiliki gedung
jangkung Da Vinci di lokasi strategis di Jalan Sudirman.

Mengapa Da Vinci bisa berkibar dalam waktu sepuluh tahun? Putra
seorang penjual makanan kering di pasar tradisional di Pontianak ini
mengungkapkan, tiga tahun setelah ia bergabung dengan Da Vinci,
terjadi krisis ekonomi. “Di satu sisi, krisis ekonomi membuat banyak
bisnis ambruk. Tapi di sisi lain, banyak orang kaya mendadak karena
punya tabungan dalam dollar AS. Mereka tak tahu untuk apa uangnya,”
kata alumnus SMA Santo Yosef Jakarta itu.

Momen itulah yang dimanfaatkan Da Vinci, yang menggelar pameran
tunggal sejak tahun 1997 hingga 2003 di berbagai kota. “Yang membuat
Da Vinci besar adalah pameran. Kami bekerja sama dengan pabrik mebel
dari Italia. Memang banyak yang bertanya-tanya, bagaimana Da Vinci
bisa mengambil satu hall besar seluas 4.000 m2 sampai 6.000 m2
sendirian?” cerita Ardi lagi.

Setelah keluar dari Da Vinci, Ardi mencari peluang bisnis baru.
Suatu hari ia bersama adik angkatnya Lawrence ke Taiwan, dan
mencicipi es krim Charmy.

“Hmm, es krim ini sungguh enak dan bisa mendatangkan uang.
Produk ini unik karena teksturnya tipis. Ini produk yang sehat
dengan kolestrol rendah. Tidak menggunakan tepung kanji sehingga
kandungan karbohidratnya rendah. Unsur gulanya tidak setinggi di
Indonesia. Taiwan sangat concern pada healthy food,” kata Ardi.

“Dengan Charmy, saya ingin menegaskan, tidak perlu merasa
bersalah jika makan es krim,” kata Ardi yang kini memiliki delapan
waralaba, termasuk di Kota Semarang. Dalam waktu dekat, Ardi yang
menggandeng mitra bisnisnya di Jawa Tengah, David dan Ivan Setiawan,
akan membuka cabang baru di Solo dan Yogyakarta.

Ardi berpendapat, membuka waralaba Charmy saat ini harus di mal.
Karena itulah, Charmy buka di jembatan penghubung Plasa Simpang
Lima. “Kami tak sengaja bertemu dengan Pak Yutata, pemilik Plasa
Simpang Lima, dan mendapatkan lokasi dengan view bagus,” jelasnya.

Bagi Ardi, sukses ditentukan tiga elemen. Pertama, smart , dan
ini selalu bisa di-upgrade, baca buku, ngobrol dengan orang lain
karena learning is never ending process. Kedua, kerja keras dan
ini sangat penting. Ketiga, luck disertai kesempatan dan
kemauan.

Bobotnya ketiganya sama. Sedangkan hoki bisa diperbaiki dengan
berbuat baik dan minta kepada Tuhan. Ia juga mengingatkan perlu
selalu positive thinking disertai aura percaya diri dan selalu
optimistis. (robert adhi ksp)

ARDI JOANDA
* Lahir di Pontianak, 15 Januari 1970
* Chief Executive Officer Da Vinci
(2001-2005)
* Pemilik lisensi waralaba Charmy
Snow Ice

FOTO di blog ini oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s