The Truly Asia Mencari Pasar Indonesia

KOMPAS
Wisata
Kamis, 08 Mei 2003

“The Truly Asia” Mencari Pasar Indonesia

LIMA belas tahun yang lalu, lokasi Sunway Lagoon di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia, masih merupakan lahan bekas galian pertambangan timah dan hutan belantara. Namun, kini Sunway Lagoon menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi, baik oleh orang-orang Malaysia sendiri maupun oleh wisatawan Singapura, Thailand, dan Indonesia.

KOTA wisata terpadu Sunway Lagoon seluas 800 hektar terdiri dari hotel resor bintang lima dengan 441 kamar, taman bermain theme park termasuk surf-wave pool terbesar di dunia, dan Sunway Pyramid, sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang memiliki 250 gerai termasuk arena ice-scating, lalu ada 48 lane boling, dan 10 layar bioskop. Selain itu juga Sunway Medical Centre ikut “dijual” sebagai paket wisata.

Lokasi Sunway sangat strategis, berada di jantung Kota Petaling Jaya, suburban Kuala Lumpur, dapat ditempuh dalam waktu 35 menit dari Bandara Internasional Kuala Lumpur atau Kuala Lumpur International Airport (KLIA) di Sepang. “Sunway terkoneksi dengan empat jalan tol. Mereka yang ingin datang dari Singapura dapat ke lokasi ini dalam waktu 3,5 jam dengan mengendarai mobil,” kata General Manager (GM) Sunway Lagoon Resort Hotel Jean-Jacques Keifer dalam acara makan siang di salah satu restoran di hotel itu, Rabu (30/4) lalu.

Sunway merupakan salah satu dari ratusan tempat wisata yang disiapkan secara terencana oleh Pemerintah Malaysia. Di Negara Bagian Selangor saja terdapat sedikitnya 67 lokasi wisata yang tersebar di sembilan wilayah, yaitu Petaling, Klang, Kuala Langat, Sepang, Hulu Langat, Gombak, Hulu Selangor, Kuala Selangor, dan Sabak Bernam.

“Kami mengemasnya dalam semua bentuk, selain food-tourism, shopping tourism, dan eco-tourism, juga sport tourism, health tourism, dan education tourism,” kata Kepala Badan Pariwisata Selangor Lahuri Redewan. Selangor memiliki sirkuit internasional Sepang, yang belum lama ini menjadi arena balap mobil bergengsi Formula 1 (F-1), serta 36 lapangan golf. Selangor juga “menjual” wisata kesehatan melalui enam rumah sakit bertaraf internasional.

“Cukup banyak orang Indonesia yang memeriksakan kesehatannya di rumah sakit di Malaysia. Sebelumnya, trennya kan berobat ke Singapura. Tapi, mengapa harus ke Singapura jika harga di Malaysia bisa lebih murah, sementara fasilitas dan kualitasnya tak jauh beda,” kata Lahuri berpromosi.
Malaysia juga “menjual” sekolah dan universitasnya kepada orang Indonesia.

Di Sunway College, misalnya, dari sekitar 6.200 mahasiswa yang belajar di sana, 10 persennya adalah orang Indonesia. Kualitas pendidikan bertaraf internasional dan memiliki kerja sama dengan universitas terkenal seperti Monash University, menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi orangtua yang mengirimkan anaknya bersekolah di Malaysia. Warga Negara Indonesia yang tinggal di Sumatera, yang akan ke Malaysia, mendapat kemudahan bebas fiskal sehingga ini menjadi modal bagi Malaysia untuk mencari pasar Indonesia.

Malaysia memang lebih murah dibandingkan Singapura karena nilai mata uang ringgit Malaysia (RM) separuh dari dollar Singapura. Keunggulan nilai mata uang itulah yang dimanfaatkan oleh kalangan industri pariwisata Malaysia untuk mempromosikan negeri mereka.

SEJAK tahun 1990-an, kata Deputi Direktur Divisi Promosi Internasional Badan Pariwisata Malaysia Nor Adnan Sulaiman, Pemerintah Malaysia menyadari pentingnya sektor pariwisata sebagai penghasil devisa negara.

Sebelum tahun 1990, sektor pariwisata berada di urutan ke-16 penyumbang devisa negara. Andalan Malaysia masih bertumpu pada karet, timah, dan kelapa sawit. “Pemerintah mulai menyadari, hasil bumi dan sumber daya alam lama- kelamaan akan habis. Karena itulah pemerintah mengajak pengusaha swasta untuk bersama-sama membangun sektor pariwisata Malaysia.”

Hasilnya sungguh luar biasa. Dalam kurun waktu 10 tahun sampai 15 tahun, Malaysia telah mengubah wajah pariwisatanya. Banyak lokasi yang sebelumnya berupa lahan tak produktif, seperti bekas tambang timah, perkebunan kelapa sawit atau perkebunan karet yang tak produktif lagi, diubah menjadi lokasi wisata yang fantastis!

Pada dekade 1990-an, sektor pariwisata masuk dalam lima besar penyumbang devisa negara itu. Pada masa itu, jumlah turis yang masuk ke Malaysia antara enam juta dan tujuh juta orang per tahun. “Dan pada tahun 2002 lalu, sektor pariwisata sudah berada di urutan kedua, setelah minyak sebagai penghasil uang bagi negeri ini. Jumlah turis yang datang ke Malaysia tahun lalu lebih dari 13 juta orang,” kata Adnan dalam percakapan dengan sejumlah wartawan di restoran berputar (revolving restaurant) di Menara Kuala Lumpur (KL Tower), Rabu malam pekan lalu.

Majunya sektor pariwisata Malaysia berkat dukungan penuh dari pemerintah. Visi pemimpin Malaysia yang jauh ke depan juga sangat penting, dan itu dimiliki Perdana Menteri Mahathir Mohamad. Pemerintah Malaysia dalam satu tahun mengucurkan sedikitnya 400 juta RM untuk sektor pariwisata di seluruh negeri itu, mulai dari promosi hingga pengembangan produk.

Gencarnya Malaysia melakukan promosi tampak pada iklan di jaringan televisi internasional, CNN. Di sana muncul Michelle Yeoh-bintang film Malaysia yang pernah main dalam film agen rahasia Inggris 007 bersama Pierce Brosnan dalam The World is Not Enough-yang mempromosikan Malaysia sebagai The Truly Asia. “Kami menyebut Malaysia sebagai the truly Asia karena di negeri ini ada tiga rumpun besar bermukim, yaitu Cina, Melayu, dan India. Masing-masing memiliki identitas yang jelas dan semuanya diakui pemerintah,” kata Nor Adnan Sulaiman.

Menurut Adnan, meskipun Malaysia adalah negara Islam, pemerintah memberikan kesempatan dan kebebasan seluas-luasnya kepada warga negara Malaysia keturunan Cina dan India untuk mengekspresikan kebudayaan dan agama masing-masing.

“Ini berbeda dengan di Indonesia atau Thailand. Orang Cina di sana, kan, mengubah nama mereka. Di Malaysia tidak demikian. Semua orang bebas beribadah sesuai agama yang dianut. Pemerintah mengakui hari besar agama lain. Warga yang bukan Islam boleh melakukan hak mereka. Ini sangat penting agar masyarakat internasional paham bahwa Malaysia bukanlah negara yang serba tertutup dan serba dilarang,” jelasnya.

Dia memberi contoh, Genting Highlands yang dibangun tahun 1970-an dan memiliki kasino yang buka selama 24 jam. “Warga Malaysia yang beragama Islam dilarang masuk ke kasino. Tapi, orang-orang non-Muslim diperbolehkan, termasuk turis dari luar Malaysia. Itu proyek swasta dan pemerintah memperoleh pajak dari kasino,” kata Adnan lagi.

AMBISI Malaysia menjadi negara tujuan wisata berkelas dunia ditunjukkan pula dengan dibangunnya Menara Kembar Petronas (twin towers) dan Menara Kuala Lumpur di ibu kota negara tersebut. Menara kembar Petronas dengan 88 lantai memiliki ketinggian 452 meter dari permukaan jalan, dan merupakan bangunan tertinggi di dunia saat ini.

Menara kembar Petronas yang dibangun dalam waktu tujuh tahun dan diresmikan pada peringatan Hari Kemerdekaan Malaysia 31 Agustus 1999 itu, kini menjadi salah satu simbol dan landmark nasional atas prestasi dan kemajuan ekonomi Malaysia. Hampir semua orang yang datang ke Malaysia tak melewatkan kesempatan mengunjungi menara kembar Petronas di Kuala Lumpur itu. Di sekitar itu terdapat pusat perbelanjaan Suria KLCC dengan desain interior yang cantik, gedung konser kelas dunia Dewan Filharmonik Petronas berkapasitas 865 tempat duduk, dan Galeri Petronas, galeri internasional kelas dunia.

Malaysia juga membangun infrastruktur dan transportasi yang memadai untuk mendukung semua fasilitas kelas dunia itu sehingga Kuala Lumpur dan kota-kota lainnya di Malaysia sangat layak dikunjungi oleh wisatawan dan pebisnis dunia. Selain itu, tingkat kejahatan di Malaysia relatif rendah sehingga turis pun merasa aman berada di negeri itu.

Tak dimungkiri lagi, Malaysia kini menjadi tempat tujuan wisata yang populer bagi orang- orang Indonesia. Menurut Eddy Effendi, Manajer Operasional Biro Perjalanan Avia Tour- yang sering membawa wisatawan Indonesia ke Malaysia- mereka begitu cepat berubah dan menyejajarkan diri sebagai negeri wisata kelas dunia.

Indonesia termasuk dalam lima besar jumlah turis yang masuk ke Malaysia setelah Singapura, Thailand, Cina, dan Taiwan. “Promosi difokuskan ke lima kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan Medan,” kata Roslan Othman, Kepala Badan Pariwisata Malaysia, yang berkantor di Jakarta. Roslan kini sedang mempersiapkan paket wisata untuk mereka yang akan berbulan madu, terutama ke Langkawi dengan pantainya yang indah.

Jumlah wisatawan Indonesia yang datang ke Malaysia pada tahun 2001 tercatat 776.468 orang. Pada tahun 2003 ini, Badan Pariwisata Malaysia menargetkan 1,5 juta wisatawan asal Indonesia datang ke negeri jiran itu. Orang Malaysia betul-betul melihat betapa Indonesia pasar potensial yang harus digarap serius.
(ROBERT ADHI KSP dari Kuala Lumpur, Malaysia)
————————————————————————————————
FOTO di blog ini Menara Kembar Petronas Kuala Lumpur, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s