Siang Berdarah di Hotel JW Marriott

KOMPAS
Fokus
Minggu, 10 Agustus 2003


Siang Berdarah di Hotel JW Marriott

RESTORAN Sailendra, restoran buffet di Hotel JW Marriott, setiap jam makan selalu ramai. Pada jam makan siang, banyak kalangan eksekutif yang suka makan di restoran yang menyajikan aneka hidangan lokal dan internasional itu.
Bagi kalangan ekspatriat, makan siang di restoran hotel bintang lima itu relatif “murah” dibandingkan dengan di negeri mereka. Sebab “hanya” dengan 15 dollar AS (sekitar Rp 125.000) per orang, mereka sudah bisa makan enak dengan pilihan beragam. Restoran ini disukai karena dari balik kaca transparan, pengunjung dapat melihat view lapangan hijau di kawasan Mega Kuningan dengan latar belakang gedung-gedung jangkung.

SEJAK dibuka resmi pada September 2001, Hotel JW Marriott, Jakarta, waralaba jaringan hotel pengusaha Amerika, yang dimiliki pengusaha Indonesia, Tan Kian, itu langsung menjadi salah satu primadona bagi kalangan ekspatriat, pebisnis dan pejabat Indonesia, terutama karena lokasinya strategis, di kawasan segi tiga emas Kuningan, Jakarta Selatan.

Beberapa perusahaan asing multinasional yang sebelumnya bekerja sama dengan hotel lain langsung beralih ke Hotel JW Marriott. Hotel ini menawarkan tarif kamar relatif lebih murah, dengan tambahan fasilitas antar jemput ke bandara dan ke kantor mereka di sekitar Kuningan. Tak heran jika banyak rapat penting dan pertemuan bisnis digelar di hotel ini. Pada masa normal, tingkat hunian hotel ini 70-80 persen, sebagian besar ekspatriat dan orang Indonesia yang bekerja di perusahaan asing.

Pada hari Selasa 5 Agustus 2003 itu, para pegawai restoran cukup sibuk melayani sekitar 200 tamu yang akan menikmati makan siang di restoran yang sejuk dan lapang itu. Di luar hotel, matahari terik menyengat Jakarta. Tak banyak tamu yang lalu lalang di jalan masuk ke lobi yang bentuknya setengah lingkaran itu. Di ujung jalan dekat Plaza Mutiara-yang bersebelahan dengan bangunan Hotel JW Marriott-tampak berderet taksi Silver Bird menunggu penumpang.

Saat itu jam menunjukkan pukul 12.44.10. Suara gelegar disertai guncangan keras membuat orang-orang di dalam hotel itu kaget dan shock. Lampu di Restoran Sailendra berjatuhan. Dinding kaca rontok. Tetamu pun panik, berlarian ke luar. “Busy lunch” di Sailendra pun berubah menjadi “bloody lunch”. Sebab di tempat ini banyak korban yang mengalami cedera berat dan ringan.

Getaran yang keras membuat kaca-kaca kamar di hotel itu hancur berantakan. Kantor Java Musikindo di Lantai Dua Plaza Mutiara termasuk yang hancur. Adri Subono, pemilik Java Musikindo yang biasanya ada di dalam kantornya, lolos dari maut karena saat ledakan terjadi, dia sedang ke kamar kecil.
Kaca-kaca di gedung Menara Rajawali yang juga bersebelahan dengan hotel itu tampak pecah meski tak separah Hotel JW Marriott dan Plaza Mutiara. Di gedung itu sejumlah kedutaan besar (kedubes) asing berkantor, seperti Peru, Denmark, Swedia, Norwegia, dan Finlandia.

Dari sembilan korban yang tewas yang masuk Kamar Jenazah RSCM dan sudah diidentifikasi, delapan di antaranya adalah “orang-orang kecil”. Mereka tidak tahu-menahu dengan urusan politik, tetapi harus terkena dampaknya.
Hanya satu korban tewas yang berkebangsaan asing, yaitu Hans Winkelmolen, bankir WN Belanda, mantan Presiden Direktur Rabobank Indonesia, yang pada hari naas itu sedang makan siang bersama penggantinya, Antonio Costa, WN Kanada.

Makan siang Winkelmolen dan Antonio Costa itu sebetulnya diagendakan bersama Miranda Goeltom, mantan petinggi Bank Indonesia. Tapi karena mobil Miranda terjebak macet di depan Mal Ambassador, di seberang Hotel JW Marriott, Miranda akhirnya lolos dari maut.
BOM yang mengguncang Hotel JW Marriott itu merupakan ledakan bom kelima yang terjadi di Jakarta dalam tahun 2003 ini.

Diawali dengan ledakan bom di lobi Wisma Bhayangkari Mabes Polri yang “menampar” wajah polisi sendiri pada 3 Februari lalu, ledakan bom berikutnya terjadi di belakang Gedung PBB, Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, dan di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 27 April, dan di Gedung MPR/DPR pada 15 Juli lalu.

Pelaku peledakan bom di Wisma Bhayangkari sudah ditangkap, yaitu “orang dalam” Polri, Anang Sumpena, yang kini disidangkan dan diancam hukuman seumur hidup. Peledakan di Wisma Bhayangkari ini dilatarbelakangi rasa sakit hati Anang terhadap kebijakan pimpinan Polri.

Tiga kasus bom di Gedung PBB, bandara, dan Gedung MPR/DPR, menurut Kepala Polri Jenderal (Pol) Da’i Bachtiar, dilakukan kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Polisi sudah menahan dua tersangka pelakunya, Adityawarman dan Fadli, dan seorang lagi kabur ke Aceh.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Erwin Mappaseng mengatakan, tiga kasus bom di tempat strategis di Jakarta itu bermotif politis, dilakukan anggota GAM. Dari sana, disimpulkan, ada kesamaan benda di tiga tempat itu. Ini menguatkan indikasi bahwa ketiga kasus ini saling berkait dan dilakukan kelompok yang sama.

Dalam kasus peledakan bom di Marriott, Kepolisian RI menemukan titik terang, setelah melakukan penyisiran ulang di lokasi kejadian. Ini berkat ditemukannya kepala tanpa tubuh di lantai atas hotel itu. Kepala misterius itu dilacak lebih jauh. Polisi membolak-balik arsip lama para tersangka peledakan bom yang sudah tertangkap dan foto- foto yang masih buron.

Kepala yang tidak utuh lagi itu oleh petugas forensik dicoba direkonstruksi sampai akhirnya menjadi satu wajah yang bisa dikenali. Meski tidak persis sama, kepala itu dikenali sebagai Asmar Latin Sani (28), lelaki kelahiran Padang yang tinggal di Bengkulu.

Asmar disebutkan direkrut oleh dua orang yang sudah lebih dahulu ditangkap, Muhammad Rais dan Sardono Siliwangi, anggota kelompok peledakan bom di Medan dan Pekanbaru. Saudara kandung Asmar, Amanda, meyakini kepala itu kepala kakaknya dari pitak dan tahi lalat yang ada. Polisi tetap memeriksa DNA untuk memastikan identitas si pemiik kepala. Sejauh ini, polisi belum bisa memastikan apakah Asmar melakukan bom bunuh diri atau bukan.

Da’i maupun Mappaseng masih hati-hati menyampaikan komentar soal keterlibatan JI di balik peledakan bom di Marriott. “Ledakan bom di Marriott memiliki kesamaan modus dengan ledakan bom di Bali,” kata Da’i. Hotel JW Marriott yang dipilih karena hotel ini bisa jadi salah satu simbol Amerika Serikat. Perayaan Hari Kemerdekaan Amerika 4 Juli lalu diselenggarakan di hotel mewah berkamar 333 tersebut. Kalau memang orang Amerika yang jadi sasaran, mengapa yang jadi korban peledakan bom itu justru banyak orang Indonesia? (ROBERT ADHI KSP)

FOTO di blog ini rekaman peristiwa oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS. Foto ini diambil beberapa saat setelah bom mengguncang Hotel JW Marriott Jakarta 5 Agustus 2003. Waktu itu saya kebetulan berada tak jauh dari kawasan Kuningan Jakarta Selatan dan langsung menuju lokasi, yang saat itu belum sempat ditutup oleh polisi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s