"French Cuisine" dan Tradisi Memasak Orang Perancis

KOMPAS
Metropolitan
Sabtu, 04 Oktober 2003
“French Cuisine” dan Tradisi Memasak Orang Perancis

MENIKMATI French Cuisine di restoran fine dining Perancis? Ini masih dilakukan oleh kalangan masyarakat tertentu yang sudah terbiasa dengan tradisi menikmati masakan terbuat dari bahan berkualitas dalam suasana nyaman di restoran fine dining dan tak sungkan membayar harga yang relatif mahal.

BAYANGKAN, di sini, Anda dapat menikmati saus yang lembut dengan cita rasa perpaduan bumbu segar yang harmonis sebagai penunjang cita rasa sayuran segar dari Provence, unggas dari Bresse, daging Charlois, hati angsa dari Perigord, dan wine berusia puluhan tahun, bahkan ratusan tahun. Anda makan dalam suasana interior restoran yang elegan dan romantis, menikmati hidangan pembuka yang apik dan detail, terlalu cantik untuk dijamah.

“Menikmati makanan di restoran fine dining bukan kultur makan masyarakat Asia, termasuk di Indonesia, sehingga tak heran, masyarakat yang datang ke tempat-tempat fine dining masih terbatas,” kata pakar kuliner Indonesia, William Wongso, dalam percakapan dengan Kompas, Jumat (26/9).

Restoran fine dining Perancis di Jakarta memang tak begitu banyak. Sebut saja, Margaux di sebuah hotel berbintang lima, dengan dekor interior Renaissance, yang membuat Margaux, tempat makan fine dining paling elegan di Jakarta.

Di Jakarta Selatan, ada beberapa restoran Perancis lainnya seperti Riva di Hotel Park Lane di kawasan Casablanca, Java Bleu di Kompleks Golden Plaza, Fatmawati, Taman Sari di Hotel Hilton, William’s Fine Dining di kawasan Kemang, William Kafe Artistik di Jalan Panglima Polim, Sriwijaya di Hotel Dharmawangsa, Kebayoran Baru, Brasserie di Kemang, ataupun Fleurie di Plaza Senayan.

Di Jakarta Pusat, ada Oasis di Jalan Raden Saleh Raya, Menteng. Sedangkan di Tangerang, ada Gardenia di Hotel Imperial Aryaduta, Karawaci.Meski jumlah resto Perancis tak sebanyak restoran Cina atau Jepang, namun penggemarnya selalu saja ada. Mereka yang ingin menikmati masakan Perancis, setidaknya memiliki pengetahuan tentang makanan.

Masakan Perancis sejak dulu dikenal identik dengan keindahan dengan cita rasa yang baik. Mereka yang menikmati masakan Perancis, umumnya menikmatinya di restoran fine dining yang elegan dan romantik, mendapat suguhan keju dan wine tebaik.

MENGAPA Perancis tampak lebih unggul dalam masakan? Ini sangat berkaitan dengan tradisi dan kebiasaan masyarakat Perancis.Sembilan puluh sembilan persen orang Perancis memiliki keterampilan memasak dan pengetahuan memasak yang memadai. Memasak merupakan bagian kebiasaan dan hobi.Tidaklah heran, jika masyarakat Perancis lebih suka mengundang relasinya makan di rumah dibandingkan makan di restoran. Dapur merupakan bagian terpenting dari sebuah rumah di Perancis.

“Sejak usia dini, anak-anak Perancis sudah diperkenalkan dengan tradisi memasak di sekolah. Sejak usia 6 tahun, anak-anak diperkenalkan dengan segala sesuatu tentang makanan, tiga kali seminggu,” ungkap Gregory Ernoult, Club Manager Imperial Aryaduta Country Club, Lippo Karawaci, Tangerang, dalam percakapan dengan Kompas, Minggu, 28 September, sore.

Greg yang pernah mendalami food and beverage (F & B) secara khusus di Perancis mengatakan, sejak kecil, orang Perancis diajarkan makan dengan cara yang benar dan pada waktu yang tepat.Ini berbeda dengan sebagian orang Indonesia, yang makan apa saja dan kapan saja, seolah tidak mengenal waktu.

Orang Indonesia bisa makan 10 kali sehari, termasuk ngemil makanan ringan terus-menerus.Cara makan yang benar di Perancis harus mengikuti urut-urutannya, mulai dari makanan pembuka (une untree), hidangan utama (un plat principal), dan hidangan penutup (un dessert).Masyarakat Perancis masih sering ke pasar tradisional, untuk mendapatkan sayuran, ikan, daging yang segar.

“Sekali seminggu, orang Perancis menyediakan waktu satu-dua jam untuk berbelanja sendiri ke pasar tradisional,” kata Greg.Tata cara dan seluk-beluk makan dan masakan yang dipelajari sejak usia dini, membuat sekolah kuliner di Perancis menjadi salah satu pilihan utama.

“Di Perancis, masuk sekolah kuliner atau belajar perhotelan memiliki masa depan dan karier jelas. Ini berbeda dengan di Inggris atau di Amerika,” kata Greg, lelaki kelahiran Lille, Perancis itu. Di Perancis, setidaknya terdapat sekitar 200-an sekolah kuliner.

Salah satunya adalah Le Cordon Bleu, yang sangat terkenal.Le Cordon Bleu, Academie d’art Culinaire de Paris didirikan di Paris, tahun 1895. Kini Le Cordon Bleu merambah di lima benua, meliputi 22 sekolah di 12 negara, memiliki jumlah murid terbesar dibandingkan lembaga dan sekolah memasak lainnya.

MENGAPA masakan Perancis lebih populer dan punya identitas dibandingkan makanan barat lainnya-selain Italia? Menurut William Wongso, ahli kuliner Indonesia, Perancis memiliki tradisi kuliner dan gastronomi di antara banyak negara yang ada di dunia ini.Chef Perancis diekspos dan diliput habis-habisan oleh media massa seperti layaknya bintang film. Paul Bocuse misalnya, chef kenamaan Perancis yang mengaku jarang nonton film, tetapi banyak para bintang film yang datang ke restoran untuk menikmati masakannya.

Chef yang profesional adalah seorang konduktor, seperti halnya dirigen simfoni dalam musik klasik. “Bukan hanya memasak dan memimpin timnya memasak, tetapi juga seorang kreator masakan adiboga,” kata William. Seorang chef sangat berkepentingan untuk berhubungan dengan para pemasok pilihan sesuai kualitas yang diinginkan, mulai dari keju, wine, daging sapi jenis Charlois (yang digunakan chef kenamaan Perancis di restoran fine dining), sampai pada poulet de Bresse, ayam kaki berwarna biru.

Chef-chef berkaliber tidak memiliki bintang favorit, tetapi dirinyalah yang menjadi favorit presiden, raja, dan selebriti.French cuisine mendapat posisi terhormat sehingga setiap orang yang ingin menikmati masakan Perancis, harus datang ke restoran fine dining dengan harga minimal 150-200 euro per orang, itu pun belum termasuk wine. Tak semua orang Perancis bisa makan di restoran mahal.

Di Indonesia, makanan kurang berkembang. Chef masih dianggap pekerjaan pembantu rumah tangga. Profesi chef belum seperti ahli kecantikan, penata rambut yang sudah mulai mendapat tempat terhormat. Saat ini masih jarang terdengar chef asal Indonesia yang “diekspor” ke mancanegara.

Ini berbeda misalnya dengan Thailand yang unggul dalam dunia cuisine di Asia.Indonesia tak punya kultur gourmet. Orang Indonesia makan enak, dan cukup puas dengan nasi soto, nasi campur, dan sebagainya. Itu tak pernah dikembangkan. Makanya, kata William Wongso, kita hanya mengenal Indonesian food, bukan Indonesian cuisine. (ROBERT ADHI KSP)

FOTO ilustrasi dalam blog ini Restoran Perancis Margaux di Hotel Shangri-La Jakarta, oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

LINK TERKAIT:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s