UI Seharusnya Jadi Mata Air bagi Warga

KOMPAS
Metropolitan
Senin, 27 Maret 2006

UI Seharusnya Jadi Mata Air bagi Warga

R Adhi Kusumaputra

Balai Sidang Universitas Indonesia yang biasanya menjadi tempat sidang pengukuhan guru besar yang terhormat berubah menjadi ajang protes. Ratusan warga sekitar Kampus UI yang diundang untuk acara kampanye safe walk, Jumat (24/3) sore, mengecam keras kebijakan UI menutup sembilan pintu yang menghubungkan kampus seluas 312 hektar itu dengan kawasan permukiman padat di pinggirannya.

Bukan hanya pengojek, pedagang asongan, pemilik usaha kos-kosan dan warung kelontong, serta pemilik usaha fotokopi yang kecewa dan marah, mahasiswa UI yang tinggal di tengah-tengah masyarakat dan tokoh warga setempat juga ikut bersuara keras.

Bagi warga yang mencari nafkah dari kehadiran UI dengan 40.000-an mahasiswanya, penutupan sembilan pintu itu berarti mematikan mata pencarian mereka. Khususnya warga yang tinggal di Kelurahan Kukusan, Beji, dan Pondok Cina.

Apa alasan UI menutup sembilan pintu (Barel/FH, Gang Senggol/BCA, Asrama Zipur, Kukusan Teknik depan masjid, Politeknik, depan Stadion UI, Kukusan Kelurahan II, belakang PKM UI, dan Rumah Jaga) itu? Direktur Umum dan Fasilitas UI Dr Sunanto menyatakan, pertimbangan utamanya adalah keamanan Kampus UI.

“UI kini menjadi tempat leluasa bagi penjahat sehingga harus memikirkan keselamatan warganya. Orangtua mahasiswa menitipkan anak-anak mereka untuk dapat kuliah dengan aman dalam lingkungan kondusif,” kata Sunanto. Ia memberi gambaran, tingkat kriminalitas dalam tiga tahun terakhir terus meningkat. Pada tahun 2003 kasus kriminal di Kampus UI tercatat 54, tahun 2004 menjadi 82 kasus, dan tahun 2005 naik drastis menjadi 145 kasus.

Pembunuhan mahasiswa UI semester akhir di dalam kampus, percobaan perkosaan mahasiswi pada malam hari, dan transaksi narkoba dua kilogram di dekat Rektorat UI, membuat resah orangtua dan mahasiswa. Juga peristiwa tewasnya mahasiswa disambar KRL belum lama ini.

Sejak UI resmi pindah ke Depok tahun 1987, pintu masuk UI ada sekitar 40, kemudian dikurangi menjadi 12. Namun, kata Sunanto, 12 pintu yang ada sekarang pun masih rawan. Jumlah satpam UI dinilai masih kurang untuk menjaga kawasan kampus terluas di Indonesia itu. Jumlah satpam saat ini ada 140 orang. Mereka harus menjaga 12 pos yang ada.

Akan tetapi, alasan yang disampaikan Sunanto dimentahkan warga yang semuanya menolak rencana penutupan pintu itu. Seorang pengojek dengan topi dan jins lusuh malah menganalisis sejumlah peristiwa yang terjadi di UI.

Percobaan perkosaan yang terjadi pukul 01.00 antara lain karena lampu penerangan di UI minim sehingga mengundang kerawanan. Ada titik lampu yang remang-remang dan mengundang kejahatan, sementara ada pos satpam yang tidak difungsikan. Harga satu gardu listrik sekitar Rp 200 juta, dan itu tidaklah mahal bagi Kampus UI. Kasus narkoba terjadi antara lain pernah melibatkan satpam UI.

“Jadi jangan menyalahkan masyarakat. Kalau jumlah satpam UI masih kurang, banyak warga di sini yang bersedia bekerja jadi satpam,” kata pengojek itu lugas.

Mahasiswa Fakultas Hukum Taufik menyebutkan, hubungannya dengan masyarakat di tempat kosnya lebih erat ketimbang dengan komunitas kampus. Dia berada di kampus paling lama enam jam. “Kalau UI melupakan masyarakat sekitar, itu salah besar,” kritiknya.

Kurniasari dari Iluni UI menegaskan, tak satu pun alasan yang disampaikan Sunanto membicarakan kepentingan masyarakat sekitar. Semua untuk kepentingan UI, dan terlalu fokus pada UI sendiri. “Saya melihat UI menjadi menara gading di tengah masyarakat. UI punya 40.000-an mahasiswa, mau tinggal di mana, makan di mana?” tanyanya.

Jayadi Abdul Rasyid, warga Jalan Sawo, mengatakan, warga Pondok Cina tersinggung bila ada kesimpulan masyarakat sekitar UI tak bisa diajak kerja sama. UI seolah-olah menuduh warga sekitarlah yang melakukan kejahatan.
Jangan lupakan sejarah

H Nuh, tokoh masyarakat yang mengaku aktif terlibat membantu pembebasan tanah UI tahun 1975 silam, minta UI agar tidak melupakan sejarah bagaimana warga sekitar mengorbankan tanahnya untuk digusur demi pembangunan Kampus UI.

Sebagian besar warga di sekitar Kampus UI Depok sebelumnya bermukim di dua desa, Pondok Cina dan Kukusan. Sebagian lagi warga Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Tahun 1975, saat pembebasan tanah besar-besaran, warga dipindahkan dari kampung mereka ke permukiman baru, antara lain kini dikenal sebagai Kelurahan Beji Timur.

Sebagian lagi dari mereka memadati Kelurahan Pondok Cina Kukusan, dan Srengseng Sawah di sebelah timur. Sebagian warga yang dipindahkan awalnya bermata pencarian bertani dan berdagang. Dalam pelaksanaan pembebasan tanah warga untuk Kampus UI, pemerintah membujuk warga yang dipindahkan tak akan kehilangan mata pencariannya setelah tanah mereka digunakan UI. Warga disarankan beralih pekerjaan, menjadi pemilik usaha kos, berdagang makanan atau kebutuhan mahasiswa lainnya.

Husen yang mengaku korban gusuran tanah UI mengingatkan, banyak warga yang setelah digusur tak punya rumah, lalu anak-anaknya jadi pengojek. “Sekarang pengojek tak bisa cari nafkah lagi jika pintu UI ditutup,” ungkapnya.
“Selama ini hubungan masyarakat dan UI saling membutuhkan dan menguntungkan. Tapi keputusan UI menutup pintu- pintu akses membuat kami tercengang. Kami tak dapat memahami ini,” kata tokoh warga, H Suryadi. “Kepindahan UI ke Depok selayaknya menjadi mata air bagi kami. Bukannya menjadi air mata,” katanya lagi.

Kritik dan kecaman yang datang bertubi-tubi selama tiga jam itu akhirnya membuat UI melunak. Kepala Humas UI Heni S Widyaningsih akhirnya menegaskan, sementara ini semua pintu UI dibuka seperti biasa, dan baru ditutup mulai pukul 22.00 sampai 05.00 menjelang pagi. Kebijakan sementara ini didukung Badan Eksekutif Mahasiswa UI.

UI dikecam seakan menjadi menara gading di tengah masyarakat, seakan melupakan sejarah asal-usul hubungannya dengan warga. Masalah keamanan kampus dapat dicarikan solusi dengan cara merekrut satpam baru dari warga setempat, misalnya. Atau lampu-lampu penerang jalan ditambah agar suasana tak remang-remang pada malam hari. Perlu langkah arif dan bijaksana untuk menyelesaikan urusan “perut” masyarakat kecil ini agar masalahnya tidak berubah menjadi persoalan baru yang lebih serius.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s