Pasar Tradisional: Kalau Ditata Bisa Juga Nyaman dan Bersih

KOMPAS
Metropolitan
Rabu, 16 Agustus 2006

Pasar Tradisional

Kalau Ditata Bisa Juga Nyaman dan Bersih

R Adhi Kusumaputra

Selama ini, jika kita menyebut pasar tradisional, yang ada dalam benak kita adalah pasar yang kumuh, gelap, becek, bau, semrawut, dan banyak preman. Bahkan banyak pasar yang kondisinya hidup segan mati tak mau, terimpit akibat kehadiran pusat ritel modern.

Tapi, sesungguhnya jika pasar tradisional dibangun dan dikemas menjadi bersih dan nyaman, pasar itu akan menarik banyak pembeli. Percaya atau tidak, berdasarkan catatan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), dari 13.000-an pasar tradisional di Indonesia dengan 12,6 juta pedagang, hanya ada segelintir pasar tradisional yang dikemas menjadi pasar bersih dan nyaman.

Salah satunya adalah Pasar Modern di Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang, Banten, pionir pasar tradisional dengan wajah modern. Pasar tradisional yang dibangun di atas lahan seluas 2,6 hektar dan diresmikan Juli 2004 itu langsung mendapat penghargaan dari APPSI Desember 2005 sebagai “pasar ideal”.

Dengan lantai keramik, ventilasi penerangan alami dan berkipas angin, pasar yang memiliki 303 lapak, 320 kios dan 100 ruko, serta 52 kafe tenda (hanya sore-malam hari) ini tampak bersih, nyaman, dan aman. Yang menarik, meski “dikepung” enam pusat ritel besar, pasar tradisional berwajah modern ini tetap ramai. Enam pusat ritel itu adalah Hypermart (WTC Matahari Serpong), Superindo (BSD Plaza), Giant (Melati Mas), Carrefour (ITC BSD), Makro (Alam Sutera), dan Alfa (Bintaro).

Banyaknya pembeli kelas menengah ke pasar ini dapat terlihat dari jumlah mobil ke pasar ini, rata-rata 70.000-80.000 per bulan, lebih banyak dibandingkan pembeli bersepeda motor yang jumlahnya hanya separuhnya.
“Pasar modern BSD layak menjadi acuan seluruh pasar tradisional di Indonesia karena pengelolaannya sangat profesional meski dilakukan pihak swasta. Kami memberi apresiasi terhadap kebersihan, keamanan di pasar, juga keteraturan dan kedisiplinan pedagang,” kata Direktur Eksekutif APPSI M Dharma beberapa waktu lalu.

Para pembeli di pasar modern BSD umumnya kelas menengah yang merindukan adanya transaksi tawar-menawar, berkomunikasi dengan penjual. Mereka datang dari Bintaro, Pamulang, Ciputat, Karawaci, Cinere, bahkan Kelapa Gading. Inilah yang sebenarnya dicari. Sebab, selama ini kita disodori supermarket, pasar swalayan, di mana pembeli tinggal memilih barang dan kemudian membayarnya di kasir.

Yang menyedihkan, di seluruh antero Jakarta, dari 151 pasar tradisional dengan 30.000-an pedagang, tak ada satu pasar tradisional pun yang dapat dibanggakan. Di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) terdapat 400 pasar tradisional dengan lebih dari 160.000 pedagang.

Kondisi ribuan pasar tradisional ini, kata Dharma, semua serupa. “Tak dapat dibanggakan dan hanya menjadi tempat spekulan melakukan jual beli kios,” katanya. Retribusi yang dipungut terhadap pedagang mencapai tiga-empat kali dalam sehari, antara Rp 500 hingga Rp 3.000. Artinya, biaya retribusi Rp 9.000 hingga Rp 12.000 per hari per pedagang. Ini tentunya menjadi beban bagi para pedagang tradisional, yang umumnya pedagang kecil.

Merebut hati pembeli
Salah satu pasar tradisional berwajah modern yang dapat menjadi model bagi pasar tradisional di Indonesia adalah pasar modern BSD. Ini terbukti dari kunjungan studi banding pemkot, pemkab, dan DPRD dari Bogor, Cirebon, Lebak, Semarang, Lampung, Sidoarjo, Tasikmalaya, dan instansi lainnya. Lampung bahkan sudah mengadopsi pasar BSD dan membangun pasar serupa di wilayahnya.

Bagaimana sebenarnya pasar ini dikelola? “Awalnya Pasar Modern BSD dibangun untuk merevitalisasi pasar tradisional yang kumuh dan becek, guna memenuhi kebutuhan ratusan ribu warga BSD dan sekitarnya. Dibangun di lahan seluas 2,6 hektar, pasar ini langsung merebut hati pembeli kelas menengah dan menengah atas,” kata Corporate Public Relations General Manager BSD City, Dhony Rahajoe.

Ternyata, suasana akrab pembeli dan pedagang, transaksi jual beli dengan tawar-menawar inilah yang dicari. Banyak orang sudah bosan dengan keadaan di pasar swalayan dan ritel besar yang “dingin”, tanpa komunikasi.

Pengamatan Kompas, suasana belanja di pasar ini terlihat lebih manusiawi. Ny Chung (64), misalnya, ketika berbelanja sayur sawi putih dengan entengnya meminta bonus satu jeruk. “Saya jarang membeli sayur-mayur di supermarket karena tak bisa memilah dan memilih,” kata perempuan yang selalu naik sepeda dari rumahnya ke pasar tersebut.

Pedagang pasar, Ny Lilis (30), hanya tertawa ketika ada pembeli yang minta “bonus” seperti itu. “Yah, besok pasti dia kembali lagi. Ini kan cara untuk menyenangkan pembeli,” kata Lilis yang memiliki dua lapak, dengan pendapatan sehari rata-rata Rp 1 juta dan pada Sabtu-Minggu menjadi Rp 1,5 juta.

Ny Irene (45), warga Nusa Loka BSD, mengatakan, sayuran di pasar ini lebih segar. “Enaknya dapat menawar harga,” katanya.
Pedagang ayam, Budyanto, setiap hari menjual 200-350 ayam jantan dan rata-rata selalu habis pada pukul 13.00. Pendapatan kotornya rata-rata Rp 120 juta per bulan dari penjualan ayam jantan. Ini membuktikan betapa pasar tradisional berwajah modern ini memberi kehidupan bagi mereka dan keluarganya.

Ini juga diakui Dian Muskita (48), pemilik toko makanan Oenpao, yang lebih memilih membuka kios di pasar ini dibandingkan di mal. “Di mal, harga sewa lebih mahal, sekitar Rp 500.000 per m2 per bulan. Keuntungan hanya habis untuk membayar sewa. Sedangkan di pasar tradisional berwajah modern di BSD ini saya membayar sewa lima kios seluruhnya Rp 32 juta per tahun,” kata Muskita, lulusan S2 Universitas Koeln Jerman.

Modal awalnya Rp 30 juta, dapat ditutupnya hanya dalam waktu 9 bulan. Tiga bulan berikutnya ia menyewa kios baru dan tiga bulan setelah itu menyewa kios untuk kantor dan gudang. “Yang juga membuat pasar ini aman dan nyaman adalah pasar ini bebas pungli, tidak seperti pasar-pasar tradisional lainnya yang dipenuhi preman atau jagoan pasar,” kata Koordinator Pengelolaan Pasar Modern BSD, Anda Saenan.

Sewa lapak kering Rp 330.000 per bulan, lapak basah Rp 440.000 per bulan. Sewa diberikan kepada pengelola pasar. Sedangkan sewa kios ukuran 3 x 4 m dan 3 x 3 m rata-rata Rp 10 juta hingga Rp 12 juta per tahun, tergantung lokasi. Sewa dibayarkan ke pemilik kios.

Sangat jarang memang ada pasar tradisional yang memikat para pembeli yang sebagian besar kelas menengah. Seandainya pemerintah daerah merevitalisasi pasar-pasar tradisional di kota masing-masing dengan wajah modern dan dikelola profesional, citra pasar tradisional akan lebih baik dan akan banyak pembeli kelas menengah, yang selama ini lebih suka belanja di mal, beralih ke pasar tradisional yang lebih manusiawi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s