Hambali Akui Kendalikan Peledakan Bom di Indonesia

KOMPAS
Berita Utama
Sabtu, 13 September 2003

Hambali Akui Kendalikan Peledakan Bom di Indonesia

Manila, Kompas – Hambali alias Riduan Isamudin alias Encep Nurjaman mengaku terlibat dan mengendalikan berbagai peledakan bom di Indonesia dalam kurun waktu 2000-2003. Ia ditangkap di Thailand bulan Agustus lalu dan kini ditahan di suatu tempat dalam pengawasan Amerika Serikat.

Di Jakarta, Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah mengaku sudah menandatangani surat pembekuan rekening dari tujuh warga negara Indonesia (WNI) yang diduga terkait dengan dana teror.

Informasi mengenai keterlibatan Hambali itu diungkapkan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara RI (Polri) Komisaris Jenderal Erwin Mappaseng kepada wartawan Kompas Robert Adhi Kusumaputra di Manila, Filipina, Jumat (12/9).
Mappaseng mengatakan hal itu seusai menghadiri acara makan malam perpisahan Konferensi Ke-23 ASEAN Chiefs of National Police (Aseanapol) di Manila, Jumat dini hari.

“Memang, sampai kini Polri masih menunggu kepastian kapan perwira Polri akan berangkat ke AS, memeriksa Hambali. Namun, sementara ini, informasi yang kami terima, Hambali mengakui dia yang mengendalikan berbagai kasus peledakan bom di Indonesia dalam kurun waktu antara 2000 dan 2003, termasuk bom di Hotel JW Marriott, Jakarta, pada Agustus lalu,” kata Mappaseng.

Menurut Mappaseng, Polri juga sudah mendapat informasi tentang jalur dana yang digunakan untuk meledakkan bom di Hotel JW Marriott. “Biaya pengeboman Marriott sekitar 45.000 dollar AS,” katanya.

Dikatakan, Polri memburu Hambali sejak tahun 2000 setelah peristiwa peledakan bom pada malam Natal 2000. “Dia kabur ke Malaysia setelah peledakan bom di Indonesia dari Medan sampai NTB,” jelasnya lagi.

Dari pemeriksaan terhadap Hambali yang dilakukan AS, diperoleh keterangan bahwa dalam setiap aksi peledakan bom yang akan dilakukan oleh kelompok teroris ada semacam proyek dengan kata sandi “amaliyah”.

“Anggota yang akan melaksanakan proyek itu membuat proposal, lalu mengirimkan ke Hambali yang posisinya berpindah-pindah. Kadang di Thailand, kadang di Kamboja selatan, kadang di Malaysia. Nah, kalau Hambali setuju dengan proposal itu, yang mengajukan proposal itu diminta mempersiapkan orang dan bahan peledaknya. Kalau sudah siap, mereka diminta melapor ke Hambali melalui e-mail di Internet. Setelah itu, baru dikirimkan dana peledakan bom,” tutur Mappaseng.

Hambali diduga kuat terlibat 30-an kasus peledakan bom di Indonesia. Namun, dia juga diburu polisi Thailand, Filipina, Malaysia, dan Australia, atas keterlibatannya dalam peledakan bom di berbagai lokasi.

Agus Dwikarna
Mappaseng juga menyatakan masih melacak Agus Dwikarna (39) yang diduga terlibat dalam kasus-kasus teror di Indonesia dan kasus kriminal lainnya. Agus, pengusaha Indonesia asal Sulawesi Selatan, kini menghuni penjara New Bilibid, Muntinlupa City, Metro Manila, Filipina. Ia divonis maksimum 17 tahun penjara karena terbukti membawa bahan peledak di dalam tasnya.

“Ada informasi intelijen yang menyebutkan bahwa Agus ikut mengatur rencana memindahkan markas jaringan teroris Al Qaeda ke Aceh. Tetapi, informasi itu masih harus dicek lagi. Masih kami telusuri,” kata Mappaseng.

Sejauh ini, Polri belum menemukan catatan kriminal yang pernah dilakukan Agus Dwikarna. “Saat ini baru polisi Filipina dan Malaysia yang berurusan dengan Agus Dwikarna,” katanya.

Polri juga masih menyelidiki kasus peledakan bom di restoran cepat saji dan di Asrama Haji Sudiang di Makassar, Sulawesi Selatan. “Kami masih mengecek apakah Agus terlibat kasus bom di Makassar. Kelompok teroris memang memberlakukan sistem sel dengan menonjolkan peran. Ada yang berperan membeli mobil, membuat bom, dan mereka kadang tak saling mengenal. Polri masih menelusurinya,” jelas Mappaseng.

Rekening dibekukan
Sementara itu, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengatakan, rekening tujuh WNI yang diduga terkait dengan dana terorisme sudah dibekukan.
Ketujuh WNI itu adalah Yasin Syawal, Imam Samudra, Huda bin Abdul Haq (lebih dikenal dengan nama Muklas), Parlindungan Siregar, Aris Munandar, Fathur Rohman Al-Ghozi, dan Agus Dwikarna.

“Saya kira sudah selesai. Saya sudah menyelesaikan surat untuk memberikan wewenang kepada pihak kepolisian untuk melakukan pengecekan dan akhirnya menutup (rekening),” kata Burhanuddin.

Saat ini, kata Burhanuddin, Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan serta Direktorat Unit Khusus Investigasi Perbankan BI juga sedang meneliti aliran dana di rekening tujuh orang itu.

Saat diminta kepastiannya apakah rekening ketujuh orang itu sudah dibekukan, Burhanuddin mengatakan, “Saya kira mungkin sudah. Dari saya sudah keluar surat, if I am not mistaken karena banyak sekali surat seperti itu. Saya kira bukan tujuh lho, mungkin puluhan. Akan tetapi, yang mana-mana, saya tidak bisa pinpoint (menunjuk dengan pasti). Permintaan-permintaan seperti itu, kalau datang ke saya, pada hari yang sama saya selesaikan. Tidak ada yang saya simpan karena begitu pentingnya masalah waktu di dalam hal ini.”

Menurut Burhanuddin, dalam surat permohonan pembekuan rekening, biasanya tertulis nama pemilik rekening dan bank-bank yang terkait. “Biasanya, dari surat permohonan itu tertulis rekening si A yang ada di bank ini, di bank ini, di bank ini. Jadi, sebetulnya penelitian kami sudah terarah ke bank-bank yang tersebut,” katanya.

Permohonan pembekuan rekening-rekening itu, lanjut Burhanuddin, tidak hanya datang dari kepolisian. “Pihak-pihak lain juga ada yang meminta. Pihak kepolisian hanyalah salah satu, bisa juga dari Depkeu, kejaksaan, dan tempat-tempat lain,” kata Burhanuddin, yang menolak menyebut nama bank-bank tempat rekening-rekening yang ditutup itu.

Peringatan dini
Di Jakarta, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan, keterlibatan TNI dalam upaya pencegahan teroris seperti yang akan diterapkan dalam revisi Undang-Undang (UU) Antiteroris hanya sebagai peringatan dini. Data yang diperoleh TNI akan diserahkan kepada pihak kepolisian, yang akan melakukan tindakan lebih lanjut.

Hal itu dikatakan Panglima TNI seusai menyaksikan uji coba roket RM-70 yang baru dibeli Indonesia dari Republik Ceko. Uji coba dilaksanakan di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Baluran, Karangtekok, Situbondo, Jawa Timur.

Ucapan Panglima TNI tersebut sekaligus menepis kekhawatiran sejumlah pihak terhadap upaya TNI untuk ikut campur terlalu jauh dalam pencegahan gerakan teroris di Indonesia. Panglima TNI menegaskan, data yang didapat nantinya akan diserahkan dan dipertanggungjawabkan kepada kepolisian.

“Misalnya ada data tentang kemungkinan bom. Maka, pihak kepolisian mencegah agar peledakan bom tidak terjadi,” kata Panglima TNI.
Sebenarnya, kemampuan yang mendukung pencegahan teroris sudah dimiliki. Namun, saat ini tidak termanfaatkan, sehingga menjadi idle.

Bertemu Al-Ghozi
Dalam wawancara khusus dengan wartawan Kompas dan The Star (Malaysia) di penjara New Bilibid, Metro Manila, Agus yang sejak 26 Agustus lalu menghuni kawasan penjara seluas 440 hektar itu menyatakan pernah ngobrol dengan Fathur Rohman Al-Ghozi.
Pertemuan itu terjadi saat mereka sama-sama ditahan polisi di Camp Creme, Manila.

“Saya bersebelahan kamar dengan Al-Ghozi ketika ditahan di Camp Creme. Tapi setelah saya dipindahkan ke lantai dua, dan Al-Ghozi tetap di lantai bawah, kami tak pernah bertemu lagi, sampai akhirnya saya mendengar berita bahwa Al-Ghozi kabur dari tahanan,” katanya.
Sejak itu, semua tahanan di Camp Creme tak boleh keluar, untuk olahraga sekalipun,” ungkapnya.

Agus Dwikarna ditangkap polisi Filipina pada 13 Maret 2002 di Bandara Ninoy Aquino, Manila, ketika dia dan dua WNI lainnya, Tamsil Linrung dan Jamal Balfas, serta tiga warga Thailand akan menuju Bangkok. Agus dituduh membawa bahan peledak. Dia menjalani 26 kali persidangan selama dua bulan dan dijatuhi vonis maksimum 17 tahun penjara.

“Berat badan saya turun drastis,” kata lelaki kelahiran Makassar, 11 Agustus 1964 itu. Sejak ditahan di Filipina, istri dan lima anaknya serta keluarga dekatnya tak ada yang pernah menjenguknya.
“Istri saya takut datang ke Filipina. Takut ditangkap juga,” katanya. (*/fey/IDR)
FOTO di blog ini saya ambil beberapa saat setelah bom meledak mengguncang Hotel JW Marriott Jakarta dan sekitarnya, 5 Agustus 2003 silam. Saat itu saya kebetulan berada di sekitar Kuningan Jakarta Selatan, dan buru-buru ke lokasi dan sempat merekam sejumlah foto di Hotel JW Marriott. Foto oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s