Bersama Nelayan Memberi Makan Burung Camar

KOMPAS
Metropolitan
Senin, 30 Oktober 2006

Bersama Nelayan Memberi Makan Burung Camar

R Adhi Kusumaputra

Berwisata bersama nelayan? Wah, ini pengalaman yang sungguh mengasyikkan. Selama enam jam, naik perahu nelayan menyusuri laut, kita bisa menghampiri bagang di tengah laut, menyaksikan ikan hasil tangkapan, menikmati saat- saat Matahari terbit, memberi makan burung camar, menyaksikan penjualan ikan di Tempat Pelelangan Ikan Citeureup, sampai singgah di Pulau Liwungan.

Inilah yang dialami Kompas hari Jumat (27/10) pagi saat berwisata bersama nelayan Kampung Cipanon, Desa Tanjungjaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten. Berangkat dari Kalicaa Villa di kawasan wisata terpadu Tanjung Lesung pukul 05.00, tiba di perkampungan nelayan Cipanon 10 menit kemudian.

Hari masih gelap. Nelayan bersiap melaut. Kapal nelayan dari kayu ini dikemudikan Santibi, membawa tujuh nelayan dan lima penumpang tambahan termasuk Kompas. Udara pagi laut masih segar. “Kami menyaksikan aktivitas nelayan mengangkat ikan di bagang di tengah laut,” kata Koordinator Wahana Anak Pantai Suwardi, yang juga nelayan.

Tiba di bagang pertama, nelayan pemilik bagang langsung mengangkat jaring yang dibiarkan di laut sehari semalam. Ratusan ikan delek terjaring, dimasukkan ke keranjang. Satu keranjang ikan dijual Rp 60.000.
Lobster, tangkapan lainnya, dijual Rp 180.000 per kg, dan ikan kakap merah dijual Rp 30.000 per kg. Sungguh menarik menyaksikan nelayan mengangkat ikan dari bagang di laut.

Tak berapa lama datanglah puluhan burung camar menghampiri kapal. Nelayan melemparkan ikan-ikan kecil itu ke laut dan langsung disambar puluhan camar yang beterbangan di atas permukaan laut itu.

Menjelang pukul 06.00, Matahari dengan bulatan merah muncul. Sungguh memesona menyaksikan sang surya muncul perlahan-lahan dan seakan bersinggungan dengan permukaan laut lalu naik menyinari Bumi.

Kapal nelayan yang ditumpangi terus melaju, singgah di satu bagang ke bagang lainnya, yang seluruhnya tujuh buah. Di tengah laut, karena ada kapal nelayan yang mogok akibat mesinnya mati, kapal nelayan kami membantu. Inilah solidaritas nelayan, yang saling membantu jika ada kesusahan di tengah laut.
Wajah nelayan berseri-seri jika hasil tangkapan banyak. Ini dialami Amir, yang mendapat ikan kerapu lodi dan dijual Rp 50.000 per kg.

Rata-rata satu nelayan memperoleh Rp 70.000 bersih per hari, sudah dipotong 30 persen yang dialokasikan untuk pemilik kapal. Ini berarti pendapatan nelayan Cipanon relatif lebih baik daripada nelayan Muara Binuangeun di pantai selatan Banten, yang terpaksa berutang jika tangkapan sedikit.

Setelah singgah di tujuh bagang, kapal nelayan melaju ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Citeureup. Dalam waktu singkat, ikan-ikan tangkapan nelayan habis terjual. Rupanya masa libur Lebaran menjadi berkah sendiri bagi nelayan mengingat banyak warga berbelanja ikan untuk kebutuhan Lebaran.

Dari TPI, kapal nelayan menuju Pulau Liwungan, pulau tak berpenghuni yang saat ini ditumbuhi 15.000-an pohon kelapa. Satu-satunya penghuni, Jumenar dan keluarga, tinggal di pulau itu sejak delapan tahun lalu. “Pulau Liwungan yang luasnya 25 hektar ini milik pemerintah. Sebenarnya sangat potensial jika dibangun resor-resor wisata,” kata Hendro Wahyono, General Manager Kalicaa Villa.

Dari Pulau Liwungan, kapal nelayan kembali ke perkampungan nelayan di Cipanon dengan waktu 20 menit. Saat itu waktu menunjukkan pukul 11.00. Matahari hampir berada di atas kepala. Enam jam berada di laut, naik kapal nelayan, menjadi pengalaman unik.

Berdampak langsung
Wahana Anak Pantai (WAP), yang didirikan Yayasan Pengembangan Masyarakat Banten Selatan, mengangkat ekonomi masyarakat nelayan Cipanon. Saat ini anggotanya 25 pemuda setempat, dididik menjadi pendukung sektor pariwisata bahari di Tanjung Lesung.

Ide-ide kreatif Suharyanto, Koordinator Sosial Ekonomi Yayasan Pengembangan Masyarakat Banten Selatan, antara lain menciptakan ekowisata yang bermanfaat langsung bagi warga sekitar Tanjung Lesung, misalnya berwisata bersama nelayan, naik kapal nelayan ini.

Tamu yang ikut ekowisata biasanya menginap di Kalicaa Villa, The Bay Villas, dan Sailing Club. Pengalaman naik perahu nelayan dan mengikuti aktivitas masyarakat tradisional luar biasa. “Kami bekerja sama dengan warga setempat agar kehadiran resor di Tanjung Lesung berdampak langsung bagi warga setempat,” kata Hendro Wahyono.

Wisatawan dapat membeli langsung ikan segar tangkapan nelayan di kapal. Wisatawan diajak melestarikan lingkungan dengan transplantasi karang.
Saat resor di Tanjung Lesung penuh, pemuda di WAP mengantongi Rp 500.000 sebulan. Pemandu wisata mendapat Rp 50.000 sekali melaut, ABK Rp 20.000. Warga yang membuka warung makanan khas dan kerajinan kecil ikut kecipratan.

Ini salah satu contoh betapa kehadiran tempat wisata tak menjadi menara gading. Rakyat setempat merasakan bagaimana wisatawan yang datang juga merupakan berkah bagi mereka.

FOTO di blog ini rekaman foto saat saya berpetualang bersama nelayan Cipanon, ketika matahari baru saja terbit di perairan Tanjung Lesung, Banten. Nelayan sibuk mengangkat hasil tangkapan dari bagang. Foto oleh Robert Adhi Kusumaputra/KOMPAS.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s