Pemerintah Tak Hanya Ngomong

KOMPAS

Jumat, 18 Jul 1997

Halaman: 18

Penulis: ADHI KSP


PEMERINTAH TAK HANYA “NGOMONG”

“BAGAIMANA pemerintah Thailand mengatasi kemacetan lalu lintas
di Bangkok? “Terlalu banyak gagasan dan ide, tapi tak banyak aksinya,”
demikian ungkap sejumlah warga Bangkok yang kesal. Soalnya, para
perencana kota Bangkok pernah mencoba mengatasi problem lalu lintas
pada tahun 1985 silam, dan kemudian dilanjutkan pada tahun 1991.
Belakangan, beberapa rencana mulai direalisasikan.
Akibat kemacetan, produktivitas kerja semakin rendah, dan pembuangan
bahan bakar yang sia-sia mengakibatkan uang terbuang percuma 20 juta
dollar AS atau sekitar Rp 49 milyar sehari!
Meskipun banyak suara skeptis, namun Pemerintah Thailand jalan terus.
Misalnya, dengan menempatkan lebih dari 4.000 anggota polisi bertugas
mengatur arus lalu lintas di Bangkok, serta mengingatkan pengemudi
tentang aturan dan larangan berlalu lintas di jalan. Hasilnya, waktu
perjalanan dapat diselamatkan sekitar 25-30 persen. Pada sejumlah
rute, masih tetap macet, terutama pada sore dan malam hari. Pemerintah
masih harus memecahkan persoalan bottlenecks.
Menempatkan sejumlah polisi di persimpangan jalan, tentu saja tidak
akan memecahkan problem lalu lintas di Bangkok. Setiap bulan sekitar
20.000 mobil baru muncul di jalan-jalan di seputar Bangkok. Karenanya,
dalam enam sampai 10 bulan mendatang, upaya mengurangi waktu
perjalanan tak banyak hasilnya.
Sejumlah proyek baru direncanakan Pemerintah Thai, antara lain proyek
yang menghubungkan MRT (mass rapid transit) dengan jaringan jalan
baru. Pemerintah juga memasang lampu pengatur lalu lintas yang mampu
mengontrol jalan dengan sistem komputerisasi. Usaha ini dimulai dengan
menempatkan 143 lampu pengatur lalu lintas di berbagai lokasi, dan
menyusul 226 lainnya dipasang di berbagai persimpangan jalan. Jika itu
berhasil, Bangkok Municipal Authority (BMA) diminta mengalokasikan
anggaran untuk penyediaan 880 lampu pengatur lalu lintas di semua
persimpangan jalan.
***

BEBERAPA proyek yang kini sedang dikerjakan pihak swasta untuk
mengatasi problem lalu lintas di Bangkok adalah kereta layang
(sky-train) Tanayong senilai 1,3 milyar dollar AS (sekitar Rp 3
trilyun). Proyek ini dimulai tahun 1994, menghubungkan jalur
utara-selatan dan jalur barat-timur, yang seluruhnya sepanjang 23 km.

Proyek kereta layang ini direncanakan rampung tahun 1999 mendatang.
Jalan bertingkat dipadukan dengan rel kereta senilai 3,2 milyar
dollar AS (sekitar Rp 7 trilyun) dikerjakan Grup Hopewell. Konstruksi
60 km rel kereta dan jalan raya ini diharapkan selesai tahun 1998. Jalan
kereta ini akan masuk ke pusat kota dari utara. Gabungan jaringan
jalan dan kereta ini akan menghubungkan Bangkok dari utara-selatan dan
timur-barat.
Proyek Mass Rapid Transit (MRT) senilai 3,2 milyar dollar AS (sekitar
Rp 7 trilyun) akan menjadi sistem kereta bawah tanah yang pertama yang
ada di Bangkok, dengan panjang 43 km menghubungkan kawasan timurlaut
dan kawasan baratdaya Bangkok. Konon, proyek ini rampung tahun 2003.
Dalam penjelasannya kepada wartawan Balaikota DKI Jakarta yang
melakukan studi banding ke Bangkok pekan lalu, pejabat lalu lintas BMA
menjelaskan beberapa rencana pemerintah mengatasi kemacetan. Antara
lain proyek pembangunan jalan raya Bangkok-Chonburi sepanjang 81,7 km
(direncanakan selesai Februari 1998), jalan bertingkat Khlong Phrapa
30,5 km (selesai 1999), jalan tol Don Muang 15,4 km (sudah
dioperasikan 1996), jalan raya Rama VI-Kae Rai-Pak Krei 12,34 km
(selesai 1998).
Pemerintah Thai juga berencana membangun lintasan KA dari Ratchadap
ke Bangkok-Chonburi 12 km (selesai tahun 2000), lintasan KA bertingkat
dari Bang Na-Bang Pli-Bang Prakong 55 km (selesai 1999),
Srinakarin-Bang Na-Samut Prakarn 18,5 km (1999), Dao Kanong-Bang
Kuntien-Samut Sakom 27,81 km (2000).
Tapi banyak pakar meragukan proyek-proyek ini selesai tepat waktunya.
“Pembangunan kereta dan jalan tol dikerjakan dengan kontrak dan
supervisi yang berbeda,” kata Charles Stonier, konsultan transportasi
pemerintah setempat.
Sejumlah gagasan lainnya dilontarkan untuk mengatasi problem lalu
lintas di Bangkok. Misalnya, mengubah kembali rute-rute bus,
mengurangi 200 rute bus menjadi separuhnya, dan menambah frekuensi
bus-bus. Pihak swasta yang menyediakan bus-bus sekolah, memperoleh
jaminan pinjaman. Ini dengan maksud agar jumlah kendaraan yang
mengantar anak-anak ke sekolah berkurang jumlahnya.
Gagasan lainnya, membangun park-and-ride agar pengemudi lebih nyaman
menggunakan angkutan umum daripada mengemudikan kendaraan pribadi. Ada
juga rencana menaikkan pajak kendaraan terhadap jenis mobil-mobil
impor sehingga lebih mahal, untuk mengontrol jumlah mobil seperti yang
dilakukan Singapura. Namun pemerintah Thai rupanya tak ingin kebijakan
itu berdampak pada mereka yang tak berpunya atau para pekerja yang tak
punya pilihan membeli mobil baru. Soalnya, pemerintah belum memiliki
MRT yang pelayanannya lebih baik, lebih bersih dan tepat waktu.
Pelayanan bus kota di Bangkok pun saat ini masih kurang nyaman,
sehingga mereka yang mampu, akan lebih suka membeli mobil baru. Tapi
bagi kalangan tak berpunya, mereka tak ada pilihan lain. Mereka mau
tak mau harus capek-capek naik bus, berjam-jam duduk atau berdiri di
dalam bus yang panas dan gerah.
Direktur Divisi Teknik Departemen Transportasi dan Lalu Lintas Kota
Bangkok Nopadol Luangdilok yang ditemui hari Jumat (11/7) lalu
berharap pembangunan angkutan massal di Bangkok dapat dinikmati dalam
kurun waktu 10 tahun mendatang. Setidaknya, untuk menjawab rasa kesal
warga Bangkok yang terus menggerutu soal kemacetan lalu lintas. Juga
untuk membuktikan pemerintah Bangkok tidak hanya omong doang. (adhi ksp, dari Bangkok)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s