Pariwisata Sarawak: Mengemas Kekayaan Borneo

KOMPAS
Jumat, 31 Oct 1997
Halaman: 22
Penulis: ADHI KSP

Pariwisata Sarawak
MENGEMAS “KEKAYAAN” BORNEO


PENGANTAR REDAKSI
AWAL Oktober 1997, Pemerintah Malaysia melalui Konsulat di
Pontianak, Kalimantan Barat, mengundang sejumlah wartawan ke Kuching,
Sarawak, Malaysia Timur. Berikut catatan wartawan Kompas, Robert Adhi Ksp tentang pariwisata di Sarawak.

KALAU ingin mengetahui dan mendalami masyarakat Dayak, datanglah
ke Sarawak. “Nasihat” ini kedengarannya agaknya aneh, tapi itulah
faktanya. Kebudayaan Dayak di Sarawak, salah satu negara bagian
Kerajaan Malaysia yang berlokasi di sebelah utara Pulau Kalimantan
(Borneo) ini, mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat, –
sama dan sejajar dengan kebudayaan etnis lainnya, Melayu dan
Cina.

Mengapa harus ke Sarawak? Ternyata etnis Dayak di Sarawak,
populasinya sekitar 50 persen dari jumlah penduduk 1,85 juta jiwa.
Sisanya, etnis Cina 30 persen dan etnis Melayu 20 persen. Meski
dalam jumlah, etnis Dayak mayoritas, perhatian pemerintah terhadap
kebudayaan etnis lainnya sama. Inilah yang dibanggakan masyarakat
Sarawak. Dan ini terbukti dengan kehadiran Sarawak Cultural Village
(SCV) di Santubong, yang mampu menggaet sekitar 40.000-50.000
wisatawan setiap bulannya, dengan harga tiket 45 Ringgit
Malaysia/orang.

Di SCV – yang dibuka sejak 1988 silam -, wisatawan diajak
mengenal kebudayaan etnis terbesar yang bermukim di Sarawak. Mulai
dari kebudayaan Dayak Iban (populasinya sekitar 30 persen dari
jumlah seluruh penduduk Sarawak), Dayak Bidayuh (8,5 persen),
Dayak Melanau (5,8 persen), Dayak Orang Ulu (5,2 persen), Dayak
Penan, sampai pada kebudayaan Melayu dan Cina.

Dari SCV, wisatawan pun langsung dapat memahami kebudayaan
masyarakat Sarawak tanpa harus menjelajahi semua daerah. Rumah
panjang (longhouses), jalan dari bambu, sumpit, alat musik,
hasil kerajinan sampai pada aneka ragam kesenian yang ditampilkan
pengelola SCV, memuaskan mereka yang datang ke sana.

Di salah satu rumah panjang suku Dayak Iban – yang dikenal
sebagai head-hunters -, dapat disaksikan sejumlah tengkorak manusia
yang pernah dikalahkan dalam peperangan. Mereka yang paling banyak
mengumpulkan kepala manusia, dapat dilihat dari jari tangan dan
tato di tubuhnya. “Pada masa lalu, laki-laki yang paling banyak
mengumpulkan kepala manusia, dianggap paling jantan. Kalau sekarang,
untuk memikat wanita, tak perlu lagi harus melakukan seperti itu.
Cukup dengan kartu kredit American Express,” kata Amat, pemandu
wisata bercanda.

Selain mengunjungi lima rumah panjang sub-suku Dayak, wisatawan
diajak pula mengunjungi rumah suku Melayu (dengan alat musik yang
sudah akrab di telinga orang Indonesia) dan rumah suku Cina (kaum
Hakka) yang berlantaikan tanah. Pada bagian akhir perjalanan selama
empat jam di SCV, wisatawan diajak menikmati kesenian tujuh etnis
terbesar di Sarawak.

“Kami bangga dengan perbedaan etnis yang ada, namun mampu
mempersatukan kami sebagai masyarakat Sarawak,” ungkap pemandu
wisata meyakinkan.
***

PEMERINTAH Negara Bagian Sarawak di Malaysia Timur mengemas unsur
kebudayaan sebagai salah satu produk wisata ini secara profesional.
Acara tahunan Gawai Dayak yang diselenggarakan setiap tanggal 1 Juni,
merupakan pesta budaya yang memikat turis dan penduduk Sarawak itu
sendiri. Gawai berarti festival, dan Gawai Dayak merupakan syukuran
atas panen padi.

Biro-biro perjalanan setempat bekerja sama dengan mitranya di
luar negeri sejak jauh hari merencanakan menghadirkan wisatawan
sebanyak-banyaknya untuk menyaksikan Gawai Dayak. Bagi masyarakat
Sarawak sendiri, Gawai Dayak merupakan pesta rakyat yang harus
dinikmati. Banyak pekerja yang mengambil cuti untuk menikmati
acara ini.

Acara budaya Dayak lainnya seperti Pesta Kaul, pesta Dayak Melanau
(Maret-April), Meledoh, pesta Dayak Kenyah, Kayan dan Kajang (April),
Gawai Sawa, pesta Dayak Bidayuh (Juni). Namun pemerintah Sarawak tak
hanya mengemas kebudayaan Dayak sebagai salah satu produk wisata.
Pemerintah setempat juga mengemas festival kebudayaan etnis lainnya
sebagai acara yang layak dinikmati turis, seperti Tahun Baru Cina,
Chap Goh Mei, Hari Raya Puasa, Hari Waisak, Hari Natal.

Semua festival budaya dan religi ini dikemas dan “dijual” untuk
dinikmati bersama oleh masyarakat dan wisatawan. Festival-festival
ini mencerminkan semangat harmoni, perdamaian dan integrasi di
antara kelompok etnis berbeda di Sarawak.

Pariwisata Sarawak dalam lima tahun terakhir makin berkembang.
Jumlah hotel berbintang di Kuching – ibu kota Sarawak – makin banyak.
Belum lagi di kota-kota lainnya seperti di Sibu, Miri dan Bintulu.

Pemerintah Sarawak juga jeli memanfaatkan belantara hutan Borneo
sebagai produk wisata alam dan wisata petualang. Nama Borneo dianggap
identik dengan petualangan, dari menjelajahi hutan dengan aneka flora
dan fauna, mengarungi sungai dengan buaya ganas, sampai pada mendaki
gunung.

Di Sarawak sendiri terdapat tujuh taman nasional yaitu Gunung
Gading, Bako (sebelah utara Kuching), Similajau (timur laut Bintulu),
Niah (terkenal dengan gua yang berusia ribuan tahun), Lambir (selatan
Miri), Gunung Mulu (dekat perbatasan Brunei Darussalam) dan
Lanjak-Entimau (berbatasan dengan Kalimantan Barat). Mereka yang suka
berpetualang, akan betul-betul menikmati wisata alam di belantara
hutan Borneo ini.
***

UNTUK menarik wisatawan ke kota Kuching (berpenduduk sekitar
400.000 jiwa), pemerintah setempat membangun beberapa museum. Di
antaranya, Museum Sarawak dengan bangunan tua berusia lebih satu
abad, dan dianggap salah satu museum terbaik di kawasan Asia.

Yang juga unik adalah Museum Kucing (yang ada kaitan dengan nama
kota Kuching), dan satu-satunya museum kucing yang ada di dunia.
Segala hal yang berkaitan dengan kucing, bisa ditemukan di museum
ini.

Salah satu unsur pariwisata adalah kebersihan kota. Karena itu
penataan kota Kuching juga diperhatikan serius. Kawasan pinggiran
Sungai Sarawak yang sebelumnya merupakan daerah kumuh, kini
dipercantik. Pembangunan waterfront sepanjang 800 meter dilakukan
tahun 1988 dan rampung tahun 1992 lalu, menghabiskan biaya 89 juta
ringgit. Di masa depan, kawasan ini akan ditata sampai tiga kilometer.

Masyarakat yang sebelumnya memiliki tanah di pinggiran Sungai
Sarawak, mendapat ganti rugi yang memadai. Selain mendapat uang,
mereka juga memperoleh sebidang tanah yang lebih luas di Santubong,
dengan catatan dalam waktu tiga bulan harus segera dibangun. Dalam
hal ini, masyarakat dan pemerintah sama-sama diuntungkan.

Kawasan pinggiran Sungai Sarawak atau dikenal dengan kawasan
waterfront ini menjadi pusat rekreasi dan hiburan masyarakat.
Lampu-lampu hias dipasang. Bangku-bangku pelepas lelah disediakan.
Restoran berkelas internasional dan kafe cyber di mana pengunjungnya
dapat mengakses internet pun dibangun di sekitar kawasan ini.

Di samping itu, pusat belanja dengan harga relatif murah di kota
Kuching, yaitu India Street sejak tahun 1992 lalu, ditetapkan sebagai
kawasan pejalan kaki. “Sebelum ditata, India Street sangat kotor.
Mobil parkir sembarangan dan tak teratur. Sekarang kawasan ini sangat
bersih dan menjadi kawasan pejalan kaki,” ungkap Karen (28), salah
seorang penjaga toko pakaian di sana.

Kota Kuching pada tahun 2000 mendatang, bercita-cita pula
menjadi garden city (kota taman). Sekarang memang sudah mulai tampak
taman-taman kota yang hijau, nyaman dan asri, dengan patung kucingnya
yang khas di berbagai sudut kota.

Tekad menjadikan pariwisata sebagai primadona untuk menggaet
devisa negara, tampaknya diupayakan maksimal oleh pemerintah Sarawak.
Kegiatan seperti Festival Belanja (yang dalam bahasa Malayu disebut
Karnival Membeli Belah) yang diadakan serentak di kota-kota besar di
Malaysia, dimanfaatkan pula untuk menjajakan barang-barang produk
Malaysia.

“Sasarannya bukan hanya wisatawan mancanegara, tapi juga orang
Malaysia sendiri. Agar mereka tidak membuang-buang duit ke luar
negeri, apalagi dalam kondisi moneter seperti sekarang,” kata Menteri
Kebudayaan, Kesenian dan Pelancongan Malaysia Dato’ Sabbaruddin Chik
di Kuching, awal Oktober lalu.

Karena itu pulalah, Menteri Pariwisata Sarawak Dr James Jemut
Masing menyatakan kekecewaannya dengan bencana asap yang ikut
melanda kawasan Sarawak pada bulan September 1997 lalu. Kerugian
yang ditimbulkan akibat bencana asap (atau dalam istilah bahasa
setempat jerebu) selama hampir satu bulan mencapai 15 juta ringgit
(sekitar Rp 15 milyar).

Pada bulan September 1997 lalu, James menargetkan 220.000 turis
asing masuk ke Sarawak. Namun akibat jerebu menyerbu Sarawak, jumlah
wisatawan yang datang cuma separuhnya, sekitar 130.000 orang.
Bisa dibayangkan jika dalam kurang satu bulan saja, pemerintah
Sarawak mampu memperoleh pendapatan dari sektor pariwisata sekitar
Rp 15 milyar, ini berarti sektor pariwisata semakin menjadi andalan
utama penghasil devisa negara bagian di Malaysia Timur tersebut.

Pemerintah dan masyarakat setempat bekerja sama dan saling
mendukung, untuk mewujudkan Sarawak sebagai daerah tujuan wisata.
Bagaimana dengan Kalimantan Barat yang sama-sama berlokasi di
Pulau Kalimantan? Kekayaan budaya dan kekayaan hutan belantara kurang
lebih sama. Hanya saja orang Sarawak pandai mengemas “kekayaan” Borneo
menjadi daya tarik wisata. Tapi mengapa Kalbar belum mampu membuat
sektor pariwisata sebagai andalan penghasil devisa?

Foto:
Kompas/ksp

MIRIP INDONESIA – Pakaian dan adat kebudayaan Sarawak, sudah barang
tentu mirip dengan budaya melayu di Indonesia.

Iklan

One response to “Pariwisata Sarawak: Mengemas Kekayaan Borneo

  1. om, bisa kasi saran kalo dari surabaya ke miri, sarawak, jalan udara terdekatnya (ekonomis)lewat mana ya.terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s