Membangun Trotoar Lebar di Jalan MH Thamrin

KOMPAS
Jumat, 21 Mar 1997
Halaman: 18
Penulis: ADHI KSP

MEMBANGUN TROTOAR LEBAR DI JALAN MH THAMRIN

MEMBANGUN trotoar lebar di Jalan MH Thamrin adalah salah satu dari
rencana Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja untuk “memanusiakan”
warga Ibu Kota. Rencana lainnya antara lain, meningkatkan mutu angkutan
kota -massal, murah dan nyaman- yang pada gilirannya diharapkan bisa
mengobati kemacetan yang kondisinya sudah sangat parah sekarang ini.

Lalu ada program “meruntuhkan” pagar-pagar beton di kawasan Jalan
Sudirman dan Jalan MH Thamrin. Pagar beton diganti dengan “pagar hidup”,
yakni berupa pepohonan sehingga kawasan bisnis dan perkantoran itu menjadi hijau. Nyaman!

Dan berkaitan dengan program “peruntuhan” itu disusun pula rencana
pembangunan trotoar lebar sepanjang Jalan MH Thamrin. Trotoar untuk
pejalan kaki, yang selama ini tampak seperti tidak mendapat tempat di
dalam “kamus” Ibu Kota. Pejalan kaki sepertinya tidak masuk hitungan
atau diperhitungkan.

Solusi untuk meningkatkan kualitas transportasi kota diwujudkan dengan
membangun kereta bawah tanah (subway) Blok M-Kota dan tripple decker
Bintaro-Kota.

Subway belum lagi jelas kapan mulai dibangun setelah koordinator
konsorsium perusahaan-perusahaan swasta yang menangani mega proyek
itu, Ir Aburizal Bakrie menyatakan pembangunan fisik diundur dari
rencana semula April 1997. Dan hingga kini belum diketahui hingga
kapan pembangunan fisik diundur, meski menurut Antara, Ical -panggilan
akrab Aburizal Bakrie- menyatakan akan dimulai Juli 1997.
Yang sudah pasti adalah proyek tripple decker. Pembangunan fisik
jalan tiga tingkat Bintaro-Kota itu dimulai April 1997 dan selesai
Agustus 2001.

Khusus tentang trotoar lebar, Surjadi sudah memikirkannya sejak dua
tahun lalu dan kemudian mengajak kelompok-kelompok profesi pecinta
“Jakarta Bersih” mewujudkannya.

Konsepnya tak hanya membangun trotoar, tetapi masalah-masalah detail
juga tak dilupakan. Semisal pembuatan rambu pemberhentian bus (yang
menginformasikan bus-bus jurusan tertentu saja yang akan menaikturunkan
penumpang di tempat tersebut), shelter yang didesain lebih menarik (yang
digabungkan dengan kotak telepon umum, kios surat kabar, kios kecil
penjual makanan-minuman ringan dan informasi turis), serta pul (pool)
taksi yang ditempatkan di jalur-jalur penghubung blok utama dan pendukung
(jalan-jalan samping) agar lalu lintas Jalan Thamrin tidak terganggu.

Menurut arsitek Ir Budi Lim yang “dilibatkan” dalam proyek itu, konsep
alur dan arus kendaraan memprioritaskan kenyamanan pejalan kaki.
Prinsipnya, pengaturan arus lalu lintas mengacu pada perputaran yang
berlawanan arah jarum jam. Jadi mobil yang ada sopirnya, harus menurunkan
penumpang di depan, dan penumpangnya berjalan kaki ke gedung. Mobil yang
tak ada sopirnya, langsung ke gedung parkir mobil, tidak diperkenankan
berbelok langsung ke pintu masuk gedung.

Lalu apa nilai tambah pembongkaran pagar beton? “Lantai dasar
gedung-gedung itu bisa menjadi tempat komersial. Nilai sewa bisa meningkat.
Kalau selama ini lobi gedung tidak menghasilkan, bila sudah dibongkar
nilainya bisa menjadi 100-150 dollar AS/meter persegi/bulan.

Konsep ini akan memfungsikan lantai dasar gedung sebagai fasilitas
publik seperti kafe, restoran, pusat jajan, bank, warung telekomunikasi,
tempat penukaran uang, toko buku, binatu, kantor pos, butik eksklusif,
toko perhiasan. Lantai di bawahnya lagi dapat difungsikan sebagai
diskotek, pub, pusat kebugaran, salon kecantikan dan sejenisnya.

Hotel Sari Pan Pacific misalnya, bisa membuka kafe yang mendekati
trotoar. Pejalan kaki yang sudah lelah singgah di kafe itu untuk minum
sambil istirahat. Atau contoh lain, lahan antara kawasan Gedung Jaya dan
Plaza ATD, bisa juga dibangun kafe.

Halaman Gedung Sarinah dan Restoran Mc Donald’s sebenarnya bisa
difungsikan sebagai plaza, taman dan kafe. Lalu di mana kendaraan diparkir?
Solusinya, pemilik gedung membangun tempat parkir di bawah tanah. Menurut perhitungan Budi, pemanfaatan halaman sebagai plaza (yang bisa disewakan) dan pembangunan tempar parkir di bawah tanah, akan lebih menguntungkan.

Dalam konsep umum yang diajukan, idealnya setiap bangunan yang ada di
Jl MH Thamrin diharuskan memiliki fasilitas parkir pada blok penunjangnya.
Kapasitas fasilitas parkir pada tiap gedung, minimal harus dapat menampung
kebutuhan gedung itu sendiri. Atau, pemanfaatan fasilitas parkir bersama
pada tingkat blok sehingga terjadi pemerataan kepadatan parkir pada
setiap tempat.

Soal sekuriti? Dalam kondisi seperti itu, yang menjadi soal bukan
lagi sekuriti gedung-per-gedung tapi sekuriti bersama. Persoalan yang
mungkin muncul adalah halaman kantor kedutaan besar negara sahabat yang
masih ada di Jl MH Thamrin. Tapi Budi berpendapat, gedung Kedubes
Perancis sebenarnya lebih sesuai menjadi pusat kebudayaan, dan kantor
duta besar dipindah ke kawasan Kuningan, Jaksel.
***

RENCANA pembongkaran pagar beton dan pelebaran trotoar di Jl MH
Thamrin dan Sudirman akan segera direalisasikan. “Saya harapkan tahun
1997 sudah mulai dilaksanakan. Sekaranglah saat yang tepat untuk
merealisasikannya,” kata Wagub DKI bidang Ekbang Ir Tb M Rais.

Wali Kotamadya Jakarta Pu-sat Abdul Kahfi awal pekan ini mengatakan,
pemerintah sedang melakukan pendataan status tanah. Akhir bulan Maret
ini, Pemerintah DKI Jakarta akan berdialog dengan pemilik dan pengelola
gedung, sekaligus menjelaskan rencana pembongkaran pagar beton di Jl MH
Thamrin dan pelebaran trotoar.

Pertanggung jawaban hukum rencana itu, Rais menunjuk Surat Keputusan
(SK) Gubernur DKI Jakarta No 270 Tahun 1995 tentang Penggunaan Lantai
Dasar untuk Komersial. Juga SK Gubernur No 678 Tahun 1994 tentang
Peningkatan Intensitas Bangunan di DKI Jakarta. Be-lum diketahui
biaya untuk rencana itu. Namun, menurut Rais cukup besar. Tapi kalau
para pejabat dan konglomerat pemilik gedung-gedung bertingkat di
Jakarta memiliki visi yang sama tentang pentingnya trotoar yang lebar,
masalah biaya bukan merupakan kendala?

Manfaatnya juga akan dinikmati para karyawan yang bekerja di kawasan
itu, selain tentunya menjadikan Jl MH Thamrin kebanggaan Kota Jakarta
dan Indonesia. Jl Thamrin pun akan menjadi daerah tujuan wisata (DTW)
Jakarta, dan menjadi buah bibir setiap wisatawan mancanegara. (Adhi
Ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s