Konferensi Sister Cities Internasional: Masyarakat dan Pemerintah Kota…

KOMPAS
Kamis, 31 Jul 1997
Halaman: 3
Penulis: ADHI KSP

Konferensi Sister Cities International
MASYARAKAT DAN PEMERINTAH KOTA
BEKERJA SAMA MEMBANGUN “KAMPUNG DUNIA”

SAN DIEGO, KOMPAS
Berbagai pandangan dan visi tentang sister city (kota kembar,
kota bersaudara) muncul dalam Konferensi “Sister Cities” Internasional
yang dimulai hari Selasa (29/7) siang waktu setempat atau Rabu (30/7)
dinihari WIB di San Diego, California, Amerika Serikat.

Sejumlah pembicara dari negara-negara Asia termasuk Indonesia
lebih menekankan pada kerja sama masyarakat dengan pemerintah daerah
(local government) untuk meningkatkan hubungan kota kembar. Sedangkan
pembicara dari AS, sesuai kebijakan yang dijalankan selama ini,
menyerahkan kerja sama kota kembar pada masyarakat.

Wartawan Kompas, Robert Adhi Ksp yang meliput konferensi itu
melaporkan dari San Diego, AS, dua pandangan yang berbeda ini mewarnai
isi presentasi dan diskusi konferensi sepanjang hari Rabu kemarin.

Namun tampaknya pandangan pemerintah lokal dan masyarakat harus
bersama-sama bekerja sama membangun jalinan kota kembar, lebih
menonjol. Hal ini juga tercermin dari topik konferensi kali ini yaitu
“Masyarakat dan Pemerintah Kota: Bekerja Bersama Membangun sebuah
Kampung Dunia” (Community and City Hall: Working Together in a Global
Village).

Sesi pertama dengan moderator Presiden Sister Cities International
(SCI) Rodger Randle menampilkan pembicara antara lain Masaharu Koda,
Wakil Sekjen CLAIR (Council of Local Authorities for International
Relations)-Tokyo; George Brown, Wali Kota Darwin Australia; Yu Shi
Lian, Wakil Ketua Asosiasi Hubungan Persahabatan RRC; Ismail Ibrahim
(Wakil Sekjen BKS AKSI-Indonesia); Young Kook-chun, Direktur Eksekutif
KLAFIR (Korean Local Authorities Foundation for International
Relatios)-Seoul; Jorge Soria, Wali Kota Iquique Cile; Rolando M Acosta
Direktur Program Kota Kembar Filipina.

Konsep AS berbeda
Richard Lang, Wali Kota Modesto, California, AS yang berbicara
dalam diskusi lanjutan petang harinya menekankan, hubungan kota kembar
harus betul-betul merupakan aktivitas masyarakat, dan pemerintah tak
perlu ikut campur agar hubungan lebih spontan.

Pendapat Wali Kota Modesto ini mewakili AS, karena selama ini AS
menganut konsep bahwa masyarakatlah yang harus giat membangun hubungan
kota kembar, dan tak perlu campur tangan pemerintah. Pendapat ini
muncul mengacu pada sejarah kota kembar di AS pada masa silam. Tahun
1956 Presiden AS (waktu itu) Dwight D. Eisenhower mendirikan lembaga
Sister Cities International.

Pada saat itu, masa pasca-Perang Dunia II, lembaga itu hanya
menekankan hubungan masyarakat kota dengan kota yang lain. Hubungan
antarnegara belum begitu baik sehingga hubungan antarmasyarakat yang
lebih menonjol. Lembaga Sister Cities ini kemudian menjadi sebuah
gerakan yang dipelopori masyarakat, tanpa campur tangan pemerintah
kota, dan itu terjadi sampai kini.

Namun di kawasan Asia, terutama Jepang, Korea Selatan dan
Indonesia, lembaga sister city melibatkan pemerintah lokal.
Pada era globalisasi, memang ada perubahan pemikiran soal sister
city. Melihat kemajuan teknologi dan keinginan masyarakat multidimensi,
pemerintah lokal melihat sister city merupakan wahana yang bisa
dimanfaatkan pemda untuk menjalin kerja sama antarkota secara lebih
terprogram. Ada kesamaan kebutuhan antarmasyarakat kota untuk bisa
bersama-sama membangun sebuah “kampung dunia” (global village).
Termasuk kebutuhan akan pengembangan akses ekonomi (intercity trade)
yang berdimensi luas.

Pentingnya sinergi, kebersamaan pemerintah dan masyarakat
menjalin hubungan sister city pada masa kini semakin diyakini.
Menurut Sekjen IULA (International Union of Local Authorities)
Asia-Pasifik Robert P Silalahi yang juga Kepala Biro Kerja Sama
Antarkota dan Daerah DKI Jakarta, saat ini Jakarta yang memiliki
hubungan dengan 12 kota kembar, menganut pada konsep sinergi
pemerintah dan masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s