Kemacetan, Bangkok dan Jakarta Sama Saja

KOMPAS
Jumat, 18 Jul 1997
Halaman: 18
Penulis: ADHI KSP

KEMACETAN, BANGKOK-JAKARTA SAMA SAJA


DALAM beberapa hal, Bangkok memiliki persamaan dengan Jakarta.
Dalam hal kemacetan lalu lintas, kondisi pelayanan angkutan umum
yang belum baik, perkampungan kumuh, membanjirnya penduduk dari luar
kota yang ingin mengadu nasib di ibu kota.

JADI, Jakarta sebetulnya tak perlu kecil hati, terutama dengan
kondisi kemacetan lalu lintas yang ada. Sebab di kawasan Asia
Tenggara, Bangkok ternyata kemacetannya lebih parah. Jumlah
kendaraan yang semakin banyak tak sepadan dengan jaringan jalan yang
dibangun. Apa yang dialami Jakarta, juga dialami Bangkok, meskipun
kondisi lalu lintas Jakarta masih “lebih baik”.

“Kemacetan lalu lintas di Bangkok tak dapat diduga,” kata
Somporn Hwangseritam, seorang pekerja biro perjalanan Elite Travel.
Karenanya, warga Bangkok jarang sekali datang ngepas waktu untuk
menepati janji. Mereka lebih suka datang satu atau dua jam lebih
awal. Somporn sendiri selalu bangun pukul 05.30 pagi, berangkat dari
rumahnya menuju kantornya (berjarak 30 km) pukul 06.00 pagi dan tiba
di tempat kerjanya satu jam kemudian. “Saya lebih suka tidur di
kantor daripada harus kena macet berjam-jam di jalan,” katanya.

Dua tahun terakhir ini, kemacetan lalu lintas di Bangkok
dinilai semakin parah. “Kalau di Jakarta, kita masih bisa
memprediksi jam-jam sibuk sehingga dapat menghitung waktu tiba ke
suatu tempat. Tapi di Bangkok, kita tidak pernah bisa
memperkirakannya,” kata Somporn yang pernah beberapa kali ke
Jakarta. Namun demikian, dibandingkan dengan Jakarta, disiplin
berlalu
lintas masyarakat Bangkok dinilai lebih baik. “Mereka lebih sabar
antre, dan jarang sekali menyerobot jalan ataupun menekan klakson
kalau sedang kesal. Dan kalau ‘minta jalan’, saya tinggal
menganggukkan kepala dan pengemudi lainnya memberikan jalan. Saking
taatnya, pengemudi tidak punya inisiatif mencari jalan alternatif,”
ungkap staf Kedubes RI di Bangkok, Ibnu Prispermana.

Sebuah ulasan di majalah Asiaweek menyebutkan, Bangkok terlalu
banyak memiliki bottlenecks. Kemacetan terparah di persimpangan
Jalan Rama 9 dan Asoke-Dindaeng. Pada jam-jam sibuk, dibutuhkan
waktu tempuh 30-45 menit untuk melintasi jalan sepanjang 600 meter.
Lalu lintas dari dan ke utara dan timur bertemu di titik ini.
***

PEMERINTAH Thailand sebetulnya sudah berusaha mengatasi
kemacetan lalu lintas yang akut. Tapi tampaknya penanganannya masih
sepotong-potong sehingga masalah ini tak pernah tuntas. Pembangunan
jalan baru dan jalan layang belum mampu menyelesaikan persoalan.
Bahkan Pemerintah Thailand mengajak swasta membangun MRT (mass rapid
transit), namun proyek ini baru akan selesai lima tahun lagi. Kereta
layang atau sky train akan berfungsi dua tahun lagi. Jadi masih
cukup lama.

Sementara setiap hari, jumlah kendaraan baru yang melintas di
jalan-jalan seputar Bangkok sekitar 760 unit! Tampaknya mereka
enggan naik angkutan umum seperti bus kota karena menganggap kondisi
dan pelayanannya masih buruk, sama dengan kondisi di Jakarta.
Jumlah bus umum di Bangkok tercatat 6.000 unit, sebagian besar
bus-
bus umum “kelas kambing” dengan tarif Rp 350/orang. Pemerintah
Bangkok berusaha menyediakan bus-bus yang nyaman, misalnya bus umum
AC (tarif Rp 600-1.600), mikrobus eksklusif dengan fasilitas TV
dan surat kabar (tarif Rp 3.000/orang, dijamin ada tempat duduk).

Sedangkan jumlah taksi sekitar 50.000 unit. Dalam hal ini,
tidak ada pembatasan jumlah taksi. Selain untuk memeratakan
kesempatan bekerja, keberadaan taksi di Bangkok cukup membantu
pelayanan transportasi di kota ini. Tarif start untuk dua kilometer
sekitar Rp 3.500. Berbeda dengan Jakarta, di Bangkok sopir taksi
yang mengantar penumpangnya ke lokasi yang jauh, lebih rugi karena
tarifnya makin murah. Jumlah penduduk Bangkok sampai pertengahan 1997
ini mencapai 5,57 juta jiwa (yang resmi dan mempunyai KTP). Namun
jumlah
ini jika ditambah dengan pendatang yang belum tercatat di kantor
pemerintah,
bisa mencapai delapan juta sampai sembilan juta jiwa. Mereka
menghuni kota seluas 1.568,73 km2, atau hampir dua setengah kali
luas Kota Jakarta 650 km2.

Di Bangkok, puluhan kilometer jalan baru dan jalan tol dibangun
setiap tahunnya. Namun hal itu tidak cukup mengatasi membludaknya
jumlah kendaraan yang berkeliaran di Bangkok, yang jumlahnya sampai
tahun 1996 mencapai tiga juta unit, termasuk 1,2 juta unit motor.

Direktur Divisi Teknik Departemen Transportasi dan Lalu Lintas
Bangkok Municipal Administration (BMA) Nopadol Luangdilok yang
ditemui di kantornya hari Jumat (11/7) mengungkapkan, penambahan
jalan baru di Bangkok hanya 0,01 persen setiap tahunnya, sedangkan
pertambahan kendaraan sekitar 12 persen. “Sudah tak ada lahan lagi
untuk membangun jalan baru,” jelas Nopadol. Kalaupun ada, hanya
sekitar delapan persen saja lahan di Bangkok yang bisa dibangun untuk
jalan.

Panjang jalan besar di Bangkok sekitar 1.100 km, belum termasuk
gang-gang kecil dan “jalan-jalan tikus” sekitar 3.500 km. Jalan yang
sudah ada, ternyata tak bisa disambung-sambung dan ini merupakan
masalah besar.

Meskipun Bangkok cukup luas, namun harga tanah di kota ini,
terutama di dalam kota, sangat mahal. Pemerintah tak punya anggaran
yang cukup untuk membebaskan lahan. Harga tanah di kawasan Silom di
dalam kota Bangkok misalnya, mencapai Rp 15 juta per meter persegi.
Sedangkan harga tanah di pinggiran kota masih sekitar 5.000-6.000
baht atau sekitar Rp 500.000-600.000/m2. “Memang masih ada tanah
kosong, tapi sebagian besar sudah milik swasta,” jelas Nopadol.

Pengemudi yang tidak berpengalaman dan tidak berdisiplin
sebenarnya ikut “menyumbang” kemacetan lalu lintas di kota-kota
besar, termasuk di Bangkok. Solusinya, selain mendidik para
pengemudi, juga memperkenalkan sistem komputerisasi manajemen lalu
lintas.

Pemerintah Bangkok telah membuat langkah baik, dengan meng-
install 143 lampu pengatur lalu lintas di berbagai persimpangan
jalannya. Lampu pengatur lalu lintas ini akan menyala otomatis
sesuai kebutuhannya. Di masa mendatang, kalau sistem ini berhasil,
pemerintah setempat merencanakan memasang “lampu pintar” itu pada
369 persimpangan jalan yang ada di seputar Bangkok.

Apa untungnya “lampu pintar” itu? Petugas tak perlu capek-
capek berdiri di terik-panas matahari, mengatur lalu lintas. Mereka
bisa duduk-duduk di ruangan ber-AC di stasiun pengendali sambil
mengamati kepadatan lalu lintas di seputar Bangkok. Kalau ada
kemacetan lalu lintas di suatu persimpangan jalan, maka komputerlah
yang akan memberi solusinya, bagaimana seharusnya lalu lintas
dialihkan agar kemacetan berkurang.

Manajer Pusat Pengawasan Lalu Lintas Kota Bangkok, Chirasak
Ninchaikowit yang ditemui di kantornya hari Jumat (11/7)
menjelaskan, sistem ini tidak menganggu masyarakat karena
memanfaatkan komputer berteknologi tinggi. Selain itu mampu
mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas karena setiap persimpangan
jalan dikontrol komputer. Jumlah kecelakaan lalu lintas di Bangkok
pada 1995 tercatat 64.469 kasus dengan jumlah korban 1.284 orang dan
yang cacat/luka-luka 21.697 orang.

Sistem ini juga dinilai mampu mengurangi polusi udara, serta
menghemat uang yang seharusnya tak perlu terbuang percuma karena
kemacetan lalu lintas.
Bangkok merencanakan menggunakan sistem ini dalam dua bagian.

Dalam sektor I seluas 30 km2, sedang diuji coba sebanyak 143 lampu
pengatur lalu lintas yang canggih. Tahap berikutnya, direncanakan
“lampu pintar” ini akan dipasang di 226 persimpangan ini di kawasan
seluas 150 km2, masih di dalam kota.
***

BAGAIMANAPUN Bangkok tampaknya membutuhkan sebuah master plan
pembangunan kota. Struktur perencanaan Kota Bangkok saat ini
membingungkan, karena jalan-jalannya yang memiliki begitu banyak
persimpangan.

“Kami tak pernah dijajah Bangsa Eropa, sehingga kami tak punya
contoh bagaimana menata kota yang baik,” kata Somporn.
“Perencanaan kota Jakarta jauh lebih baik dibandingkan Bangkok.
Perencanaan kota Bangkok tergantung investasi tanah. Siapa yang mau
membangun, bebas membangun. Akibatnya, kota Bangkok berkembang tanpa
tujuan yang jelas,” kata Nopadol.

Dalam soal ini tampaknya Jakarta lebih baik. Namun jangan lupa,
Bangkok kini sudah mulai membangun sistem angkutan massal, MRT,
subway, skytrain dan sejenisnya. Dalam 10 tahun mendatang, kemacetan
lalu lintas berikut kesemrawutannya diharapkan berkurang dengan
hadirnya angkutan massal semacam itu. Jumlah mobil memang akan terus
bertambah, tapi masyarakat punya pilihan, bisa naik subway, MRT,
skytrain.

Bagaimana dengan Jakarta? Kalau rencana pembangunan subway dan
triple decker tidak segera direalisasikan dalam waktu dekat,
dikhawatirkan nasib Jakarta pun akan sama dengan Bangkok. Kemacetan
lalu lintas akan semakin parah, dan itu bisa terjadi seharian penuh!
(Adhi Ksp,dari Bangkok, Thailand)

Teksfoto:
Kompas/ksp
KEMACETAN DI BANGKOK – Dalam soal kemacetan Bangkok dan Jakarta, sama
saja,
bahkan Bangkok cenderung lebih parah. Untuk mengatasi kemacetan lalu
lintas
yang sudah merata di seluruh pelosok kota, pemerintah setempat mulai
membangun rapid transit, subway, jalan tol, atau lintasan KA.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s