Globalisasi Perusahaan China dan Ambisi TTE Kuasai Pasar Dunia

KOMPAS
Jendela
Senin, 09 Agustus 2004


Globalisasi Perusahaan China dan Ambisi TTE Kuasai Pasar Dunia

SANDIE Peng (23) merasa bangga bekerja di sebuah perusahaan global China, TCL, yang memproduksi barang-barang elektronik, termasuk televisi. Perempuan muda China yang sempat mengenyam pendidikan teknologi informasi di Singapura ini berharap dalam waktu 10 tahun mendatang, barang-barang elektronik China sudah mampu mendunia.

“SEJAK lama, bangsa kami ingin berjaya sebagai pembuat televisi. Jika dua puluh tahun lalu, TV-TV Jepang yang banyak beredar di China, lalu sejak 10 tahun lalu, TV-TV Korea yang masuk, kini TV-TV China mulai disukai masyarakat China sendiri. Kami yakin, dalam waktu sepuluh tahun lagi TV China dan barang elektronik kami akan menjadi salah satu pilihan masyarakat dunia,” kata Sandie yang bekerja sebagai karyawan marketing perusahaan elektronik China dalam percakapan dengan Kompas di Shenzhen, China, akhir Juli lalu.

Harapan Sandie setidaknya mencerminkan harapan generasi muda China yang ingin negerinya berjaya dalam perdagangan dunia. Perempuan itu mengaku tidak suka membeli barang-barang elektronik Jepang. Salah satunya karena faktor sejarah. “Rasa sakit hati” terhadap Jepang ini agaknya masih membekas dalam hati kaum muda China, yang kemudian memiliki kesadaran kolektif untuk mencintai produk negeri sendiri.

Untuk mewujudkan impian itu, Sandie dan ribuan kaum muda China lainnya bergabung dan bekerja di perusahaan elektronik China, TCL, yang kini berkembang menjadi salah satu perusahaan raksasa elektronik China. Sejauh ini TCL dikenal sebagai pembuat produk-produk elektronik dan multimedia terbesar di China.

Ketika tahun 1982, Li Dong Sheng mendirikan TCL, perusahaan itu hanya perusahaan kecil yang merakit tape dan kaset, yang didanai oleh Pemerintah Kota Huizhou, dan berkantor di sebuah gudang lama. (Baca: “Li Dong Sheng Wujudkan Mimpi Menjadi Raksasa Dunia”). Kini TCL betul-betul tumbuh menjadi raksasa elektronik dan multimedia China.

Pada akhir Juli 2004 lalu, TCL mengumumkan secara resmi bergabungnya perusahaan itu dengan Thomson, perusahaan elektronik terkemuka dari Perancis, dengan membawa nama baru, TTE (TCL-Thomson Enterprise) Corporation. Dalam perusahaan baru ini, TCL memiliki saham 67 persen, sedangkan Thomson 33 persen. Bisnis utama TTE meliputi riset teknologi TV baru, industri pembuatan TV, serta distribusi dan penjualan TV.

Li Dong Sheng yang kini menjadi President and Chairman TTE dinobatkan sebagai Asia’s Businessman of the Year 2004 versi Majalah Fortune. Dalam jumpa pers dengan sekitar 200-an wartawan internasional di Menara TCL di Shenzhen, China akhir Juli lalu mengungkapkan, Li menegaskan, penggabungan TCL dan Thomson ini akan menjadikan TTE raksasa TV terbesar di dunia.

Distribusi penjualan TCL dan Thomson bersama-sama pada tahun 2003 mencapai 18,5 juta unit. Ini menjadikan gabungan TCL dan Thomson sebagai pemimpin dalam penjualan TV di dunia. TTE beroperasi di kawasan Asia, Amerika Utara, Amerika Latin, dan Eropa dengan 29.000 staf, 10 pabrik dan lima pusat riset di seluruh dunia.

Li menggandeng Thomson, yang selama ini memiliki posisi kuat dalam pasar televisi di Eropa dan Amerika Utara. Kombinasi TCL dan Thomson ini akan saling mendukung. TCL memiliki kekuatan dalam riset dan pengembangan produk-produk TV, sedangkan Thomson dikenal memiliki produk TV berteknologi tinggi. “TTE akan dapat melayani kebutuhan pasar global dengan beragam jenis produk TV,” kata Li, yang didampingi dua CEO (Chief Executive Officer) TTE, Charles Dehelly dan Charls Zhao.

Menurut Li, TTE satu-satunya pembuat TV di dunia yang memiliki product line TV yang komplet. TTE saat ini berada pada posisi yang unik dalam pasar dunia, yang menawarkan produk-produk TV dari harga terjangkau sampai harga mahal, dari jenis yang sederhana sampai yang berinovasi high-end, dari TV analog sampai TV digital.

“TTE saat ini merupakan perusahaan yang didukung para pekerja yang berkemampuan tinggi yang berada di seluruh dunia. TTE sangat cepat merespons perubahan yang terjadi dan permintaan pelanggan dalam pasar global,” katanya. Ini merupakan perkawinan dalam industri elektronik dalam segala bidang riset, manufaktur, penjualan, dan pemasaran.

Kombinasi dua raksasa TV China dan Perancis ini mengibarkan merek-merek Thomson, RCA dan TCL di seluruh dunia. TTE menjadi pemimpin dalam industri pembuat TV di China, dan berada di posisi lima besar di Eropa dan Amerika Utara.

TCL yang selama ini dikenal di China akan makin berakar di pasar China, sedangkan merek RCA dan Thomson bakal mengukuhkan posisi TTE di kawasan Eropa dan Amerika Serikat. Data yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan China menyebutkan, TTE merupakan pembuat TV terbesar di China, yang memiliki 19 persen pangsa pasar TV China. Sedangkan statistik Synovate menyebutkan, TTE merupakan pembuat TV kedua terbesar di Amerika Utara. Sementara statistik GFK menyebutkan, TTE berada di posisi keempat di Eropa.

Inilah ambisi TTE Corporation menguasai pasar televisi dunia dalam era tren digital. Kemampuan riset dan pengembangan yang kuat, akan membantu TTE mengembangkan produk teknologi tinggi dan inovatif, yang pada gilirannya membawa kesempatan bisnis yang luas.

Tren TV digital saat ini diantisipasi oleh TTE dengan menciptakan TV digital yang nyaman. Analisis IDC menyebutkan, penjualan global TV meningkat dari 170 juta unit pada tahun 2003 menjadi 196 juta unit pada tahun 2008. Ini disebabkan konsumen mengganti TV analog dengan TV digital. Penjualan pun akan meningkat dari 61 miliar dollar AS pada tahun 2003 menjadi 86 miliar dollar AS pada tahun 2008.

Pada tahun 2003, penjualan TV digital 7,1 persen dari pasar TV global. Tahun 2004 ini diproyeksikan menjadi 12 persen. Dan, prediksi IDC, penjualan TV digital bakal meningkat menjadi 60 persen dalam pasar global TV pada tahun 2008.

Dewasa ini, TV digital populer, terutama di Amerika Utara dan Eropa.
Para analis pasar barang elektronik memprediksikan, jumlah TV digital akan bertambah dari 38,9 juta unit pada tahun 2002 menjadi 56,5 juta unit pada tahun ini. Proporsi penggunaan TV digital di rumah juga akan meningkat, dari 39,5 persen pada tahun 2002 menjadi 50 persen pada tahun 2005.

Di Eropa, Global Information memprediksikan ada kenaikan 24 persen penggunaan TV digital di rumah pada tahun 2004. Dan, pada tahun 2010, konsumen Eropa akan memiliki 112 juta unit TV digital.

TCL tak hanya dikenal sebagai pembuat TV, tetapi juga telepon seluler. TCL International Holdings menyatakan perusahaan itu mampu memproduksi 42 juta handset setahun, meningkat hampir tiga kali lipat dari 12 juta unit.

Fasilitas baru di pabrik TCL di Huizhou -sekitar dua jam dari Kota Shenzhen-dengan kapasitas baru ini akan menjadikan TCL, yang sebelumnya pembuat ponsel kedua terbesar di China sebagai pembuat handset terbesar di dunia.
Dalam dunia seluler, TCL sebelumnya menjalin kerja sama dengan perusahaan telekomunikasi Perancis, Alcatel. Sinergi ini akan membuat merek TCL, bintang baru yang bersinar dalam dunia seluler dunia.

LANGKAH yang dilakukan TCL yang memutuskan bersinergi dengan Thomson dan Alcatel menjadi bukti bahwa perusahaan China telah mengglobal. Ini menjadi salah satu model bagaimana perusahaan China mampu masuk dalam kancah perdagangan dunia pada era globalisasi ini.

Ambisi Li Dong Sheng agar perusahaannya mampu menggapai lima benua ini, memang kian terwujud. TCL International Holdings sangat cepat menguasai jaringan distribusi merek-merek mereka di kawasan Asia Tenggara.

TCL misalnya, sudah membangun kantor-kantor cabang, bahkan pabrik mereka di sejumlah negara, seperti di Filipina, Vietnam, dan Indonesia, dalam tiga tahun terakhir ini. “Tujuan kami jelas, yaitu menjadikan TCL merek global,” kata Dr Terry Yichunyu, Executive Vice-President, Emerging Markets Profit Centre TTE Corporation dalam jumpa pers, Kamis (29/7) malam silam, di Ming Wah International Hotel, Shenzhen, China.

China tampaknya tak mau kalah dengan Korea Selatan. “Setiap perusahaan multinasional yang berhasil memulainya dengan sukses membangun merek mereka sendiri. Perusahaan-perusahaan Korea memulai dengan original equipment manufacture (OEM), tetapi kini lihatlah bagaimana mereka sukses dengan merek-merek mereka,” kata Terry.

Belajar dari kesuksesan Korea mengglobal, China, khususnya TCL, yang kini berbendera TTE Corporation, begitu cepat mengepakkan sayap mereka. Perusahaan ini mendirikan divisi sendiri yang menangani bisnis di mancanegara, yang memiliki kekuatan penuh demi suksesnya TTE di masa depan.

Langkah mengglobal ini sudah dimulai enam tahun silam, yaitu sejak Juli 1998, ketika TCL International Division didirikan, yang mengawali dimulainya bisnis TCL di mancanegara. Pada 1998, TCL mendirikan divisi di Rusia, untuk masuk ke pasar tetangganya, Rusia. Pada akhir 1998, TCL membeli pabrik Hongkong Lushi di Vietnam dan mendirikan kantor cabang di Vietnam. Dua tahun kemudian, tahun 2000, kantor cabang TCL Hongkong, Filipina, dan Indonesia dibuka.

Desember 2003, TCL mulai mengembangkan pasar Sri Lanka. Maret 2004, TCL masuk ke pasar Thailand dengan mendirikan Divisi Bisnis Thailand, dan pada Mei 2004, TCL masuk pula ke pasar India, setelah mendirikan TCL Indian Share Holding Company.

Menurut Terry Yi, TCL secara bertahap tapi pasti membangun kerja sama dengan berbagai pihak. Pada tahun 2002, TCL membangun kerja sama dengan perusahaan elektronik terkemuka di dunia seperti Philips, Toshiba, Panasonics, dan LG, bekerja sama dalam lapangan, proyek dan produk berbeda. Pada tahun yang sama, TCL membeli perusahaan elektronik Jerman yang bangkrut, Schneider Electronics. Dengan langkah ini, TCL berambisi menguasai pasar Eropa.

TCL juga mengincar pasar Amerika Serikat. Tahun 2003, TCL membeli Go-Video, pembuat VCD digital player yang berbasis di Arizona, AS. Untuk menguasai pasar Eropa, TCL pada April 2004 menandatangani kontrak kerja sama dengan Alcatel dari Perancis, guna mewujudkan ambisi menjadi global merchandiser of communication devices. Dan pada akhir Juli 2004, TCL mendirikan TTE, patungan dengan Thomson dari Perancis.

“TTE kini perusahaan TV terbesar di dunia,” kata Terry Yi. “Tujuan kami adalah menjadi nomor satu dalam waktu tiga sampai lima tahun ke depan,” kata Terry. Ketika ditanya Kompas, Terry tidak menjawab lebih rinci, kapan TCL mampu menguasai pasar elektronik di Indonesia -yang lebih dahulu sudah dikuasai merek-merek Jepang dan Korea.

Namun, diakui Terry, dalam situasi kompetisi yang ketat saat ini, merek-merek Korea, seperti Samsung dan LG merupakan saingan utama bagi TCL, untuk merebut posisi nomor satu dunia.

“Kami yakin dapat menjadi nomor satu,” tandas Terry. “Kekuatan dan kekuasaan China saat ini merupakan fondasi yang solid bagi perusahaan kami,” katanya. Selain itu, “Kami telah membangun strategi kemitraan dengan perusahaan- perusahaan prestise di seluruh dunia. TCL juga mengembangkan diversifikasi produk, mulai dari produk-produk kelas menengah sampai kelas utama, yang mampu lebih bersaing dengan produk merek lain.”

TCL didukung pula oleh kemampuan pabrik manufaktur dan pusat riset dan pengembangan yang kompeten, serta manajemen yang kuat.

Hanya dalam waktu 20 tahun, TCL mampu menciptakan keajaiban dalam sejarah perkembangan perusahaan. Salah satu alasan mengapa TCL mampu mencapai kemajuan yang sangat cepat adalah prinsip “win- win”. “Itu berarti, kami menikmati berbagi keuntungan dengan mitra-mitra kami. Dengan prinsip ini pula, kami yakin TTE, perusahaan baru kami, akan mampu melakukan hal serupa dengan mitra-mitra di seluruh dunia,” tegas Terry lagi.

“Kami juga percaya, salah satu ukuran standar yang sangat bernilai dari perusahaan yang berhasil adalah melihat bagaimana perusahaan memberi kontribusi bagi masyarakat. Dalam mengembangkan pasar global di mana pun, TTE akan menjadi pemacu pengembangan ekonomi lokal. Sebagai bagian dari masyarakat, TTE akan memberi keuntungan bagi masyarakat setempat,” janji Terry Yi.
(ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA dari Shenzhen, China)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s