Dibangun dari Mimpi, Shenzhen Salah Satu Keajaiban Dunia

KOMPAS
Sorotan
Rabu, 18 Agustus 2004

Dibangun dari Mimpi

Shenzhen, Salah Satu Keajaiban China

SHENZHEN adalah salah satu keajaiban China, sebuah kota yang dibangun dari mimpi-mimpi dan diwujudkan dalam waktu sangat singkat. Shenzhen merupakan kota yang pertumbuhannya paling cepat di dunia, bahkan mungkin dalam sejarah peradaban manusia.

DUA puluh tahun silam, Shenzhen hanya sebuah kota kecil di tepi laut dengan jumlah penduduk sekitar 20.000 orang, yang sebagian warganya bekerja sebagai nelayan dan pedagang sayuran. Setelah ditetapkan sebagai salah satu dari lima kota di China yang masuk dalam Zona Ekonomi Khusus, kini Shenzhen sudah disulap menjadi sebuah kota metropolitan berstandar internasional dengan gedung-gedung jangkung menjulang dan lingkungan yang bersih.

Sebagai kota pertama yang dibangun dalam Zona Ekonomi Khusus China, pendapatan per kapita penduduk Shenzhen saat ini mencapai 39.700 yuan atau 4.962 dollar AS (setara dengan Rp 45,6 juta per tahun atau Rp 3,8 juta per bulan). Angka ini merupakan yang tertinggi di antara kota-kota besar di China!

Tahun 2005, Shenzhen berambisi meningkatkan pendapatan per kapita menjadi 7.602 dollar AS atau Rp 69,9 juta per tahun atau Rp 5,8 juta per bulan. (Bandingkan dengan DKI Jakarta yang pendapatan per kapita tahun 2003 tercatat Rp 5,94 juta per tahun atau Rp 495.250 per bulan. Juga bandingkan dengan Jakarta Pusat, pendapatan per kapitanya Rp 15,8 juta per tahun atau Rp 1,3 juta per bulan, tertinggi untuk ukuran pemerintah kota/kabupaten se-Indonesia.)

KOTA Shenzhen, sekitar 147 kilometer dari Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, dapat ditempuh dalam waktu sekitar dua jam melalui jalan tol yang mulus. Kota metropolitan ini memiliki luas 2.020 kilometer persegi atau tiga kali lebih luas daripada Kota Jakarta, saat ini berpenduduk sekitar tujuh juta jiwa. (Bandingkan dengan Jakarta seluas 650 kilometer persegi berpenduduk sekitar sembilan juta jiwa.)

Sebanyak 95 persen penduduk Kota Shenzhen adalah kaum migran dengan beragam latar belakang budaya. Menurut sensus nasional China tahun 2000, terdapat 5,81 juta kaum migran di kota ini. Kota ini tumbuh dengan warna peradaban urban modern. Para penghuni kota ini lebih terbuka, penuh semangat dan energik, penuh ide-ide baru yang segar, dan berpenampilan modis.

Ini tidaklah heran karena sebagian penduduk Kota Shenzhen adalah kaum muda China yang rata-rata berpendidikan tinggi. Data statistik kota itu menunjukkan, dari 100.000 penduduk, 8.060 orang di antaranya berlatar belakang pendidikan sarjana. Mereka ini orang-orang muda yang usianya rata-rata di bawah 35 tahun dan umumnya pernah mengenyam pendidikan di luar negeri.

Sandie Peng (23), misalnya. Perempuan berambut panjang ini termasuk salah satu orang muda yang bukan lahir di Shenzhen, tetapi kini tinggal di salah satu apartemen di kota itu dan bekerja di sebuah perusahaan elektronik China terkemuka. Sandie baru saja lulus dari pendidikan teknologi informasi di Singapura. Penampilannya seperti halnya pekerja wanita karier di kota-kota besar, yang berkantor di gedung jangkung.

“Bagi saya, Shenzhen adalah kota yang memberi peluang kesempatan bekerja. Di sini sangat banyak perusahaan asing yang menawarkan posisi bagus bila kita bekerja keras. Banyak sekali perusahaan China maupun perusahaan asing yang membangun kantor pusatnya di Shenzhen, dan memainkan peranan penting dalam ekonomi China,” kata Sandie.

Untuk perempuan muda seperti Sandie, Shenzhen juga sangat colourful, penuh warna-warni, sebuah kota yang menawarkan banyak kesenangan. “Anda dapat membeli barang apa pun yang diinginkan. Anda juga dapat pergi ke pub hingga larut malam,” cerita Sandie penuh semangat. Salah satu pub yang populer adalah True Color, yang menampilkan penyanyi terkenal dari berbagai negara.

“Shenzhen adalah kota yang menyenangkan. Sebuah kota yang tak hanya menjadi tempat bekerja, tetapi juga tempat menikmati hidup,” kata Sandie, yang bekerja di bagian marketing TCL, perusahaan multimedia China.
Bagi kaum muda China yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri, Shenzhen adalah kota yang tepat untuk bekerja dan menikmati hidup dengan standar internasional. Sejak China membuka diri, banyak orangtua di China yang menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri sehingga pola pikir mereka pun sudah mengglobal.

ILMU pengetahuan dan teknologi merupakan kekuatan utama Shenzhen. Itu sudah menjadi semacam “roh” bagi perkembangan kota ini. Bahkan, Shenzhen sinonim dengan industri hi-tech di Delta Sungai Pearl. Sekitar 20 persen kebutuhan komputer dalam negeri China dipasok dari Shenzhen. Juga 15 persen kebutuhan sirkuit semikonduktor terintegrasi China diperoleh dari kota ini.

Shenzhen meraih peringkat pertama dalam volume penjualan liquid crystal displays (LCD), telepon tanpa kabel berkualitas tinggi, dan printer. Volume penjualan industri informasi Shenzhen ini merupakan 15 persen dari jumlah total seluruh China, atau separuh dari jumlah total Provinsi Guangdong.
Industri hi-tech melesat jauh sejak industri ini mulai dibangun tahun 1990-an.

Beragam jenis industri hi-tech, mulai dari teknologi informasi, teknologi biologi, hingga photo-mechatronics, menjadi kekuatan utama pertumbuhan ekonomi kota itu. Nilai produk hi-tech dari Shenzhen sejak tahun 1991 hingga kini tercatat 2.289 miliar yuan, dengan rekor tertinggi 81.979 miliar yuan yang diperoleh pada tahun 1999.

Shenzhen merupakan markas industrialisasi aplikasi televisi digital, produk biologi, komputer, komponen photoelectric, dan magnetic head. Pada tahun 1999, pusat riset dan pengembangan di Shenzhen menciptakan 150 jenis baru. Dari jumlah itu, 68,4 persen di antaranya dikembangkan dalam berbagai perusahaan.

Kantor-kantor pusat berbagai perusahaan yang memproduksi barang-barang hi-tech untuk diekspor banyak didirikan di kota ini. Volume ekspor produk hi-tech ini pada tahun 1999, misalnya, mencapai 42,6 miliar yuan.
Industri produk-produk hi- tech di Shenzhen yang berperan penting adalah industri pengembangan software dan manufaktur komputer, industri telekomunikasi, industri teknologi audio-visual, industri jaringan, industri rekayasa biologi, dan komponen dasar.

Untuk menyediakan sumber daya manusia yang tangguh, kota ini sudah merencanakan akan mencetak 300.000 tenaga ahli selama lima tahun ke depan. Sejumlah universitas dibangun, antara lain Shenzhen University, yang akan memainkan peranan penting dalam perkembangan industri hi-tech di kota itu.

SHENZHEN sangat kaya dengan sumber daya alam untuk bahan material bangunan, seperti granit, marmer, pasir, dan batu gamping, yang dapat diperoleh di pinggiran kota. Ini sangat memudahkan dan menguntungkan pembangunan konstruksi di kota tersebut. Dan, pada kenyataannya, setiap hari kota itu terus membangun dan membangun tanpa henti. Ada tujuh kota satelit baru yang sedang dibangun di luar Kota Shenzhen, yang akan selesai dalam waktu tiga sampai lima tahun ke depan.

Memiliki panjang pantai 230 kilometer, Shenzhen adalah kota dengan selusin pelabuhan, seperti Shekou dan Yantian. Pelabuhan internasional Shenzhen, termasuk terminal kontainer Chiwan dan Shekou, menjadi pelabuhan terbesar di China daratan. Karena lokasinya yang sangat dekat dengan Hongkong (bisa ditempuh dalam waktu satu jam lewat jembatan Luohu atau Lo Wu), Shenzhen betul-betul diarahkan menjadi kota internasional yang mengembangkan perdagangan internasional. Zona Ekonomi Khusus yang disandang kota ini mempercepat usaha menjadikan pelabuhan Shenzhen pelabuhan internasional yang memiliki terminal kontainer multifungsi.

Sebagai kota metropolitan, Shenzhen juga memiliki moda transportasi yang memadai, yaitu jaringan kereta api (KA) yang menghubungkan Shenzhen dengan berbagai kota lainnya. Rute KA Guangzhou-Shenzhen bisa jadi termasuk rute yang tersibuk. KA ini beroperasi sejak pagi hingga pukul 22.00 dengan interval waktu sembilan menit. Jarak Guangzhou dengan Shenzhen dapat ditempuh dalam waktu 55 menit dengan kecepatan KA 200 kilometer per jam.

Shenzhen juga satu di antara sedikit kota di China yang membangun sistem metro, kereta api bawah tanah dengan 18 stasiun. “Subway” ini akan menghubungkan Pelabuhan Luo Hu dan Huanggang di perbatasan Shenzhen dan Hongkong, dengan pelabuhan-pelabuhan La Wu dan Lak Ma Chau di Hongkong SAR.

Infrastruktur yang baik, transportasi yang baik, lingkungan yang baik memang membuat para investor asing tak ragu-ragu memilih Shenzhen sebagai tempat baru untuk berinvestasi. Tidak sedikit grup-grup perusahaan besar berskala internasional dari Amerika dan Eropa memindahkan markas regionalnya dari Hongkong ke Shenzhen. Grup Ericsson dan Lucent, misalnya, mendirikan pusat riset dan pengembangan di Shenzhen.

Shenzhen telah menerapkan sistem pasar modern internasional, pasar komoditas yang digunakan sehari-hari, keuangan, saham, real estat, perburuhan, teknologi, dan infrastruktur.

Kota ini memberi kenyamanan berusaha bagi investor asing. Shenzhen adalah satu dari sedikit kota di China yang memiliki kekuasaan legislatif. Hingga kini hampir 300 peraturan daerah mencakup berbagai aspek kegiatan ekonomi disahkan, untuk memberi iklim kondusif bagi investor asing. Berbagai kemudahan berinvestasi, semuanya disediakan.

Shenzhen memang salah satu keajaiban China. Sebuah kota yang berhasil dibangun dari mimpi-mimpi Deng Xiaoping, pemimpin China yang mempunyai visi ke depan dan melakukan reformasi ekonomi di negeri tirai bambu itu sejak akhir tahun 1970-an.(ROBERT ADHI KUSUMAPUTRA dari Shenzhen, China)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s