Darwanto, Mimpi Pelaut Arung Samudera

KOMPAS
Kamis, 15 May 1997
Halaman: 24
Penulis: ADHI KSP/TAFUAMA, RICKY

DARWANTO, MIMPI PELAUT ARUNG SAMUDERA

SAAT kapal layar tiang tinggi (tall ship) KRI Arung Samudera
(Arsa) perlahan menjauhi dermaga Kolinlamil (Komando Lintas Laut
Militer) Tanjungpriok Jakarta pada hari Minggu 14 April 1996, Mayor
Laut (P) Darwanto tersadar dari mimpinya. Komandan KRI Arsa ini seakan
tak percaya impian masa kecilnya, mendekati kenyataan.

“Sewaktu masih SMP, saya pernah bermimpi untuk bisa berlayar
mengelilingi dunia. Waktu Pak Sudomo (Ketua DPA dan sesepuh AL)
melepas tali KRI Arsa, saya sadar betapa besar karunia Tuhan dalam
kehidupan saya karena saat itulah impian semasa kecil itu mulai
terwujud,” tutur Darwanto saat ditemui, Selasa (13/5), di atas
kapalnya yang kini bersandar di dermaga Marine Village, Jakarta.

Pria kelahiran Rangkasbitung (Jawa Barat) 13 September 1961 itu memang
kelihatan bangga, saat Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksdya Arief
Kushariadi menyatakan salut atas prestasi yang dicapainya memimpin
“Operasi Sang Saka Jaya” KRI Arsa dalam misi perjalanan keliling
dunia. Selama masa pelayarannya, KRI Arsa telah menyinggahi 28
pelabuhan di 16 negara sejak 14 April 1996 hingga 4 Mei 1997 dengan
menempuh jarak 31.755 mil laut.

Walaupun pantas untuk bangga atas keberhasilan serta prestasi yang
telah dicapainya sebagai seorang perwira TNI AL, namun bagi Darwanto
alasan kebanggaan itu ternyata menjadi lain sekali.

“Saya ini seorang anak desa yang pernah punya impian di masa kecil.
Kalau pimpinan TNI AL memberi kepercayaan kepada saya untuk memimpin
KRI Arsa keliling dunia, itu sebenarnya suatu tawaran yang sangat
indah. Hanya laki-laki yang bodoh yang tidak mau menerima tawaran
seperti ini,” tuturnya.

Perjalanan itu penuh tantangan dan bahaya, namun baginya indah.
Katanya, “Sangat indah. Coba bayangkan. Saya disuruh jalan-jalan
keliling dunia menjadi duta bangsa, dibiayai, diberi uang saku dan
singgah di pelabuhan-pelabuhan terkenal di dunia.”

***

DILAHIRKAN dari keluarga sederhana di sebuah desa di Rangkasbitung,
Kabupaten Lebak, Jawa Barat, sebagai anak kedua dari 12 bersaudara
dari pasangan Natir (60) pensiunan pegawai PJKA dan Ny Undaryati (52),
Darwanto mengisahkan sejak duduk di bangku SMPN II Rangkasbitung, ia
sudah bercita-cita menjadi pelaut.

Lulus SMAN I Rangkasbitung, Darwanto langsung melamar ke Akabri
Magelang dengan pilihan utama Angkatan Laut. Dan ketika psikotes, ia
memilih menjadi pelaut.

“Alhamdulillah, setiap pilihan saya selalu tepat, sesuai keinginan,”
kata lulusan Akabri Laut tahun 1984 itu. Darwanto merasa enjoy dengan
pekerjaannya menjadi pelaut, dan menjadi anggota Angkatan Laut sudah
merupakan cita-citanya sejak remaja.

Tambahnya, “Saya memang kepalang tanggung cinta laut.”
Semasa kecil, kalau liburan, ia dan beberapa rekannya selalu ke pantai
atau ke gunung, menikmati alam ciptaan Tuhan. Ketika menjadi taruna
Angkatan Laut, Darwanto menjadi anggota satuan kapal selam dan
mendalami olahraga layar. Darwanto betul-betul menikmati air.

Karena itulah, selama berhari-hari berada di laut lepas bersama 16
anak buah kapal (ABK), menjelajahi tujuh samudera, Darwanto pun merasa
berlibur keliling dunia.

“Saya menikmatinya sebagai perjalanan seorang pelaut,” katanya. Ada
caranya mengatasi kejenuhan selama berlayar?
“Kami berkaraoke dan main gaple. Selain itu, selama perjalanan kami
juga menyelenggarakan lomba masak secara berkala, dengan menu masakan
sesuai asal daerah ABK masing-masing. Para ABK juga secara teratur
membersihkan kapal sambil bernyanyi riang,” kisah pria berpenampilan
dan bertutur kata sederhana ini.

Darwanto juga memompa semangat ABK dengan memberikan doktrin Angkatan
Laut dan ceramah keagamaan kepada mereka.
“Kejenuhan kadangkala memang ada, tapi kami selalu ingat misi Operasi
Sang Saka Jaya KRI Arsa ini, yang membawa nama baik Bangsa dan Negara
Indonesia,” kata pria dengan tinggi 165 cm itu.

Ia sendiri membuat miniatur KRI Arsa yang diselesaikannya selama empat
bulan, dan diserahkannya kepada KSAL. Tuturnya, “Modalnya cuma kayu,
benang, lem, cutter yang dibeli di Italia. Sekarang sudah selesai dan
tinggal ditambah kaca.”

***

PERWIRA Angkatan Laut ini tentu saja merasa bangga berhasil
menyelesaikan tugas yang diserahkan padanya selaku Komandan KRI Arsa.
Selain membawa harum nama Indonesia di mancanegara, Darwanto dan awak
kapal juga bisa melihat dunia luar, bergaul dengan AL negara lain
dengan segala kemajuan teknologinya.

Pengalaman paling menyenangkan ketika mereka singgah di Fukuoka,
Jepang. Di sana KRI Arsa sandar selama 20 hari. “Setiap hari kami
memenuhi undangan, sampai-sampai tidak sempat pesiar. Banyak warga
setempat yang mengundang kami. Ini juga akibat pemberitaan yang meluas
oleh media massa lokal,” katanya.

Memang setiap singgah di kota pelabuhan, kehadiran KRI Arsa mendapat
sambutan besar dari masyarakat setempat. Rupanya Atase Penerangan
Kedubes RI setempat ikut berperan, mengundang media massa lokal. Awak
KRI Arsa antara lain pernah diwawancarai wartawan CNN, Reuters,
stasiun televisi lokal dan media cetak di beberapa negara yang
disinggahi. Tambahnya, “Bahkan kapal kami pernah menjadi bakcground
iklan mobil yang dibuat sebuah agen di Fukuoka.”

Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk perjalanan selama 386 hari
(70 persen berada di laut, selebihnya singgah di darat)? Darwanto
mengaku tidak memikirkan biaya apa pun.

“Bekal saya cuma kartu ATM (anjungan tunai mandiri) Citibank. Bila
tiba di pelabuhan, saya langsung mencari ATM untuk mengambil uang.
Setelah itu barulah berbelanja kebutuhan sehari-hari untuk logistik di
laut lepas,” tuturnya.

***

PELAYARAN penuh tantangan tersebut usai sudah. Ketika KRI Arsa buang
jangkar di Pulau Damar di gugusan Kepulauan Seribu pada hari Minggu
(4/5) lalu, Darwanto mendapatkan kejutan.
“Ayo Dar, ambil bingkisan, ada di sana,” kata rekan-rekannya yang
menyambutnya.

“Wah, bingkisan apa ini? Saya lihat ada seorang perempuan dan seorang
anak kecil sedang tertelungkup dan saya tidak bisa mengenalinya.
Tiba-tiba mereka membalikkan badan, oohhh…, ternyata istri dan putri
saya. Saya tidak mengenalinya karena putri saya sudah berambut
panjang,” ungkap Darwanto. Mereka pun melepas kerinduan yang teramat
dalam.

Pantas memang, awak KRI Arsa memperoleh penghargaan, termasuk
penghargaan Presiden Soeharto berupa Satya Lencana Wirakarya. Selama
386 hari, mereka melintasi Samudera Hindia menuju Laut Arab, Laut
Merah, Terusan Suez, Laut Mediteranian, Selat Gilbaltar, Samudera
Atlantik, Laut Karibia, Terusan Panama, Samudera Pasifik, Selat Korea,
Laut Cina, Selat Singapura, Laut Jawa.

Dalam pelayaran keliling dunia itu, KRI Arsa antara lain pernah
menjadi juara pertama pada kelas “B” tahap I (Genoa-Palma) dan tahap
II (Palma-Napoli) dalam lomba layar Cutty Shark Race in Mediteranean
Sea 1996. Selain itu juga menjadi juara tiga gabungan semua kelas
dalam lomba itu.

Prestasi lain yang dicapai oleh kapal ini adalah menempati urutan
keenam pada etape 14 Tenerife-Las Palmas pada “Hongkong Challenge
96/97″ serta juara ketiga Las Palmas-Santa Lucia pada lomba yang sama.

***

AKHIR tahun 1997 ini, Darwanto sudah mulai mempersiapkan KRI Arsa
untuk ikut serta Lomba Kapal Layar di Australia, yang diikuti ratusan
kapal layar dari mancanegara. Meskipun sibuk berlayar, pada hari-hari
luangnya Darwanto menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Universitas
Hang Tuah Surabaya, dengan spesialis Hukum Laut.

Mimpi Darwanto, anak desa itu, untuk menjadi pelaut yang bisa
berkeliling dunia sudah menjadi kenyataan. Ia yakin banyak anak
Indonesia yang mencintai laut, yang ingin meneruskan jejaknya
mencintai bahari dan menjaga laut Indonesia yang kaya ini…
(Adhi Ksp/Ricky T)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s