Urusan Perut Tak Bisa Didiskusikan!

KOMPAS
Teropong

Kamis, 18 Mei 2006

Urusan Perut Tak Bisa Didiskusikan!

R Adhi Kusumaputra

Ny Romlah (45), pemilik Warung Betawi, sudah 13 tahun berjualan makanan dan minuman di samping pintu Kampus Universitas Indonesia, Depok. Perempuan itu menggantungkan nafkahnya pada mahasiswa UI yang kos di kawasan tersebut. Di dekat warungnya, berdiri rumah kos Pondok Kukusan.

Setiap hari Romlah membuka warungnya dari pukul 06.30 hingga pukul 17.00 dan pada hari biasa rata-rata mendapat pendapatan Rp 700.000. Namun, pada hari Sabtu, Minggu, dan hari libur, pemasukannya hanya seperempat karena mahasiswa ikut libur. Di dekat warung Bu Romlah, ada penjual gorengan dan kios yang menjual kebutuhan sehari-hari yang dibutuhkan mahasiswa.

Di Kelurahan Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, terdapat sedikitnya 87 rumah kos dengan jumlah 1.000-an pintu. Sejak kampus Universitas Indonesia (UI) pindah ke Depok tahun 1987, banyak warga yang semula tinggal di lahan yang dibebaskan untuk pembangunan Kampus UI itu mencari nafkah dari kehadiran UI dan 45.000-an mahasiswanya.

“Wah, kalau pintu UI ditutup, usaha warung ini pasti mati dah,” kata Ny Romlah. Bukan hanya warung kecil itu yang bakal tutup, usaha kos-kosan di sekitar itu juga akan bangkrut. Rumah kos Pondok Kukusan yang menyediakan 30 kamar berukuran 3 meter x 6 meter rata-rata disewa mahasiswa Fakultas Teknik Arsitektur karena lokasi pintu itu berdekatan dengan bangunan Fakultas Teknik UI.

“Masak sih UI mau menutup pintu ini permanen? Mahasiswa bakal susah karena muternya jauh dan tidak akan tinggal di rumah kos di sekitar ini lagi,” kata Pipit (22), mahasiswi Fakultas Ekonomi UI. Dengan kos di dekat pintu UI, ia tinggal berjalan kaki dari rumah kos ke kampus paling lama 10 menit.

Berdasarkan pengamatan Kompas, Kamis (20/4), di sepanjang pinggiran pintu UI bermunculan rumah-rumah kos baru dengan beragam nama, mulai dari Pondok Indah, Pondok Kartini, Pondok Uni, hingga Pondok Kukusan. Rata-rata harga sewa kamar non-AC Rp 300.000-Rp 400.000 per bulan, sedangkan kamar ber-AC Rp 900.000 per bulan.

Banyak memang warga yang mencari nafkah dari kehadiran UI. Di sekitar pintu UI Kukusan Kelurahan (Kukel), pangkalan ojek didirikan. Di dekatnya ada sewa komputer, usaha fotokopi, warung makan, toko kelontong, wartel, dan warnet. Jadi, dapat dimaklumi jika rencana UI menutup sembilan pintu akses yang menghubungkan kampus seluas 312 hektar dengan perkampungan di dekatnya itu ditentang keras masyarakat setempat.

Hidup makin sulit
Yang menarik, di pagar pintu Kukel, dipasang spanduk yang isinya menentang rencana UI menutup pintu. “UI Milik Rakyat, UI Milik Bangsa, UI Bukan Milik Pejabat,” demikian antara lain bunyi spanduk tersebut. Ini setidaknya mencerminkan suara mayoritas masyarakat sekitar UI yang menghendaki pintu-pintu akses UI tidak ditutup.

Para pengojek yang mangkal di pintu Kukel hanya tertawa saat ditanya rencana penutupan pintu akses. Mereka bahkan mengancam akan “menghilangkan” semua pagar besi yang membatasi kampus UI dengan permukiman penduduk jika UI tetap ngotot menutup pintu. Sekitar 20-an pengojek yang biasa mangkal di sana mengaku saat ini makin sulit mendapatkan penumpang.

“Dapat Rp 20.000 saja sekarang sulit,” kata Jayadi (43) yang sudah 15 tahun menjadi pengojek. Ia membandingkan pada tahun 1990-an sampai tahun 2000, sebelum harga BBM naik, sangat gampang mencari uang dari ojek.

“Sekarang mahasiswa ngirit, lebih suka berjalan kaki, mencari kos dekat pintu UI,” ungkapnya, yang mempertanyakan zaman pemerintahan Yudhoyono-Kalla kok makin sulit mencari duit dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya.
Lurah Kukusan Marjaya mengatakan, penolakan warga terhadap penutupan kampus UI memang sangat kuat. Ada tiga pintu akses UI yang berlokasi di Kelurahan Kukusan, yaitu pintu dekat Fakultas Teknik, pintu dekat masjid, dan pintu dekat kantor kelurahan. Yang terpadat adalah pintu Kukusan Kelurahan.

“Setiap pagi, antrean motor berderet. Bukan hanya pengojek, tetapi juga warga sekitar yang mengambil jalan pintas menuju Lenteng Agung dan Srengseng Sawah,” katanya.

Karena banyak yang memanfaatkan pintu-pintu akses UI ini, Marjaya berharap UI mencari solusi bijak agar warganya tidak dirugikan. Kepala Pembina Lingkungan Kampus UI Dr D Dhaneswara merencanakan membuka pintu Kukusan itu menjadi dua sehingga arus motor yang masuk dan keluar lebih tertata. Itu salah satu solusi yang diambil UI dalam menanggapi aspirasi warga.

Dilema
Direktur Umum dan Fasilitas UI Dr Sunanto yang beberapa kali terjun ke lapangan mengakui ternyata pintu-pintu UI bukan sekadar pintu dan pagar belaka, tetapi menyangkut hajat hidup banyak orang. Rencana UI menutup sembilan pintu pada bulan April akhirnya untuk sementara ditangguhkan.

“Pintu-pintu UI ditutup seperti biasa, antara pukul 22.00 dan pukul 05.00. Kami tak ingin tergesa-gesa mengambil keputusan,” katanya, Sabtu (22/4).
Tim kecil UI beberapa kali bertatap muka dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar UI. “Ternyata terlalu banyak orang yang mengandalkan hidup mereka dari pintu-pintu UI,” kata Sunanto, yang menyatakan UI kini betul-betul menghadapi dilema. Sembilan pintu dimaksud di antaranya adalah Barel/FH, Gang Senggol/BCA, Asrama Zipur, Kukusan Teknik depan masjid, Politeknik, depan Stadion UI, Kukusan Kelurahan Iim belakang PKM UI, dan Rumah Jaga.
Ada pos satpam teronggok tak digunakan dekat pintu Kukel. “Memang tak ada gunanya satpam menunggu di pos. Satpam harus dinamis,” katanya. Sementara lampu penerang jalan di kawasan kampus UI dinilainya sudah cukup terang meski ada yang masih remang-remang. Tagihan PLN UI tiap bulan Rp 1,2 miliar.

Dilema yang dihadapi UI sudah jelas. Perguruan tinggi negeri yang memiliki 45.000-an mahasiswa itu harus memikirkan keamanan kampus itu. “Baru seminggu yang lalu, mobil mahasiswa di depan FISIP dipecah dan laptopnya hilang dicuri. Orangtuanya datang dan marah-marah, mempertanyakan keamanan kampus UI,” kata Sunanto. Belum kasus lainnya, seperti narkoba, percobaan perkosaan, dan pembunuhan mahasiswa.

Sementara pintu-pintu UI itu bukan sembarang pintu, tetapi sudah menjadi sumber nafkah ribuan warga permukiman padat di pinggiran UI. Urusan “perut” memang tak bisa didiskusikan ilmiah. Hidup kini makin sulit, apalagi setelah harga BBM naik. Rakyat butuh makan. UI harus mendekatkan diri kepada masyarakat sekitarnya agar tak dianggap menara gading.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s