Mochtar Buchori: Bangsa Indonesia akan Punah…

KOMPAS CYBER MEDIA
Sabtu, 07 Oktober 2006 – 13:02 wib

Mochtar Buchori:
Bangsa Indonesia Akan Punah Jika Tak Mampu Perbaiki Pola Perilaku

Laporan Wartawan Kompas R Adhi Kusumaputra

TANGERANG, KOMPAS – Pengamat pendidikan Prof Dr Mochtar Buchori mengingatkan, bangsa Indonesia akan punah jika tidak mampu memperbaiki pola perilaku sebagai bangsa. Kita akan menjadi “failed state”.

“Bila ingin bertahan sebagai bangsa, kita harus mengubah cara kita mendidik generasi muda, dan tidak boleh mengulangi kesalahan yang dilakukan generasi sebelumnya,” kata Mochtar Buchori (81) dalam Seminar “Mempersiapkan Pendidikan Berkualitas Internasional untuk Menghadapi Tantangan Global” yang diselenggarakan Stella Maris School, BSD City, Tangerang, Banten, Sabtu (7/10) pagi.

Mochtar menyebutkan, sudah ada contoh bagaimana bangsa itu punah. “Pada masa lalu, Kerajaan Majapahit dan Mataram. Pada masa kini, kita lihat contoh Timor Leste, Sudan, Sri Lanka, yang terus bergolak, tak bisa menyelesaikan banyak persoalan bangsa.

Salah satu persoalan mendasar yang harus dapat diatasi adalah masalah kemiskinan, kemelaratan, kelaparan, gizi buruk. “Jika tak bisa menyelesaikan masalah mendasar ini, artinya Indonesia sudah dekat pada kepunahan,” kata Mochtar Buchori.

Mochtar juga menilai, mengatasi bencana alam seperti lumpur Sidoardjo dan pascabencana gempa Yogyakarta dan selatan Jawa saja, Pemerintah saat ini tidak mampu. “Juga soal pengangguran sekarang sudah berapa persen? Swedia jumlah penganggurnya 20 persen tapi social security system-nya sudah baik. Lha Indonesia?” katanya.

Dia berpendapat, Indonesia harus cepat membenahi diri, cepat melunasi utang IMF dan mengembangkan kebijakan ekonomi yang memberdayakan orang-orang kecil dan miskin. “Saya kecil-kecilan membina petani sayuran di Kopeng, Salatiga. Dengan membekali petani itu handy-talky, petani bisa memantau harga di pasar, tidak lagi tergantung makelar,” ungkap Mochtar.

Mochtar Buchori melihat anak-anak Indonesia kurang memiliki wawasan internasional, dan acapkali terpaku pada nasionalisme yang sempit. “Korea pada tahun 1970-an, posisinya sama dengan Indonesia, tapi masyarakatnya punya wawasan internasional yang bagus,” katanya.

Menurutnya, generasi muda Indonesia sejak usia dini harus mendapatkan pendidikan yang lain, yang dapat menghadapi tantangan globalisasi dan dapat menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. Diperlukan semangat internasionalisme yang bertolak dari semangat cinta bangsa dan tanah air.

Kompetensi yang dibutuhkan adalah memahami dinamika sosial, politik, dan ekonomi dunia. “Kemampuan berkomunikasi secara efektif dengan bangsa lain yang punya posisi dominan dalam konstelasi dunia, dan kemampuan melakukan negosiasi dalam forum internasional, serta kemampuan melaksanakan teamwork dalam konteks nasional,” kata Mochtar.

Persoalannya, bangsa Indonesia tidak punya teamwork yang baik. “Sepak bola saja tak punya tim yang berprestasi. Kabinet pemerintahan, menterinya berbeda satu sama lain dalam kebijakan,” kritik Mochtar Buchori.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s