Belimbing, Ikon Kota Depok

KOMPAS
Metropolitan
Jumat, 16 Juni 2006


Belimbing, Ikon Kota Depok

R Adhi Kusumaputra

Belimbing kini menjadi salah satu ikon baru Kota Depok. Buah bersisi lima itu kini menjadi primadona agrobisnis Depok. Sampai tahun 2005, populasi tanaman belimbing dewa (Avverhoa carambola) lebih dari 28.000 batang tersebar di enam kecamatan se-Kota Depok.

Sejak dulu, Depok dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan. Ingat lagu masa kanak-kanak? Pepaya, mangga, pisang, jambu, dibawa dari Pasar Minggu. Sebenarnya buah-buahan itu berasal dari Depok, baru kemudian dipasok ke Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Seiring perkembangan kota, banyak lahan yang dulu ditanami buah-buahan berganti menjadi rumah kos dan tempat usaha, terutama di kawasan Margonda dan Pondok Cina.
Namun, pemerintah setempat sejak tahun 1997 berupaya mempertahankan ikon Depok sebagai daerah penghasil buah-buahan dengan memperkenalkan belimbing varietas dewa-dewi.

Belimbing Depok itu kini makin dikenal masyarakat. Warnanya kuning kemerahan, ukurannya cukup besar (150 gram-350 gram per buah), serta rasanya manis dan segar. Saat ini, jumlah petani belimbing di Depok 483 orang, dihimpun dalam 22 kelompok tani dengan 26.906 pohon di lahan 116,6 hektar.

Modal awal menanam belimbing varietas dewa-dewi sekitar Rp 35 juta per hektar, ditambah biaya produksi Rp 3 juta per tahun. Harga jual belimbing saat ini Rp 10.000 per kilogram.

“Dalam satu tahun, produksi belimbing Depok 2.828 ton dengan omzet penjualan Rp 17 miliar. Kualitas belimbing Depok diakui bagus. Bayangkan, kebutuhan Jakarta saja 4.300 ton setiap tahun. Belum termasuk Bandung, Batam, Semarang, dan kota-kota lainnya. Jadi masih ada peluang pasar yang sangat besar bagi petani,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Hortikultura, Dinas Pertanian Depok, Nuraeni Widayatti beberapa waktu lalu.

Seorang petani belimbing yang sukses, H Achmad Tohir (64), memiliki 105 pohon di lahan 10.000 meter persegi. Sebanyak 60 pohon belimbing ditanam di lahan 4.000 m2 miliknya di tepi Kali Ciliwung, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, sedangkan 45 pohon lain ditanam di lahan garapan seluas 6.000 m>jmp -2008m2, tak jauh dari lahan miliknya. Dari kebunnya itu, setiap 45 hari Tohir bisa memanen ribuan buah belimbing.

Ditemui di rumahnya, Tohir bercerita, pada tahun 1970-an dirinya petani pepaya yang sukses karena dari hasil panen pepayalah ia dapat membeli tanah dan membangun rumah kos- kosan di Pondok Cina. Sejak 1996, Tohir beralih ke belimbing karena ia merasa masih menjadi petani.

Jika 105 pohon belimbingnya mulai panen, Tohir yang mengaku Betawi pinggiran dan memiliki tujuh anak serta 11 cucu itu pasti tersenyum lebar. Anggota Kontak Tani Andalan Nasional Belimbing ini memperoleh hasil bersih penjualan belimbingnya Rp 35 juta setiap panen. Belimbing tersebut dibawa ke pasar tradisional Pasar Minggu.

Biaya produksi cukup besar. Jika satu pohon menghasilkan 2.000 belimbing, artinya dibutuhkan 2.000 bungkus karbon. Biaya satu karbon Rp 150-Rp 200, termasuk upah membungkus belimbing dengan karbon.

Biaya obat-obatan Rp 500.000-Rp 1 juta sudah termasuk penyemprotan untuk merangsang buah dan pembasmian hama pada 45 pohon. Setiap satu pohon dibutuhkan lima karung pupuk kandang. Harga satu karung pupuk kandang berisi 50 kg Rp 3.000.

Melihat komoditas belimbing Depok sangat prospektif, Dinas Pertanian Depok mengajak warga kota ini menanam belimbing. Warga yang memiliki pekarangan yang relatif luas dapat menanam pohon belimbing.

Lurah Pondok Cina Denny Jordan mengatakan, di wilayahnya cukup banyak warga menanam belimbing di pekarangan rumahnya. Panen belimbing setahun 4-5 kali. Panen raya biasanya terjadi pada Februari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s