Mata Pelajaran HAM Diwajibkan di Sekolah Polisi Dunia

KOMPAS
Sabtu, 01 Oct 1994
Halaman: 7
Penulis: KSP

Dari Sidang Umum Interpol di Roma:
MATA PELAJARAN HAM DIWAJIBKAN
DI SEKOLAH POLISI DI DUNIA

Roma, Kompas
Mata pelajaran tentang Hak Asasi Manusia (HAM) kini diwajibkan
diajarkan di semua sekolah dam akademi polisi di seluruh dunia.
Konsep HAM yang akan diajarkan itu merupakan materi yang tertuang
dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia.

Demikian antara lain kesepakatan yang disetujui dalam pertemuan
para Kepala NCB pada Sidang Umum ICPO Interpol ke-63 di Roma, Italia,
Kamis sore waktu Roma atau Kamis tengah malam WIB. Wartawan Kompas,
Robert Adhi Ksp
yang meliput langsung sidang ini dari Roma
melaporkan, delegasi Indonesia diwakili Mayjen (Pol) Drs Koesparmono
Irsan (Deputi Bidang Operasi) dan Brigjen (Pol) Drs Sonny Harsono
(Sekretaris NCB Indonesia)

Kesepakatan ini meyakinkan adanya kebutuhan kerja sama
internasional yang kuat untuk mencegah tumbuhnya bentuk-bentuk
kejahatan yang melanggar HAM. Disadari apabila kerja sama
internasional melawan bentuk-bentuk kejahatan sudah kuat, maka
personel-personel polisi pun harus diberikan latihan dan pendidikan
yang pas tentang HAM.

Kesepakatan yang dituangkan dalam salah satu resolusi sidang
Interpol ini disetujui oleh delegasi Indonesia. Menurut Deputi Bidang
Operasi Mayjen (Pol) Koesparmono Irsan, sebenarnya di semua lembaga
pendidikan polisi di Indonesia, sudah diajarkan masalah HAM. “Sebab
menjalakan KUHAP secara benar, berarti HAM dilindungi. Kita juga
punya pelajaran tentang Pancasila, UUD 1945 yang menjunjung tinggi
HAM. Namun karena pihak sekretariat jenderal Interpol menginginkan
nama mata pelajaran tertulis HAM, maka akan kita lakukan hal itu.
Apa pun namanya pokoknya tentang HAM,” kata Koesparmono Irsan.

Iuran anggota
Sebelumnya dalam sidang Pleno, masalah kenaikan iuran anggota
ICPO-Interpol ke Setjen ICPO tetap hangat dibicarakan. Negara-negara
kaya seperti AS, Jepang, Inggris, dan Jerman tidak keberatan uang
iuran naik 6 persen. Tapi banyak negara berkembang seperti dari
Afrika dan Asia mempertanyakannya.

Akibatnya, pembahasan soal kenaikkan uang iuran menjadi
berlarut-larut. Pimpinan sidang akhirnya memutuskan untuk menaikkan
iuran sebesar 3 persen. Kenaikan iuran ini dibutuhkan untuk
memodernisasi peralatan dan teknologi di Markas Besar ICPO di Lyons,
Perancis. Anggaran Interpol tahun 1994 tercatat sekitar 36 juta CHF
dan 70 persen di antaranya sudah dibelanjakan.

Sidang Umum ICPO-Interpol selanjutnya akan membahas masalah
pedagangan gelap narkotika, kejahatan di bidang lingkungan hidup,
pemutihan uang dan bentuk kejahatan internasional lainnya. Selain itu
beberapa kandidat anggota komite Eksekutif ICPO sudah mulai
melancarkan kampanye dengan menyebarkan daftar riwayat hidup
ke “pigeon hall” setiap delegasi di tempat sidang.

Beberapa calon anggota komite itu ialah Kolonel Mohammed Omran
Taryan (Uni Emirat Arab), dan Komisioner Mick Palmer (Australia) yang
mengincar jabatan Komite Eksekutif untuk kawasan Asia dan Ronal K
Noble (AS) mengincar untuk calon kawasan Amerika. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s