Bjorn Eriksson Presiden ICPO

KOMPAS
Kamis, 06 Oct 1994
Halaman: 7
Penulis: ADHI KSP, ROBERT

BJORN ERIKSSON PRESIDEN ICPO

Roma, Kompas
Lewat pemilihan yang berlangsung ketat, akhirnya Bjorn Eriksson
dari Swedia terpilih sebagai Presiden ICPO (International Criminal
Police Organization) – Interpol yang baru untuk masa jabatan tiga
tahun. Mantan wakil Presiden ICPO dari kawasan Eropa ini berhasil
mengalahkan rival beratnya Wanajat Latif dari Pakistan setelah
melewati tiga kali pemilihan.

Selain melakukan pemilihan jabatan Presiden ICPO dan anggota
Komite Eksekutif untuk kawasan Asia, Amerika, Eropa dan Afrika,
Sidang Umum ICPO-Interpol ke-63 yang berlangsung sejak 28 September
lalu di Akademi Kepolisian Italia di Lumbroso, hari Selasa malam
waktu Italia (Rabu dinihari WIB) ditutup dengan sangat sederhana.

Bjorn Eriksson kelahiran Stockholm (Swedia) tanggal 7 Desember
1945 sejak tahun 1991 menjabat sebagai anggota Komite Eksekutif ICPO
sebagai delegasi Eropa dan satu tahun kemudian, ia terpilih sebagai
Wakil Presiden ICPO untuk Eropa. Dalam sambutan singkatnya, Eriksson
berjanji, akan berkerja lebih keras lagi demi mengembangkan
organisasi penegak hukum sedunia ini.

Wartawan Kompas, Robert Adhi Ksp dari Roma, Italia, kemarin
melaporkan, disamping pemilihan Presiden ICPO-Interpol, sidang umum
juga diisi pemilihan anggota Komisi Eksekutif. Pejabat Komisi
Eksekutif yang terpilih masing-masing adalah Nicole Simone (Italia)
untuk kawasan Eropa, Roshinori Kanemoto (Jepang) untuk kawasan Asia,
Ibrahim Bah (Ghana) untuk kawasan Afrika dan Nelson Mery Fiqueora
(Chili) untuk kawasan Amerika.

Tuan rumah Cina
Dalam pemilihan pejabat ICPO-Interpol (yang bermarkas di Lyons,
Perancis), delegasi Indonesia diwakili Deputi Bidang Operasi Mayjen
(Pol) Drs Koesparmono Irsan, Kapolda Jawa Barat Mayjen (Pol) Drs
Soebandy dan Sekretaris NCB Brigjen (Pol) Drs Sonny Harsono.

Selain memilih Presiden serta Komite Eksekutif, sidang juga
menetapkan Cina sebagai tuan rumah Sidang Umum ICPO-Interpol ke-64
tahun 1995. Pimpinan delegasi Cina, Zhu En Tao menjanjikan akan
memberikan pelayanan dan fasilitas terbaik kepada para peserta.


Sidang umum Interpol ke-63 juga menghasilkan sejumlah resulosi,
antara lain tentang rencana memodernisasi peralatan Interpol dengan
teknologi mutakhir yang berkaitan dengan jumlah iuran anggota ke
Markas Besar Interpol.

Selain itu beberapa resolusi membahas masalah kejahatan seperti
di bidang lingkungan hidup yang makin marak di dunia internasional,
pemalsuan produk barang, kejahatan narkotika yang cenderung
meningkat yang semuanya membutuhkan kerja sama antarpenegak hukum
setiap negara. Begitu juga persoalan kejahatan terhadap anak di
bawah umur.

Sidang yang diikuti 140 negara anggota ini juga sepakat meminta
semua sekolah polisi di seluruh dunia mengajarkan mata pelajaran Hak
Asasi Manusia berdasarkan Deklarasi HAM. Sidang juga menetapkan dan
memperbarui standar pelayanan kantor NCB di seluruh dunia dan
sepakat menerbitkan statistik kejahatan internasional setiap tahun
dan disebarkan ke seluruh negara anggota Interpol.

Bagi Indonesia, sidang umum Interpol memberi masukan dan
informasi terbaru tentang trend kejahatan internasional. Organisasi
ICPO-Interpol yang dibentuk sejak awal abad ini, tidak melihat
perbedaan masalah agama, militer, rasial dan politik.
Negara yang tidak mempunyai hubungan diplomatik pun dapat
menjalin kerja sama kepolisian melalui jalur Interpol. Sebab tujuan
utama ICPO adalah memberantas kejahatan dengan kerja sama yang erat.
(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s