ASEAN Sepakat Tempatkan Atase Polisi di Tiap Negara

KOMPAS
Kamis, 05 May 1994
Halaman: 14
Penulis: KSP

ASEAN SEPAKAT MENEMPATKAN
ATASE POLISI DI TIAP NEGARA

* Jakarta Tuan Rumah ASEANAPOL 1995
Phuket, Kompas
Para kepala kepolisian negara-negara di Asia Tenggara yang
tergabung dalam forum ASEANAPOL (ASEAN Chiefs of Police) sepakat
untuk menempatkan atase polisi atau perwira penghubung (liasion
officer/LO) di masing-masing negara ASEAN. Ini merupakan salah satu
upaya untuk mempercepat bantuan hukum, proses hukum dan penegakan
hukum yang melibatkan WN masing-masing negara.

Demikian antara lain kesimpulan dari komunike bersama para
kepala kepolisian negara kawasan ASEAN yang dibacakan pada acara
penutupan Konferensi ASEANAPOL ke-14 di Phuket, Thailand, hari Rabu
(4/5). Konferensi berlangsung 1-4 Mei yang diwarnai dengan ancaman
peledakan bom di Hotel Arcadia, tempat para delegasi menginap ini,
ditutup oleh Kepala Kepolisian Thailand Jenderal Pratin Santiprabhob.

Komunike bersama yang terdiri dari delapan pokok persoalan itu
ditandatangani bersama oleh enam kepala polisi negara-negara ASEAN,
antara lain Kapolri Jenderal (Pol) Banurusman Astrosemitro. Dalam
kesempatan itu, diumumkan Indonesia akan jadi tuan rumah ASEANAPOL
ke-15 tahun 1995.

Wartawan Kompas Robert Adhi Ksp yang meliput Konferensi
ASEANAPOL ke-14 melaporkan dari Phuket, hari Rabu (4/5), rencana
penempatan atase polisi atau perwira penghubung di setiap negara
ASEAN ini merupakan hal yang baru, yang pernah terungkap selama
Konferensi ASEANAPOL yang sudah memasuki tahun ke-14 ini.

Tapi rencana menempatkan atase polisi atau perwira penghubung
di masing-masing negara ini, sebenarnya sudah pernah dibicarakan
dalam Sidang Umum Interpol di Bangkok tahun 1986 lalu. Demikian
pula masalah ini pernah dibahas dalam Pertemuan Regional Interpol
tingkat Asia di Nepal tahun 1991.

Para kepala polisi ASEAN sepakat penempatan atase polisi
atau perwira penghubung di masing-masing negara ini mengikuti
perkembangan zaman dan kemajuan iptek, yang berpengaruh pada
kejahatan internasional.

Bagi Indonesia sendiri, penempatan atase polisi atau perwira
penghubung sesuai Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Seorang
atase atau perwira penghubung merupakan perpanjangan tangan Polri
di negara lain, yang dapat melakukan penyidikan terhadap tersangka
pelaku maupun korban kejahatan.

Di samping itu, di negara lain, polisi yang pegang peranan
dalam penegakan hukum. Sesuai sistem hukum negaranya, Polisi
Singapura misalnya, tak bisa bekerja sama dengan atase pertahanan
(athan) dalam penegakan hukum, dan harus dengan perwira polisi.
Dengan demikian, kesepakatan penempatan atase polisi di Kedubes
atau pun perwira penghubung di luar Kedubes, sudah merupakan
tuntutan zaman.

Mengejar penjahat
Dalam komunike bersama, setiap pemerintah masing-masing negara
diimbau untuk membicarakan sistem hukum. Sebab di masa depan,
kejahatan ekonomi, pemalsuan uang dan kartu kredit, serta berbagai
jenis kejahatan lainnya akan meningkat pesat. Jika pelaku kejahatan
lari ke negara lain, bagaimana polisi mengejar dan menangkapnya.

Dengan sistem hukum yang belum menunjang, pelaku bisa saja
dengan bebas membobol bank di Indonesia, lari ke Singapura, dan
polisi Singapura tak bisa berbuat apa-apa. “Pembicaraan mengenai
sistem hukum, harus dilakukan antara pemerintah dengan pemerintah,
tak bisa oleh forum ASEANAPOL,” kata Kapolri Jenderal (Pol)
Banurusman Astrosemitro.

Salah satu butir komunike bersama yang penting adalah soal
database ASEANAPOL, yang akan ditenderkan di Singapura bulan Mei
atau Juni 1994 ini. Diharapkan setelah Konferensi ASEANAPOL di
Jakarta 1995, database enam negara anggota ASEANAPOL sudah bisa
digunakan, untuk saling membagi informasi mengenai kejahatan
internasional dan para buronannya.

Masalah perdagangan gelap narkotika tetap menjadi persoalan
utama di seluruh negara Asia Tenggara. Karena itu, peserta
konferensi sepakat, jika ada tipe dan jenis baru narkotika/obat
terlarang, hendaknya polisi negara yang menemukan, segera memberikan
contoh dan rinciannya ke semua rekan kepolisian lainnya di kawasan
Asia Tenggara.

Para peserta konferensi juga sependapat, kemajuan perkembangan
teknologi, ikut meningkatkan jumlah kejahatan di bidang ekonomi,
pemalsuan uang dan pemalsuan kartu kredit. Kerja sama dalam tukar-
menukar informasi dalam kasus-kasus kejahatan jenis ini, diharapkan
terus berlanjut.

Di bidang pendidikan, para peserta konferensi sepakat untuk
saling tukar personel dan program latihan di antara negara anggota
ASEANAPOL. Pengiriman para perwira ke negara-negara ASEAN hendaknya
tidak hanya satu pihak, tapi juga kedua belah pihak. Suatu kursus
bersama dalam bidang manajemen dan teknik negosiasi ditawarkan oleh
Kepolisian Singapura. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s