KOMPAS
Senin, 07 Aug 1995
Halaman: 20
Penulis: ADHI KSP

MENGENANG MGR PROF DR GEISE OFM
* Pendiri Unpar dan Ahli Badui

PENDIRI dan Rektor pertama Universitas Katolik Parahyangan
(Unpar) Bandung serta mantan Uskup Bogor, Mgr Prof Dr Nicolaus
Johannes Cornelius Geise OFM meninggal dunia di Heerlen, Negeri
Belanda, 1 Agustus 1995 waktu setempat dalam usia 89 tahun. Hari
Sabtu lalu (5/8) waktu setempat, jenazah Geise dimakamkan di
Heerlen. Nama Geise boleh jadi identik dengan suku Badui di Banten
(Jawa Barat). Disertasinya berjudul “Baduys en Moslems in Lebak
Parahiangan, Zuid Banten” (Baduy dan Muslim di Lebak Parahiangan,
Banten Selatan)
yang dibuatnya untuk meraih gelar doktor etnologi di
Universitas Leiden Belanda pada Januari 1951, hingga saat ini
menjadi salah satu referensi tentang suku Badui.

Penelitian Geise mengenai orang Badui ini dilakukannya pada
akhir Februari 1939 hingga Agustus 1941. Geise merekam langsung
kehidupan orang-orang Badui, meskipun harus melalui perjalanan yang
membutuhkan ketahanan fisik yang kuat, dan beberapa kali
kesehatannya terganggu.

Kedatangan Geise ke Indonesia pada tahun 1938, bukan sebagai
pastor muda Ordo Fransiskan (OFM), tapi sebagai mahasiswa
Antropologi Universitas Leiden. “Saya lebih suka mempelajari
Antropologi ketimbang Bahasa Jawa Kuno, karena sebagai pastor, saya
mau tak mau harus turun ke lapangan, bergaul dengan orang
Indonesia,” kata Geise dalam sebuah wawancara.

Geise masuk ke Universitas Leiden pada tahun 1932 dan
mempelajari Kesusasteraan Indonesia, atas perintah atasannya dari
Ordo Fransiskan. Ia mempelajari Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa
Sansekerta, Bahasa Arab, dan Islam. Dari sini, Geise mengetahui di
Banten (Jawa Barat) terdapat suku Badui. Ia langsung tertarik untuk
melakukan penelitian suku Badui ke daerah Banten.

Dengan susah payah Geise mendapat izin dari Gubernur Jenderal
Tjarda untuk bisa tinggal di perbatasan daerah suku Badui. Selama
dua tahun Geise tinggal di sana sehingga ia dapat mencatat banyak
kehidupan suku Badui.

Beberapa bulan sebelum Jepang masuk ke Indonesia, Geise
dipanggil atasannya untuk menamatkan penelitian Antropologinya di
Banten dan bekerja sebagai pastor di Sukabumi. Namun saat Jepang
masuk, pastor Fransiskan diinternir dan mendekam di kamp selama dua
tahun. Setelah Jepang kalah perang dan Indonesia merdeka, Geise
keluar dari kamp dan ditunjuk menjadi pemimpin pater Fransiskan di
Jawa Barat, sehingga ia pun tak banyak waktu untuk menyusun
disertasinya.

Tahun 1950, Geise mendapat cuti pulang ke Negeri Belanda. Di
sana, ia dapat menyusun disertasinya mengenai suku Badui,
berdasarkan catatan-catatannya yang sebagian hilang pada masa
pendudukan Jepang di Indonesia. Tahun 1951, Geise meraih gelar
doktor dari Universitas Leiden atas jerih payahnya meneliti
kehidupan suku Badui.

Pengalamannya hidup bersama orang-orang suku Baduy ini, membuat
Geise makin dekat dengan Jawa Barat. “Hatinya sudah pada orang
Sunda, dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk orang Jawa
Barat,” kata Alfons Suhardi OFM (56), pimpinan Panti Asuhan
Vincentius Putra di Jakarta Pusat. Alfons kenal Geise sejak tahun
1956 ketika ia pertama kali melamar menjadi siswa seminari di
Cicurug, Sukabumi, sedangkan Geise saat itu pimpinan Prefektur
Apostolik Sukabumi (cikal bakal Keuskupan Bogor yang didirikan tahun
1961).

Geise sangat fasih berbahasa Sunda. Ia ramah, supel dan mau
bergaul dengan siapa saja. Kecintaannya pada masyarakat Jawa Barat,
menggiringnya untuk mendirikan Yayasan Mardiyuana yang bergerak
dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan
Mardiyuana tersebar di pelosok wilayah Keuskupan Bogor. Melihat
kualitas pendidikan yang dihasilkan, yayasan ini pun diminta
mendirikan sekolah di perkebunan dan pelosok kampung yang jauh dari
hingar-bingar kota.

Bersama Uskup Bandung Mgr P. Arntz OSC (almarhum), Geise
mendirikan Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) di Bandung pada
tahun 1955. Geise pun menjadi rektor pertama sampai tahun 1978.
Keahliannya dalam bidang kebudayaan Sunda, dimanfaatkan pula oleh
Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, dan terakhir sebagai Guru
Besar Luar Biasa di universitas negeri itu.

Hubungan Geise dengan Bung Karno, Presiden pertama RI, relatif
dekat. Geise pernah dipanggil khusus oleh Bung Karno yang kemudian
memintanya untuk memberi bekal khusus kepada calon prajurit yang
akan terjun dalam Operasi Trikora merebut Irian Barat. Pendekatan
yang bagaimana yang dilakukan prajurit untuk berhubungan dengan suku
asli Irian. Hal ini berkaitan dengan pengalaman Geise berkomunikasi
dengan orang Badui di Banten, yang dinilai jarang berkomunikasi
dengan dunia luar.
***

DALAM bidang gerejani, Geise adalah perintis penerjemahan Kitab
Suci Katolik dan Protestan, yang dinamakan Alkitab dan terbit pada
tahun 1978. Langkah oikumene yang digalang Geise ini berada jauh di
depan negara-negara lainnya.

“Pemikirannya memang maju ke depan. Geise mendirikan seminari
agung untuk calon imam kelahiran Indonesia, meskipun waktu itu
(tahun 1950-an) jumlah calon imam masih sangat sedikit. Demikian
pula ketika ia bersama Mgr Arntz mendirikan Unpar di Bandung pada
tahun 1955, di mana banyak uskup mempertanyakan apakah langkah yang
diambil, memiliki prospek. Geise sangat gigih memperjuangkan cita-
citanya,” kata Alfons Suhardi, salah seorang anak didiknya.

Rektor Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Bandung AP
Sugiarto SH yang dihubungi Kompas mengatakan, Geise meletakkan
prinsip dasar Unpar, di mana Unpar sebagai lembaga pendidikan tinggi
harus tekun dan setia mencari kebenaran sejati. “Geise minta jangan
sampai perguruan tinggi dibelokkan untuk kepentingan-kepentingan
yang lain, termasuk untuk kepentingan agama. Para pengelola dan
pendidik Unpar harus melakukannya sesuai nilai-nilai Kristiani yaitu
pelayanan berdasarkan kasih sayang. Ia meninggalkan pemikiran dan
teladan yang tak dapat dipisahkan dengan Unpar,” kata AP Sugiarto.

Dalam suatu wawancara, Geise menyebutkan, perjuangan mencari
kerukunan agama di Indonesia antara penganut-penganut berbagai agama
berada dalam keadaan menguntungkan, karena bakat orang-orang
Indonesia adalah mencari titik temu. “Bagi orang Indonesia, adalah
lebih baik mencari titik temu daripada mencari perbedaan pendapat,
lalu kemudian cekcok tentang perbedaan itu. Jadi ada kecenderungan
untuk menganggap perbedaan-perbedaan pendapat kurang penting
dibandingkan dengan kesatuan antara sesama manusia,” kata Geise.
***

NICOLAUS Johannes Cornelius Geise lahir di Rotterdam, Negeri
Belanda pada 7 Februari 1907 sebagai anak ke-4 dari 12 bersaudara.
Setamat SD, Geise dikirim ayahnya ke Kolose Yesuit di Nijmegen.
Meskipun dididik pater-pater Yesuit, Geise rupanya lebih tertarik
masuk Ordo Fransiskan. Pada 6 Maret 1932, Geise ditahbiskan sebagai
imam muda di kota Weert, sebelah selatan Negeri Belanda.

Sepanjang hidupnya, Geise memang penuh energik. Semangat
hidupnya terus menyala-nyala dan sangat optimistis menghadapi hidup.
Suaranya besar, pidatonya selalu berapi-api. Kecuali dua tahun
terakhir ini ketika matanya mulai kabur dan tak bisa melihat lagi,
Geise mulai merasa hidupnya sangat membosankan. “Ketika telinganya
kurang pendengarannya, Geise merasa ia masih bisa membaca. Tapi
setelah matanya mulai rabun dua tahun lalu, Geise sangat down.
Sebagai ilmuwan, ketika ia tak bisa lagi melakukan kegiatan membaca,
ia sangat terpukul,” kisah Alfons Suhardi.

Awal tahun 1995 ini, kondisi kesehatan Geise menurun, sehingga
banyak kerabatnya menasihatinya agar Geise dirawat di Negeri
Belanda. Semula Geise menolaknya dan berkeinginan untuk meninggal
dunia di Indonesia, tempat di mana ia menghabiskan sebagian besar
waktu dan hidupnya. Namun demi perawatan dan kesehatannya, Geise pun
dibawa ke negara kelahirannya.

Sebuah iklan dukacita kecil di harian ini pekan lalu
memberitakan, “Telah kembali ke pangkuan Bapak yang Mahakasih,
mantan Uskup Bogor dan Saudara kami: Mgr NJC Geise OFM” di Heerlen,
1 Agustus 1995 jam 15.30 waktu setempat…Misa arwah dan pemakaman
pada tanggal 5 Agustus 1995 jam 15.00 waktu setempat di Heerlen”.
Geise tutup usia pada usia 89 tahun. Sebuah perjalanan yang sangat
panjang, dalam tugasnya mengabdi umat manusia. Selamat jalan,
Monseigneur…(Robert Adhi Ksp)

Foto:
Kompas/ksp
Mgr Prof Dr Geise OFM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s