KOMPAS
Senin, 10 Jul 1995
Halaman: 8
Penulis: ADHI KSP

Museum Taman Prasasti
DARI NISAN NY RAFFLES HINGGA SOE HOK GIE

TAK banyak orang tahu, di tengah kota Jakarta ini ada sebuah
museum terbuka yang dinamakan Museum Taman Prasasti. Museum ini
memang unik karena benda-benda yang digelar adalah batu-batu nisan
orang yang sudah meninggal dunia. Nisan-nisan ini merupakan prasasti
dan salah satu bukti sejarah.

Tidak seperti museum lainnya di Jakarta, Museum Taman Prasasti
merupakan daerah hijau terbuka yang menempati areal 1,3 hektar.
Lokasinya berada di samping kantor Wali Kotamadya Jakarta Pusat di
Jl Tanah Abang I. Pada masa kolonial, kawasan itu memang daerah
kuburan.

Menurut Kepala Museum Taman Prasasti, Drs R. Manik, kuburan
seluas 5,5 hektar ini pertama kali digunakan tahun 1795. Mengenai
siapa saja yang dimakamkan di tempat ini, ternyata termasuk Ny.
Raffles, istri Letjen Thomas Stamford Raffles dari Inggris, yang
meninggal dunia di Bogor dan dikubur di sini.

Demikian pula Jenderal Kohler yang memimpin pasukan tentara
Belanda ke Aceh, dimakamkan di kuburan ini. Nisannya sampai sekarang
masih tersimpan di museum tersebut. Dr HF Roell, Direktur Stovia
(cikal bakal Universitas Indonesia) yang pernah memberikan fasilitas
kepada Dr Sutomo dan kawan-kawan sehingga Budi Utomo lahir, juga
dimakamkan di kuburan ini.

Tokoh lainnya yang dimakamkan di sini adalah Pieter Elberveld,
peranakan Eropa-Siam yang merantau ke Batavia dan akhirnya menjadi
tuan tanah namun dekat dengan Sultan Tirtayasa di Banten. Ia menjadi
muslim, dan ikut membantu pemberontakan terhadap Belanda. Tubuhnya
diseret dengan kereta sehingga kulitnya terpecah-pecah, lehernya
dipenggal, badannya ditancap bayonet dan ditaruh di depan pintu
rumahnya (yang kini dikenal dengan Jl Pecah Kulit).

Nisan makam Soe Hok Gie yang mati muda – dikenal dengan buku
catatan hariannya berjudul “Catatan Seorang Demonstran” – juga
termasuk salah satu koleksi museum. Nisan-nisan makam mereka kini
digelar di Museum Taman Prasasti.

Namun ada satu nisan yang menjadi primadona museum itu. “Orang-
orang menyebutnya nisan Kapten Jass. Tapi kami sendiri belum tahu,
apakah Kapten Jass betul-betul ada atau sekedar legenda. Tak ada
data tentang dia. Namun disebut-sebut Jass orang pertama dikuburkan
di sini pada tahun 1795,” kata Manik. Yang jelas, masih banyak orang
mengunjungi makam Kapten Jass yang berada di bawah pohon rindang
itu. Dari orang yang mencari jodoh sampai minta nomor buntut.

Konon, kebaikan roh Jass membantu banyak orang. Pernah seorang
wanita guru SD datang ke makam Kapten Jass minta jodoh. “Yang rutin
datang kemari adalah seorang suster dari Kota,” jelas Kepala Museum
Taman Prasasti.
***

SEBENARNYA jumlah makam yang ada di kuburan ini (sebelum
direlokasi) sebanyak 4.000 hingga 6.000 makam. Namun akibat
perkembangan tata kota, pada tahun 1969 Gubernur DKI Jakarta Ali
Sadikin memerintahkan supaya makam-makam itu dipindahkan ke tempat
lain. Alhasil, ribuan makam digali. Pihak keluarganya pun dihubungi
dan semua makam di sana dipindahkan ke berbagai lokasi.

Dari luas 5,5 hektar, lahan bekas kuburan itu akhirnya tersisa
1,3 hektar. Pemda DKI Jakarta kemudian melestarikan nisan-nisan
makam pilihan, dengan maksud untuk menyelamatkan benda cagar budaya.
Lokasi itu pun dijadikan museum di alam hijau terbuka. Jumlah
koleksi nisan makam pilihan yang dapat disaksikan oleh para
pengunjung Museum Taman Prasasti saat ini tercatat 1.200 buah.

Soal mengapa nisan-nisan makam itu harus dilestarikan, menurut
R. Manik, karena hal ini termasuk salah satu prasasti yang merupakan
bukti sejarah. Tidak banyak museum di Indonesia, yang menggelar
nisan-nisan makam orang terkemuka, seperti yang digelar Museum Taman
Prasasti saat ini.

Namun tampaknya, usaha pemerintah untuk menarik minat orang
mengunjungi museum ini belum maksimal. Jumlah pengunjungnya baru
sekitar 1.200 orang hingga 1.400 orang setiap bulannya. Namun dari
jumlah tersebut, hanya 300 orang yang betul-betul ingin berkunjung
ke sana, sebagian besar orang asing. Selebihnya hanyalah masyarakat
yang sebenarnya ingin ke kantor Wali Kotamadya Jakarta Pusat, tapi
kesasar, sehingga mereka ikut melihat-lihat koleksi museum ini.

Dalam perjalanan waktu, akar pohon-pohon yang ditanam di lokasi
museum terbuka ini mulai merusak koleksi nisan yang ada. Untuk
itulah Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta bekerja sama dengan
Mahasiswa Arsitektur Universitas Trisaksi Jakarta merencanakan
menata kembali koleksi-koleksi nisan agar mampu mengundang wisatawan
dalam negeri maupun luar negeri, mengunjungi Museum Taman Prasasti.
(ksp)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s